Rabu, 27 Februari 2019

Patah Hati dan Obatnya

Februari 27, 2019 0 Comments
Kemarin saya nonton vlog Raditya Dika yang bersama dengan Luna Maya. Sebagai pengangguran tak kasat mata, saya punya banyak waktu untuk selonjoran dan menonton video-video dari beberapa public figur di Indonesia yang mulai punya channel youtube sendiri. Raditya Dika salah satunya. Komika kesayangan saya sejak zaman sekolah SMK.

Pada video yang telah dilihat oleh 1,4 juta penonton sampai saya menulis catatan ini (padahal baru tiga hari yang lalu tuh video naik), ada satu pertanyaan yang ditanyakan Radit pada Luna Maya. Pertanyannya adalah:



 Kalian bisa melihat jawaban Luna Maya di video tersebut. Cek sendiri, ya, gaes~

Catatan ini sebenarnya juga akan menjawab pertanyaan Radit, tapi versi saya dan sobat-sobat WhatsApp.

Sebelum saya berbagi tentang pengalaman patah hati, ada baiknya kita luruskan terlebih dahulu konotasi patah hati ini patah yang disebabkan oleh apa? Nah, yang ingin saya bahas di catatan ini adalah patah hati secara umum. Ya bisa karena asmara, karena pertemanan, atau apapun, bebas. Yha terus ngapain dilurus-lurusin segala, Rehanaaa~

Sumber: Twitter

Tentu kita semua pernah mengalami yang namanya patah hati. Ya, nggak? Ya, dong. Ya, kan? Ya, laaah. Saya juga begitu, pernah mengalami segala rupa patah hati. Saya patah hati saat mengetahui bahwa sahabat SD saya tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP yang sama dengan saya dan dua sahabat saya lainnya. Saya ingat betul waktu itu saya menangis. Memang pada dasarnya saya hobi menangis, sih. Hobi kok nangeees~

Saya patah hati ketika saya mengetahui adik saya sempat dihajar bapak habis-habisan karena tidak mau bersekolah. Saya patah hati melihat Ardi menangis histeris. Padahal waktu itu saya masih sekolah dasar, masih terlalu kecil untuk sanggup melihat kekerasan-kekerasan semacam itu.

Dan ini adalah patah hati terhebat saya yang sampai saat ini jika mengingat kejadian itu saya benar-benar merasa sakit hati, merasa bersalah dan menangis. Saat saya melihat Ardi terjatuh dari tangga rumah bude. Waktu itu saya seperti biasa sedang bermain di lantai dua, di rumah salah satu tetangga di Krasak, tetangga yang biasa saya panggil bude. Saya bermain bersama beberapa teman di sebuah kamar di lantai dua itu. Saya yang mengetahui bahwa Ardi datang menyusul, berusaha untuk bersembunyi. Saya mendengar Ardi mengetuk pintu kamar beberapa kali dan saya tidak membukanya. Waktu itu niatnya memang hanya bercanda. Kemudian setelah beberapa lama, saya tidak lagi mendengar ketukan. Saya berpikir bahwa Ardi pulang.

Saya memutuskan untuk menyudahi bermain dan keluar kamar. (ngetiknya sambil berurai air mata, gaes, saya sensitif banget dengan kejadian ini) Alangkah terkejutnya saya ketika akan turun dan melihat Ardi sudah terkapar di dasar lantai sana. Darah segar keluar dari hidung dan entah dari mana lagi. Tangga rumah bude itu memang tidak tinggi, tapi jarak antara satu anak tangga dengan anak tangga lainnya cukup tinggi. Saya membayangkan anak sekecil Ardi (waktu itu dia belum sekolah) harus menaiki tangga itu kemudian memutuskan untuk turun, karena dia tidak kunjung mendapati pintu kamar yang dia ketuk berulang kali tadi terbuka. Saya panik, takut, bingung, hingga kemudian bude mengetahui kejadian tersebut. Saya lupa persisnya setelah itu bagaimana, yang jelas saya tidak berani menghadap bapak ibu. Saya tidak mau pulang. Saya takut mereka marah. Saya bersembunyi entah berapa lama di sebuah undak-undakan dimana di bawahnya adalah aliran sungai yang deras. Undak-undakan itu berada dibalik pintu belakang rumah bude. Saya mendengar ibu saya menangis, tapi saya lupa bagaimana reaksi bapak.

