Sabtu, 26 Maret 2016

Nunggu Nggak Selucu Ini

Maret 26, 2016 0 Comments
Malam ini aku membuka facebook seperti biasanya.
Mengamati status teman-teman dan melihat artikel berita terbaru.
Scroll up scroll down … up down up down up down …
Banyak berkeliaran status galau yang menyayat-nyayat hati.
Duh, ikut prihatin ya, mblo ….

Setelah beberapa lama ngutak-atik facebook, lantas ada notif di pertemanan.
Fuad Abdillah accepted your friend request.
Aku mengerutkan dahi, menautkan alis, memutar-mutar bola mata, mengingat-ingat nama itu.
Fuad Abdillah, siapa??? Kapan aku nge-add???

Dan setelah pertarungan ingatan yang cukup menegangkan itu *halah
Akhirnya aku bisa mengumpulkan puing-puing ingatan yang berserakan.
Ya, dia adalah narasumber public speaking saat Temu Bakti GenRe di Malang dulu.
Seseorang yang nyentrik, aktif, pecicilan tapi terstruktur hahahaha *iya, jadi meskipun belio pecicilan tapi pecicilannya itu rapi, duh gitu lah pokoknya …
Beliau adalah salah satu orang yang memotivasi kami semua saat itu.
Kami, peserta dari seluruh Kabupaten di Jawa Timur.

Aku masih ingat bagaimana mukaddimah yang ia lontarkan.
Aku masih ingat bagaimana energiknya orang Jombang satu itu.
Aku masih ingat bagaimana ia sampai harus naik ke atas kursi demi menjangkau audience-nya yang ada di belakang *maklum, Mas Fuad ini imut, huwehehehe
Aku masih ingat bagaimana ia menegurku karena ia pikir aku sedang sakit, hanya karena aku pakai jaket waktu itu.
Aku masih ingat kacamata nyentriknya yang berwarna putih itu.
Aku masih ingat teknik announcing gym yang ia ajarkan.
Aku masih ingat materi-materi yang ia sampaikan.
Aku masih ingat kalimat yang ia tulis dalam handout-nya “Sejak teman-teman bangkit dari kursi, teman-teman sudah jadi sorotan. So, put a smile on your face.”
Begitu banyak ingatanku tentang beliau.
Dan juga ilmu yang ia berikan kepada kami.

Aduuuh Mas Fuad ini, aku sampai lupa kapan nge-addnya.
Yang pasti nge-addnya pas jaman ikut acara di Malang dan itu tahun 2014 silam.
Rong tahun bek, bayangkan, aku nunggu belio ngonfirm dua tahun lamanya.
Nunggu nggak selucu ini loh, Mas Fuad *untung bukan nunggu kepastian dari gebetan yang nggak jelas, huwahahaa
Tapi nggak apa-apa, masih mending di confirm daripada enggak ^^
Gomawo oppa J

Dua tahun lamanya, sampai aku lupa bahwa aku pernah mengirim permintaan pertemanan.
Gaes, sebenarnya aku nggak bermaksud untuk nyelimur dari topik tulisan ini.
Tapi ya gimana, konteksnya pas banget buat dijadikan analogi.
Gini, seperti kasus menunggu di atas.
Dulu, saat aku menekan tulisan “Send friend request” pada timeline Mas Fuad, aku nggak minta untuk segera di terima.
Sampai aku lupa dengan sendirinya dan tiba-tiba setelah dua tahun baru ada pemberitahuan.

Sama seperti urusan perasaan, gaes.
Untuk kalian, mas-mas maupun mbak-mbak yang sedang menunggu, ataupun yang sedang ingin move on …
Aku tahu bagaimana perasaan kalian sampai akhirnya keluar ikrar dari dalam diri kalian untuk menunggu seseorang yang kalian sayang.
Sampai kapanpun pasti akan aku tunggu, begitu pasti.
Aku tahu bagaimana perasaan itu, aku tahu bagaimana kalian mati-matian bertahan.
Tapi begini, gaes
Menunggu itu sah-sah saja. Menunggu itu hak asasi kita sebagai makhluk Tuhan yang galauan *hehehe
Tapi kita juga harus tahu diri.
Tidak perlu kita menyakiti diri sendiri dengan beban perasaan selama itu.
Dua tahun, tiga tahun, empat tahun, lima tahun, …….
Duh jeng, mubadzir ah kalau waktu selama itu hanya digunakan untuk mikirin si dia.

