Kamis, 19 Maret 2020

Boomer dan Kepanikan Covid-19

Maret 19, 2020 0 Comments

Saya sudah nggak mau lagi membahas apapun tentang covid-19 ini, karena malah bikin saya pusing. Literally pusing, kepala nyut-nyutan. Masuk twitter semuanya bahas corona, buka whatsapp juga sama. Tapi, satu kejadian di grup ibu-ibu muslimat bikin saya shock dan nggak boleh kalau dibiarkan saja.

Salah satu anggota grup secara sadar menyebarkan broadcast ngawur soal corona. Broadcast yang sudah menyebar luas tidak hanya di satu grup saja. Ternyata satu orang di twitter juga mengalami kejadian seperti saya dengan broadcast ngawur yang sama. Ini broadcast-nya:



Nah, akhir-akhir ini saya tahu bahwa Pak Gatot Nurmantyo ternyata juga menuliskan hal ngawur serupa di caption instagram-nya. Bayangkan, akun seorang tokoh yang sudah terverifikasi dengan banyaknya pengikut mengunggah postingan dengan kualitas demikian. Saya bisa saja diam dan tidak menanggapi grup ibu-ibu muslimat ini. Tapi, kok ndilalah banyak yang membenarkan broadcast tersebut. Saya jadi gelisah sendiri.

Kemarin adalah hari pertama saya haid. Bisa dibayangkan ya sobat-sobat perempuan bagaimana menyusahkannya nyeri haid hari pertama. Disela-sela nyeri haid itu saya bolak-balik ngetik untuk memberikan penjelasan dengan bahasa sehalus dan semudah mungkin untuk bisa dipahami para boomer. Sambil miring-miring nahan nyeri sambil gemetar karena sedikit lagi ketikan saya selesai.

Apa yang saya lakukan ini resikonya tiga, gaes. Saya di kick dari grup, saya dicuekin, dan saya batal dijadikan calon mantu. Didepak dari grup sih nggak masalah, dicuekin juga udah biasa, nah yang terakhir ini ngeri-ngeri sedap.

Setelah membaca ulang balasan saya dan merasa sudah menggunakan bahasa sehalus mungkin dan mudah dipahami, saya kirim. Malam kemarin saya lumayan sibuk dengan whatsapp jadi saya tidak lagi memerhatikan grup ibu-ibu muslimat. Hingga tiba-tiba ada satu pesan masuk ke whatsapp saya. Nomor baru, saya nggak kenal orangnya, dan pesannya singkat padat jelas “assalamualaikum” dah gitu aja. Saya buka dan saya lihat apakah beliau merupakan salah satu anggota grup muslimat tersebut, ternyata iya.

Dengan perasaan campur aduk saya balas salamnya dan kembali menunggu beberapa saat. Saya sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, gaes. Entah disemprot dan diajakin debat, entah dilabrak karena sok nyeramahin yang tua atau kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja terjadi. Di luar ekspektasi ternyata beliau mengucapkan terima kasih karena saya sudah mau mengingatkan ibu-ibu di grup muslimat.

Fiuh. Saya lega. Paling tidak dua kemungkinan buruk itu tidak terjadi. Beliau akhirnya bercerita bahwa sudah sering mengingatkan kalau ada postingan yang tidak beres, tapi semakin kesini beliau berhenti melakukan itu karena takut dianggap sok. Apa kabar saya dong ini? Masuk ke grup itu saja secara tidak sengaja, dari awal masuk sampai semalam nggak pernah komen apa-apa, cuma bisa jadi silent reader. Lah terus ujug-ujug semalam ceramah panjang lebar kali tinggi.

Kenapa dah repot banget ngurusin ibu-ibu? Justru itu, karena mereka ibu-ibu. Percaya the power of emak-emak, kan? Kekuatan ibu-ibu ini luar biasa, gaes. Pengaruhnya bahkan bisa menjadikan satu orang duduk di kursi bupati kalau mereka mau. Bayangkan kalau disinfomasi ini mereka sebarkan ke sirkel mereka. Sirkel pengajian, sirkel arisan mapan, sirkel senam pagi/sore, sirkel zumba, dan sirkel mereka yang lain. Bisa-bisa koit ini satu Indonesia hanya karena maksa ibadah.

Gerakan memakmurkan masjid di situasi yang seperti saat ini malah bisa jadi boomerang untuk masyarakat. Saya rasa imbauan dari pemerintah sudah jelas dan sudah sepatutnya kita patuhi. Bukan malah arogan dengan tidak perlu takut corona karena virus ini ciptaan Allah dan masjid adalah rumah Allah.

