Selasa, 31 Mei 2016

Welcome, 21 ...

Mei 31, 2016 0 Comments
Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan menghirup nafas di umur ke-21 tahun ini.
Aku mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga, sahabat, kawan, dan saudara yang telah memberikan doa terbaiknya. Semoga doa-doa tersebut di ijabah oleh Tuhan dan yang pasti kembali juga kepada yang telah mendoakan.
Dibalik segala kebaikan yang terjadi di tanggal 31 Mei, ada pula kebaikan yang selalu aku doakan agar bertambah pula nilai kebaikannya. Semoga pernikahan Abah dan Ibu yang sudah masuk di tahun 22 selalu dalam lindungan Tuhan. Diberkahi dan langgeng hingga hanya maut yang akan memisahkan mereka. Aamiin …

Tidak banyak yang bisa aku lakukan di hari lahir ini selain cekikikan dirumah sambil membaca doa dan harapan yang kawan-kawanku kirim.
Ada doa yang nyeleneh seperti dibawah ini.


Oke, Nda. Apa hubungannya punya "itu" sama kebiasaan ngeblog???
Mungkin Bunda pikir aku suka ngeblog karena aku jomblo, kesannya nggak punya kerjaan gitu, jadinya ngeblog deh.
Tolong, Nda. Semoga kamu nggak berpikiran seperti itu …
Eh, tapi emang "itu" itu maksutnya apa? Wkwkwkwk ...

Ada doa nyeleneh, ada juga doa yang bikin terharu.
Baru kali ini aku memiliki teman yang bilang kalau dia bangga memiliki teman sepertiku *akhirnya ada juga yang membanggakan aku :’)
Hari Senin tanggal 30 Mei kemarin aku tidur larut malam.
Aku tahu kalau besoknya adalah hari lahirku, namun malam itu aku terhanyut oleh Running Man yang sedang aku tonton di laptop.
Tahu sendiri, kalau sudah nonton variety show yang satu itu aku bisa lupa waktu.
Sampai tiba-tiba ponselku bergetar, tanda sms masuk.
Aku tidak berpikir apa-apa selain “Siapa yang sms jam segini?”
Hingga akhirnya isi pesan itu menyadarkanku. Ternyata sudah tanggal 31. Tepat pukul 00.01 pesan itu masuk ke ponselku.
Di salah satu penggalan pesannya dia bilang, “Tetep dadi wanita kuat, Mey. Bangga aku duwe konco koyok awakmu. Tetep semangat, sampai apa yang kamu inginkan tercapai. Sukses terus, Meydiana …”
Terimakasih saudaraku, semoga besok aku mampu ngangkat dua tabung gas ukuran tiga kilo sekaligus yess *kan biar jadi wanita kuat, wkwkwkwk -__-

Ada juga sahabat yang mengirim gambar wajahku yang dia buat sendiri, by her own hand
Yaaah meskipun kata dia masih agak kasar, tapi gambarnya wis bagus. Mending, daripada eke yang nggak bisa nggambar blas
Thankyou, Cut :)

Skenario Tuhan memang selalu ajaib. Ada saja jalan cerita yang membuat hambaNya bergumam, “Bagaimana bisa?”
Sebuah email yang baru aku buka sekitar pukul setengah lima sore. Aku dapat surel.
Bukan, bukan ucapan selamat atas diterbitkannya tulisanku di salah satu situs yang sempat kukirim beberapa hari lalu. Bukan juga ucapan selamat karena memenangkan undian yang tidak pernah aku ikuti *bingung? Bagus kalo enggak :D
Mau tahu siapa yang ngirim dan apa isinya?
Hahahaha sudahlah, ndak ada yang bakal ngerti juga.