Siapa yang bisa menjamin bahwa hati kita tidak akan berpaling? Tidak akan berubah?
Ndak ada yang bisa menjamin.
Apalagi manusia yang kita tunggu itu sudah tidak menunggu kita.
Lho, lak malah rugi to?
Jadi, yuk mari isi hari-hari dengan rutinitas seperti biasanya.
Be more active, be more positive, be more kind.
Tidak apa-apa kehilangan seseorang, pasti sakit, tapi sakit itu sementara.
Selalu ada waktu yang bisa mengobati.
Selama kita tidak kehilangan hati dan pikiran, everythings gonna be oke.
Bukankah sebelum ada dia kita juga bahagia???

Rabu, 23 Maret 2016

Untuk Sekarang, Tidak ...

Maret 23, 2016 0 Comments
Malam itu, 21 Maret 2016 kamu memintaku untuk tidak meninggalkan kampus terlebih dahulu, karena ada sesuatu yang ingin kau sampaikan. Malam itu pula sebenarnya aku sudah dapat menerka-nerka apa yang hendak kamu sampaikan. Entah mengapa firasatku mengatakan bahwa kamu akan berbicara tentang urusan perasaan padaku.

Karena sikapmu yang seperti itu bukan kali pertama. Tiga kali kamu berusaha untuk berbicara hanya berdua denganku. Namun, tiga kali itu pula aku selalu berusaha menolak. Kamu selalu memanggilku dengan disertai tatapan yang tidak biasa. Dari raut wajah dan tatapan itu aku menjadi tahu. Aku hanya takut kamu akan menyampaikan hal yang belum siap aku terima.
Ternyata sesuai dugaan. Malam itu menjadi ajang blak-blakan bagimu. Kamu menanyakan perihal blogmu yang sudah aku baca. Dan, kamu membenarkan bahwa tokoh -yang katamu fiksi itu- yang ada dalam blogmu adalah aku. Ya, aku.

Jujur, aku tidak terkejut ketika kamu bilang bahwa tulisan itu memang untukku. Karena aku sudah menyiapkan diri sedemikian rupa untuk bersikap tenang. Sebenarnya sudah lama aku tahu tulisan-tulisan di blogmu yang mengerucut pada seorang perempuan. Dua tulisan yang sejujurnya sudah kuketahui sejak lama. Hanya saja aku berani bertanya padamu pada awal Maret lalu. Dari tulisan itu aku sempat berfikir apa perempuan yang kamu maksud itu aku? Bukan bermaksud untuk terlalu percaya diri. Tapi berdasar apa yang kuketahui, kamu tidak pernah bercerita tentang seorang perempuan yang sedang kau suka.

Aku tidak menyangka kita akan ada dalam situasi yang seperti ini. Yang membuatku lebih tidak menyangka adalah pengakuanmu bahwa kamu menyukaiku sejak kita masih dalam masa Opspek. Padahal pada masa itu kita bahkan tak saling mengenal. Aku juga heran, karena tidak mungkin apa yang melandamu itu adalah love at first sight. Karena aku tidak percaya pada hal tersebut, sama sekali.

Kamu menjadi seseorang yang berbeda ketika mengutarakan perasaanmu padaku. Tidak seperti kamu yang kukenal. Tiba-tiba serius, blak-blakan, tegang. Padahal kamu tahu sendiri bahkan malam itu aku masih sempat tertawa, tidak bisa serius sama sekali.

Sesuai janjiku, aku akan menjawab semuanya melalui tulisan ini. Aku dan kamu sudah lama saling mengenal. Aku tahu kamu, kamu tahu aku. Kita sudah saling mengenal satu sama lain dengan baik. Pertemanan yang terjalin hingga muncul label sahabat adalah puncak pertemanan yang paling erat. Baru kali ini aku memiliki teman laki-laki sedekat kamu.

