Rabu, 31 Mei 2017

Ya, Hari Ini 31 Mei

Mei 31, 2017 0 Comments

Selamat malam, gaes. Sebenarnya ada banyak tulisan yang belum terposting, namun kali ini saya buka dokumen baru di microsoft word dan menuliskan apa saja yang terjadi hari ini, sedari saya buka mata pukul tiga pagi tadi hingga saya mengetik tulisan ini.

Sesaat setelah saya menghidupkan data ponsel, ada beberapa pesan WA yang masuk. Sebagian pemberitahuan dari beberapa grup, sebagian lagi doa yang dikirim oleh teman-teman saya. Ya, hari ini 31 Mei.

31 Mei kali ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Ada atmosfer tersendiri yang saya rasakan. Seperti biasa, 31 Mei tidak melulu tentang seorang Meydiana Isfandari yang lahir ke dunia, namun, juga tentang dua anak adam yang mengikat janji suci berdua. Dua puluh tiga tahun yang lalu, Bapak dan Ibu saya melaksanakan akad nikah. Tepatnya 31 Mei 1994. Berjanji sehidup semati di depan Allah, malaikat-malaikat serta para saksi. Dan, janji itu, alhamdulillah tak patah hingga hari ini. Saya lahir ke dunia tepat setahun setelahnya, 31 Mei 1995, tanpa prosedur operasi.

Doa dan harapan yang orang-orang kirimkan menjadi penguat saya. Dua puluh dua tahun sudah saya menghirup O2 sebanyak-banyaknya tanpa bayar. Dua puluh dua tahun sudah saya menjadi manusia yang menghabiskan berton-ton beras, menggunakan berkubik-kubik air, berpartisipasi dalam global warming, serta pundi-pundi dosanya tak terhitung. Maha Baik Tuhan yang memberi saya kesempatan di tengah khilaf yang terus saya lakukan.

Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga inti, Bapak, Ibu, Ardi, Fahri. Karena mereka saya mampu. Karena mereka saya bisa. Karena mereka saya bertahan. Tak terhitung kesalahan-kesalahan yang saya lakukan, kebebalan yang terus saya lontarkan, kekanak-kanakan yang tak mampu terelakkan. Namun, mereka, keluarga saya, bagaimanapun buruknya saya, akan selalu menerima saya apapun yang terjadi. Because family is the best place to go home. Seperti kata Virgoun, takkan habis sejuta lagu untuk menceritakan tulusnya kasih sayang keluarga.

Saya juga ucapkan terimakasih kepada para sahabat serta handai tolan, yang tentu tak bisa saya sebutkan satu per satu. Terimakasih atas kasih sayang kalian terhadap saya. Terimakasih telah berkenan menyita sedikit waktu untuk mengirim chat kepada saya yang berisi rapalan doa-doa, menyita sedikit waktu untuk menengok insta story atau WA story lantas membalasnya dengan doa-doa baik, menyita sedikit kuota untuk menuliskan caption yang so heartwarming di sosial media kalian. Terimakasih juga saya ucapkan kepada mereka yang telah bersedia menyisihkan sedikit rezekinya untuk saya. Apa-apa yang telah kalian berikan sangat berguna bagi saya. Terimakasih.

Dalam tulisan ini, tolong izinkan saya sedikit bercerita tentang salah seorang sahabat. Malam ini, seperti biasa saya tadarus di mushola sebelah rumah bersama kawan-kawan. Hingga waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, ada seseorang yang mengendarai motornya lewat depan mushola. Sejak saya mendengar suara motor dari arah Barat, saya sudah memandang ke arah jalan. Seseorang itu berjenis kelamin perempuan, berjilbab, dan ber-Scoopy (maksudnya paham ya, gaes, dia naik motor Scoopy). Ketika Scoopy itu lewat tepat di depan mushola, si empunya menoleh ke arah kami yang sedang mengaji, dan kebetulan saya juga tengah memandang perempuan itu. Dia adalah Durrotun Nasihah a.k.a Bibeh.

Dengan meringisnya yang khas dia menatap kami, saya langsung meletakkan Qur’an ke dompal, lalu berlari menemuinya. Saya khawatir ada apa larut malam begini dia masih belum pulang. Dia sewot, kesel karena telpon dan WA-nya tidak saya gubris. Hape di rumah, Woh, nggak kubawa ngaji. Begitu yang saya katakan. Saya tanya ke dia, ada apa? Kenapa belum pulang dan masih mampir, ada sesuatu yang penting, kah?