Oh ya, aku juga dapat buku dan surat (lagi) yang terselip didalamnya.
Tapi yang ini bukan surel. Surat asli, meskipun ndak ditulis tangan sih, hehehe …

Di hari bahagia ini ada juga kabar yang membuatku sedih.
Donat sakit. Tifus dan DB.
Syafakillah, Nat. Berhentilah begadang demi kuota malam.
Kesehatanmu …

Baiklah, 31 Mei kali ini semuanya berjalan seperti hari-hari biasa, sebagaimana mestinya.
Hanya saja, cuaca 31 Mei sempat membuatku kuliah segan bolos tak mau.
Begitulah, gaes …

Rabu, 25 Mei 2016

Rabu Rasa Minggu

Mei 25, 2016 0 Comments
Kemarin setelah kuliah Donat tidak pulang ke rumahnya.
Melainkan menginap di Banyuwangi, di tempatku.
Satu alasan yang membuat Donat tidak pulang ke rumahya.
Takut.
Sabtu lalu Balokan (tempat tinggal Donat) di gegerkan oleh penemuan mayat dalam kantong plastik.
Dan lokasi pembuangan itu berada di timur rumah Donat.
Disebabkan alasan itulah Donat tak berani pulang ke Balokan malam-malam.
Apalagi hari selasa jadwal kuliah kami hingga pukul sembilan.
Sebenarnya jika Mbak Lela masuk kuliah semua akan baik-baik saja.
Yah, minimal mereka berdua, nggak sendirian.
Dan dikarenakan serangkaian acara bulan madu yang telah dipersiapkan, Mbak Lela akhirnya nggak kuliah.
Mbak Lela dan suami akan ke Bali hari ini.
Padahal ke Bali-nya masih hari Rabu, tapi nggak masuk kuliahnya mulai hari Sabtu.
Dasar, manten baru :D

Jadi begitulah, agak awkward ketika Donat menginap di weekday.
Biasanya, kan, dia nginepnya hari Sabtu.

Hari ini akhirnya aku melaksanakan cita-cita yang telah lama aku impikan.
Jogging di lapangan Gor, with my beautiful monkey a.k.a Donat ^_^
Hehehe cita-citanya agak gimana gitu, yak …

Jadilah aku dan Donat tiba di Gor sekitar pukul enam kurang lima belas.
Karena weekday jadinya lapangan Gor nggak begitu ramai.
Ini juga kali pertama aku joggig di Gor setelah dilakukan renovasi.
View yang berbeda, atmosfer yang berbeda, dan juga perasaan yang berbeda.
Aku teringat masa SMK dimana aku dan teman-teman mengikuti mata pelajaran olahraga di lapangan ini. Lari estafet, lompat jauh, dan lari-lari cantik sekelas hahaha …

Pagi ini moodku sedang baik, mungkin karena cuaca yang juga sedang baik.
Kami melakukan pemanasan kecil-kecilan yang cenderung asal-asalan hingga kemudian mulai mengitari lapangan.
Putaran pertama lumayan, lalu mulai putaran kedua.
Putaran kedua sudah nggak jogging lagi namanya, tapi jalan-jalan.
Selesai putaran kedua kami melanjutkan putaran ketiga.
Di putaran ini kami sudah nggak jelas mau melakukan apa.
Kadang lari kadang jalan sambil selfie.
Dan akhirnya tibalah kami di putaran keempat yang sekaligus mengakhiri olahraga kami.
Di putaran keempat kami justru tidak peduli lagi pada tujuan awal kami datang kemari.
Kami malah main-main di tengah lapangan berumput dan cekrak-cekrek entah berapa kali.
Memang benar kata Donat, olahraga 10%, foto-foto 90%.

I Loveeee this pict :)
Tapi tidak apa, kami lumayan berkeringat dan lumayan kehausan.
Segera setelah sesi pemotretan usai kami keluar lapangan sembari tak lupa melewati mas-mas yang tengah duduk-duduk kelelahan di pinggir lapangan *tetep usaha, ya kali aja jodoh kami terselip di antara mas-mas yang sedang ber-olahraga di lapangan ini :D
Keluar dari lapangan dan meninggalkan kompleks Gor aku segera melajukan motor ke arah Simpang Lima. Aku sempat melewati Esemkasa dan melihat kesibukan anak-anak sekolah.
Ada juga Pak Satpam yang entah siapa namanya sedang membantu para murid meyebrang.
Lagi-lagi nostalgia dadakan. Aku jadi ingat masa-masa saat Abah mengantarku sekolah.
Yang paling menyenangkan adalah momen ketika aku turun dari motor lalu mencium dengan takzim punggung tangan beliau.