Kamu tahu bahwa sebenarnya hal seperti ini akan kamu sampaikan kelak saat kita sudah lulus kuliah atau saat kamu sudah siap. Nyatanya malam itu kamu berterus terang. Seperti katamu yang bilang bahwa perasaan itu sudah seperti Gunung yang akan meletus. Tidak bisa dibendung lagi.

Aku sangat menghargai perasaanmu padaku. Seperti aku menghargai perasaan laki-laki lain yang pernah mengutarakan perasaan mereka padaku. Aku hanya menyimpan pengakuan mereka dalam ingatanku. Jujur setelah pengakuanmu itu aku tidak tahu harus menjawab apa.
Seperti yang kukatakan, aku tidak menyangka akan terlibat dalam perbincangan serius seperti ini saat aku masih mengenyam pendidikan. Aku benar-benar bingung. 

Begini…
Jika aku menerimamu, setelah itu bagaimana? Kamu jelas tahu bahwa aku tidak berkenan pacaran. Menikah? Hal itu bahkan sangat jauh dari prioritasku saat ini. Aku bertekad untuk menamatkan pendidikan, bekerja, menyekolahkan Fahri, baru setelah itu menikah. Itu life goals yang kubuat.

Kita tidak pernah tahu bagaimana Tuhan akan membolak-balikkan hati dan perasaan manusia. Aku tidak menyuruhmu untuk menunggu. Karena aku juga tidak akan menjanjikanmu dengan sebuah perasaan yang dapat berubah sewaktu-waktu. Aku berkata seperti ini bukan karena aku masih memiliki perasaan terhadap seseorang. Sama sepertimu, jika ternyata laki-laki itu memintaku pada orangtuaku di saat keadaanku masih seperti ini, pasti aku menolaknya. Aku masih ingin meraih cita-cita dan masih ingin meningkatkan kompetensi diri.

Bukankah tidak terlalu cepat saat kamu mengutarakan perasaanmu itu padaku? Aku sungguh tidak tahu harus bersikap bagaimana. Aku merasa masih seperti anak-anak yang tidak seharusnya memikirkan hal semacam ini.

Kamu adalah laki-laki yang baik. Aku nyaman berada disekitarmu, karena kamu juga memberikan perlindungan yang baik padaku. Kamu pandai membuat setiap wanita merasa nyaman di sampingmu. Saat menjadi imamku sholat, dan perhatian-perhatian kecil yang kamu tunjukkan, sempat ada sesuatu yang berdesir dalam hati. Sama sepertimu, berulang kali aku meneguhkan diri bahwa kamu adalah seorang teman, seorang sahabat, tidak lebih. Tapi ternyata ada hal lain yang mengganjal. Aku tidak tahu apakah itu perasaan yang sama seperti perasaanmu atau bukan.

Kita jalani saja hari-hari ke depan seperti biasanya. Aku dan kamu sudah sama-sama mahfum dengan olok-olok teman yang mengira kita berpacaran. Padahal kamu tahu aku perempuan seperti apa. Kata-kata “pacaran” menjadi sangat aneh bagiku, bahkan ketika mereka dengan mudah mengucapkannya.

Aku harap kamu dapat dengan bijaksana mencerna apa yang aku tuangkan dalam tulisan ini. Terimakasih karena telah berani mengungkapkan apa yang sedang kamu rasakan. Pasti was-was karena harus keluar dari tempurung perasaan yang telah tersimpan rapi selama dua tahun.

Aku dapat melihat keseriusan dan ketulusan yang memang kau tunjukkan. Tapi seperti yang sudah kubilang, aku tidak akan menjanjikan sebuah perasaan yang dapat berubah sewaktu-waktu. Percaya saja bahwa Tuhan selalu memiliki kejutan-kejutan tak terduga untuk setiap hambanya. Jika pada akhirnya aku dan kamu berjodoh tentu tidak ada suatu apapun yang mampu menolak kuasa-Nya. Karena pada akhirnya yang kita dapat jika bukan teman hidup, ya pelajaran hidup.

Sabtu, 12 Maret 2016

Selamat Menetas, Ketua ...

Maret 12, 2016 0 Comments
Selamat menetas :D
Segala doa yang baik semoga tercurah padamu.

