Selasa, 28 Maret 2017

The Power of Stalking

Maret 28, 2017 2 Comments
Saat sedang membuka Direct Message di Instagram siang ini, saya mendapat satu permintaan pesan masuk. Dari penglihatan saya yang insyaAllah masih baik ini, saya tidak mengenali perempuan berjilbab dengan username *ah******a* itu
 
Pesan itu ia kirim kemarin, dan baru saya buka hari ini. Dari caranya menyapa saya, dia berhasil mendapat kesan baik dimata saya. Saya menyampaikan permintaan maaf karena baru sempat membalas pesannya. Dia tipe perempuan yang mudah akrab dengan orang lain, buktinya ya perkenalan kami hari ini.
Perempuan itu meminta ngobrol via WA agar komunikasi kami lebih lancar, saya pun memberikan nomor WA saya, meskipun saya masih bertanya-tanya siapa perempuan ini. Karena akun instagramnya di gembok saya jadi nggak bisa stalking. Saya udah keder aja, jangan-jangan dia haters yang mau labrak saya. Tapi kan saya bukan Ayu Ting-Ting. *skip
Tidak lama kemudian akhirnya dia menghubungi saya lewat WA. Dia memperkenalkan namanya –meskipun saya sudah tahu namanya, karena sudah kenalan di Instagram– dan langsung menanyakan tentang seorang laki-laki. Isi pesan WA-nya sebagai berikut:
“Assalamu’alaikum mbaa mey, ini ***ra. Hehe maaf yaaa sebelumnya sudah mengganggu. Hmmm ini aku mau tanya, tentang *** (menyebut nama seorang laki-laki) hehe kenal kan pasti, mbaa aja ya yang tau kalau aku tanya tanya ini. Jadi gini, cuman mau tanya sih mbaa, mas tiiiit sama mba tiiiit itu apa pacaran? Kalau misalnya memang iya, yah gppa sih, jadi kan aku bisa jaga jarak, hehe.” (Sudah pasti nama saya sensor, gaes. Saya nggak mau di perkarakan ke meja hijau kalau sampai mencatut nama seseorang)
Saya kenal laki-laki yang namanya dia sebut, nggak terlalu kenal tapi saya tahu dia adalah mantan pacar sahabat saya. Sepersekian detik setelah membaca pesan tersebut, saya segera paham situasinya. Perempuan ini pasti sedang dekat dengan mantan pacar sahabat saya itu. Hebat, dia berani menghubungi saya untuk memastikan apakah sahabat saya dan mantan pacarnya itu masih ada hubungan atau tidak. Dengan kata lain, dia tidak mau di cap sebagai perusak hubungan orang. Padahal saya ini sahabatnya mantan pacar laki-laki yang lagi deketin dia. Paham nggak, gaes, dengan kalimat saya barusan?
Perempuan ini apa ya nggak mikir kalau bisa saja saya malah ngomelin dia karena udah deket-deketin pacar orang, eh, maksutnya mantan pacar orang. Kalau saya tega, saya bisa aja bilang kalau sahabat saya itu hubungannya masih pacaran sama mantannya. Biar apa? Ya biar perempuan yang nge-DM saya ini nggak deket-deket lagi sama Mas Tiiit. Tapi perempuan ini beruntung, dia nge-DM orang yang tepat, yaitu saya. Ya saya jelaskan bagaimana hubungan sahabat saya dan bekas pacarnya itu. Mereka sudah putus.
Lantas saya tanya ke perempuan itu, dari mana dia tahu kalau saya kenal dengan Mas tiiit, dan jawaban dia membuat saya berdecak, “Keren nih perempuan.” Dia jawab dari stalking. Saya tidak menyangka jika dia akan menjawab seperti itu. Jujur, polos, nggapleki.
Saya masih tidak habis pikir bagaimana cara dia stalking hingga akhirnya memutuskan untuk memilih saya sebagai sumber informan. Perempuan memang makhluk Tuhan paling luar biasa dalam hal stalking. Kemampuan stalkingnya tidak perlu diragukan lagi. Bahkan tidak jarang perempuan membenci perempuan lain yang ia stalking padahal kenal pun tidak. Atau, perempuan membenci mantan pacar pacarnya, kebencian seperti itu selalu tumbuh dengan alami meskipun perempuan sendiri tidak tahu apa sebabnya.
Kejadian DM hari ini memberi pelajaran. Pertama, betapa the power of stalking itu terbukti benar adanya. Kedua, menjadi perempuan harus berani menentukan sikap, jangan mau berada dalam pusaran kisah asmara yang belum tuntas. Ketiga, jangan percaya dengan laki-laki. Poin ketiga ini sangat penting. Saya tadi sempat menanyakan apakah Mas tiit itu sedang mendekati kamu? Kamu yang dimaksud dalam tulisan ini adalah perempuan yang nge-DM saya. Perempuan itu menjawab iya, sudah hampir tiga bulan. “Soalnya aku juga ngga enak kalau ternyata mas tiit masih ada hubungan sama mba tiit. Kalau masnya sih bilang udah ngga ada apa-apa, tapi kan yah mulut bisa berbohong.”
Saya setuju. Apalagi mulut laki-laki, yang udah nikah aja masih bisa bilang perjaka. Apalagi yang cuma pacaran?
Mau gimanapun, perempuan ini sudah beritikad baik. Dia hanya memastikan bahwa laki-laki yang sedang mendekatinya tidak sedang memiliki hubungan dengan wanita lain. Saya salut. Dan, setelah saya baca lagi tulisan saya ini, kok rasanya agak anu ya … karena begitu banyak kata “Mas tiiit dan Mbak tiiit”. Nggak sedap gitu dibacanya.
Sumber : Instagram