Haid hari kedua jangan bikin kzl ya cewek santun!

Iya, covid-19 adalah ciptaan Allah. Buaya juga ciptaan Allah. Situ mau dikandangin berdua aja sama buaya? Buaya darat lagi. Mau? Jaga iman ya jaga iman, tapi please jangan abai sama imun (kata admin NUgarislucu). Agama itu longgar, jangan dipersempit hanya karena kita malas belajar, kata admin NUgarislucu (lagi).

Sekarang ini dunia sedang dilanda pandemi covid-19. Ingat, ya, pandemi. Artinya apa? Dunia, nggak hanya Indonesia, sedang dilanda virus ini. Ulasan menarik dari katadata.co.id, bahwa organisasi kesehatan dunia menetapkan covid-19 sebagai pandemi pada Rabu (11/3). Penetapan itu didasarkan pada persebaran virus secara geografi yang telah mencapai 114 negara. Awalnya virus ini ditemukan di Wuhan. Kemudian menyebar ke wilayah geografis lebih luas, seperti menginfeksi penduduk di luar Wuhan, bahkan seluruh Tiongkok. Dengan demikian, virus ini ditetapkan sebagai epidemi. Penyebaran epidemi yang berlanjut ke negara-negara lain, mengakibatkan penularan lokal dan menimbulkan wabah di negara itu, disebut sebagai pandemi.

PR kita selain tetap tenang dan jangan panik atas pandemi ini juga menjelaskan hoaks-hoaks yang beredar di grup-grup whatsapp. Sesekali coba cek wag bapak ibu kita, akan ada banyak sekali broadcast mengenai covid-19 yang absurd sampai absurd banget. Saya menyadari bahwa tidak semua orang tua mendapat kesempatan untuk belajar dan paham dengan literasi digital. Boomer yang nggak paham jadinya bakal menelan semua informasi yang mereka dapat dan disebar-sebarin ke grup-grup sebelah. Enak aja kalau berhadapan sama boomer yang bijak, pas diingetin bilang terima kasih. Yang susah berhadapan sama boomer yang udah dikasih tahu kalau salah malah sumpah serapah.

Yang kayak begini kalau didiemin aja efeknya jelek. Buat apa saya capek-capek belajar hoax busting and digital hygine bareng AJI Indonesia kalau lihat hoaks gitu diem aja?

Selasa, 17 Maret 2020

Perempuan dan Perhiasan

Maret 17, 2020 0 Comments

Tidak sedikit orang yang mengira saya sudah bertunangan atau sudah menikah hanya karena cincin yang melingkar di jari saya. Terakhir insiden “suaminya dinas dimana” yang terjadi ketika saya jadi moderator di sebuah seminar di Poliwangi.

Pak Kusumo (Wakapolresta Banyuwangi) yang menjadi salah satu pembicara pada seminar tersebut sempat menawarkan teh kotak dan kue yang ada di atas meja (aturan mah saya yang nawarin ya, hahaha). Kemudian beliau bertanya pada saya, “Suaminya dinas dimana, mbak?”

Saya yang sedang fokus mendengarkan narasumber lainnya presentasi langsung pecah konsentrasi. Saya dengar, cuma takut salah dengar saja, jadi saya bertanya kembali. Ya kali kan yang ditanya suami orang. Ternyata pertanyaan beliau tetap sama seperti di awal tadi. Alhamdulillah, telinga saya masih berfungsi dengan baik.

“Saya masih single, pak.” jawab saya. “Oh saya kira sudah menikah, soalnya pakai cincin. Apa untuk membatasi yang mau mendekat, ya?”

Saya ketawa, tapi nggak ngakak. Bisa buyar acara kalau saya ngakak. Pernyataan Pak Kusumo yang terakhir agak nggak masuk di alasan saya pakai cincin, sih. Tapi gara-gara pernyataan itu saya jadi kepikiran juga. Boleh juga nih alasan dipakai untuk membentengi diri dari pria-pria pendukung patriarki.

Di usia saya yang hampir setengah abad, minat saya pada kesetaraan gender semakin menguat. Begitu banyak hal yang semakin saya pelajari membuat saya semakin sadar bahwa dunia yang kita tinggali ini memang berjenis kelamin laki-laki. Perempuan seperti tenggelam jauh ke dalam dunia patriarki.