Pertama kali kita bertemu di awal perkuliahan.
Kamu yang kecil cabe-cabean cabe rawit sukses mencuri perhatian banyak orang.
Dan, ketika pertama kali kamu berbicara, aku langsung tahu …
“Eaaa orang Madura ternyata”
Hahaha … logat Maduramu kental sekali.

Di hari lahirmu yang kesekian ini aku menghadiahkan ini untukmu.
Anggap saja sebagai ungkapan rasa terima kasihku.
Tapi maafkan jika di dalam tulisan ini lebih banyak penghinaan daripada rasa terimakasih wkkk …

Masih ingat bagaimana kamu ditunjuk sebagai sekretaris kelas pertama kali?
Ya, dari sana aku tahu bahwa kelak kamu akan jadi orang yang tidak biasa-biasa saja.
Karir berorganisasimu dimulai dari lingkup kecil ini.
Dengan menjadi sekretaris kelas.

Aku juga masih ingat bagaimana Melinda memanggilmu Sekda, hanya karena dia belum mengenalmu waktu itu.
Jadilah akhirnya teman-teman ikut memanggilmu Sekda *kecuali isun hahahaa …
Dan kamu harus bersyukur, bisa saja sebutan itu akan menjadi nyata dikemudian hari.
Who knows, kan?
Say aamiin, please …

Sejak itu entah bagaimana ceritanya kita akhirnya mulai mengenal.
Aku yang selama ini berkawan dengan satu macam jenis kelamin *alias wedok kabeh* agak canggung ketika memiliki teman baru yang berjenis kelamin beda. *Duh Mey, bahasamu kok kelamin-kelamin ngene -__-
Yaa pokoknya you should know what I mean, Yan.
Saking seringnya keman-mana berdua kita sering dikira pacaran.
Wes biyasaaa begitu. Aku wis nggak kaget lagi.

Awal perkenalan kamu mengira aku pernah nyantri di pondok.
FYI. Sudah banyak orang mengira aku anak pesantren. *ngoco sek, opone ndane seng koyok arek pondok? :D
Aku justru agak kaget ketika tahu bahwa kamu adalah santri.
Kamu pernah bercerita bagaimana proses yang kamu lalui hingga kamu masuk ke penjara suci itu.
Agak lucu ketika cerita di bagian yang menangis di pelukan Ibu, karena nggak mau mondok.
Lanang kok nangis i loh, wkwkwk … *eh …
Lalu cerita bagaimana kehidupan pondok yang tak akan terlupakan *hingga akhirnya membuat saya juga pingin mondok, hiks -__-
Dan juga pernyataanmu bahwa mondok hanya tiga tahun itu ibarate durung oleh opo-opo, kurang.

Ingat saat kita sok sibuk ngurus acara fakultas?
Aku, kamu dan teman-teman.
Aku yang selalu banyak mengeluh, selalu pasang wajah jutek, judes binti megeli.
Setidaknya kamu selalu hadir dan bilang “Jika kita melakukannya ikhlas, insyaallah ringan.”
Hmmm, kamu nggak tahu betapa bangkelnya aku saat kamu ceramah didepan kami yang sudah kelelahan ini.
Aku tahu kamu lebih lelah dan lebih terbebani, tapi kamu masih berusaha memberi kami semangat dan tidak menunjukkan rasa lelahmu.
Warbiyasaa …

Begitu banyak kenangan yang sudah kita hadapi bersama.
Susah, senang, sedih, bahagia, tangis, tawa.
Menghadapi berbagai macam jenis watak teman-teman kelas kita.
Dua tahun berteman aku hampir tidak pernah melihatmu marah.
Justru aku yang selalu marah-marah mirip Ibu kost yang PMS lagi nagih uang bulanan
Dan kamu akan mengeluarkan kalimat andalanmu “Mosok oleh neng arek lanang ngono iku Mey, duso.”
Duh, hellooooo it’s me, I was wondering if after all these years you’d like to meet …. -____-
Aku marah juga ada sebabnya.
Pernah aku marah tanpa sebab? *Mageh takon? Sering Mey -_____-
Sebab pertama, lek wes di ajak ngomong terus njawab “Ha?”
Aku paling males ngulang pertanyaan dua kali Yan -__-
Sebab kedua, pas ngobrol aku lagi PMS, jadi wajar jika marah-marah tanpa sebab *gak usah protes …
Sebab ketiga, hmm aku nggak yakin iki alasan marah yang benar atau tidak. Sebab ketiga adalah, pingin ngamuk-ngamuk ae :D