Kejadian itu benar-benar melukai hati saya. Ardi banyak mendapatkan luka dalam, karena kecerobohan saya itu, tangan kanan atau kirinya saya lupa, menjadi bengkok. Ya, dia mengalami patah tulang. Bapak dan ibu membawa Ardi ke sangkal putung, Gintangan. Yang saya ketahui nama bapak yang mengobati Ardi adalah Bapak Jumali. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tua saya waktu melihat keadaan Ardi pertama kali. Berulang kali saya mengutuki diri saya sendiri. Andai saja waktu itu saya tidak bermain di lantai dua. Andai saja waktu Ardi mengetuk pintu saya segera membuka. Andai saja ...


Sumber: Twitter

Sampai hari ini saya terus menyesali kejadian itu. Dan, mungkin karena kejadian itu lah saya menjadi sangat protektif terhadap Fahri, adik kedua saya yang saat ini berusia tujuh tahun. Beberapa waktu yang lalu saat jemput Fahri sekolah saya mendengar salah seorang ibu yang juga sedang menunggu anaknya pulang sekolah berkata pada beberapa anak yang sudah keluar “Mau sopo sing nangis?” anak tersebut menjawab yang hanya samar saya mendengarnya “Fahriza”. Saya berusaha santai, karena di kelas satu ada dua anak yang bernama Fahri. Ah, paling Fahri yang lain, pikir saya. Saat sudah jam 10 lebih Fahri tak kunjung keluar, saya bertanya pada Damar, teman sekolahnya. Damar bilang Fahri ada di kantor sedang menangis karena bertengkar.

Deg. Saya sudah panik dan segera masuk ke sekolah. Saya datangi ruang kantor dan mendapati Fahri tengah duduk di sebelah wali kelasnya, Bu Eka, sambil makan keripik tempe. Ketika saya melongok ke ruangan itu dan mata saya dan Fahri bertatap, dia kembali menangis. Aduuuh, itu hati saya sudah nggak karu-karuan, gaes. Segera saya datangi Fahri dan Bu Eka menjelaskan kejadiannya secara jelas. Sambil Bu Eka menjelaskan, saya sambil berusaha menahan air mata yang rasanya mau tumpah. “Biasa, mbak, Fahriza ini kan anaknya sensitif, lha terus temannya itu memang suka usil,” kata Bu Eka menyelesaikan kalimatnya. Adik dan kakak sama-sama sensitif :(

Saya patah hati saat melihat anak-anak kecil berkelahi dengan kawan mereka. Seperti kejadian di Blambangan tempo hari. Waktu itu saya dan Donat sedang menunggu Lia. Sembari menuggu tersebut saya melihat gerombolan anak-anak yang sedang bermain. Tidak lama setelahnya salah satu anak menangis entah karena apa, saya kurang memerhatikan. Hati saya berontak melihat yang demikian, gaes. Saya orangnya nggak bisaan. Saya memutuskan untuk menghampiri anak-anak tersebut dan bertanya ada apa. Beberapa bocah menjawab pertanyaan saya, hingga kemudian saya tahu penyebabnya. Begitulah, akhirnya saya sok menjadi mbak-mbak yang menenangkan anak yang menangis ini dan menjinakkan teman yang kata teman-temannya ‘nakal’ sehingga membuat si anak tadi menangis. Dan akhirnya mereka baikan dan kembali bermain. Saya nggak tahu, tapi naluri itu muncul secara tiba-tiba.