Oke kembali ke laptop, enggak, maksudnya kembali ke cerita.
Aku sempat bertanya pada Abah rekomendasi bubur yang dapat kami temui pagi ini.
Abah menyarankan untuk pergi ke Simpang Lima, namun setelah dicari-cari, dilihat-lihat, aku tidak mengendus keberadaan gerobak si Abang tukang bubur naik haji.
Akhirnya aku melaju ke arah Blambangan, dari sana aku langsung menyusuri sepanjang jalan Kapten Pierre Tendean.
Memang, perut yang lapar membuat mata kita jadi awas melihat makanan.
Hampir sampai jembatan aku melihat gerobak bertuliskan Jenang Suro terparkir di kanan jalan.
Segera aku memutar balik motor dan berhenti di depan gerobak si Abang. 

Setelah memesan aku dan Donat duduk di tempat yang telah disediakan.
Ini pertama kali aku makan jenang suro langsung di tempat.
Biasanya aku dibelikan Abah yang pagi-pagi sudah berburu makanan endes ini.

Ketika pesanan kami siap, dan tentu dengan ritual di cekrek dulu, setelah itu berdo’a, barulah kami menyantap bubur yang menggoda iman tersebut.

Pada suapan pertama Donat langsung bilang, “Juaraaa …”
Aku tertawa. Tidak salah sarapan pilihan kami pagi ini.
Berarti besok-besok harus siap kembali ke tempat ini :D

Selesai mengisi perut kami menuju Boom.
Memang bukan untuk olahraga, sekedar untuk duduk-duduk dan medengarkan Gerua.
Sambil memandang laut lepas yang seakan membawa semua kenangan kau dan aku *opo ae, sih -____-
Entah berapa puluh menit kami disini, hawa kantuk mulai meyerang.
Tidur entah jam berapa, yang pasti sepertinya lewat dari jam dua belas *biasa lah perempuan, nggak akan tidur sebelum sesi curhat-curhatan selesai.
Bangun jam lima kurang lima belas, sudah jelas jatah tidur yang baik tidak terpenuhi.
Akhirnya kami meninggalkan kenangan kami disini Boom dan …. dan kalian tahu kami kemana?
Kami menuju es-nya Pak Joni.
Iya, sepagi itu kami sudah ngapelin tukang es, sekitar jam delapan-an.
Lha piye, wong kita kehausan :D

Setelah segala rupa kegiatan pagi ini, akhirnya kami pulang.
Dari rumah, seperti kena hipnotis, aku dan Donat sama-sama tidur sampai bedug Dhuhur.
Luar biasa …

Minggu, 22 Mei 2016

Mahar Istimewa

Mei 22, 2016 0 Comments
Buku Laskar Pelangi Song Book yang aku dapatkan di bazar buku Gedung Korpri kemarin banyak menyita perhatianku.
Dari rumah aku segera memutar CD yang terdapat dalam buku tersebut.
Sementara aku mendengarkan lagu-lagu yang kuputar, Ardi melihat-lihat isi buku itu.
Sampai kemudian dia menunjukkan padaku bagian dari buku tersebut.
Berisi sebuah foto pernikahan dengan caption yang membuatku tercengang.
Salah seorang penggemar Pak Cik menjadikan novel Edensor sebagai mahar pernikahan mereka.

Oh My! Aku tidak menyangka ternyata ada juga orang yang berpikir gila sepertiku.
Aku pernah membuat meme yang bertuliskan “Saya terima nikahnya dengan seperangkat novel Andrea Hirata, dibayar tunai.”
Dan ternyata ada juga pasangan pengantin yang menjadikan karya Pak Cik sebagai mas kawin.