Jumat, 24 Maret 2017

Happy Friday

Maret 24, 2017 0 Comments
Jum’at ini menjadi hari yang bersejarah bagi dua old friends saya. Kawan saya pertama, Inda Rizkya Putri. Hari ini dia memperingati hari lahirnya yang ke dua puluh dua tahun *ciye wis tuwa

Segala doa terbaik insyaallah senantiasa kuselipkan, Mbel. Semoga segala harapan dan cita-citamu diridhoi Allah. Benar katamu, apapun itu, sehat atau sakit, tak semestinya membuat kita lupa bersyukur. Di usia yang ke-22 ini semoga kedewasaan selalu mengiringi tindakan serta pikiranmu. Tetaplah menjadi Inda yang kukenal. Inda yang dulu, hari ini, maupun yang akan datang, moga kamu selalu menjadi perempuan yang baik.

Tetaplah menjadi Bu Guru yang selalu mengayomi anak-anak. Memberikan kasih sayang, ilmu, serta perhatian pada mereka. Semoga menjadi guru yang selalu diberi kesabaran dalam mendidik beragam jenis watak murid-murid. Tetaplah menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tua. Bahagiakan bapak dan ibu selagi mereka masih ada. Jadilah kakak yang penyayang untuk Mira dan Bandar. Mereka adalah aset berharga dalam keluarga.

Terimakasih atas banyak hal yang telah kau ajarkan padaku. Tempatku bertanya ini itu, tempatku menumpahkan berbagai jenis sampah. Tetap jadi sosok perempuan yang membanggakan, Mbel. Jadilah cantik dengan segala pengetahuan yang kamu miliki.

Sekali lagi, selamat hari lahir sahabatku. Moga kamu makin bijak dan mendewasa.
---
Kwan saya yang kedua. Opiiiii ...

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dia di Nusantara. Begitulah, kami kangen-kangenan. Dan tiba-tiba dia menyuruh saya untuk datang di hari Jum’at. Saya jawab ada apa? Dia bilang dia menikah. Saya bengong, kemudian ngakak. Ah, becandanya suka garing deh. Dia memasang wajah serius yang sama sekali nggak serius. Beneran nikah?

Dia bilang lagi, “Undangane entek tapi.”
Saya nggak bisa untuk nggak ketawa. Masalah undangan mah bisa broadcast. Yang jadi pertanyaan, seriusan nikah?

Dan semua itu terjawab hari ini. Foto-foto kebahagiaan Novi tersebar di medsos kawan-kawan saya. Wkwkwkwkwk, ternyata pernikahan kawan saya ini bukan hoax belaka. Senang, akhirnya berkurang lagi dua jomblo di Banyuwangi. Duh, selamat ya, Pi. Semoga pernikahan ini berkah. Semoga dari pernikahan ini nantinya akan lahir anak-anak yang cerdas, secerdas ibunya.

Cendekiawan bilang, mendidik anak itu bukan sejak dini, tapi sejak kita memilih ibunya. InsyaAllah, suamimu sudah tepat memilihmu. Karena saya yakin kamu akan jadi ibu yang hebat bagi keponakan-keponakan saya kelak. Huehehehehe ...
Sekali lagi, selamat berbahagia Inda, Novi.

Sumber : Google

Senin, 20 Maret 2017

Sabtu sore itu ...

Maret 20, 2017 0 Comments
Setelah melalui rapat dan diskusi terkait safari LDK, Sabtu kemarin akhirnya kami melakukan eksekusi. Kegiatan anjangsana TPQ pertama kalinya ini bertempat di TPQ Ar-Raudoh, Klatak. Saya bersyukur karena bantuan dari seorang kenalan, LDK akhirnya mendapat tempat dan kesempatan untuk berbagi ilmu.

Kekhawatiran saya tentang anggota yang hadir ternyata tidak meleset. H min beberapa hari, saya sudah khawatir bagaimana jika anggota LDK banyak yang berhalangan hadir. Dan ternyata, sesuai dugaan. Dari pagi saya tidak menemukan Bibeh berkomentar di grup. Akhirnya di jam siang saya mengirim pesan padanya. Saya patut bersyukur karena Bibeh sanggup hadir.

Sebenarnya Sabtu itu saya juga sedang berada di situasi yang agak sulit untuk pergi keluar. Namun, karena kesepakatan hari yang telah ditentukan di rapat kedua, mau tidak mau saya harus hadir. Saya juga lupa kalau Sabtu ada selapan Raisya, lha kok saya iya-iya aja pas penentuan hari eksekusi.

Beberapa anggota sudah berkomentar di grup. Mereka bilang bisa hadir. Hingga akhirnya saya dan Bibeh berangkat. Waktu itu sudah masuk waktu Ashar. Kami berdua sampai TKP ketika jamaah baru saja membubarkan diri. Di perjalanan, mood saya berantakan. Saya mengeluh pada Bibeh. Bibeh hanya bilang, “Ya udah sih, Di. Gpp kite aja.”