Atau seperti kemarin saat menjemput Fahri ngaji, saya melihat beberapa anak terlibat pertengkaran. Saya dan salah seorang ibu-ibu yang juga menjemput anaknya ngaji berusaha untuk menghentikan pertikaian mereka. Saya nggak senang aja melihat kekerasan sesama teman begitu. Apalagi mereka masih kecil.

Saya juga patah hati apabila melihat ibu-ibu yang dengan mudahnya memarahi anak mereka di depan umum. Apalagi kata-kata yang keluar dari mulut si ibu ini nggak bisa dibilang halus. Ya saya mengerti tipikal ngomel-ngomelnya Wong Osing memang begitu, tapi tetap saja saya nggak bisa terima. Kalau mau ngomel-ngomel mending jangan di depan saya gitu, lho.

Jadi, ada dua kejadian yang masih membekas di ingatan saya. Yang pertama masih di area sekolah Fahri. Seperti biasa saya waktu itu sedang menunggu dia pulang. Ada salah satu anak yang keluar dari sekolah dan menghampiri ibunya yang menunggu di pos kamling depan sekolah. Lalu beberapa menit kemudian saya mendengar si ibu berkata dengan suara keras dan mulai memukul-mukul muka si anak (bahasa jawanya itu ditapuk gitu, gaes). Saya yang melihat jelas kejadian itu hanya bisa metek dodo. Saya melihat wajah si anak yang menahan tangis, dan pasti juga malu karena di sekitar kejadian banyak anak-anak yang lain. Masalahnya sepele, si anak meminta uang jajan lagi untuk membeli sesuatu. Bagi saya seorang anak meminta uang untuk jajan itu hal yang sepele, tapi menjadi tidak sepele ketika reaksi yang si ibu tunjukkan sedemikian rupa. Kenapa? Kenapa harus memukul-mukul anak? Jika memang tidak ada uang, atau tidak berkenan memberikan uang lagi, ya bilang saja secara baik-baik. Bujuk anak agar perhatiannya bisa teralih dari uang, bukankah itu skill yang memang harus dipunyai oleh orang tua?

Kejadian kedua di tempat Ai ngaji. Saya terbiasa menunggu Ai selesai ngaji di tempat Mbak Fitri berjualan. Nah, pernah satu hari saat sedang menunggu, saya melihat ada Candra di sekitar Mbak Fitri. Candra ini anak Mbak Fitri, dan usianya kira-kira masih empat tahunan, lah. Saya nggak paham apakah Mbak Fitri adalah tipe orang tua yang pilih kasih atau bagaimana, tapi yang saya lihat sikapnya ke Candra selalu kasar, berbeda dengan sikapnya ke anak yang terakhir, saya lupa namanya. Waktu itu Candra dan kakak sepupunya sedang menunggu Mbak Fitri berjualan. Saya nggak tahu, ya, kenapa Mbak Fitri bisa begitu keras terhadap Candra waktu itu. Saya melihat Mbak Fitri menjambak rambut Candra beberapa kali hingga tubuh anak kecil itu terduduk di tanah. Masalahnya sepele, benar-benar sepele. Candra waktu itu sedang main di tanah sambil jongkok, dia melukis-lukis tanah dengan ranting kecil. Saya tidak tahu apakah perbuatan Candra itu menyebabkan dagangan ibunya terkena debu, yang jelas sama sekali tidak, karena Candra hanya bermain dengan pelan, atau memang tabiat ibunya saja yang suka menghajar Candra. Saya melihat ekspresi Candra sama seperti saya melihat Ai mewek di kantor sekolah tempo hari. Candra langsung meringsek ke pelukan kakak sepupunya itu. Hati saya ambyaaaaar, gaes~

Saya tidak habis pikir kenapa ada orang tua yang ringan tangan seperti itu. Kenapa membuat anak merasa takut bahkan berada di dekapan orang tua mereka sendiri? Saya bisa melihat Candra itu takut pada ibunya. Patah hati saya melihat hal-hal seperti ini. Ya memang saya tidak tahu ada masalah apa dalam keluarga mereka, tapi saya rasa memukul anak bukan solusi yang benar untuk melampiaskan kekesalan kita pada problematika rumah tangga.

