Senin, 30 November 2020

Please Don't Date Him

November 30, 2020 0 Comments
Aku mulai jatuh hati pada Song Ha Yoon ketika pertama kali melihat dia dalam drama Fight for My Way. Di drama itu ia berperan sebagai second lead female, yang bersahabat dengan Kim Ji Won, Park Seo Joon dan Ahn Jae Hong.

Song Ha Yoon bermain dengan apik sekali. Dialog-dialognya ringan tapi kuat. Ada satu adegan yang masih lekat di ingatanku. Adegan saat Ha Yoon dan Ji Won duduk bersama dan bicara soal mimpi.

Ha Yoon bertanya apakah salah punya mimpi yang sederhana, sesederhana ingin menjadi ibu rumah tangga? Kalian harus melihat sendiri adegan itu sehingga bisa merasakan peran yang dimainkan oleh Ha Yoon.

Tidak hanya itu, adegan ketika Ha Yoon menangis juga adalah bagian favoritku. Ingat ketika dia mendapati sang pacar, Ahn Jae Hong, tertidur di rumah perempuan lain? It broke my heart so much. Menangyyys aku dibuatnya.

Nah, sekarang ini Song Ha Yoon kembali bermain dalam sebuah drama yang ditayangkan MBC, Please Don't Date Him. Aku baru nonton sampai episode dua. Tapi, di episode dua ini aku melihat kembali Ha Yoon dengan kemampuan aktingnya yang luar biasa. Akting seperti dalam Fight for My Way, tapi bahkan lebih bagus.

Adegan ketika dia marah dan frustasi pada teknologi yang ia buat sendiri. Pasalnya, teknologi (kulkas) tersebut justru memberikan informasi soal calon suaminya. Karena informasi itulah akhirnya dia tahu betapa brengseknya calon suaminya tersebut.

Di sini Ha Yoon berperan sebagai Seo Ji Sung, seorang wanita yang berprofesi sebagai programmer. Ia merupakan bagian dari tim pengembang AI di sebuah perusahaan. Nah, ketika Ji Sung ini sedang mengerjakan proyek lemari es, bukannya menciptakan program yang bisa mengukur tingkat kesegaran sayur, lemari es itu justru bisa menilai seseorang.

Dari lemari es itu pula Ji Sung tahu bahwa calon suami yang ia cintai, Bang Jung Han, ternyata bukan pria yang baik. Sejauh ini, buatku Please Don't Date Him boleh banget buat ditonton. Ceritanya ringan, karakter-karakter perempuannya juga kuat dan unik.

Kalau dilihat dari cover dramanya, bisa dipastikan kisah tiga perempuan yang ada di cover tersebut akan dapat spotlight, semacam Search:WWW. Dan, tentu saja satu pria yang berada dibelakang mereka adalah first lead male-nya, yang belakangan aku tahu bahwa dia kelahiran 1997. OMG.

Sabtu, 21 November 2020

Been There, Done That

November 21, 2020 0 Comments

Salah satu adegan dalam drama Start Up mengingatkanku pada sebuah pengalaman diremehkan. Dialog yang diucapkan oleh fisrt lead male, Nam Do San, otomatis membuatku mengingat kejadian di masa lalu.

Adegan ketika Chul San dan Yong San meragukan Seo Dal Mi untuk presentasi pada pekan retas di Sandbox (episode 5). Seperti yang diketahui bahwa latar belakang pendidikan Dal Mi hanya SMA, bagaimana mungkin bisa menjelaskan apa itu kecerdasan buatan? Kemudian Do San berkata “Kenapa meremehkan orang lain padahal tahu rasanya diremehkan?”. Sejak Seo Dal Mi terpilih menjadi CEO saja dua shabat Do San itu sebenarnya sudah meragukan Seo Dal Mi.

Di masa lalu, aku pernah sampai pada kejadian yang akan selalu teringat sebagai sebuah pelajaran. Awal-awal siaran aku mendapat tugas memandu talkshow seorang profesor dari salah satu kampus yang ada di Banyuwangi. Seperti biasa aku merasa gugup berhari-hari membayangkan akan bertatap muka dengan seorang profesor, ngobrol pula.

Aku menepis rasa gugup dengan mempelajari materi yang sudah diberikan. Membaca dan menyusun poin-poin pertanyaan yang akan aku tanyakan. Sampai hari H tiba aku akhirnya berhadapan dengan beliau.