Saya menghela nafas berat nan panjang. Saya tidak tahu bagaimana jadinya jika partner saya sore itu bukan Bibeh. Saya tidak tahu bagaimana jadinya jika orang yang disamping saya saat itu bukan Bibeh. Dan saya bersyukur, karena nyatanya orang itu adalah dia, Durrotun Nasiha.

Saya sudah tidak ngereken ponsel lagi saat tiba di Masjid Ar-Raudoh. Jengkel saya memang belum hilang, mood saya pun masih berserakan sana-sini. Tapi ketika melihat para santri antusias dengan kedatangan saya dan Bibeh, persoalan anggota LDK saya singirkan. Bibeh mengambil tempat di depan, dia memulai pelajaran sore itu.

Lagi-lagi, saya bersyukur bahwa partner saya adalah dia. Lagi-lagi, saya bersyukur bahwa saya memiliki teman seperti dia. Lagi, lagi dan lagi, saya bersyukur karena ada dia. Saya tahu, Bibeh sudah terbiasa menghadapi anak-anak seperti Sabtu sore itu. Saya juga tahu bahwa Bibeh mampu berbagi ilmunya dengan baik. Dibanding saya, saya masih kalah jauh. Saya hanya bisa memandang dia dari belakang. Tuh kan, lagi-lagi saya bersyukur. Tau, ah, Beh, pokoknya terimakasih.

Beberapa puluh menit kemudian, pelajaran selesai, para santri pun kembali ke rumah masing-masing. Saya lega. Setidaknya ilmu dari Bibeh yang sedikit tadi semoga dapat bermanfaat. Walaupun LDK hanya dua orang semoga membekas di ingatan anak-anak Ar-Raudoh.

Saya dan Bibeh meninggalkan Ar-Raudoh sekitar pukul lima sore. Di jalan saya kembali ingat anggota LDK yang lain. Bibeh bilang, “Aku tuh jarang ngomen mesti di grup. Tapi moro-moro dateng gitu kok, Di.” Ya, Bibeh adalah tipe seperti itu. Tidak banyak komentar, tidak banyak berisik, tidak banyak alasan. Daripada yang sedari tadi iya-iya aja di grup, tapi kenyataannya tidak hadir saat hari H.

Duh, saya bersyukur sifat ngersuloan saya ini ketutup sama sifat Bibeh yang take it easy itu. Saat saya masih ngedumel masalah anggota, dia sudah ngedumel masalah kegiatan LDK berikutnya. Tuh, kelihatan bener ya bedanya kita. *kasih emot ngakak sampai nangis



Selasa, 14 Maret 2017

Ayat-Ayat Cinta 2

Maret 14, 2017 6 Comments
Kemarin siang, saat saya sedang ndusel diatas kasur, Donat mengirim pesan. Dia menanyakan tentang sekuel film Ayat-Ayat Cinta. Pesan Donat tersebut membuat saya bangun dari tidur. Dalam posisi duduk saya segera mengirim pesan balasan. Kami terlibat pembicaraan mengenai AAC sampai akhirnya Donat menyuruh saya stalking Instagram Pak Produser peranakan India itu.

Benar saja. Saya melihat presscon yang mereka lakukan –Pak Manoj, Bang Fedi, Kang Abik– beberapa waktu yang lalu. Ya Allah, Tuhan YME. Kok saya bisa nggak update gini, ya? Dalam hati saya mengucapkan terimakasih ke Donat atas informasi yang membuat saya ngikik-ngikik nggak jelas. Perasaan senangnya susah didefinisikan, gaes.

Kebenaran kabar tersebut dikuatkan dengan munculnya akun official Ayat-Ayat Cinta Movie. Tanpa pikir panjang lagi, saya segera follow akun tersebut. Lantas, saya bernostalgia dengan foto-foto dari Ayat-Ayat Cinta yang pertama.
Yang lucu adalah, ketika saya dengan santainya bilang ke Donat, “Sing dadi Maria tetep?” | “Maria wes mati bek.” Wkwkwkwk, oh iya, saya lupa.

Dalam bio akun Ayat-Ayat Cinta Movie tertulis “Dimana Aisha?” hal ini menyiratkan bahwa pemeran Aisha akan mengalami perubahan, bukan lagi Mbak Rianti Cartwright yang ayunya berlebihan itu. Saya ikut nderedeg siapa kira-kira yang akan memerankan Aisha. Sebenarnya sih nggak perlu diganti orang lain, karena Mbak Rianti juga nggak terlalu tua-tua amat. Dan, image Aisha ya sudah kadhung melekat pada diri Mbak Rianti. Ini sih menurut saya, gaes.

Donat bilang ke saya, “Bang Fedi iki kok nggarai nangis ae tiap tahun.”

Saya membenarkan, sambil tertawa membaca pesannya. Tuh orang hobi bener bikin perempuan mewek tiap tahun. Juga film-filmnya kenapa berbau poligami begitu, sih? Sialnya, tetap saja saya suka. Hiks.

Akhirnya, dengan hati riang gembira namun tetap was-was, saya menantikan film AAC2 ini. Semoga cerita yang disajikan akan menarik. Semoga nggak ada poligami-poligamian di AAC yang kedua ini. Semoga saya sreg dengan yang jadi Aisha nantinya. Hahahaha.