Nah, ini lah salah satu alasan kenapa saya tidak ingin menikah. Ralat, belum ingin menikah. Saya takut patah hati setiap hari pada diri saya sendiri.

Itu baru beberapa hal yang membuat saya patah hati. Masih ada beberapa, diantaranya saat saya melihat Mbah Sudjiwo Tedjo banting mic di auditorium Untag beberapa tahun lalu. Saya yang waktu itu jadi koordinator sie. acara nangis nggak bisa berhenti di pojokan. Merasa gagal aja gitu. Hiks.

Kemudian saya juga patah hati saat melihat video seorang ayah yang mengambil ijazah S1 anaknya dikarenakan si anak meninggal dunia sesaat setelah menyelesaikan sidang skripsinya. It was really broke my heart. Patah hati saat ditinggal selamanya oleh orang-orang terkasih memang sebenar-benarnya patah hati.

Saat saya tertolak oleh PT. KAI sebagai Station Announcer, itu juga saya patah hati (mana tiket berangkat ke Jember mahal banget lagi waktu itu). Hmm, pekerjaan yang saya idam-idamkan harus kembali bersabar menanti jalan yang lain. Saat gagal mengikuti tes CPNS, patah hati lagi. Saat aplikasi saya tidak bisa diproses lebih lanjut oleh Kominfo, patah hati lagi.

Patah hati saya yang lain adalah saat mendapat job ngemc tapi tidak mencapai performa terbaik saat melakukannya. Kita pasti bisa merasakan ketika kita mengerjakan sesuatu tapi kita tidak mencapai kepuasan tersendiri. Ada yang kurang. Saya juga sering seperti itu. Atau bisa juga ketika dapat tawaran jadi dubber, saya sering patah hati karena merasa saya bisa memberikan suara yang lebih baik dari itu. Ya meskipun kadang-kadang orang menilai suara saya sudah baik.

Saat mulai mengenal seorang laki-laki dan mengijinkan dia masuk ke dalam hati, saya juga patah hati dibuatnya. Pernah juga karena hal tersebut saya naik motor dari rumah ke pom bensin Karangente dengan berlinang lair mata ala ala film IndiaPatah hati karena asmara memang bangsatnya luar biasa. Dan setelah semua patah hati yang saya lalui itu, bagaimana cara saya untuk sembuh?

Saya membiarkannya begitu saja. Penolakan-penolakan, sakit dan patah hati seperti itu adalah sesuatu yang akan menguatkan kita. Saya pernah menulis perihal kerasnya kehidupan, maka kita tidak boleh lembek, harus lebih keras dan kuat. Bagaimana cara Tuhan menguatkan kita? Ya itu tadi, kita dihadapkan pada penolakan, sakit hati, patah hati.

Bagi saya, itu semua tergantung dari bagaimana kita mengatur diri kita menghadapi berbagai emosi yang datang. Nggak gampang memang untuk tetap berpikir positif di tengah cobaan hidup yang skalanya tidak tetap. Bisa jadi ringan, ringan sekali, sampai pada skala yang berat dan berat banget yawlaaa nggak kuat deh mau nikah ajaaa :(

Itulah kemudian saya lebih memilih untuk membiarkan saja, let it flow, sambil saya merenung. Gila, ternyata selama ini saya begitu kuat sehingga cobaan-cobaan yang telah lewat itu bisa saya lalui. Saya yakin cara orang untuk sembuh dari patah hati berbeda-beda. Seperti beberapa teman yang telah sharing bersama saya via WhatsApp pada malam hari ini.

