Senin, 28 Juni 2021

MUSICAL PARALYSIS

Juni 28, 2021 0 Comments

Pernah nggak kepikiran kenapa semakin bertambah usia, kita semakin ketinggalan dengan perkembangan musik-musik baru? Playlist kita adalah lagu-lagu yang akrab di telinga kita lima bahkan sepuluh tahun lalu. Yang kalau lagunya diputar kita bisa sing along.

Hal itu wajar, dan enggak apa-apa juga kalau kita enggak update lagu-lagu baru. Nah, aku sempat membahas hal ini saat siaran Mandala Kenangan Masa. Ada satu artikel yang diulas oleh Tirto soal Musical Paralysis.

Adam Read, editor Deezer (layanan streaming musik berbasis internet) Inggris dan Irlandia menjelaskan soal paralisis musikal ini. Tahun 2018, Deezer merilis hasil survei tentang preferensi dan kebiasaan seseorang mendengar musik. Survei yang dilakukan di Inggris, AS, Prancis, Jerman dan Brasil itu melibatkan 5.000 responden dari latar usia beragam.

Hasilnya mungkin tidak terlalu mengejutkan, tapi cukup menarik. Rata-rata seseorang akan berhenti mengeksplorasi musik baru atau mengalami paralisis musikal pada usia 30 tahun. Lebih detail lagi, rata-rata usia kelumpuhan musikal ini berbeda-beda di tiap negara. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Boleh jadi secara sederhana kita simpulkan: semakin menua kita perlahan berhenti mengikuti perkembangan musik baru. Kalau dipikir-pikir benar juga. Meski aku seorang penyiar radio, tetap tidak membuatku update pada musik-musik baru, selain karena memang aku sudah tidak lagi siaran Mandala Musik Terkini.

Semakin dewasa kita dihadapkan pada kehidupan yang semakin kompleks. Dihadapkan pada kehidupan yang semakin ruwet dan merepotkan. Bisa jadi tidak ada banyak waktu luang yang bisa kita gunakan untuk sekadar menengok playlist musik baru di Spotify. Aktivitas yang bertambah, tanggung jawab yang semakin banyak, tidak membuat waktu yang tersedia bertambah banyak.

Apalagi kalau satu musik membekas sekali di ingatan kita saat kita remaja. Itulah mungkin kenapa kalau kita tengok lagu-lagu nostalgia di youtube, pada kolom komentar kita akan menemukan komentar-komentar yang old glory.

Musik adalah bahasa yang universal itu iya banget. Dia mampu mengekspresikan perasaan yang kadang banyak orang enggak bisa ekspresikan. Dulu zaman BBM kalau kita ingat kita bisa memunculkan lagu yang sedang kita dengarkan di beranda untuk kasih kode ke gebetan. Siapa nih yang begini? Hahaha.

Banyak orang yang merasa “aku banget” pada sebuah lagu. Banyak juga yang menjadi kuat dan bangkit karena sebuah lagu seperti yang dialami Joko Anwar. Di youtube-nya Vincen dan Desta, Joko Anwar bercerita soal konflik batin yang dia alami hingga akhirnya memutuskan akan mengakhiri hidup. Tapi, Elvis Costello menyelamatkan dia. Man, orang frustasi dan mau bunuh diri itu ada, banyak. Tapi, orang-orang yang hidupnya terselamatkan karena sebuah karya, itu juga banyak.

Seperti kata Bono U2, music change the world because it can change people. Jadi, adakah musik yang mengubah hidup kalian?


Jumat, 25 Juni 2021

KEAPA HARUS PEREMPUAN?

Juni 25, 2021 0 Comments

Sulit rasanya menutup mata dan menutup telinga pada hal-hal yang dibentuk oleh masyarakat kita entah sudah sejak berapa ribu tahun lamanya. Bahwa ada hal-hal yang berlaku di masyarakat yang dibuat seolah begitulah yanng seharusnya terjadi. Kalau kita tidak demikian, maka kita aneh, kita berbeda, kita tidak sama dengan layakanya manusia pada umumnya. So tricky.

Aku mencoba memahami beberapa hal yang dilazimkan oleh masyarakat kita. Meski dalam prosesnya kadang aku mengalami beberapa perasaan aneh. Kenapa begitu? Kenapa harus seperti itu? Kenapa memangnya kalau begini? Sampai pada akhirnya aku tidak benar-benar bisa memahami banyak hal. Begitu banyak pertanyaan yang akhirnya menguap begitu saja dan berujung pada penerimaan tanpa pemahaman.

Pernikahan, contohnya. Sebuah konstitusi yang berlaku di masyarakat, dimana dua individu menyatu dalam sebuah ikatan sah dihadapan agama dan negara. I told you, I swear, aku akan selalu turut berbahagia pada semua peristiwa pernikahan yang dialami oleh orang-orang terdekatku, oleh kawan-kawanku. But, I’m so sick of this bullshit questions about mine. Dude, can you just mind your own marriage? Like, of course I thank you about your caring, but please, don’t be annoying.