Berpisah Untuk Kembali

Maret 14, 2017 0 Comments
Karena keperluan mengisi daya ponsel, saya mematikan data ponsel saya. Cukup lama, sekitar dua jam lebih. Saat saya cek ponsel dengan menghidupkan data, ada pesan masuk dari Titin, kawan saya semasa SMP. Dia menanyakan posisi saya saat itu, dan –tumben sekali– hendak mengajak saya dolan.

Saya buru-buru membalas pesannya. Tumben sekali dia tiba-tiba ngajak dolan. Dan setelah beberapa lama Titin membalas dengan balasan, “Awmu siap gak lek saiki Mey?”

Waduh, pada waktu itu keadaan saya masih lusuh. Belum mandi, belum siap-siap. Meskipun sudah pukul setengah empat sore. Titin bilang lagi ke saya untuk segera berangkat, dia sedang bersama Amin.

Saya melotot melihat layar ponsel. Amin??? Amin Romadoni??? Amin teman kita SMP itu??? Amin yang sedang di Jepang??? Berarti sekarang dia di Indonesia??? Mmm bukan, berarti sekarang dia ada di Banyuwangi???

Titin meyakinkan saya dengan mengirim foto Amin yang sedang berdiri menunggu teman yang lain. Saya kelabakan, rasanya nggak percaya dengan apa yang saya lihat. Namun, berhubung sepeda wis kadhung dipakai Ibu untuk antar Fahri ngaji, akhirnya saya nyusul mereka ba’da maghrib. Sore itu mereka pergi ke Solong, lalu maghriban di rumah Rani.

Oke, saya putuskan untuk nyusul mereka di rumah Rani saja. Saya juga dah lama nggak ketemu Ibu dan Mas Avin, kan lumayan, sekali pergi tiga orang didatangi. Ibu, Mas Avin, dan kawan-kawan SMP saya.

Saya berangkat ba’da Maghrib. Dari rumah Rani sekitar setengah tujuh kurang. Baru sampai pintu gerbang saja saya sudah bahagia melihat kerumunan sepeda yang terparkir. Rasa excited saya sudah sejak dalam pesan singkat dengan Titin sore tadi.

Setelah memarkir motor dengan oke, saya masuk ke rumah Rani. Luar biasa rasanya bisa melihat teman-teman yang dah lama nggak ketemu ini. Apalagi Amin! Kalian semua dah tahu kan gimana kelakuan saya kalau ketemu orang, gaes? Ya, saya girang sekali bertemu dengan Amin. Ya gimana, ya? Teman yang selama ini berada di Jepang, lalu sekarang saya lihat wujud aslinya di depan mata. Biasanya hanya lihat dia di sosial media. Ada perasaan yang susah didefinisikan.

Setelah menyapa Masnya Rani, yang pas ketemu bilang, “Eh, arek iki wes gedi.” (duh, yakali Mas nggak gede-gede) kemudian saya menyapa Ibu yang tengah asyik nonton Geet. Kami ceriwis sebentar, kemudian menemui squad SMP lagi.

Saya yang masih takjub melihat Amin di depan mata, langsung meluncurkan aksi interogasi. Akhirnya Amin menceritakan bagaimana pengalamannya berada di Jepang. Bagaimana kehidupan disana, orang-orang disana, aturan-aturan yang berlaku disana. Dan, jujur saja, penampilan Amin mengingatkan saya dengan Genji Takiya, tokoh utama Crows Zero. Hahahaha. Yang membedakan hanya warna kulit saja. Kalau Genji khas orang-orang Jepang, kalau Amin ya khasnya orang Indonesia, item-item manis gitu. Ketika saya bilang dia mirip Genji, Amin ngakak, beberapa teman hanya lirik-lirikan because they’re don’t know what is Genji Takiya. Rada aneh juga sih ketika saya dan Amin ngakak tapi lainnya hanya krik krik …

Malam itu kami terlibat perbincangan yang hangat. Mulai dari tugas akhir yang masih menghantui beberapa dari kami –termasuk saya– hingga pembahasan mengenai masa-masa SMP dulu. Kami ngobrol mengenai kawan-kawan seangkatan yang telah menikah bahkan yang telah memiliki anak. Kami hanya bisa menertawakan diri sendiri ketika kami menyadari bahwa mereka –kawan yang telah menikah dan memiliki anak– telah melangkah sejauh itu.  Ah, saya benar-benar rindu kawan-kawan lama saya. Benar memang, kita butuh berjarak agar tahu apa itu rindu.

Ba’da Isya kami pergi ke darplok dekat Sritanjung. Rendy tidak bisa ikut kami, ada keperluan katanya. Saya memutuskan untuk menghubungi Arya, karena kebetulan saya memiliki kontaknya, dan kok ndilalah dia bisa gabung dengan kami. Akhirnya jadilah malam itu, di pojokan darplok sritanjung, kami reuni kecil. Saya, Rani, Titin, Amin, Arya.

Hari itu adalah hari yang akan terus terkenang dalam memori saya. Pertemuan tak terencana saya dengan mereka. Pertemuan yang terkesan dadakan, namun sangat berkesan. Setiap pertemuan pasti menghasilkan perpisahan, begitu hukum alam berjalan. Namun, kita juga harus tahu bahwa, perpisahan adalah awal dari keindahan dalam pertemuan selanjutnya. See, kita bertemu dalam suasana bahagia setelah perpisahan terjadi.