Ini story WA saya malam ini

Sobat akhlakul karimah~


Pentolan BESAF emang game melulu :')



Monmaap, pak

Kalo saya nyanyi yang kesel bukan lambenya,
tapi tetangga dan anggota keluarga :')

Ngomong doang gampaaaaang :'(

Loveeeee

Tidak ada yang mudah melewati fase patah hati. Sakit yang ditimbulkan, trauma yang ditimbulkan, tidak ada yang mudah. Tapi yakinlah bahwa semua luka-luka itu akan membuat kita menjadi lebih dewasa.


School 2017

Saya tidak sedang patah hati, gaes. Bagi kalian yang menanyakan hal tersebut semalam, saya tegaskan lagi saya tidak sedang patah hati. Hati saya hanya satu dan sudah patah bolak-balik, wis kebaaal. Semalam saya hanya ingin tahu bagaimana cara kalian untuk sembuh dari patah hati, untuk kemudian saya tulis di blog tercinta saya ini. Heuheu~

Selasa, 19 Februari 2019

KEBAIKAN KECIL

Februari 19, 2019 0 Comments
Malam ini jatah ngaji saya harus tersita oleh rapat bersama rekan-rekan NU Online Banyuwangi di aula bawah PCNU. Agendanya adalah membahas tentang raker yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Sungguh saya rindu siaran lagi. Semoga setelah raker dan merevitalisasi beberapa bagian, radio NU Online kesayangan kita semua dapat kembali mengudara. Mari kita aamiin-kan, teman-teman.

Selesai rapat saya berniat ke musala untuk mengikuti sisa pengajian, tapi saya papasan dengan Prifa yang sudah turun dan hendak pulang. Ternyata pengajian t’lah usai. Baiklah, saya akhirnya juga memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang saya mampir ke BCA untuk setor tunai rezeki hari ini.

Keluar dari BCA semua baik-baik saja, hingga saya melewati Vionata. Motor yang saya kendarai tiba-tiba berbunyi “pletak!” nggak gitu juga, sih, bunyinya kek bunyi rantai putus. Pokoknya tiba-tiba gas motor udah nggak berfungsi lagi. Untung insiden itu pas saya jalan agak minggir, nggak kebayang kalau saya pas di tengah-tengah jalan raya. Saya shock campur kaget campur panik. Akhirnya saya berhenti tepat di depan dispar. Saya turun dari motor dan melihat bagian rantai. Saya bersyukur karena rantainya hanya lepas, nggak kebayang kalau putus beneran. Bisa jomblooooo

Saya ndodok dan mulai membetulkan rantai. Nggak mudah, saya harus majuin motor beberapa kali. Saat ndodok itulah ada bapak-bapak tukang becak lewat. Beliau sempat bertanya “Opo o mbak, copot?” saya mengiyakan. Saya kira bapak hanya bertanya saja, tapi ternyata beliau berhenti dan ikut membantu saya. “Sampean mundurno, mbak, ojo maju.”

Oh iya, ya, kenapa malah saya majuin terus ini motor. Pantes dari tadi nggak betul-betul ini rantai. Si bapak menyarankan untuk njaglang dua motornya. Ya klean tahu sendiri, lah, gaes, saya nggak kuat kalau harus njaglang dua motor yang beratnya lebih dari berat badan saya ini. Dengan dibantu bapak, kami berhasil membuat motor berdiri dengan dua kaki. Dan saya mulai memutar ke belakang ban motor dengan terus membetulkan rantai. Voilaaa! Rantai kembali ke jalan yang benar.

Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak tukang becak baik hati yang mau berhenti dan membantu saya malam ini. Sepele, sih, tapi saya merasa luar biasa. Dunia masih dipenuhi orang-orang baik. Dunia masih ramah pada kita.

Kebaikan-kebaikan kecil ini akan selalu kembali pada orangnya. Saya yakin itu. Semoga si bapak selalu sehat. Dipenuhi hidupnya dengan berkah.



Kamis, 07 Februari 2019

Remember Me

Februari 07, 2019 0 Comments
“Saya tuh orang egois yang ingin ketika saya meninggal nanti, saya diingat.”

