Menjadi Tua yang Biasa Aja
Baru saja saya dan ibu belanja kebutuhan untuk khitanan Fahri. Berdasarkan the power of lambe ke lambe, kami menemukan tempat belanja kebutuhan yang murah, alias grosir. Ternyata tempatnya teramat dekat, tetangga kampung, Pakis Plampang.
Dari
ancer-ancer yang diberikan oleh Pakde Pur, akhirnya kami sampai ke sebuah rumah
yang disebelahnya terdapat bangunan mirip garasi mobil tapi besar sekali. Dua
truk kayaknya muat. Di luar pintu, sebelum masuk area toko, saya melihat
jurigen-jurigen minyak goreng. Agak di depannya saya melihat tumpukan-tumpukan
botol saus dan kecap. Melongo ke dalam toko saya melihat tumpukan beras
berbagai varian menjulang tinggi. Mata saya tidak henti-hentinya menyapu
ruangan besar tersebut. Kopi sachet menjuntai bermacam-macam merek, shampoo pun
demikian.
Toko
Bu Iip namanya. Di sebelah toko adalah rumah si pemilik. Jadi, rumah dan toko
ada dalam satu pagar. Di depan rumah Bu Iip saya menemukan tumpukan mi kuning,
mi khas orang-orang hajatan. Kemudian agak ke pinggir ada berkrat-krat telur
ayam.
Malam
ini toko grosir Bu Iip lumayan ramai. Saya yakin betul kalau siang tentu jauh
lebih ramai. Saya melihat aktivitas orang-orang yang berbelanja. Bu Iip,
suaminya, anak perempuannya dan satu pegawainya tampak sibuk. Semua orang
ramah-ramah, mulai dari Bu Iip, suami, anak dan pegawainya. Meski harus antre
untuk dilayani tapi saya menikmati. Justru senang bisa mengamati lebih lama
aktivitas mereka.
Sambil
melihat-lihat, saya melipir ke ibu dan bilang “Buka grosiran kayak gini
modalnya berapa? Buka ginian aja yuk di rumah.” Ibu hanya tertawa dan
memberikan komentar bahwa beliau nggak mau dimusuhin tetangga. Maklum, tetangga
kami ada yang buka warung kelontong.
Saya
melanjutkan melihat aktivitas orang-orang di warung Bu Iip. Nggak tahu kenapa
malam ini saya begitu kepingin bisa buka toko grosir seperti Bu Iip. Random aja
gitu. Setiap Minggu pagi saya melihat pecel rawon depan Mandala yang selalu
ramai dan hal itu membuat saya pingin jadi bakul pecel rawon aja. Kemudian melihat
pentol Pak Lan yang nggak pernah sepi juga membuat saya pingin jadi bakul
pentol aja. Atau melihat tetangga saya, sepasang suami istri, Mbak Ulfa dan Mas
Joko yang setiap pagi peracangannya nggak pernah sepi juga membuat saya pingin
jadi bakul peracangan aja. Setiap melihat aktivitas ekonomi masyarakat yang
terus bergerak dan nggak muluk-muluk, saya latah kepingin begitu juga. Dan
malam ini giliran Bu Iip yang ingin saya tiru.
Semakin
dewasa, semakin berumur, rasanya hidup jadi semakin sederhana. Hidup tenang
bersama orang-orang yang dicintai. Semua mimpi dan ambisi bukan lagi yang
paling ingin dicapai. Tercapai syukur, enggak juga nggak apa-apa. Hehehe.