Gaes, tetap saling berkomunikasi, ya …

Manfaatkan dengan baik grup WA yang sudah ada. Jangan sampai kita putus kontak/silaturahmi. Biar saya kelak nggak bingung harus kirim undangan nikah saya kemana. Oke, gaes? *kasih emot ngakak

Banyuwangi, 11 Maret 2017.

Rabu, 08 Maret 2017

Bertepuk Sebelah Tangan

Maret 08, 2017 0 Comments
Aku tidak tahu pasti kapan perasaan itu muncul. Perasaan yang susah untuk kudefinisikan. Perasaan cinta, kah? Sayang, kah? Keduanya terlalu susah untuk di bedakan.

Empat tahun sudah kita menghabiskan mata kuliah di kelas yang sama. Semuanya baik-baik saja hingga kemudian tugas akhir membuat segalanya menjadi tidak baik. Aku tahu ada sesuatu yang mulai tumbuh dalam hatiku. Aku tahu ada sesuatu yang jika kubiarkan saja, sesuatu itu akan menjadi bumerang bagiku.

Benar saja, aku menjadi pemujamu. Aku selalu siap saat kau membutuhkan sesuatu berkenaan dengan tugas akhirmu, mencari data, referensi, memperbaiki revisi tugas akhir yang kau kerjakan hingga membuatku begadang. Aku selalu ada saat kau mengeluh tentang tugas akhirmu. Aku selalu bersedia menjadi teman yang menemani kau kesana-kemari. Aku rela bangun pagi-pagi sekali demi membuatkanmu power point seminar proposal. Aku selalu ada disampingmu.

Namun, kau? Awalnya, aku rasa kita akan saling menyemangati satu sama lain dalam mengerjakan tugas akhir. Nyatanya hanya aku yang menyemangatimu. Kau hanya menyemangatiku dengan perhatian yang sebenarnya bisa kudapatkan dari siapa saja. Interogasi kecil darimu yang sialnya selalu membuatku tersenyum saat membacanya. Kau bertanya aku sedang dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa, dan jangan pulang larut malam. Hanya seperti itu, dan aku bahagia. Lihat, betapa murahnya diriku ini.

Bukannya aku pamrih, menginginkan timbal balik dari segala hal yang telah kuberikan padamu. Tidak, sama sekali tidak. Namun, setidaknya kau harus tahu, akan selalu ada kebaikan dari alam yang terjaga, bahwa tak ada pemberian yang tak menuntut imbalan, meskipun mereka melakukannya dengan ikhlas. Setidaknya, bisakah kau juga menyemangatiku seperti aku menyemangatimu? Bisakah kau juga meluangkan waktumu seperti aku yang selalu meluangkan waktuku untukmu? Bisakah kau duduk disampingku selagi aku berkeluh kesah tentang repotnya menyelesaikan tugas akhirku? Bisakah?

Aku tahu aku egois. Kau adalah laki-laki nine to five. Kau bukan laki-laki pengangguran. Tentu urusan pekerjaan sudah sangat merepotkanmu. Meski begitu aku tetap berharap bahwa kau bisa meluangkan sedikit waktumu yang berharga itu untukku. Bisa?

Hingga hari itu tiba. Hari dimana kau hilang bagai di telan bumi. Kau tidak menghubungiku sama sekali. Tentu aku khawatir. Adakah sesuatu yang terjadi? Sakitkah kau disana?

Aku tak bisa menahan diriku sendiri. Aku tak bisa mengabaikanmu. Akhirnya aku memberanikan diri menghubungimu. “Aku merindukanmu.”

Kau membalas pesanku. Hanya senyum kecut yang menghiasi wajahku ketika kau tidak membahas rasa rinduku sama sekali. Kau malah membahas hal lain. Baiklah, sekali lagi aku mencoba mengerti kesibukanmu. Kau pasti lelah. Kau pasti penat. Sehingga kau tak ingin membahas masalah perasaan yang hanya akan menambah lelahmu. Kuharap memang begitu.

Namun, tahukah kau? Kau membuatku terlihat seperti perempuan murahan sungguhan saat kau mengabaikan perasaanku.

Aku mencoba untuk tak mengingat lagi insiden rindu bertepuk sebelah tangan itu. Karena hanya akan membuat hatiku sakit.

Belum lagi sembuh sakit hati ini, ada saja kejadian yang membuat sakit dihati semakin nyeri. Kakakku mengirim pesan bahwa kau sudah memiliki seorang kekasih. Bagaimana bisa? Bukankah setengah jam yang lalu kau masih menghubungiku? Bahkan masih sempat kau panggil aku sayang. Mungkinkah kau memanggilku sayang tanpa ada perasaan sayang? Lu pikir mbak-mbak olshop!

Aku ingin sekali bertanya banyak hal padamu. Sebenarnya apa maumu? Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini. Tidakkah kau tahu, bahwa ada hati seorang perempuan yang terluka karenamu? Lantas apa arti dari semua yang telah kita lalui selama ini? Apakah hanya aku yang memiliki perasaan untukmu? Tidakkah kau memiliki perasaan yang sama? Atau jangan-jangan memang hanya aku yang terlalu berharap lebih. Aku yang terlalu serius menanggapi semua gurauanmu, termasuk panggilan sayangmu itu. Benarkah begitu?

