Senin, 30 November 2020
Sabtu, 21 November 2020
Been There, Done That
Salah satu adegan dalam drama Start Up mengingatkanku pada sebuah pengalaman diremehkan. Dialog yang diucapkan oleh fisrt lead male, Nam Do San, otomatis membuatku mengingat kejadian di masa lalu.
Adegan ketika Chul San dan Yong San meragukan Seo Dal Mi untuk presentasi pada pekan retas di Sandbox (episode 5). Seperti yang diketahui bahwa latar belakang pendidikan Dal Mi hanya SMA, bagaimana mungkin bisa menjelaskan apa itu kecerdasan buatan? Kemudian Do San berkata “Kenapa meremehkan orang lain padahal tahu rasanya diremehkan?”. Sejak Seo Dal Mi terpilih menjadi CEO saja dua shabat Do San itu sebenarnya sudah meragukan Seo Dal Mi.
Di masa lalu, aku pernah sampai
pada kejadian yang akan selalu teringat sebagai sebuah pelajaran. Awal-awal
siaran aku mendapat tugas memandu talkshow seorang profesor dari salah satu
kampus yang ada di Banyuwangi. Seperti biasa aku merasa gugup berhari-hari
membayangkan akan bertatap muka dengan seorang profesor, ngobrol pula.
Aku menepis rasa gugup dengan
mempelajari materi yang sudah diberikan. Membaca dan menyusun poin-poin
pertanyaan yang akan aku tanyakan. Sampai hari H tiba aku akhirnya berhadapan
dengan beliau.
Beberapa menit sebelum on air kami
ngobrol. Aku yang senang bergurau ini agak terkejut ketika mendapat respon
kurang menyenangkan ketika melempar jokes.
Makin gugup aku dibuatnya. First
impression sudah membuatku tidak enak hati. Aku membayangkan akan jadi apa
obrolan kami nanti.
Sampai kemudian beliau memintaku
untuk latihan terlebih dahulu, katakanlah simulasi. Aku menuruti permintaan
beliau. Kami melakukan simulasi sedari awal opening hingga masuk ke poin
pertanyaan pertama. Dari sana beliau menginterupsiku dan mengatakan untuk tidak
perlu menanyakan hal tersebut. Terlalu basa-basi, katanya.
Aku terhenyak. Setelah
menasihatiku panjang lebar, beliau berkata “Jadi gimana? Siap nggak talkshow
hari ini? Apa mau ditunda dulu?” kurang lebih demikian kata-kata yang beliau
keluarkan.
Aku memahami mengapa beliau
bersikap demikian. Aku, anak kemarin sore, yang terlihat sangat tidak
meyakinkan, akan memandu talkshow soal kampusnya yang ada di Banyuwangi.
Sebagai seorang klien tentu beliau ragu pada kemampuanku. Bagaimana jika nanti
aku gugup? Bagaimana jika nanti aku melupakan poin-poin penting yang harusnya
disampaikan? Beliau sudah bayar, tentu beliau ingin hasil yang memuaskan. Aku
memahami hal tersebut.
Mendekati on air aku masuk ke
ruang combo dengan perasaan campur aduk. Ruangan yang sedingin kulkas itu jadi
tidak ada apa-apanya bagiku. Sungguh, diremehkan itu sedih sekali.
Ketika sudah on air aku
menghilangkan segala perasaan gugup dan sedih yang aku rasakan. Aku mulai fokus
pada profesor yang ada di depanku dan membiarkan semuanya mengalir. Satu per
satu pertanyaan beliau jawab. Hingga akhirnya segmen pertama usai.
Ketika jeda iklan, dengan ragu
aku menuju ruangan beliau (karena ruang siaran di Mandala terbagi dua antara
ruang penyiar dan ruang untuk narasumber talkshow) hendak menanyakan topik
untuk segmen selanjutnya.
Baru saja menutup pintu dan
menghadap beliau, beliau langsung mengacungkan dua jempolnya sambil berkata,
“Anda ternyata hebat.”
Aku otomatis lemas luar biasa.
Rasanya campur aduk. Antara ingin menangis tapi juga bahagia. Setelahnya entah
mendapat kekuatan dari mana, semua berjalan lancar hingga akhir acara.
Kejadian itu akan selalu aku
jadikan pengingat. Jangan pernah meremehkan orang lain dalam keadaan apapun.
Aku bisa saja alpa pada beberapa kejadian. Tentu aku pernah meremehkan orang
lain, hanya saja aku lupa kapan dan siapa yang aku remehkan. Kejadian-kejadian
yang luput dari ingatanku itu bisa jadi akan membekas pada ingatan orang lain.
Seperti profesor tersebut yang
bisa saja lupa atau katakanlah tidak sengaja telah bersikap demikian padaku,
tapi aku akan selalu ingat kejadian tersebut. Aku tidak marah atau dendam,
justru aku berterima kasih. Dari pengalaman tersebut sebisa mungkin aku tidak
akan meremehkan orang lain. Karena terkadang kita harus merasakan hal tersebut
lebih dahulu agar tahu apakah hal tersebut baik atau tidak.
Itulah sebabnya dialog dalam episode lima drama Start Up itu relate sekali denganku. Been there, done that.