Oleh sebab itu tidak sekali dua kali saya sering buat status mengenai kesetaraan gender. Beberapa waktu yang lalu ada postingan dari ITP yang bilang bahwa kodrat perempuan adalah dikejar. Saya nggak paham ini content creatornya kurang baca atau gimana. Padahal sudah jelas kodrat itu adalah ketetapan Tuhan. Sesuatu yang klean kelan klean semua nggak bisa ubah. Apa itu? Hal-hal biologis. Perempuan punya vagina, punya rahim sehingga bisa mengandung, punya kelenjar susu sehingga bisa memberikan ASI. Laki-laki punya penis, punya jakun, punya sperma. Nah, yang kayak begitu kan nggak bisa kita ubah.

Beda lagi sama sifat-sifat yang dikonstruksi sejak lama, bahwa perempuan itu harus begini harus begitu. Bahwa urusan perempuan itu sudah cukup masak, macak, manak. Wong nyetatus begitu aja udah disindir nggak perlu begitu nanti nggak nikah-nikah. Ya sorry, saya juga nggak bakalan nikah sama laki-laki cupet macam situ. Laki-laki yang masih susah mengerti bahwa kodrat dan gender itu beda.

Nah, celakanya yang beberapa kali dekat ini setipe semua. Mereka tidak begitu peduli dengan isu kesetaraan gender. Kalau diajak diskusi soal relasi kesalingan atau kodrat dan gender suka nggak serius atau berusaha mengalihkan topik. Diskusi hal penting kayak gitu aja nggak bisa serius, gimana mau berumah tangga dengan saya? Udah bener pakai cincin itu aja biar kayak kata Pak Kusumo tadi “membatasi yang mau mendekat”

Balik lagi ke persoalan cincin. Cincin yang melingkar di jari saya ini adalah cincin yang saya beli dari hasil bekerja. Tentu memberikan apresiasi pada diri sendiri karena telah mampu berpenghasilan adalah sesuatu yang wajar. Saya memilih mengalokasikan pendapatan saya pada perhiasan emas. Hitung-hitung sebagai bentuk investasi. Jadi, ketika ada yang bilang kalau saya sudah bertunangan atau sudah menikah hanya gara-gara pakai cincin, saya pingin jawab “Plis, deh. Ini tuh hasil kerja keras saya sendiri. Saya mampu beli cincin nggak perlu nunggu tunangan atau nikah dulu.”

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya memang benar. Kebiasaan saya investasi emas ini sama seperti ibu saat muda dulu. Tiap ada rezeki lebih ibu selalu ke pasar untuk beli emas. Entah kalung, gelang, cincin atau giwang. Menurut beliau itu pilihan paling aman yang bisa diambil.

Oleh sebab itu ketika sekarang saya sudah bisa mencukupi sendiri kebutuhan pribadi saya, ibu selalu mengingatkan untuk beli emas. Nggak perlu yang muahal banget, satu gram dua gram cukup, tapi punya lebih dari satu.

Ya gimana, mau investasi saham atau bitcoin masih nggak paham caranya. Mau investasi properti nggak punya properti juga. Ada properti ngemc, ya kali. Mangkanya investasi emas aja dulu.

Sebenarnya selain alasan investasi, memakai perhiasan (cincin, anting, kalung, gelang, dll) bagi perempuan bisa juga sebagai penambah kepercayaan diri. Saya pernah baca artikel tentang cara perempuan meningkatkan kepercayaan diri. Salah satunya adalah memakai perhiasan.

Setelah dipikir-pikir, saya juga. Saya selalu pakai arloji kecil warna hitam yang saya beli di pasar senggol puasa tahun lalu. Saya nggak bisa melihat lengan saya kosong melompong nggak pakai apa-apa, udah cukup hati aja. Kalau lupa nggak pakai jam tangan paling tidak saya pakai cincin. Kalau lupa pakai cincin paling tidak saya pakai jam tangan. Sudah, dua benda itu yang cukup membuat saya percaya diri. Tapi sebenarnya saya lebih nggak percaya diri kalau nggak pakai jam tangan, sih.

Apalagi kalau ada job ngemc. Printilan-printilan kayak cincin atau jam tangan akan jadi bagian dari support system saya.

Cincin pertama yang saya beli pakai duit sendiri

Kamis, 12 Maret 2020

Bisa Karena Biasa

Maret 12, 2020 0 Comments

Bisa karena biasa, benar adanya. Akhir-akhir ini saya sering membenarkan ungkapan tersebut. Beberapa waktu yang lalu saat siaran jam tujuh, saya mendapati Mas Andre masih di ruang combo membawakan Aktualita Mandala. Saat suara Mas Ivan mengudara saya melihat Mas Andre memainkan ponselnya.