Atau pada satu hal lain, masih soal pernikahan. Ketika seorang perempuan dengan segala hal valid yang melekat pada dirinya (perasaannya, pengetahuannya, kemampuannya, dan lain sebagainya) belum memutuskan untuk menikah, akan ada celetukan soal jangan terlalu pintar. Damn, this is one of another bullshit I ever heard. What’s the problem of being good, clever, or capable in many things?

Jadi perempuan jangan terlalu pintar nanti susah menikah karena laki-laki minder mau deketin. Yang minder laki-lakinya, kenapa jadi perempuan yang harus menurunkan kualitas dirinya hanya agar bisa menikah? Kenapa jadi perempuan yang harus mengubah dirinya hanya agar bisa diterima dan dinilai normal? Kenapa jadi perempuan saja yang harus repot?

Buat apa pintar kalau nyusahin? Ini adalah poin penting buatku. Enggak nyusahin is such a blessing. Doaku selalu pada Tuhan: semoga kelak aku akan hidup bersama laki-laki yang punya framework yang benar. Yang kalau ada masalah, bisa menjadi partner yang baik dalam menyelesaikan masalah, bukan malah menambah masalah. Semoga kelak aku akan hidup bersama laki-laki yang apa yang dia katakan dan lakukan, masuk akal bagiku.

Lelah sekali harus pasang poker face tiap bertemu orang dengan komentar demikian. Beberapa memang hanya selintas saja, tidak pernah aku anggap serius. Tapi, beberapa kadang juga sangat mengganggu pikiran. Sampai ketika sedang tidak melakukan apa-apa, ada pikiran selintas yang membenarkan omong kosong-omong kosong tersebut.

Jangan-jangan kenapa aku belum menikah karena ini, karena itu, harusnya begini, harusnya begitu. Padahal aku tahu persis kenapa aku belum seperti teman-temanku yang lain. Ya karena memang aku belum mau menikah. Sampai kapan? Enggak tahu.

Bukankah memang tidak ada yang benar-benar tahu hidup ini akan seperti apa?

Yang sial adalah orang-orang di sekitar kita yang asli ingin kusambelin mulutnya yang suka bilang “Nunggu apa lagi, sih, kamu itu sudah waktuya menikah.” Atau “Mbak, buru-buru deh, Mbak. Enak tahu nikah, Mbak. Bener, deh.”

Yang terakhir sounds familiar bukan? Hahaha.

Jumat, 18 Juni 2021

THE UNSPOKEN

Juni 18, 2021 0 Comments

Satu hal yang gue sadari ketika nanti lu menikah adalah pertanyaan: “Kalo kamu nikah Mey main sama siapa, dong?” Ya, kan? Pasti lu sering dapat pertanyaan itu akhir-akhir ini. Karena gue juga begitu.

Woh, seperti yang sudah sering banget kita bahas, bahwa pada akhirnya nanti semua bakal pergi buat melanjutkan hidup. Entah itu pergi buat kerja, pergi buat meraih cita-cita, atau pergi karena melanjutkan hidup sama teman hidup.

Sial bener, pas nulis ini pas banget playlist gue sampe di lagu Sampai Jumpa Lagi punya Endank Soekamti.

Kita juga sama-sama sepakat soal perubahan setelah menikah. Sebelum menikah mungkin kita sering bilang ke diri kita masing-masing pokoknya jangan sampai berubah pas nanti udah nikah. Tapi, Woh, kayaknya susah buat enggak berubah. Pasti berubah, pasti enggak akan sama kayak dulu lagi. Yang paling kelihatan adalah fisik kita yang bakal berjauhan.

Let me confess one thing. Gue sebenernya enggak punya nyali buat bilang “Woh, lu harus banget nikah secepat ini?” atau “Woh, tinggal di Banyuwangi aja napa abis nikah.” Gue bener-bener enggak megizinkan pertanyaan itu keluar dari mulut gue.

Dulu, kalo lu ngeh, pas lu ke rumah dan lu cerita soal Ari dan keluarganya yang mau datang ke Banyuwangi. Kalo lu ngeh gimana respon gue, lu pasti kerasa kalau gue agak enggak excited. Hahaha. Gimana, ya. Kayak aneh aja temen main gue tiba-tiba udah mau dilamar orang.

Gue minta maaf banget waktu lamaran datangnya telat, dan kalo lu tau perasaan gue tiap lu cerita soal Cak Opik yang ngomel-ngomel karena enggak ada satu pun temen lu yang dateng padahal temen lu seabrek, aduh itu muncul lagi perasaan bersalah. Terus tiba-tiba gue juga jadi sok ngerti gimana perasaan ibuk yang waktu itu enggak ada angin enggak ada hujan tiba-tiba nangis (mana pas ada gue lagi) pas kelar acara lamaran lu. Gue aja enggak rela lu dibawa pergi jauh, apalagi ibuk.