Rabu, 04 November 2020
Berobat Bersama Bapak
Hari ini mumpung libur siaran aku mengatar bapak ke puskesmas untuk periksa penyakit kulitnya. Penyakit yang sudah lama itu semakin hari semakin menyiksa bapak. Berbulan-bulan kami berspekulasi yang aneh-aneh, kami bahkan sudah memantapkan hati apabila bapak menderita diabetes, melihat luka-luka beliau mirip luka yang timbul karena diabetes.
Bahkan sebelum pergi ke puskesmas bapak berniat pergi ke kiai karena mengira penyakitnya dibuat oleh manusia. Hhhhh, what a nonsense, batinku. Beruntung, setiap bapak mengunjungi kiai, selalu zonk alias enggak pernah bertemu dengan sang kiai. Bukan aku tidak percaya pada hal-hal diluar nalar, tapi sepengetahuanku bapak tidak pernah bermasalah dengan orang. Bapak bukan pengusaha top atau sosok luar biasa sehingga berpeluang memunculkan musuh. Jadi, ya, aku sama sekali tak mendukung rencana bapak pergi ke orang pintar.
Semua berjalan dengan lancar
sampai akhirnya kami sampai di puskesmas. Bahkan saat ambil nomor antrian pun
kami dimudahkan oleh Allah melaui seorang ibu-ibu. Awalnya nomor antrian kami
adalah 45, lalu tiba-tiba seorang ibu berbaju kuning yang duduk tak jauh dari
tempatku berdiri memberikan nomor antrian yang lebih kecil padaku, nomor 34.
Berkali-kali aku mengucapkan terima kasih karena bisa lebih cepat sampai ke
ruang pemeriksaan.
![]() |
| Terima kasih, Ibu baju kuning baik hati. |
Setelah mendaftarkan bapak ke loket, kami menunggu beberapa saat di deretan tempat duduk di depan ruang pelayanan umum. Puskesmas sedang ramai, ada banyak manusia yang datang dengan segala masalah mereka. Ada rasa haru menelusup dadaku ketika melihat seorang bapak tua tertatih sendirian masuk ke dalam ruang pelayanan. Tak tega aku melihat para orang tua harus datang sendiri untuk berobat tanpa ada yang mendampingi.
Setelah beberapa lama nomor
antrian bapak dipanggil. Aku masuk terlebih dahulu diikuti oleh bapak. Sampai
di ruangan yang lumayan besar itu terdapat meja-meja untuk kurang lebih lima
dokter. Bapak ditangani oleh dokter Wulan. Setelah memeriksa tekanan darah
bapak, dokter Wulan melihat luka-luka di tangan dan kaki bapak, kemudian beliau
mendiagnosa sebuah penyakit yang aku tak paham apa namanya.
Aku menceritakan pada beliau soal
kebiasaan bapak yang suka membersihkan luka-lukanya dengan revanol dan minyak
tawon yang justru sebenarnya tak boleh dilakukan karena akan membuat kulit
bapak semakin kering. Dokter Wulan menyarankan menggunkan baby oil atau olive
oil untuk membuat kulit bapak lembab. Beliau perlu kulit bapak mendapat
kelembabannya kembali dan mengevaluasi lagi perkembangan dari kulit bapak.
Setelah dari dokter Wulan kami
pergi ke lab yang ada di sebelah ruang pelayanan umum untuk memeriksa gula
darah bapak. Seperti yang aku katakan di awal, kami sudah menyiapkan mental
kalau-kalau hasil lab bapak positif diabetes.
Di luar dugaan, gula darah bapak
baik sekali. Tak ada masalah dari hasilnya. Aku seperti sedang lewat depan SMPN
1 Srono di siang yang terik, alias adeeem. Tidak menyangka hasilnya akan
demikian melegakan. Aku juga bisa melihat bapak sedikit lega, paling tidak
bapak bisa tahu kepastian kesehatannya.
Kami kembali menemui dokter
Wulan. Sembari beliau menuliskan resep obat aku bertanya apa-apa saja yang
sebaiknya tidak bapak konsumsi. Lagi-lagi diluar dugaan ternyata bapak boleh
makan apa saja, hanya untuk ayam potong dan kacang-kacangan agak dikurangi,
tapi bukan berarti tidak boleh.
Lagi-lagi aku merasa seperti
dipermainkan, hahaha. Karena selama ini aku cerewet sekali soal makanan yang
dikonsusmi bapak. Sebelum periksa, aku dan ibu di rumah membatasi bapak makan
ini makan itu. Ternyata malah tidak ada pantangan bagi bapak.
Well, akhirnya kami pulang dengan keadaan lega karena sudah
mengetahui hasil pemeriksaan. Aku lega karena bapak tak lagi ngeyel soal
penyakit yang dibuat manusia, dan juga lega karena ternyata kesehatan bapak
tidak seburuk yang kami pikirkan. Minggu depan kami harus kembali lagi untuk
pemeriksaan lanjutan. Doakan lancar, ya. Semoga kita semua selalu dalam keadaan
sehat.
Salam sayang.
![]() |
| Semangat, Inspektur Vijay! |