Bibeh tuh memang makhluk Tuhan yang paling buruk dalam hal basa-basi. Setelah muter kesana-kemari akhirnya dia langsung pada tujuan. Aku bawa sesuatu buat kamu. Ah, radar ulang tahun saya langsung menyala. Ada salam dari Lilis-Lilis (Saya menyebut mereka Lilis bersaudara, karena ada dua anak bernama Lilis yang mondok di tempat Bibeh ngabdi), ini mereka yang bikin. Dia bilang sambil mengangkat bungkusan yang nggak ada artistik-artistiknya blas. Bibeh juga membawa kotak berisi tart.

Di dalam rumah, saya membuka kotak kue dan agak heran melihat tulisan di sana. “Happy Di”. Saya sempat protes, Happy apa nih? Kok happy doang? Dia jawab dengan lugas, Ya happy segalanya atuh, nggak cuma happy birthday, happy segalanya. Saya yakin jawaban itu sudah dia siapkan, yakin sekali. Berbekal lilin putih segede palu gada, saya dan Bibeh melakukan ritual yang katanya budaya kafir itu secara singkat. Harusnya nggak boleh sih, Di, ah tapi gpp lah. Saya ngakak dan segera meniup lilin yang juga sama sekali nggak ada artistik-artistiknya itu.

Setelah Bibeh pulang, saya kembali ke mushola, karena memang belum kebagian ngaji. Pukul sepuluh lebih baru saya dan kawan-kawan pulang ke rumah masing-masing. Saya agak penasaran dengan bungkusan dari koran yang tergeletak di atas meja. Segera saya buka bungkusan yang ternyata berlapis enam itu, dan semua lapisannya dari koran. Saya ingat kata Bibeh, dia bilang ke Lilis bersaudara, Udah koran aja, ngirit. Kampret, ya.

Dan isinya adalah dua foto yang di cetak ukuran –insyaallah kalau tidak salah– 5R. Benar nggak, Woh? Foto yang satu adalah saat kita mengikuti kajian LDK di kampus, dan satunya lagi adalah foto saat kita ada di kantor pemda. Dua foto itu di tempel dalam figura sederhana yang terbuat dari karton, yang saya yakin sekali adalah kreasi dari Lilis bersaudara. Karena Bibeh perempuan paling nggak omes dengan hal semacam itu. Saya balik foto itu dan mendapati tulisan tangan Bibeh, Assalamu’alaykum. Salam sejahtera untuk kita semua, salam kebahagiaan tiada tara ... Teruntuk kawan seperjuanganku... semoga segala hajat dapat terkabul. Tiada hal yang mampu ku berikan selain Doa dan caption yang bagus ini ^_^. Di, semoga kamu selalu sehat. Uwoh. Wassalamu’alaykum. Gila, masih sempat aja ngebanyol. Saya terharu sekali di bagian teruntuk kawan seperjuanganku ... tapi pas baca bagian Tiada hal yang mampu ku berikan selain Doa dan caption yang bagus ini terharu saya tiba-tiba pergi ninggalin saya, seperti kamu, iya kamu.


Bibeh, terimakasih, ya. Maaf atas tujuh missed call dan satu WA yang ku hiraukan. Terimakasih meskipun saya tahu kamu lelah (karena pagi sekolah, siang safari ramadhan di Kalipuro, malam entah kamu dimana) tapi masih menyempatkan menemui butiran debu ini. Thanks a lot, Woh. Dan, please, sepulang dari rumah saya, kamu mandi, ya? Yang bener aja lu, Woh, masa nggak mandi dari kemarin, sih? Gitu mau cepat dapat jodoh? Gitu nyalahin dia yang pergi ninggalin kamu? Mandi sono, biar agak beneran dikit.
...
Akhirnya, selamat ulang tahun pernikahan yang ke dua puluh tiga, Bapak Ibuku tersayang. Terimakasih atas cinta kasihnya selama ini. Semoga kalian sehat hingga nanti, nanti dan nanti. Maafkan kami, anak-anakmu, yang masih sering melukai perasaan kalian baik sengaja maupun tidak. Tetaplah menjadi rumah yang nyaman bagi kami. Saya tahu, kehidupan kita tidak selalu bahagia sejahtera sehat sentosa. Saya tahu, kalian tidak bisa selalu menjamin hidup kita akan baik-baik saja. Tapi saya yakin, selama kita melalui liku kehidupan bersama-sama, hal-hal buruk, hal-hal sedih, pasti mampu kita atasi.

I love you from the bottom of my heart.