Hahahaha unbelievable
By the way, aku serius dengan meme yang aku buat.
Aku juga menginginkan novel-novel karya Pak Cik yang akan menjadi mahar pernikahanku nanti.
Nggak sulit, kan?
Aku nggak akan meminta kalian (wahai jodoh yang masih di keep oleh Allah) untuk hapalan ini itu sebagai mahar.
Cukup novel-novel Andrea Hirata saja. Simple, kan?
Bukankah sebaik-baik wanita adalah yang maharnya tidak memberatkan?
Aku sudah memiliki beberapa novelnya, kalian hanya perlu melengkapi sebagian yang belum lengkap.

Setelah foto tentang pernikahan yang menjadikan Edensor sebagai mas kawin, dibawahnya juga ada foto yang lagi-lagi membuatku geleng-geleng kepala.
Salah seorang pembaca novel Pak Cik menamai putra mereka dengan “Nova Lintang Edensor”.
Bukan main kekuatan sastra yang Pak Cik olah.
Aku tidak pernah membayangkan untuk menamai seorang putra dengan nama Edensor.

Over all, karya-karya Pak Cik memang luar biasa.
Beliau mampu membuat karyanya tidak hanya indah namun juga menggugah.
Aku selalu tercengang tiap kali membaca karya-karyanya.
Tersenyum, tertawa, bahkan menangis.
Tiap kalimatnya seperti memiliki kekuatan untuk terus melumat halaman-halaman berikutnya.
Novelnya memang berbeda dari novel kabanyakan yang telah aku baca.
Dan yang terpenting adalah Pak Cik mampu membuatku berimajinasi dengan keadaan Belitong tempo dulu.
Bagaimana suasana keakraban orang-orang Melayu.
Suasana kampung saat PN Timah masih berjaya.
Dan suasana dalam kelas di SD Muhammadiyah, Gantong.

Tidak heran Andrea Hirata masuk dalam daftar orang-orang yang menginspirasiku.


Sabtu, 21 Mei 2016

PKI dan Seragam Pramuka

Mei 21, 2016 0 Comments
Aku nggak pernah membayangkan mimpi jenis ini bakal mampir ke tidurku.
Memang, orang bilang mimpi itu hanya bunga tidur.
Tapi nggak sedikit mimpi yang membuatku bangun dengan keadaan mood jelek.
Intinya, beberapa mimpi yang aku alami mempengaruhi mood-ku seharian.

Mungkin karena kemarin aku seharian berada di rumah Mbah di Krasak, jadi latar tempat mimpi kali ini adalah rumah Krasak.
Nah, gaes, kalian tahu apa mimpiku kali ini?
Mimpi tentang orang-orang PKI.
Sebenarnya mimpi ini bukan kategori mimpi buruk, tapi suasana yang terjadi dalam mimpiku itu benar-benar mencekam, mirip film-filmnya Tante Suzanna.

Jadi gini, waktu itu di dalam rumah Krasak ada aku, Abah, Ibu dan kenangan Nia, yang nongol di mimpi cuma empat orang itu aja.
Kami sedang membereskan berbagai buku ketika tiba-tiba ada siaran di Masjid Nurullah bahwa sebentar lagi akan ada orang-orang PKI yang melakukan sweeping.
Saat siaran berlangsung aku sedang membaca majalah “Bobo” entah edisi berapa.
Embuh lah, namanya juga mimpi, apa aja bisa kejadian.
Anehnya, saat itu majalah anak-anak macam Bobo juga menjadi salah satu incaran bagi mereka.
Agak aneh sih *bukan agak aneh lagi, tapi memang bener-bener aneh.

Nah setelah menyembunyikan bermacam-macam buku dengan rapi, kami pun melakukan aktivitas masing-masing seperti semula.
Di mimpi itu aku jadi perempuan yang setengah-setengah *mm maksudnya takut enggak, berani juga enggak.
Jadi di ruang tamu secara terang-terangan aku membaca sebuah buku.
Tadinya sih baca majalah “Bobo” yang kalau ketahuan orang PKI pasti bakal di bumihanguskan dari peredaran.
Tapi karena terlalu takut akhirnya aku mengganti bacaanku dengan katalog mobilnya Hani.
Wkwkwkwkw, duh kan, embuh sekali pokoknya mimpi bulan ini.
Iya, secara Hani kerja di Nissan, jadi ada beberapa katalog dan majalah otomotif yang berkeliaran di meja ruang tamu.