Akhirnya sampai juga lu di fase ini, Woh. Menikah. Menikah sama orang yang dulu sempat kita teriak-teriakin namanya di lapangan GOR. Buset, Gusti Allah wadidaw bener ya, wkwkwk. I wish you nothing but the best, Woh. Ya, gimana, mau ngasih duit 10 Milyar juga gue enggak punya. Kalaupun ada, ya mending buat gue sendiri tuh 10 M. Ngebayarin keluarga cemara KW9 plus orang tua masing-masing naik haji kayaknya masih ada sisa. Bisa lah kita keliling Indonesia.

Gue tahu lu pasti udah paham banget soal membangun rumah tangga. Lu udah belajar sama banyak orang di sekitar lu. Tapi, semakin banyak belajar pasti semakin ngerasa enggak tahu apa-apa, ya? Iya nggak, sih? Enggak apa-apa. Emang enggak semua hal harus kita kuasai. Karena teori sama praktik susah bener sinkronnya.

Aduh, ini sebenernya gue mau nulis apaaa~

Mau bilang terima kasih banyak buat semua waktu yang sudah kita lalui sama-sama. Buat ritual mandi, ritual makan mi rebus, ritual makan mi ayam, ritual nambel ban, ritual nyobain kopisyop baru, ritual morotin pak bos, dan ritual-ritual lain yang gue lupa apa aja.

Gila, ya. Kalau gue buka-buka lagi folder foto dari zaman kita kuliah, banyaaaaaaaak banget momen yang kita lalui sama-sama. Kesana-kemari ikut acara organisasi, kesana-kemari ikut seminar, kesana-kemari ketemu orang-orang keren.

Gue bakal ingat terus momen kita naik ke bukit (aduh lupa apa namanya, pokoknya deket watu dodol) terus sarapan roti sama minum Ultramilk di atas. Itu kayaknya momen pertama kali lu cerita banyak banget soal diri lu dan keluarga. Tahu, nggak, gue speechless waktu itu. Gila ini anak bisa percaya banget sama orang yang dia ajak ngobrol sampe kehidupannya dia ceritain.

Mau bilang terima kasih juga buat jadi bagian dari proses hidup gue. Buat semua obrolan menyenangkan sampai obrolan yang enggak ada faedahnya. Buat hal-hal yang mendewasakan gue. Buat semua pengalaman berharga yang kalau dipikir lagi enggak bakal mungkin gue lakuin kalo enggak sama lu. Contoh: ke Jember. Motor diparkir di Kalisetail terus kita sok ngide berangkat ke Jember. Pulang hari itu juga jam sembilan malam. Gila emang lu, wkwkwk. Contoh (lagi): dorong motor jam setengah dua belas malam di Alasmalang karena ban bocor. Emang udah gilaaaaaaa. Contoh (lagi dan lagi): naik Ijen pakai gamis. Astagaaaaaaa.

Lu adalah perempuan paling udah santai aja yang gue kenal, Woh. Hidup kayak ringan-ringan aja kalau lagi sama lu, heran bener. Ada banyak hal yang gue pelajari dari lu, dan itu salah satunya, ride the wave.

Hmm, apa lagi, ya. Kalau mau panjang ini tulisan bisa panjang banget, enggak cukup dua halaman microsoft word. Itu aja, lah. Kepanjangan juga kasihan yang baca.

Gue enggak bakal sok ngasih nasihat buat pernikahan lu sama Ari. Gue cuma pesen satu hal, nanti setelah menikah jangan jadi nyebelin dengan nyuruh-nyuruh yang single buat buru-buru nikah. Ya enggak bakalan laaaaah. Orang lu aja sebel sama orang model begitu, wkwkwk.

Kata orang, semakin gede sirkel kita semakin itu-itu aja. Dan, gue happy menyadari bahwa sirkel gue emang itu-itu aja. Karena mereka yang itu-itu aja ini punya kualitas di hidup gue. Dan, gue juga happy bahwa satu per satu dari sirkel gue yang itu-itu aja ini pada akhirnya memutuskan untuk menikah.

Selamat melanjutkan hidup sama Ari, ya. Buat semua keresahan soal berumah tangga yang sering kita diskusikan, semoga enggak kejadian. Kalaupun kejadian, semoga enggak serem-serem amat.

Nah, menjawab pertanyaan teman-teman soal kalau Bibeh nikah Mey main sama siapa? Man, actually I’m homebody. Pada dasarnya saya sangat mencintai rumah. Saya senang sekali ada di rumah. Kalau enggak ada temen buat main, ya enggak main.

Orang main tuh kalau menurut saya harus sama orang yang nyaman buat dia. Namanya juga main, pingin seneng-seneng, ketawa-ketawa, ngapain main kalau enggak sama orang yang bikin kita nyaman?