Jika iya, selamat. Kau menjadi satu-satunya laki-laki yang berhasil membuatku melakukan sesuatu tanpa merasa dimanfaatkan. Ya, aku tidak merasa dimafaatkan olehmu. Semua yang kulakukan untukmu berasal dari hati yang tulus.

Aku tidak tahu bagaimana takdir akan membawa kita kelak. Aku akan selalu berdoa agar kebaikan selalu tercurah padamu. Aku tidak akan memaksamu melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan. Tetaplah berada di tempatmu saat ini. Kau harus bahagia, apapun yang terjadi.

Tulisan ini berdasarkan request dari salah seorang kawan. Dia curhat lalu berkata “Nuliso tentang ini ta, Kak.” Kenapa saya malah di paksa-paksa buat nulis gini, sih.

Sumber : Google

Sabtu, 04 Maret 2017

Cerita Perempuan

Maret 04, 2017 0 Comments

Setelah beberapa hari kemarin sempat berkutat dengan cerita soal perempuan, akhirnya saya memutuskan untuk menulis ini.

Hampir berurutan, saya menerima keluhan dari orang-orang yang saya kenal. Setelah kemarin insiden adik kelas saya dan Kak Lia, baru-baru ini seorang kawan perempuan mengirim inbox melalui facebook. Tanpa basa-basi lagi, kawan saya tersebut secara terus terang ingin menumpahkan segala curahan hatinya kepada saya. Padahal, bisa dibilang kami belum pernah bertemu tatap muka secara langsung dan ngobrol, kecuali dulu saat masih sama-sama sekolah, di sekolah ngobrol pun sebenarnya kami jarang.

Saya yang memang sudah mengikuti kabarnya lewat maya –mengamati statusnya yang sering galau– sudah feeling bahwa ada sesuatu yang terjadi. Benar saja, rumah tangganya sedang bermasalah. Dia menumpahkan segala perasaannya, sedih, sakit hati, cemburu. Semuanya dia keluarkan.

Sebenarnya saya tidak tahu harus bagaimana ketika ada kawan-kawan yang lari ke saya dan mengadu masalah mereka. Yang selalu saya lakukan adalah mendengarkan mereka. Dan, ketika kawan saya ini datang ke saya dengan masalah rumah tangganya, jujur, saya terkejut. Karena ini pertama kalinya saya menerima curhatan masalah rumah tangga. Biasanya ya seperti curhatan Kak Lia, tentang hubungan tanpa statusnya, tentang Kak Lia yang terjebak friendzone, cinta terlarangnya Kak Lia, atau kisah-kisah picisan tentang pacaran kawan-kawan saya lainnya.

Kembali pada kawan saya –yang tidak bisa saya sebut namanya itu– yang kemarin telah mengeluarkan sampahnya. Pertanyaan pamungkas yang selalu dikeluarkan oleh pihak yang bererita adalah, “Aku kudu piye?” pertanyaan itu hanya saya jawab dengan ambekan sekuat-kuatnya.

Gaes, saya juga tidak tahu harus menjawab apa jika kalian bertanya seperti itu. Apalagi ini urusan rumah tangga yang you know sendiri lah, saya belum berpengalaman. Masalah rumah tangga teman saya ini adalah masalah yang paling sering dihadapi oleh pengantin baru. Apalagi jika bukan godaan orang ketiga. Suami teman saya itu kepergok chating dengan perempuan lain yang diakui oleh suaminya hanya sebatas teman.

Perempuan mana yang tidak terganggu dengan hal-hal semacam itu? Teman saya pun sudah pasti terganggu. Ya kadang hal-hal seperti ini yang membuat saya rodok mikir dua kali ketika memutuskan akan menikah. Menikah itu bukan perkara main-main, yang ketika kita capek lantas udahan, bubar, balik ke rumah masing-masing. Saat kita memutuskan untuk menikah, saat itu juga kita memutuskan untuk berbagi kehidupan dengan seseorang. Menikah itu bukan untuk sehari, dua hari, tapi selamanya, hingga maut menjemput. Menikah itu menekan ego. Kita harus ingat bahwa menikah bukan hanya tentang dua orang saja, melainkan banyak orang. Kita memiliki orang tua yang kita sebut mertua, kita memiliki adik ipar, kakak ipar. Jelasnya, kita memiliki anggota keluarga baru. Menikah berarti membuat janji pada Tuhan, pada semesta. Janji untuk saling mengasihi, saling menjaga. Menikah itu berat, gaes, penuh tanggung jawab. Jadi jangan hanya mikir yang enak-enak doang. Mikir enaena doang mah, seminggu dua minggu kelar yang namanya pernikahan.

Sejujurnya, saya tidak banyak memberikan nasihat pada teman saya. Karena, pada dasarnya setiap permasalahan yang menimpa diri kita, hanya diri kita sendiri yang dapat menyelesaikannya. Saya hanya menyediakan tempat sampah. Actually, all she need is that. Setidaknya dengan berkurangnya beban dalam diri kita, kita bisa sedikit bernafas lega dan berpikir jernih, apa yang selanjutnya akan kita lakukan?