Melihat kejadian tersebut saya tertawa dalam hati. Betapa dulu saya dan Mas Andre menjadi manusia paling tertib apabila menyangkut urusan aktualita. Dahulu kami bisa taat aturan rundown dan tidak berkutik saat membawakan acara sakral ini. Karena Aktualita Mandala butuh konsentrasi penuh agar tidak terjadi kesalahan. Mulai dari auto yang jangan sampai lupa mematikan, hingga smash aktualita yang kadang kebablasan.

Awal-awal siaran aktualita saya benar-benar fokus memperhatikan layar komputer, durasi, hingga letak jari saya di rise. Tangan kanan fokus pada mouse, tangan kiri fokus menaik-turunkan mic. Selesai membaca lead berita saya seperti terlepas dari cengkeraman, bisa bernapas lega. Pernah suatu hari kejadian, pas baca lead berita ternyata mic saya belum naik alias belum on. Saya baru sadar ketika melihat lampu on tidak hidup.

Rasanya nyut-nyutan, gaes. Kepingin marah tapi ya ngapain. Pernah juga kejadian pas selesai baca lead, mic-nya nggak diturunin. Beruntung saya nggak ngomong apa-apa selama berita mengudara, jadinya nggak ada teguran, hahaha.

Nah, kalau kejadian-kejadian itu diingat lagi, betapa panjangnya proses yang sudah kami lalui hingga terbiasa dengan aktualita. Saya pernah ngobrol dengan Mas Andre, “saiki nek siaran aktualita iso disambi nyekel hape yo mas, cobak bien.”

Semua itu dari kebiasaan. Kebiasaan yang terus kita lakukan akan menghasilkan kemampuan. Nggak mungkin orang jago nyanyi kalau nggak sering latihan. Nggak mungkin orang jago masak kalau nggak sering masak. Pun sama dengan kegiatan saya di radio atau kegiatan memandu acara.

Untuk urusan MC, saya tidak pernah belajar secara profesional. Maksudnya sengaja ikut pendidikan public speaking atau kelas MC yang memang ada standarnya. Intinya, saya tidak pernah sekolah MC. Saya belajar MC ya dari melihat langsung dan nonton youtube. Maya Rachma adalah salah satu channel yang saya subscribe untuk urusan per-MC-an ini. Beliau merupakan public speaker terverifikasi. Satu hal yang membuat saya senang nonton youtube-nya adalah beliau tidak menggurui. Coba tonton, deh. Story telling-nya bagus banget. Bicaranya runtut dan rapi, nggak kemesosolen kayak saya, wqwq.

Proses panjang yang saya lalui ini juga menjadi bekal bagi saya, menjadi ajang evaluasi juga. Saya bisa nge-MC karena ya memang terbiasa. Jago? Enggak. Sering juga saya melakukan kesalahan-kesalahan saat nge-MC. Saya pernah ditanya Mbak Kalis saat beliau ke Banyuwangi tempo hari, “kamu ngemc2 gitu pernah sekolah mc, dek?” kurang lebih seperti itu pertanyaannya.

Saya senang sekali dengan pertanyaan ini, karena di akhir jawaban akan saya berikan pamungkas (bambaaaaang...) “tapi pingin banget bisa sekolah MC yang serius”. Kalau ada kesempatan ada dua hal yang ingin saya lakukan, ikut kelas kepenyiaran radio dan kelas public speaking-nya Pandji Pragiwaksono. Boleh di aamiin-kan.

Source: ngedit dewe via Canva

Kamis, 05 Maret 2020

Sensus Penduduk Online 2020

Maret 05, 2020 0 Comments
Beberapa waktu yang lalu programer saya bilang kalau tanggal 5 Maret 2020 ada talkshow dari Badan Pusat Statistik Banyuwangi. Setelah dapat info itu saya langsung buka laman sensus.bps.go.id dan mulai ikut Sensus Penduduk Online (SPO).

And the day is coming. Jam 09.00 tepat saya memandu talkshow bersama Kepala BPS, Pak Tri Erwandi dan Pak Benny. Yup, seperti judul tulisan ini, gaes, kami ngobrol seputar Sensus Penduduk Online 2020.

Dua orang ini sudah mencuri perhatian saya sejak sebelum on air. Maksudnya bapak-bapak ini pembawaannya menyenangkan, nggak serius-serius banget. Jadi, sebelum on air saya sempatkan dulu untuk ngobrol dengan beliau berdua. Sambil pamer kalau keluarga saya sudah melakukan Sensus Penduduk Online tahun 2020 ini. Nah, first impression ini yang nggak akan saya sia-siakan. Pak Tri menyambut gembira aksi pamer saya, hahaha. Selanjutnya kami mulai nyaman ngobrol dan berujung on air.