Terimakasih untuk orang-orang di sekeliling saya yang selalu memberikan energi positif. Kalian semua menjadi tinta dalam berbagai warna untuk melukis kanvas kehidupan saya. Terimakasih atas warna yang kalian berikan. Salam hormat dan sayang, Meydiana Isfandari.

Kamis, 11 Mei 2017

Tidak Sendiri Pada Waktunya

Mei 11, 2017 0 Comments
Atas ridho Allah SWT, saya dan Bibeh sore ini sampai di rumah Bangli, Wongsorejo. Ngapain kita sore-sore main ke rumah Bangli berdua doang? Jauh pula. Ya karena kita di undang ke resepsinya Bangli, hehehe. Iya, gaes, Bangli nikah. Tadi di WA Bibeh bilang berangkat jam setengah tiga, karena rumah Bangli jauh, biar pulangnya nggak kemalaman. Saya iya-in. Ternyata jam 15.14 Bibeh baru kirim chat yang isinya “Otw, di.” Karena saya sudah rapi sejak tadi, akhirnya saya bisa santai sambil nunggu Bibeh datang.

Setelah beberapa menit, Bibeh datang. Kami segera berangkat. Karena perjalanan kami kali ini lumayan agak jauh, selama perjalanan kami banyak cerita. Paling banyak sih cerita tentang HTI. kami selalu seperti ini. Tiap ketemu yang dibahas kalo nggak urusan HTI ya urusan hati. Hingga kami mulai lelah dan akhirnya bisu selama sisa perjalanan. Ngobrol di atas motor dengan kecepatan di atas 80km/jam itu sungguh perbuatan sia-sia belaka, bikin haus, gaes.

Setelah entah berapa lama, akhirnya kami sampai tempat tujuan. Berbekal ancer-ancer yang saya dapat dari Bang Rohim (kalau dari Banyuwangi, sesudah RTH, kiri jalan), kami menemukan rumah Bangli, ya walaupun sempat kebablas dikit. Dikit doang, nggak banyak. Kami bertemu kedua mempelai yang cantik dan ganteng. Melakukan sesi pemotretan yang tak boleh ketinggalan, hingga menikmati hidangan yang telah disediakan.

Biasa ya, perempuan. Saat sedang makan kami cerita tentang masa depan. Tuh, ketularan atmosfer bahagia dari pengantin, kan jadinya baper. Ceritanya nggak perlu saya tulis disini. Kalau mau tahu, samperin saya ke kampus, mumpung saya belum lulus. *kasihemotngakak

Jam lima lebih kami keluar dari rumah Bangli. Kami berhenti di salah satu masjid yang saya lupa namanya. Dulu, saya pernah masuk ke masjid ini bersama dua sahabat saya. Bibeh sholat, saya menunggu dia di bale yang disediakan. Selesai sholat, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini saya yang nyetir. Bibeh duduk dibelakang, dia ngaji. Sejak di masjid tadi dia sudah pamitan memang. “Lu yang bawa, yak? Gue ngaji dulu.”

Jadi, sepanjang jalan Wongsorejo sampai hampir watu dodol kami sama sekali nggak bicara. Bukan karena marahan. Kalian tentu tahu, dia ngaji, saya juga, bukan ngaji, tapi nyanyi. Hampir dekat watu dodol dia ajak saya bicara. Itu berarti ngajinya selesai. Dia bilang untuk berhenti dulu di Watu Dodol. Kami kepincut dengan rembulan yang bersinar di atas Selat Bali itu. Beberapa kali Bibeh mengambil foto saya dengan background laut lepas. Berdiri di pinggir laut seperti malam ini lumayan mengobati rindu saya akan pantai.

Setelah puas foto-foto kami lanjut pulang. Kali ini dia yang bonceng saya. Biar cepet katanya. Padahal kecepatan saya nyetir tadi dah luar biasa. Apa cuma perasaan saya?

Saya tersenyum ketika mengingat perkataan Bibeh yang saya lupa dia bilangnya dimana tadi, entah drumah Bangli, entah di masjid. Gila ya kita, cewe berdua doang, nyampe Wongsorejo. Begitu kira-kira ucapannya.