Itu sebuah kalimat yang diucapkan oleh salah satu penulis Indonesia dalam sebuah wawancara bersama Mojok, Fiersa Besari. Dia ingin diingat sebagai seorang penulis saat kelak dirinya telah tiada. Sebuah film produksi Pixar Animation Studios, Coco, memberikan perspektif baru kepada kita tentang mengingat seseorang yang telah meninggal.

Coco menceritakan bagaimana kebiasaan orang-orang di sebuah desa kecil di Meksiko menyimpan foto seseorang yang telah meninggal, kemudian melakukan istilahnya jika di Indonesia mungkin pengajian/tahlilan/peringatan dalam rangka mengingat almarhum. Kamu akan dapat melenggang menuju alam baka dengan damai.

Jika tidak ada satu pun manusia di dunia yang mengingatmu, maka arwahmu tidak akan bisa dikenali, dan kamu akan terlupakan, and it hurts. Ini memang hanya film, tapi saya yakin ada banyak pelajaran yang akan membuka mata kita. Bahwa setiap orang memiliki cara mereka sendiri dalam mengingat seseorang yang telah meninggal, menyimpan foto salah satunya. Dan kita tak perlu meributkan kebiasaan-kebiasaan yang beragam itu.

Apa korelasinya dengan kutipan Fiersa Besari tersebut? Saya akan mengawali dengan sebuah pertanyaan: Ingin diingat sebagai apa kelak ketika kita meninggal?

Jika kita ingin diingat sebagai seseorang yang entah bagaimanapun kita menginginkannya, di film Coco mereka ingin diingat agar mereka dapat abadi.

Saat Fiersa mengatakan “Saya tuh orang egois yang ingin ketika saya meninggal nanti, saya diingat.” saya tersenyum. Ternyata saya juga begitu. Saya ingin kelak ketika saya meninggal, saya juga diingat. Ingin diingat sebagai seseorang yang seperti apa saya nanti? Mbuh, nggak tahu. Hahaha. Tapi, ya, gitu. Pokoknya saya ingin diingat.

Entah sebagai perempuan yang suka bacot di twitter. Sebagai perempuan yang suka ngatain laki-laki otak segaris yang suka melabeli perempuan dengan ‘perempuan yang baik tuh blablablablabla’ halaaah, cangkeman! Sebagai perempuan yang ingin patriarki runtuh, HAHAHAHA! Sebagai perempuan yang senang sambat in every single day. Atau sebagai perempuan yang menjadikanmu jatuh sejatuh-jatuhnya dan kau merasa semua wanita di dunia ini baik, kecuali aku.

----------------------------------------------------------Hening------------------------------------------------------------------

Okay, get serious. (padahal dari tadi saya yang becanda, ya?)

Kadang saya sampai pada suatu pemikiran, bagaimana jika kelak saya meninggalkan dunia terlebih dahulu sebelum orang-orang? Bagaimana reaksi mereka? Apa yang akan mereka tulis di sosial media mereka mengenai kepergian saya? Atau jangan-jangan there’s no one care? Mampus lah kau sambal terasi!

Penting banget, ya, saya mikir sampai kesana. Hahaha. Yang jelas, bagaimanapun saya nanti diingat ketika telah meninggal, saya ingin diingat dengan kenangan-kenangan yang baik.

Jumat, 01 Februari 2019

Bertemu Orang Baru

Februari 01, 2019 0 Comments
Pagi ini saya, Bibeh dan Fiya menyempatkan diri untuk olahraga di Blambangan. Saya lupa kapan terakhir kali olahraga, saking lamanya, wkwkwk.

Saya dan Bibeh datang terlebih dahulu. Fiya nyusul, karena harus check-lock dulu ke kantor. Nggak sampai satu putaran saya sudah engap. Banyakan jalannya daripada lari. Nggak apa, yang penting gerakin badan. *pembelaan

Saya juga cobain semua fasilitas olahraga yang disediakan pemerintah. Eh, nggak semua juga, sih. Beberapa aja. Fiya datang setelah saya dan Bibeh menyelesaikan dua putaran. Kami melakukan satu putaran lagi untuk menemani Fiya.