Well, see, dia melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Bertahan menjaga rumah tangga yang telah dibangun dengan bersikap sabar. Percayalah, Puan, sabar adalah sikap kesatria yang dapat meluluh lantakkan benteng paling kuat yang ada di muka bumi. Sabar, sabar, dan sabar. Meskipun, saya masih sering nggak sabaran, tapi saya percaya betul bahwa sabar adalah sebaik-baiknya ikhtiar.

Alhamdulillah, teman saya mampu bersabar dalam segala rasa sakit yang hampir tiap hari dia rasakan. Dia bilang, “Aku kudu kuat, demi anakku.” Saya kaget. Selama ini dia bertahan dalam kesakitan saat dirinya sedang mengandung. Mungkin hal itu juga yang akhirnya membuat sang suami berubah. Teman saya mendapatkan lagi perhatian dari suami. Semuanya berangsur membaik dan berjalan sebagaimana mestinya. Saya bersyukur sekali atas itu.

Begitu baik Tuhan pada saya sehingga oleh-Nya saya diberi kesempatan untuk belajar dari sekitar. Belajar untuk mengerti, paham, tahu, bahwa menikah adalah keputusan final dalam hidup manusia untuk mengarungi sebenar-benarnya kehidupan. Semoga saat saya semakin mengerti, saya mampu dengan bijak menyikapi segala hal. Karena semakin mengerti bahwa menikah itu tidak mudah, semoga saya tidak kembali berpikiran untuk tidak menikah. Hehehe, semoga.

Sumber : Google

Kamis, 02 Maret 2017

Hijrah?

Maret 02, 2017 0 Comments
Beberapa hari yang lalu saya menerima pesan dari salah satu adik kelas. Adik kelas yang tak bisa saya sebut namanya, demi menjaga privasi dirinya. *batuk kecil

Dia memberikan sebuah pertanyaan, “Kalau orang hijrah, apa boleh pacaran?”

Ntap, dik ... pertanyaan dengan bobot sembilan. Warbiyasa pusing saya dibuatnya. Saya pikir dia akan bertanya masalah kuliah atau hal lain yang tidak berhubungan dengan agama. But, yeah, as a good sister I should try my best to answer ...

Jadi begini, dik, seperti yang sudah saya jawab tempo hari. Orang hijrah boleh pacaran, ndak ada yang ngelarang (Ini sih menurut saya, ya. Lha iya, wong yang ditanya saya. Bukan begitu?). Pacaran adalah hak segala manusia, begitupun ketika tidak pacaran. Hmmm, saya lelah sebenarnya nulis tentang pacar-pacaran begini. Ujung-ujungnya saya dikira sirik sama orang yang pacaran. Dikira terlalu lama sendiri terus kesepian, merana, nggak bahagia, kurang kasih sayang belaian mesra, akhirnya nyinyirin mereka. Kan teleque.

Saya ingat tausyiah yang disampaikan dalam salah satu kajian LDK dulu. Hijrah itu proses berpindah. Pindah dari hal buruk ke hal baik. Pindah dari sifat buruk ke sifat baik. Pindah dari tempat buruk ke tempat baik. Intinya, dari yang buruk ke yang baik. Berkenaan dengan pertanyaan adik kelas saya itu, biasanya mereka yang baru berhijrah, sejalan dengan prosesnya, seiring dengan berjalannya waktu, mereka –orang yang baru berhijrah– bisa merasakan sendiri, sebenarnya perlu tidak sih kita pacaran? *tuh kaaan, kesannya kayak lagi nyinyir ...

Dalam banyak kasus orang hijrah, saya melihat ada ketidakpahaman yang masih terjadi. Ada yang menganggap ketika sudah memilih untuk berhijrah –dari yang tidak memakai jilbab jadi memakai jilbab– maka segala ‘aksesori’ dunia harus di lepas, tingkah laku harus berubah. Jatuhnya bagaimana? Mereka akan mengikuti arus yang salah. Yang seperti ini lah yang akan menjadi santapan endeus bagi kader-kader gerakan ekstremis.

Padahal konsep hijrah tidak begitu. Berhijrah itu adalah berproses. Yang namnya berproses tentu melalui beberapa tahap. Mi instan saja –yang katanya instan– masih tetap membutuhkan proses hingga akhirnya dapat disantap. Apalagi kita yang hanya manusia biasa?

Bagi para akhwat yang sudah mantap ‘berhijrah’ namun belum mampu memutus hubungan dengan sang pacar, ya sudah, jangan di paksakan untuk putus. Jalani saja. (Kecuali memutuskan untuk menikah) Banyak yang nyinyirin? Sudah hijrah, sudah jilbaban, masih aja pacaran! Ah, santai saja, hijrah must go on. Yang terpenting niat kita untuk berhijrah harus benar, harus lillahita’ala. Karena saya yakin, nanti, dalam prosesnya, akan banyak pemahaman yang kita dapatkan. Dan untuk urusan pacaran, saya juga yakin, pada saatnya nanti akan datang pemahaman yang membuat kita menertawakan masa-masa yang telah lewat.

Saya tahu bagaimana kegalauan yang melanda adik kelas saya itu. Dia bilang, “Aku bingung, Mbak. Aku single, tapi kadang kalau ada yang deket aku suka. Tapi takut, Mbak. Secara kalau pacaran ada segelintir maksiat. Berat, ya?”