Beberapa menit sebelum on air kami ngobrol. Aku yang senang bergurau ini agak terkejut ketika mendapat respon kurang menyenangkan ketika melempar jokes. Makin gugup aku dibuatnya. First impression sudah membuatku tidak enak hati. Aku membayangkan akan jadi apa obrolan kami nanti.

Sampai kemudian beliau memintaku untuk latihan terlebih dahulu, katakanlah simulasi. Aku menuruti permintaan beliau. Kami melakukan simulasi sedari awal opening hingga masuk ke poin pertanyaan pertama. Dari sana beliau menginterupsiku dan mengatakan untuk tidak perlu menanyakan hal tersebut. Terlalu basa-basi, katanya.

Aku terhenyak. Setelah menasihatiku panjang lebar, beliau berkata “Jadi gimana? Siap nggak talkshow hari ini? Apa mau ditunda dulu?” kurang lebih demikian kata-kata yang beliau keluarkan.

Aku memahami mengapa beliau bersikap demikian. Aku, anak kemarin sore, yang terlihat sangat tidak meyakinkan, akan memandu talkshow soal kampusnya yang ada di Banyuwangi. Sebagai seorang klien tentu beliau ragu pada kemampuanku. Bagaimana jika nanti aku gugup? Bagaimana jika nanti aku melupakan poin-poin penting yang harusnya disampaikan? Beliau sudah bayar, tentu beliau ingin hasil yang memuaskan. Aku memahami hal tersebut.

Mendekati on air aku masuk ke ruang combo dengan perasaan campur aduk. Ruangan yang sedingin kulkas itu jadi tidak ada apa-apanya bagiku. Sungguh, diremehkan itu sedih sekali.

Ketika sudah on air aku menghilangkan segala perasaan gugup dan sedih yang aku rasakan. Aku mulai fokus pada profesor yang ada di depanku dan membiarkan semuanya mengalir. Satu per satu pertanyaan beliau jawab. Hingga akhirnya segmen pertama usai.

Ketika jeda iklan, dengan ragu aku menuju ruangan beliau (karena ruang siaran di Mandala terbagi dua antara ruang penyiar dan ruang untuk narasumber talkshow) hendak menanyakan topik untuk segmen selanjutnya.

Baru saja menutup pintu dan menghadap beliau, beliau langsung mengacungkan dua jempolnya sambil berkata, “Anda ternyata hebat.”

Aku otomatis lemas luar biasa. Rasanya campur aduk. Antara ingin menangis tapi juga bahagia. Setelahnya entah mendapat kekuatan dari mana, semua berjalan lancar hingga akhir acara.

Kejadian itu akan selalu aku jadikan pengingat. Jangan pernah meremehkan orang lain dalam keadaan apapun. Aku bisa saja alpa pada beberapa kejadian. Tentu aku pernah meremehkan orang lain, hanya saja aku lupa kapan dan siapa yang aku remehkan. Kejadian-kejadian yang luput dari ingatanku itu bisa jadi akan membekas pada ingatan orang lain.

Seperti profesor tersebut yang bisa saja lupa atau katakanlah tidak sengaja telah bersikap demikian padaku, tapi aku akan selalu ingat kejadian tersebut. Aku tidak marah atau dendam, justru aku berterima kasih. Dari pengalaman tersebut sebisa mungkin aku tidak akan meremehkan orang lain. Karena terkadang kita harus merasakan hal tersebut lebih dahulu agar tahu apakah hal tersebut baik atau tidak.

Itulah sebabnya dialog dalam episode lima drama Start Up itu relate sekali denganku. Been there, done that.

Rabu, 04 November 2020

Berobat Bersama Bapak

November 04, 2020 0 Comments

Hari ini mumpung libur siaran aku mengatar bapak ke puskesmas untuk periksa penyakit kulitnya. Penyakit yang sudah lama itu semakin hari semakin menyiksa bapak. Berbulan-bulan kami berspekulasi yang aneh-aneh, kami bahkan sudah memantapkan hati apabila bapak menderita diabetes, melihat luka-luka beliau mirip luka yang timbul karena diabetes.