Ketika sampai di depan tiang bendera, kami mulai sempoyongan nggak jelas. Jalan enggak, lari juga enggak. Nah, pada saat itu lah, ketika saya jalan, dari belakang ada yang manggil-manggil.

“Kak... kak... kak”

Di sapaan ketiga itu saya baru nengok. Untuk memastikan bahwa yang dipanggil ini beneran saya. saya nggak kenal wajahnya. Tapi dia kemudian bilang “Kak Mey, ya?”

Waduh, ini siape lagi. Kalau manggilnya Kak Mey gini pasti bukan anak ipnu. Tapi berhubung saya dah sering banget kecele (ketemu orang selalu lupa namanya dan ternyata dia anak ipnu/ippnu) saya sok asik aja dengan jawab “Eh, hallooo. Kita ketemu dimana, sih, waktu itu?”

“Kita nggak pernah ketemu, Kak. Ya ini baru pertama kali.”

Saya jadi nggak ngerti lagi harus ngomong apa. Lha terus ini bocah siapa, Ya Allah?

“Lah, terus?” | “Aku ngefans.”

Buset. Belom juga saya bikin fansclub. Akhirnya dia cerita kalau sempat ragu pas pertama kali lihat saya di Blambangan. Takut salah orang katanya. “Akhirnya aku cek IG, Kak. Eh, bener. Ada tahi lalatnya.”

Hmmm, tahi lalat menjadi penanda, wkwkwk.

Akhirnya kami kenalan. Namanya Yusuf, dan ternyata dia sealmamater SMK dan teman sekelas mantannya Fiya. Hahahaha ribet amaaat. Ya pokoknya begitu pemirsaaaah.

Setelah ngobrol kesana kemari dan wefie, kami pulang. Sebelum pulang kami makan bubur Pak Maman dulu di perliman. Yusuf ikut gabung bersama dua temannya. Pagi ini menjadi pagi yang menyenangkan. Kami bertemu orang-orang baru, dapat kenalan baru.

Terima kasih, Yusuf, atas traktirannya.

Yusuf yang pegang hape, hehe

Milenial Hijrah: Kenapa Tidak?

Februari 01, 2019 0 Comments
Topik meylenial-talk bulan ini adalah seperti judul di atas. Bertepatan dengan hari lahir Nahdlatul Ulama ke-93 kami menyelenggarakan meylenial talk di Blimbingsari, tepatnya di Blimbingsari Creative Craft (BCC).

Semua orang pasti pernah mengalami fase hijrah dalam hidup mereka. Saya pun begitu. Dari yang dulunya follow Bapak Felix Siauw, sekarang saya unfollow beliau. Dari yang dulunya suka pakai jilbab panjang kali lebar, sekarang cuma sampir kiri sampir kanan. Dari yang dulunya suka share status Tere Liye, sekarang malah jadi unlike pagenya. Itu hijrah bukan? Hahaha.

Saya, sih, secara pribadi merasakan betul perbedaan dalam diri saya. Saya pernah menjadi manusia yang merasa paling benar seantero jagad raya. Saya, kan, nggak pernah pacaran, nih. Nah, dulu itu saya merasa bahwa saya yang nggak pernah pacaran ini adalah seseorang yang paling benar jalan hidupnya. Tak pernah berduaan dengan lawan jenis, tak pernah mendekati zina, selalu menundukkan pandangan (elah, nunduk bae kek kuda catur, wkwk). Sehingga saya selalu membenarkan apapun yang Pak Felix katakan di facebook-nya tentang pacaran. Yang pacaran itu haram, buang-buang waktu, perbuatan dosa, dsb. Dulu saya suka membagikan status-status seperti itu. Kemudian menambahkan keterangan-keterangan provokasi. Sehingga ketika facebook mengingatkan saya melalui fitur ‘kenangan’, saya selalu menertawakan diri saya sendiri. Alangkah cupetnya saya dulu, astaga.