Lah, memangnya gaya pacaranmu gimana kok sampai ada segelintir maksiat begitu? Heuheuheu. Hal yang wajar ketika kita merasa senang saat ada lawan jenis yang mendekati atau bahkan menyukai kita. Siapa sih yang nggak senang? Hal ini juga yang biasanya menjadi bahan pertimbangan perempuan-perempuan macam adik kelas saya itu ketika ingin berubah. Memang sih, ya. Urusan pacaran ini menjadi urusan yang ruwetnya naudzubillah. Sebenarnya sih tidak ruwet. Pandangan masing-masing ummat Tuhan aja yang bikin ruwet.

Saya memang tidak pernah pacaran. Namun, jangan lantas menganggap saya sebagai orang yang terjaga ‘kehormatannya’, orang paling suci. Karena saya juga masih oke saja salaman, atau boncengan dengan lawan jenis. Nah, kalau sudah seperti saya begini, tidak pacaran hanya menjadi sebuah prinsip yang wis kadhung tertanam. Gimana, ya? Not easy to explain what’s on my mind. Kalau kata mereka, apa yang saya lakukan ini setengah-setengah, nggak kaffah. Saya juga tidak akan berteriak ‘Pacaran itu haram!’. Emang saya MUI? Berarti saya menghalalkan pacaran, dong? Tuh, kan, serba salah.

Yang salah itu, ketika ada yang bilang, “Ya daripada saya berbuat zina, nahan kangen, mending saya pacaran.” --- Menikah keleus, bukan pacaran.

Jadi begitu, dik, yang sedang gundah gulana. Sedikit pencerahan tentang pacaran saat sedang hijrah –yang semoga membuatmu tercerahkan, bukan malah suram– yang bisa Mbak berikan. Jangan hanya bertanya kepada saya. Bertanyalah kepada orang-orang yang lebih berilmu dari saya. Bertanyalah kepada banyak orang yang kamu rasa mumpuni untuk di ajak sharing.

Memang, orang yang ingin berubah untuk menjadi lebih baik itu godaannya luar biasa menggoda. Kembali lagi, kita harus menguatkan niat, pasang rambu-rambu pengingat apabila kita mulai melangkah keluar koridor. Saring dengan baik informasi yang kita dapat, entah itu dari buku, internet atau media cetak. Hati-hati dengan akun-akun penebar kebencian serta fitnah.

Hal ini juga mengingatkan saya dengan Kak Lia –kalo yang ini nama tidak perlu disamarkan, biar aja jamaah ismafawwaz semua tahu– yang kemarin sempat curhat tentang jilbab. Dia mau sekali untuk berjilbab, namun, sekali lagi, dia masih belum siap dengan segala tingkah laku yang telah melekat dengan nyaman dalam kepribadiannya.

“Ya Allah, Kak. Ndane aku jilbaban tapi kelakuan sek koyo ngene.”

Saya hanya tertawa. Ya mau gimana lagi, Kak. Kelakuanmu memang begitu. Saya menyadari betul ketidaksiapan Kakak Lia. Ada banyak hal yang dia pikirkan sehingga kewajiban mengenakan jilbab menjadi tertunda. Padahal, jilbab dan akhlak dua hal yang berbeda. Kak Lia sebetulnya juga menyadari bahwa temannya ini –saya maksudnya– cukup menjadi tempatnya berkaca. Kemarin dia bergumam, “Iyo loh, Kak. Aku lek lihat kamu itu yo gitu wes. Jilbaban, tapi yo sek koyok ngono.” Saya bertambah ngakak. Iya, iya, saya paham.

Kak, kamu tidak perlu melihat mereka yang terpaut jauh sekali dengan kamu. Cukup lihat saya, atau lihat Bibeh. Saya atau Bibeh, apakah ada anggun-anggunnya? Nggak ada, Kak. Kami berdua setel, seperti toa masjid. Urusan akhlak, nanti dia akan mengikuti seiring berjalannya waktu. Hari ini saja, saya masih terus berbenah diri. Nah, kalau kamu terus saja mengukur diri dengan mbak-mbak yang hijrahnya secara kaffah itu, mau sampai kapan? Mau sampai kapan menunda kewajiban, Kak?

Kita tidak pernah tahu nikmat usia yang akan diberikan Tuhan sampai pada angka berapa. Alangkah sayang, jika belum sampai kewajiban berjilbab itu dilaksanakan kita harus meninggalkan dunia terlebih dahulu. Ngeri, ya?

Saya hanya bisa berdoa semoga kamu segera menyusul saudari-saudari kita yang lain, yang telah menunaikan kewajiban menutup auratnya. Saya dan yang lainnya selalu mendukungmu untuk bersegera. Nggak apa, meski sudah pakai jilbab, kamu masih bisa ngakak kok. Masih bisa seneng sama orang. Cuma, ya, gitu. Sudah nggak bisa main-main api di balik pagar rumah orang, Kak.

Dah, ah. Sekian dulu tulisan yang saya selesaikan tepat setelah sarapan yang di rapel dengan makan siang ini. Moga ada manfaatnya, ya. Terkhusus untuk adik kelas saya dan Kakak Lia.