Setelah pengumuman yang membuat bulukuduk dangdutan itu terdengar, tiba-tiba suasana di sekitar rumah jadi serem.
Aku melihat beberapa orang berseragam coklat sedang mondar-mandir.
Wajah mereka ditutup dengan topeng dari besi *dualah, mosok ini efek kebanyakan nonton Super Dede???
Pokonya jadi semacam prajurit-prajurit kerajaan yang memakai pakaian besi.
Aku tetap duduk manis di ruang tamu yang menghadap ke jendela dan juga tetap melanjutkan kegiatan membaca.
Aku melihat satu orang mendekati rumah dan melirik ke dalam, sebagai perempuan yang takut enggak berani juga enggak aku pun ikut-ikutan melirik ke arah orang tersebut.

Dan …. Deg ….
Tatapan kami bertemu *berhubung ini konteksnya serem, jadi nggak ada backsongnya.
Ya kali romantis-romantisan sama orang PKI?
Secepat kilat aku segera menundukkan pandangan *sebagai muslimah juga harus begitu, kan? wkwkwkwk
Tapi naas, orang tersebut segera masuk ke halaman dan mendobrak pintu rumah.
Belionya segera merampas paksa sesuatu yang sedang aku baca.
Ngerampasnya nggak pakai tangan, tapi pakai arit *hmmm, rempong kan?

Seingatku orang itu nggak menggeledah rumah, dia langsung pergi setelah merampas katalog mobil yang sedang kubaca *ya bisa jadi mau ikut ngredit mobil, kan mau lebaran, biar mudiknya enak hehehehe …
Tidak berhenti sampai di situ saudara-saudara.
Setelah kepergian orang pertama, datanglah orang kedua.
Yang kedua ini serem enggak, nggak serem juga enggak.
Awalnya dia berdiri di depan pintu, kemudian menanyakan keberadaan kepala rumah tangga.
Sebagai anak masa kini yang berbakti, aku menawarkan diri untuk menemuinya.
“Diwakilkan saya saja, boleh?”
Mas-mas PKI itu mengangguk.
Akhirnya aku keluar menemui mas-mas itu. Ini demi keselamatan Abah, karena Abah kadang-kadang suka nggak bener jawab pertanyaan serius.

Aku baru sadar bahwa kostum para orang-orang PKI ini ternyata seragam Pramuka, gaes.
Seragam Pramuka lengkap pula. Yang beda cuma pisaunya. Biasanya kan yang dipakai itu pisau, nah kali ini bukan pisau tapi arit.
Gitu lah pokoknya …
Awalnya serem, tapi potongannya yang mirip anak STM lagi persami, seremnya buyar :D

Di teras rumah mas-mas tadi menanyakan perihal logo BNN yang terpasang di dinding teras.
Aku pun heran, sejak kapan rumah ini terpasang logo BNN???
Namanya juga mimpi, apa aja bisa kejadian.
Dan yang anehnya lagi, salah satu logo BNN itu terdapat Kunyit.
Mas PKI tadi lantas bertanya “Kenapa ada Kunyit di logo BNN itu?”
Oalah mas, mas … Sampeyan aja tanya, apalagi saya?
Akhirnya dengan nggak jelasnya aku menjelaskan.
Dan mas-mas ini agak geser kali, ya.
Bukannya menyimak dengan baik jawabanku, dia malah senyam-senyum melihatku.
Ngeri ndo, wong PKI lho iki …

Dan setelah insiden tanya jawab yang nggak jelas itu, aku terbangun.
Kadang mimpi se-absurd ini.