Kadang saya juga nggak habis pikir dengan kekuatan perempuan. Mereka itu kuat lebih dari apa yang mereka bayangkan. Agak ngeri pergi jauh begini nggak ada laki-lakinya. Ya meskipun perempuan yang pergi dengan saya hari ini sudah biasa kemana-mana sendiri. Saya ingat salah satu sahabat saya pernah menulis status di facebooknya, “Semandiri apapun wanita, meski kemana-mana sudah berani sendiri, pulang larut malam berani, melakukan perjalanan jauh dengan percaya diri atau hal berbahaya lainnya, dalam suatu masa akan ada perasaan ingin dilindungi. Sekuat apapun wanita, wanita ingin menggantungkan diri pada sesuatu yang menurutnya lebih kuat bukan karena wanita lemah atau tidak mampu, tapi lebih kepada rasa nyaman ketika dilindungi dan diperhatikan. Segalanya bisa kami lakukan sendiri, tapi percayalah, kehadiran kaum adam bisa menjadi kekuatan terdahsyat bagi semua kaum hawa, begitu juga sebaliknya.”

Status gembel Inda itu bikin saya pingin mewek. Tuh anak tumben otaknya bener. Keadaan saya dan Bibeh hari ini automatically mengingatkan saya dengan status Inda tersebut. Ya, akan ada masanya dimana saya atau Bibeh nggak perlu lagi kemana-mana sendiri, kondangan sendiri, pergi jauh sendiri, dolan sendiri, berjuang sendiri. Karena, semua akan tidak sendiri pada waktunya. Begitu.
Dan kesimpulan dari semuanya adalah, selamat Bangli dan Mega. Terimakasih karena kalian menikah, dua jomblo berkurang. Doakan dua jomblo lainnya ini selalu kuat dan tegar menghadapi ujian pertanyaan “Kapan nikah?”


Selasa, 02 Mei 2017

Mengapa Wandra ada di Brosur dan Baliho Untag Banyuwangi?

Mei 02, 2017 0 Comments
Senin sore kemarin, sekitar pukul 16.30 saya sudah nongkrong di warung Pak RT dengan memeluk karung berisi brambang a.k.a bawang merah. Waktu itu saya sedang mapag tante saya. Mapag is ‘menunggu’ in Indonesia. Yah perempuan mah gitu, bisanya cuma nunggu. Saya terus melihat arah Selatan, hingga akhirnya Avanza putih berplat P 935 X berhenti di depan TK Hang Tuah. Saya yang kecil mungil ini langsung menyeberang jalan yang waktu itu lumayan lengang, sambil tertatih-tatih karena karung berisi brambang itu lumayan berat.

Setelah memastikan bahwa yang ada di dalam mobil itu adalah sanak famili saya, saya masuk. Ya, kan, nggak lucu, gaes, kalau besoknya ada berita yang isinya ‘Seorang gadis diculik di depan gang rumahnya karena diduga membawa sesuatu yang mencurigakan dalam karung berwarna putih’. Tidak mbois sama sekali, kan?

Di dalam mobil sudah ada tante, om, Raisya dan Lintang. Sepanjang perjalanan ke Lateng saya banyak ngobrol dengan Lintang. Lintang adalah adik sepupu saya. Anak ketiga dari om dan tante saya. Saat ini dia kelas 4 sekolah dasar.

Tidak terasa mobil yang om saya kemudikan sudah melewati depan kampus Untag. Hingga tiba-tiba Lintang menanyakan sesuatu, “Mbak Dian, kenapa itu kok ada gambarnya Wandra?” saya tahu yang dia maksud pasti baliho besar yang ada di pertigaan tadi. Saya jawab, “Ya, kan, Wandra kuliah di Untag.” Dia jawab lagi, “Emang kenapa se? Wandra pinter ta?” (maksudnya, apa Wandra itu cerdas, berprestasi dalam bidang akademik, sehingga fotonya terpampang disana). Saya paham betul bahwa anak kecil itu rasa ingin tahunya sangat tinggi, apalagi seusia Lintang, dia akan terus menuntut jawaban yang memuaskan dirinya.

Saya tertawa ketika dia jawab seperti itu, tapi lantas saya jawab, “Ya nggak tahu. Kan dia artis.” Dia jawab lagi, “Emang opo’e se kalo artis?” innocent sekali. Ya Karim. Karena tidak ingin kalah, saya jawab juga akhirnya, “Itu namanya strategi marketing.” What the hek, kenapa saya jadi ngomongin strategi marketing sama bocah kelas 4 SD? Saya jawab begitu sambil tertawa, dia juga, tapi sedikit. “Ya saling menguntungkan. Simbiosis mutualisme. Kalo Mbak Dian yang dipajang, gak ada yang daftar nanti. Hahahaha.” Alhamdulillah, dia sudah skak mat, meskipun saya bisa lihat ada ketidakpuasan di wajahnya. Setidaknya saya nggak perlu putar otak lagi untuk kasih jawaban yang membuat anak seusia dia paham.