Bahkan sebelum pergi ke puskesmas bapak berniat pergi ke kiai karena mengira penyakitnya dibuat oleh manusia. Hhhhh, what a nonsense, batinku. Beruntung, setiap bapak mengunjungi kiai, selalu zonk alias enggak pernah bertemu dengan sang kiai. Bukan aku tidak percaya pada hal-hal diluar nalar, tapi sepengetahuanku bapak tidak pernah bermasalah dengan orang. Bapak bukan pengusaha top atau sosok luar biasa sehingga berpeluang memunculkan musuh. Jadi, ya, aku sama sekali tak mendukung rencana bapak pergi ke orang pintar.

Semua berjalan dengan lancar sampai akhirnya kami sampai di puskesmas. Bahkan saat ambil nomor antrian pun kami dimudahkan oleh Allah melaui seorang ibu-ibu. Awalnya nomor antrian kami adalah 45, lalu tiba-tiba seorang ibu berbaju kuning yang duduk tak jauh dari tempatku berdiri memberikan nomor antrian yang lebih kecil padaku, nomor 34. Berkali-kali aku mengucapkan terima kasih karena bisa lebih cepat sampai ke ruang pemeriksaan.

Terima kasih, Ibu baju kuning baik hati.

Setelah mendaftarkan bapak ke loket, kami menunggu beberapa saat di deretan tempat duduk di depan ruang pelayanan umum. Puskesmas sedang ramai, ada banyak manusia yang datang dengan segala masalah mereka. Ada rasa haru menelusup dadaku ketika melihat seorang bapak tua tertatih sendirian masuk ke dalam ruang pelayanan. Tak tega aku melihat para orang tua harus datang sendiri untuk berobat tanpa ada yang mendampingi.

Setelah beberapa lama nomor antrian bapak dipanggil. Aku masuk terlebih dahulu diikuti oleh bapak. Sampai di ruangan yang lumayan besar itu terdapat meja-meja untuk kurang lebih lima dokter. Bapak ditangani oleh dokter Wulan. Setelah memeriksa tekanan darah bapak, dokter Wulan melihat luka-luka di tangan dan kaki bapak, kemudian beliau mendiagnosa sebuah penyakit yang aku tak paham apa namanya.

Aku menceritakan pada beliau soal kebiasaan bapak yang suka membersihkan luka-lukanya dengan revanol dan minyak tawon yang justru sebenarnya tak boleh dilakukan karena akan membuat kulit bapak semakin kering. Dokter Wulan menyarankan menggunkan baby oil atau olive oil untuk membuat kulit bapak lembab. Beliau perlu kulit bapak mendapat kelembabannya kembali dan mengevaluasi lagi perkembangan dari kulit bapak.

Setelah dari dokter Wulan kami pergi ke lab yang ada di sebelah ruang pelayanan umum untuk memeriksa gula darah bapak. Seperti yang aku katakan di awal, kami sudah menyiapkan mental kalau-kalau hasil lab bapak positif diabetes.

Di luar dugaan, gula darah bapak baik sekali. Tak ada masalah dari hasilnya. Aku seperti sedang lewat depan SMPN 1 Srono di siang yang terik, alias adeeem. Tidak menyangka hasilnya akan demikian melegakan. Aku juga bisa melihat bapak sedikit lega, paling tidak bapak bisa tahu kepastian kesehatannya.

Kami kembali menemui dokter Wulan. Sembari beliau menuliskan resep obat aku bertanya apa-apa saja yang sebaiknya tidak bapak konsumsi. Lagi-lagi diluar dugaan ternyata bapak boleh makan apa saja, hanya untuk ayam potong dan kacang-kacangan agak dikurangi, tapi bukan berarti tidak boleh.

Lagi-lagi aku merasa seperti dipermainkan, hahaha. Karena selama ini aku cerewet sekali soal makanan yang dikonsusmi bapak. Sebelum periksa, aku dan ibu di rumah membatasi bapak makan ini makan itu. Ternyata malah tidak ada pantangan bagi bapak.

Well, akhirnya kami pulang dengan keadaan lega karena sudah mengetahui hasil pemeriksaan. Aku lega karena bapak tak lagi ngeyel soal penyakit yang dibuat manusia, dan juga lega karena ternyata kesehatan bapak tidak seburuk yang kami pikirkan. Minggu depan kami harus kembali lagi untuk pemeriksaan lanjutan. Doakan lancar, ya. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat.

Salam sayang.

Semangat, Inspektur Vijay!