Sumber : Google

Kamis, 19 Mei 2016

Laskar Pelangi Song Book

Mei 19, 2016 0 Comments
Siang ini setelah Mbak Desi selesai mengerjakan statistik dirumah, aku segera pergi ke Lateng bersama Fahri dan Bu Is.
Hari ini aku mengunjungi dua adik sepupuku yang baru saja terkena musibah.
Pertama, Maulana yang kemarin jatuh dari tempat tidur.
Duh, padahal dia masih 5 bulan. Kebayang gimana rasanya, Maulana sih mungkin belum bisa sambat. Tapi kita-kita yang sudah gede ini pasti yang bingung.
Kedua, Lintang yang jatuh dari sepeda kayuh.
Padahal Sabtu kemarin aku baru saja mengunjunginya, kok ndilalah ndak sampai seminggu aku ke Lateng lagi -___-

Setelah semua urusan menjenguk selesai, aku mampir ke bazar buku Gedung Korpri.
Memang sudah masuk dalam list, bahwa hari Kamis agenda kita adalah ke Lateng lalu ke bazar buku.
Sampai di Korpri aku agak bego melihat suasana gedung yang lengang.
Ini pameran buku apa pameran kenangan mantan, kok suepi banget.
Ah, mungkin karena masih siang jadi belum terlalu ramai, pikirku.

Setelah menyelesaikan urusan dengan mas-mas parkir, aku segera melangkah masuk ke gedung.
Seperti biasa, alwayas excited.
Bau buku sudah tercium sejak dari pintu masuk.
Ini pertama kalinya aku mengajak Fahri ke pameran buku.
Ternyata dia juga tidak kalah excited dari kakaknya.
Mungkin dia juga bingung melihat begitu banyak tumpukan buku dengan gambar-gambar menarik.
Bu Is pun sama, belio sempat menawariku sebuah buku yang berjudul “Ajak Aku ke Penghulu”, kalau tidak salah.
Aku sempat mengambil buku tersebut dan membaca bagian belakangnya.
Bagus, sih. Ada beberapa ulasan mengenai urusan perasaan.
Ya jelas, wong judulnya aja sudah begitu, ya masa isinya tentang tata cara memelihara tuyul, kan jaka sembung naik ojek akhirnya.
Sebentar, Ibuku menunjukkan buku itu padaku bukan karena #kodekeras yang hendak belio siratkan.
Tapi karena cover bukunya yang lucu, pasangan kartun yang pakai baju adat jawa sedang naik ontel berdua *romantis pokonya, dunia serasa milik berdua, yang lain nge-kost
Jadi bukan karena ngode anak gadisnya ini, gaes

Buku seharga lima belas ribu rupiah itu sempat akan aku bawa ke mas-mas kasir.
Hingga tiba-tiba Bu Is menyodorkan satu buku yang membuatku speechless.
Laskar Pelangi Song Book!!!
Hiyaaaa, aku segera melirik ke arah tempat buku tersebut.
Dan, sepertinya tinggal satu ini.
Tanpa a b c d, aku segera memeluk erat buku karya Pak Cik itu.
Satu lagi koleksi buku Pak Cik yang aku punya.
Bahagianyaaaa ^_^

Kebahagiaan tidak berhenti sampai disitu.
Aku baru sadar jika di dalam buku itu terdapat bonus CD yang berisi lagu-lagu karya Pak Cik sendiri.
Ada total tujuh lagu yang direkam di Compact Disk tersebut.
Duh, bahagia di hari Kamis yang manis ini jadi berlapis-lapis.
Aku pulang dengan wajah yang sumringah.
Macam perempuan yang baru saja di khitbah #eaaaaa

Minggu, 01 Mei 2016

Semua Perempuan Akan Belajar Masak Pada Waktunya

Mei 01, 2016 0 Comments
Hari ini tiba-tiba saja aku teringat obrolan ringan dengan Donat.
Waktu itu Donat menanyakan satu hal yang dekat sekali dengan kehidupan perempuan.
“Awakmu iso masak?”
Tanpa tedeng aling-aling, dia menanyakan hal retorik.
Ya jelas enggak lah, hahahaha …
Kalau yang dimaksud masak disini adalah masak telur, air, nasi, mi instan, aku bisa.
Lalu dia mengerucutkan kembali pertanyaannya.
“Jangan santenan iso?”
Benar-benar, kenapa dia jadi bersikap seperti calon mertua yang cerewet?