Tapi diluar itu semua aku menghargaimu sebagai teman sekaligus sahabat yang baik.
Masiyo tah jare isun iki senengane muring-muring sing jelas …
Aku berusaha menjadi partner berorganisasi yang baik.
Di kelas maupun di BEM.
Kamu memberiku banyak pelajaran. Kamu mengajariku banyak hal.
Sabar, ikhlas, dan yang selalu dan tak pernah lupa, selalu menyemangati dalam hal apapun dan situasi apapun.

Masih ingat saat aku menangis didepanmu?
Kamu teman laki-laki pertama yang melihat aku menangis gara-gara urusan perasaan.
How childish I am. Urusan perasaan yang iyuuuuuh -___-
Aku sadar bahwa semua yang datang pasti akan pergi, entah itu untuk kembali atau tidak sama sekali.
Waktu itu hanya kamu dan Ibuku yang aku rasa paling mengerti kondisiku.

Terimakasih telah menjadi kawan yang absurd.
Kawan yang tidak pernah bisa di tebak apa maunya.
Kamu adalah spesies tak masuk akal yang tercipta di muka bumi ini.
Selalu membuat hal-hal tanpa rencana, unpredictable -___-
Jika bukan karena dirimu, aku dan Donat tidak mungkin terdampar ke air terjun Selogiri yang sama sekali tidak masuk agenda jalan-jalan waktu itu.
Jika bukan karena dirimu, aku dan Donat tidak mungkin menyelesaikan gumuk Wedi Ireng yang tanjakannya na’udzubillah itu.
Jika bukan karena dirimu, aku dan Donat tidak mungkin berkeliaran malam hari dan terdampar di Watu Dodol.
Jika sudah begitu kamu selalu bilang, “Kapan maneh koyok ngene rek.”
Andalanmu selalu itu -____-

Terimakasih juga sudah selalu menjadi P3K *bukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
Pertolongan Pertama Pada Keterlambatan.
Hahaha …. Ingat pas inagurasi opspek?
Aku wis gelisah because there’s no one can take me home.
Padahaaal wis meh jam sepuluh.
Dan, ente bak pahlawan super dimalam hari bersedia mengantar Cinderella Pakis ini pulang.
Duh Yan, wes pokok thanks for kabeh.

Terimakasih sudah menjadi ketua kelas dan ketua BEM yang amanah, InsyaAllah …
Thanks for everything, Yan. Thanks for being the best, thanks for your patience.
Thanks for being my great partner.
Dan juga terima kasih banyak sudah menjadi pendengar yang baik.
Wis pokok e kesuwun hang akeh kanggo kabeh.

Aku teringat saat kamu, aku dan Erni selesai menghadiri seminar Fakultas Hukum.
Sepanjang seminar kamu hanya berdebat denganku dan Erni.
Saat kita keluar dari aula kamu bilang “Ngene ae yo rek, ojok tukaran.”
Aku tahu, ada sebuah pengharapan yang besar dibalik kalimat itu.
InsyaAllah Pak Ketua, semoga nggak ada drama-drama tai kucing yang menyebabkan persahabatan kita berantakan yess?

Selamat hari lahir …
Keep healthy, long life. May Allah bless you happiness and great success.
Sukses jualannya. Naluri pedagang sih ya, repot. Apa-apa dijual.
Semoga kamu nggak ngejual teman-temanmu yang koplak dan sangklek ini.
Wkwkwkwk …

Oh ya, sejak kamu berpisah dengannya, kamu belum pernah cerita perihal asmara kembali.
Padahal aku tahu bahwa ada gadis yang diam-diam sedang kau sebut dalam doamu.
Sopo Yan? Aleman gak cerito -__-
Hahahaha, duh aku kepo :D