Senin, 18 Maret 2024

SEBUAH PANGGILAN

Maret 18, 2024 0 Comments

Akhir-akhir ini betul-betul menguras energi. Setelah satu panggilan masuk tempo hari (yang aku tidak ada pikiran negatif apapun sebelum bahkan setelah mengangkatnya) dengan durasi yang cukup panjang. Di awal obrolan aku tetap berpikir ini hanya panggilan biasa. Tapi, ketika suara perempuan di ujung sana cukup serius dan mulai menyebut satu nama, aku seperti disengat lebah.

Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana aku dimintai informasi. Hari dimana aku merasa gagal sekali lagi menjadi teman. Gagal mengingatkan sejak awal. Gagal menjaga segalanya tetap pada tempatnya.

Setengah jam menelpon, rasanya itu adalah setengah jam terlamaku. Aku mendengar suaranya bergetar. Aku mendengar suaranya menahan amarah. Sampai kemudian aku mendengarnya menangis.

Setelah semua ini, sebetulnya apa yang hendak Kau beri padanya? Apa yang hendak Kau berikan sehingga jalan yang harus ditempuh sungguh berliku?

Tuhanku, aku sama sekali tidak keberatan menjadi tempat berkeluh kesah teman-teman perempuanku. Tapi, mendengar mereka menangis, terluka, sedih, hal itu ternyata juga menguras energi. Aku bingung harus bagaimana, harus apa, selain hanya bisa diam mendengarkan.

Selasa, 12 Maret 2024

PINDAH

Maret 12, 2024 0 Comments

Menjalani tarawih pertama di Karangrejo dengan perasaan sentimentil. Yang terus berulang, suatu saat henti itu benar adanya. Belasan tahun aku hidup di Pakis, menyatu dengan seluruh hal di sana, tiba-tiba suatu hari harus terhenti. Dengan sekejap aku tidak lagi menjadi bagian dari sana.

Tempo hari aku sempat bertanya ke ibu, “kira-kira anak-anak merasa kehilangan aku gak, ya?”

Perasaan hampa itu baru terasa ketika segala hal yang selalu rutin kita lakukan tiba-tiba terhenti. Bulan ramadan seperti ini biasanya aku akan menjadi penghuni tetap shaf baris kedua (kadang-kadang juga baris pertama) dan tadarus bersama anak-anak.

Sampai kemudian semalam aku melaksanakan tarawih di musala tempat Ai ngaji. Entah di rakat berapa aku menangis. Ingat rutinitasku di Pakis yang tentu saja sekarang sudah tidak bisa dilakukan. Kami sudah biasa berpindah, tapi kepindahan kami kali ini benar-benar seperti membawa serta ratusan kilogram batu di pundak kami, berat sekali.

Tinggal di Pakis adalah durasi terlama kami selama no maden. Tinggal di Pakis adalah zona nyaman yang sayang untuk ditinggalkan. Tapi apa daya, hidup harus terus berjalan.

Sampai tadi malam aku merasakan sebuah keistimewaan memiliki tempat tinggal yang bersebelahan dengan musala. Di Pakis, rumah kami dekat sekali dengan musala. Kalau mau tarawih tinggal jalan kaki saja. Di sini kami harus bawa motor untuk bisa ke musala terdekat.

Ini adalah ramadan pertamaku di Karangrejo, yang mana itu juga menjadi ramadan pertama tidak tadarus di musala bersama Tante Lita, Karin, Dzikri, Upik, Hana, Ria, dll.

Aduh, udah kangen aja balik ke Pakis lagi apa, ya?