Aku mengerti, dia hanya tidak ingin aku menjadi perempuan yang payah di dapur.
Jadi begini gaes, kalau sayur tumis, sayur bening, ya oke lah masih mampu.
Tapi kalau sudah berhubungan dengan masa lalu mantan, eh, santan, marut-memarut (meskipun sekarang sudah banyak santan instan) aku angkat tangan.
Bukan angkat tangan juga sih sebenarnya, aku saja yang belum pernah belajar dari Bu Is.

Hal-hal berbau dapur ini juga selalu menjadi senjata Abah dan Ibuku untuk nggojloki anak gadisnya ini.
Pernah suatu hari aku di tes oleh Ibu untuk membedakan mana ketumbar mana merica.
Hasilnya? Sudah tentu salah.
Ketumbar aku sebut merica dan merica aku sebut ketumbar.
Kejadian itu berakibat pada peluncuran nasihat-nasihat menohok hati yang di launching oleh Bu Is, ibuku tercintah.
Berupa-rupa nasihat yang belio lontarkan, mulai dari:
Sudah gadis masih ndak ngerti mana ketumbar mana merica. *bukan ndak ngerti, tapi belum ngerti, hahaha telat banget yak segede gini masih belum ngerti -___-
Gimana kalau besok kamu tinggal di rumah mertua? *siapa yang mau tinggal sama mertua? tinggal di rumah sendiri atuh, berdua suami :v
Jangan-jangan ndak bisa bedakan mana beras mana beras ketan? *sepertinya bisa, sepertinyaaa :D

Tidak berhenti sampai disitu.
Aku juga pernah di tes untuk membedakan mana jahe mana kunyit mana kencur.
Kan? Apa nggak keterlaluan?
Tiga jenis palawija itu membuatku jadi mikir sejenak.
Beruntung aku menebak dengan benar yang namanya kunyit.
Kencur dan jahe sukses membuatku di bully oleh Ibu sendiri -___-

Nah, yang paling nemen adalah ketika aku di tes untuk membedakan ketiga jenis palawija yang sama, namun kali ini dalam bentuk tanaman.
Aigoooooo, cobaan apa lagi ini?
Cerita selanjutnya sudah bisa kalian tebak sendiri, gaes.
Semua tebakanku salah.
Aku sudah tidak peduli lagi mana kencur, mana kunyit, mana jahe.
Hari ini, setiap aku keluar rumah dan melihat tanaman-tanaman yang di tanam oleh Ibuku itu, aku seperti melihat tukang tikung gebetan sahabatnya.
Bayangin kalau kamu punya cem-ceman, terus cem-cemanmu itu ditikung sama sahabatmu sendiri?
Memang, tukang tikung itu adalah makhluk Tuhan yang paling embuh.
Eits, tapi saya nggak pernah punya sahabat yang nikung sahabatnya sendiri kok ^_^

Kembali ke masalah dapur.
Sebenarnya ada satu pertanyaan yang akhirnya timbul tenggelam di kepalaku.
Apa iya semua laki-laki akan mengharuskan istrinya kelak untuk pandai memasak?
Ah, it’s so yesterday.
Pengetahuan agamaku memang ndak dalam-dalam amat, cenderung cetek.
Namun aku tahu bahwa urusan dapur dan segala tetek bengek yang wis kadung dilakukan istri hingga hari ini, itu semuanya adalah tugas suami.
Pak Dzaki dulu juga pernah ngomong gitu kok, seriusan, untuk masalah yang satu ini ingatanku masih runcing.
Istri ya mengandung, melahirkan, ngurus anak, ngurus suami, dah gitu aja.
Tapi ya gimana, tanpa disuruh perempuan sudah mengambil alih seluruh tugas suami itu.

Kembali ke masalah dapur (lagi).
Pada akhirnya semua perempuan akan belajar masak pada waktunya.
Jika pada akhirnya adik tidak mampu menyajikan cinta di atas meja makan, mungkin abang yang akhirnya masak buat adik.
Atau kalau abang dan adik sama-sama ndak gablek, ya sudah kita maem di luar ya, bang ^_^
Hahaha, wis tho ndak perlu serius-serius gitu.
Selain abang masih belum jelas, Istanbul masih jauh, serius juga sudah bubar.

Sumber : Google