#BukuBagus: LIFE AS DIVORCEE
“Perceraian adalah emergency exit yang Tuhan sediakan
ketika kita enggak sanggup lagi berada dalam hubungan pernikahan. Alih-alih
keluar melalui lift yang sesak dan ada kemungkinan macet di tengah jalan,
tangga darurat adalah pilihan teraman.”
Buku ini sudah mencuri
perhatianku sejak lama. Namun, baru bisa membeli dan menyelesaikannya Agustus
lalu. Thanks to Paket Tujuhbelasan
dari Mojok Store. Sebuah buku yang musti dibaca perlahan dan dipahami dengan
hati-hati, Life as Divorcee.
Cukup cepat aku menyelesaikan
buku yang ditulis oleh Virly K.A ini, hanya hitungan hari. Selain karena aku
suka pembahasannya, buku ini hanya 138 halaman. Virly K.A terbilang cukup vokal
menyuarakan hidup sebagai janda. Status yang harus kita akui masih mendapat
stigma dalam society kita.
Buku ini mengupas perjalanan
Virly yang bercerai dalam usia yang terbilang muda, 25 tahun. Usia itu aku
justru masih menyimpan banyak keraguan soal pernikahan, sekarang pun masih. Aku
heran mengapa ada manusia yang menambah beban masalah kehidupan dengan
pernikahan?
Membaca dan belajar dari pengalaman
Virly membuatku lebih mampu menyiapkan banyak hal sebelum nanti aku memutuskan
untuk menikah. Berdasarkan pengalaman hidupnya Virly mampu memetakan hal-hal
yang harus dibicarakan sebelum menikah.
Tentu, seperti yang dia bilang,
pernikahan hanyalah sebuah prolog dari kehidupan bersama yang tidak bisa lepas
dari berbagai adegan tak romantis serta konflik tak terduga yang berpotensi
menimbulkan perselisihan, mengganggu eksistensi sebagai manusia hingga
membahayakan nyawa.
Kenapa kok bisa ekstrim begitu? Ya,
itulah yang dialami Virly. Bukan hendak menakut-nakuti mereka yang belum/tidak
menikah. Tapi, begitulah adanya. Pernikahan tidak selalu seindah bayangan kita
seperti di film-film atau media sosial artis-artis. Pernikahan tidak hanya
cerita indah-indahnya saja, cerita kelam dan cerita duka pun banyak, banyak
sekali.
Yang aku suka dari Life as Divorcee adalah ia mampu membantu
kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini berkembang dalam pikiran
kita. Virly membuka dialog dengan pengalaman dia memutuskan untuk bercerai. Virly
tidak dengan mudahnya mengajak perempuan untuk bercerai ketika ada masalah
dalam sebuah rumah tangga. Nope.
Virly menguraikan dengan lugas
apa saja yang harus dipikirkan matang-matang sebelum memutuskan bercerai. Apa saja
konsekuensi yang akan kita hadapi, dan banyak lagi lainnya. Virly juga menguraikan
hal-hal yang tidak dia lakukan sebelum dulu memutuskan untuk menikah. Nah,
hal-hal inilah yang bisa kita jadikan pedoman untuk dibicarakan bersama
pasangan apabila kita ada di hubungan yang hendak ke jenjang pernikahan.
Pre-Marriage Talks, istilahnya. I
swear, jangan pernah merasa sungkan atau malas membahas hal-hal yang perlu
dibahas sebelum pernikahan. Dari sana kita akan bisa melihat bagaimana
pandangan hidup pasangan kita. Dari perbincangan-perbincangan itu kita akan
tahu dia worth it atau tidak. Bisa tidak
kita menghabiskan seumur hidup kita dengannya? Ladies, seumur hidup itu tidak sebentar. Jadi, pikirkan
matang-matang.
Ah, kebanyakan mikir. Ingat usia
semakin tua. So, what? Jangan biarkan
perkataan orang lain mematahkan proses belajarmu. Proses mengenal diri sendiri
terlebih dahulu dengan baik. Jangan sampai perkataan-perkataan demikian
membuatmu justru tercebur dalam keputusasaan. Ah, ya udahlah sama siapa aja yang penting aku menikah. Noooo,
girls! No. Just keep on that way.
Life as Divorcee tidak hanya menjadi guidance bagi mereka yang sudah bercerai, tapi juga bagi mereka
yang belum ingin menikah. Teman-teman bisa mendapatkan bukunya di sini.

.png)