Pun sama dengan berjilbab. Dulu saya selalu bikin status yang menyatakan bahwa sudah sewajibnya perempuan muslim itu berjilbab. Apa kamu nggak takut dosa sudah baligh tapi nggak pakai jilbab? Dulu yang saya yakini ya berjilbab itu wajib hukumnya bagi muslimah. W A J I B. Nggak bisa enggak. Tapi, tentu teman-teman semua tahu bahwa para ulama saja tidak menemukan mufakat perihal hukum berjilbab ini. Sejak mengenal cendekiawan muslim, Bapak M. Quraish Shihab, saya juga menjadi tahu bahwa memang hukum berjilbab ini menjadi polemik tersendiri di kalangan ulama. Kalau kata narasumber semalam, Cak Ayung, ayat yang dikutip sama tetapi pemahaman/penafsirannya bisa berbeda.

Hijrah menjadi kata yang populer sekali di kalangan milenial belakangan ini. Banyak anak muda yang menyatakan diri mereka telah berhijrah. Masih dalam pemaparan Cak Ayung, ada tiga peristiwa hijrah dalam sirah nabawiyah.

Yang pertama, hijrahnya penduduk muslim ke Habsy (sekarang Ethiopia) untuk menghindari kekejaman suku Quraisy. Peristiwa hijrah ini dipimpin oleh seorang raja Nasrani. Yang kedua, hijrah ke Thaif. Namun nabi tidak mendapat sambutan yang baik, malah berujung pada tindak persekusi. Yang ketiga, terakhir, hijrah menuju Yatsrib. Pada hijrahnya yang terakhir ini nabi membangun peradaban dan kemudian Yatsrib dikenal dengan al-Madinah al-Munawwarah. Spirit perjuangan nabi dalam menyatukan umat manusia, tak pandang apa agama mereka, sungguh luar biasa.

Di Indonesia sendiri sebenarnya fenomena hijrah bukan sesuatu yang baru. Kita bisa membaca narasi wawancara cendekiawan muslim Haidar Bagir bersama Mizan. Baca selengkapnyadi sini.

Dari penjelasan Bapak Haidar Bagir tersebut kita bisa mengetahui bahwa fenomena seperti itu sudah terjadi sekitar tahun 80-an meskipun pada saat itu namanya bukan hijrah. Jika dahulu fenomena hijrah lebih banyak didorong oleh semangat keberagaman, saat ini justru yang menguat adalah pengentalan identitas.

Fenomena hijrah saat ini tidak demikian. Tidak ada gairah perjuangan yang nampak. Hijrah seharusnya membuat kita semakin terbuka pemikirannya. Membuat kita semakin menerima dan memahami segala perbedaan. Sehingga kita tak mudah menyalahkan orang lain yang berbeda dengan kita.

Contoh, misal, saat kita melihat perempuan menggunakan cadar lantas kita nyinyir “Alah, ngapain, sih, pakai cadar segala. Sok alim!” lalu apa bedanya? Begitu juga sebaliknya saat yang bercadar melihat perempuan berjilbab tapi tidak bercadar kemudian nyinyir “Islam mereka tidak kaffah!” ya kita semua sama saja. Masih suka menyalahkan orang lain yang berbeda dari kita. Ini hal dasar yang masih menjadi PR besar bagi kita.

Millenial berhijrah? Di tengah zaman yang semakin kapitalis ini? Di tengah zaman yang semakin membuat akal sehat hilang kewarasannya ini?
Ya, kenapa tidak?

Justru itulah kita bisa hadir menjadi prajurit penjaga akal sehat. Kita berhijrah dari yang sebelumnya selalu merasa paling benar, menjadi pribadi yang lebih toleran. Dari yang sebelumnya selalu pesimis, menjadi pribadi yang optimis.

Meylenial Talk edisi Januari 2019