Dalam dunia marketing hal tersebut dikenal dengan istilah ... apa, ya? Saya bukan orang ekonomi, sih. Jadi nggak paham. Hehehehe.

Dulu, semasa jabatan Bu Endang, saya pernah diberi kesempatan untuk belajar. Saya ingat betul waktu itu jika tidak salah saya masih semester dua. Di masa itulah kemampuan public speaking saya benar-benar di uji. Mengingat motivasi saya masuk Untag dulu adalah keinginan untuk belajar public speaking, karena nggak ada jurusan Ilmu Komunikasi jadilah aing masuk ke FISIP. Dari sekolah satu ke sekolah lain, saya bertemu dengan bermacam-macam karakter siswa. Tiap-tiap dari mereka memberikan kontribusi yang besar untuk saya. Bagaimana cara menangani nerveous, grogi, garing, bosan.

Selama kurang lebih sebulan saya belajar bersama Tim PMB. Saya mengamati bagaimana cara Bu Endang, Pak Miskawi dan senior-senior saya dulu berkomunikasi dengan para adik-adik SMA. It was really amazing experience. Ilmu yang Tuhan berikan secara cuma-cuma dan sangat bermanfaat.

Setiap tahunnya Tim PMB selalu melakukan promosi ke sekolah-sekolah. Hal itu merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang kampus kami lakukan. Karena tentu tidak akan cukup jika kita hanya duduk diam menunggu siswa mendaftar tapi tidak melakukan apa-apa. Maka, dilakukanlah hal tersebut.

Tim PMB juga berisikan mahasiswa-mahasiswa dari enam fakultas yang ada di kampus. Ada yang namanya brand storytelling dalam dunia marketing. Jadi kita menjelaskan atau lebih tepatnya bercerita, bagaimana sih Untag itu? Apa saja keuntungan kita kuliah disana? Kenapa harus Untag? Dan lain sebagainya. Waktu saya ikut promosi dulu, ada siswa yang sempat bertanya, “Mbak, FISIP itu pelajarannya gimana? Ngapain aja? Nanti kalau udah lulus kerja dimana?” saya lupa waktu itu di sekolah mana, yang jelas masih dalam naungan perpenas.

Sebagai mahasiswa FISIP, tentu itu kesempatan yang baik bagi saya untuk menjelaskan apa saja yang ada di FISIP. Saya juga menceritakan alumni-alumni FISIP yang terbilang sukses dalam karirnya. Contoh: Bunda Anggi dan Pak Sahlan. Bunda saat ini menjadi MD, MC, Announcer, yang cukup kondang. Sedangkan Pak Sahlan adalah jebolan FISIP yang berhasil menjadi anggota DPRD. Saya selalu mengandalkan dua sosok ini ketika melakukan promosi. (ya karena waktu itu yang saya tahu hanya beliau berdua).

Nah, apa yang Untag lakukan –dengan memasang wajah Wandra di baliho­– adalah sama dengan apa yang saya lakukan. Tentu kami bangga, seniman muda seperti Wandra hadir menjadi bagian dari keluarga besar Untag Banyuwangi. Sejalan dengan namanya yang semakin dikenal masyarakat Banyuwangi, Untag Banyuwangi pun akhirnya juga kecipratan hal baik. Saya ambil contoh ketika saya dan beberapa tim PMB sedang buka stand di SMK N 1 Banyuwangi. Waktu itu ada beberapa siswa yang lewat stand kami dan bergumam “Eh, kok enek fotone Wandra.” Saya yang mendengar itu langsung sok SKSD, “Kan kuliah Untag Wandranya, Mbak.” dengan memasang senyum semanis mungkin. Siswi itu hanya ber-ooooo ria sambil senyum-senyum ke teman di sebelahnya.

Ah, Mey, dulu juga banyak artis-artis Banyuwangi yang kuliah disana, tapi foto mereka nggak ada di brosur-brosur, apalagi baliho segede itu. Ada Mahesa, Adistya Mayasari, Mbok Mamik, Kiki Anggun.
Mereka memang tidak ada di brosur ataupun baliho, mereka ada disini. (nunjuk dada, eaaaa!)

Saya tidak tahu menahu masalah itu, karena waktu beberapa dari artis-artis itu kuliah, sepertinya saya masih duduk di bangku SMK. Begitulah, Lin, kenapa ada wajah Wandra dan Mbak Inanda (finalis Putri Indonesia) di brosur serta baliho. Karena jika wajah Mbak Dian yang terpampang, mereka bukannya daftar, yang ada malah ngelamar. Huwehehehe ...