Saat on air pun beliau berdua mampu mengimbangi jokes saya yang you know lah gaes, receh dan nggak high quality, wqwq. Sensus Penduduk Online 2020 ini dibuka per tanggal 15 Februari 2020 dan berakhir 31 Maret 2020. Wait, kalian sudah tahu, kan, kalau ada SPO 2020?

Kalau sudah, alhamdulillah. Kalau belum, yaaah~

Pak Tri menjelaskan secara lengkap bagaimana prosedur SPO 2020 ini, dan tentunya juga menjelaskan Indonesia ini sudah melakukan sensus penduduk yang ke berapa. Saya lumayan terkejut ketika Pak Tri bilang bahwa ini adalah sensus yang ketujuh kalinya yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Kenapa saya terkejut? Biasa, minim informasi, hehehe.

Sensus penduduk pertama kali dilakukan pada tahun 1961. Waktu itu penduduk Indonesia sebanyak 97,0 juta jiwa, dan jumlah ini terus meningkat (sumber: brosur BPS). Nah, setelah itu dilakukan pada tahun dengan akhiran 0, untuk memudahkan kita mengingat ya, gaes. Betul, sensus penduduk di Indonesia dilakukan sepuluh tahun sekali. Tahun 1980, 1990, 2000, 2010, 2020, dst. Nah, untuk sensus ekonomi dilaksanakan pada tahun dengan akhiran 6, dan sensus pertanian dilaksanakan pada tahun dengan akhiran 3. Jadi, Indonesia itu punya tiga sensus besar. Sensus penduduk, sensus ekonomi, sensus pertanian. Bagaimana? Informatif bukan blog saya ini?

Lalu, gaes, kenapa harus SPO? Karena memang sudah zamannya, ya. Kita hidup di era digtal yang apa-apa serba mudah, murah, cepat. Saya rasa bukan hal yang perlu dipertanyakan ketika pemerintah memutuskan untuk #MencatatIndonesia dengan cara digital di era modern ini. Paling-paling kendala yang dialami adalah ketika bapak dan ibu kita merasa repot harus berurusan sama yang online-online. Nah, di situlah anak-anaknya bisa berkesempatan untuk jadi anak yang berbakti pada orang tua, alias dibantuin hey itu bapak ibunya yang kesulitan buat sensus online, minta duit aja bisanya!

Tiga alasan yang diuraikan oleh BPS tentang kenapa harus SPO, adalah:
Partisipasi Aktif. SPO ini bisa dilakukan kapan saja, dimana saja secara mandiri selama periode SPO. Bayangin aja, kita bisa SPO sambil boker, loh. Iya, kan? Anak mager bersatulah!

Optimalisasi Teknologi Informasi. BPS menilai literasi masyarakat terhadap penggunaan teknologi informasi semakin baik. Era dimana kita bisa makan walaupun diam saja di rumah, menjadikan sensus mandiri bukan sesuatu yang tidak mungkin. Ya buktinya sekarang bisa. Kemajuan teknologi sudah masuk ke banyak bidang, salah satunya pencatatan data atau informasi.

Budaya Cinta Data. Menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang arti penting data, dimulai dari informasi pribadinya. Cinta data aja bisa, apalagi cinta kamu? Bukan begitu? Haduuuh, jokes so old.

Lalu, apa sebenarnya tujuan sensus itu sendiri? Untuk menyediakan data jumlah, komposisi, distribusi dan karakteristik penduduk Indonesia menuju satu data kependudukan Indonesia. Dari sensus ini kita bisa tahu berapa, sih, jumlah perempuan dan jumlah laki-laki di Indonesia. Terus berapa banyak usia produktif yang dimiliki Indonesia. Pokoknya gitu lah.

Kemudian bagaimana prosedur SPO 2020 ini? Sungguhlah mudah sekali, sobat magerku~

Pertama, siapkan smartphone, tablet, laptop, atau komputer. Ya pokoknya perangkat apapun yang mau kalian pakai buat SPO ini, bebas. Kedua, siapkan paket data atau jaringan wifi ya, sobat magerku. Kan online, berarti harus ada jaringan internet. Bukan begitu? Ketiga, percaya kitab Allah, rukun Islaaaaam kali ah. Siapkan KK, ya. Kartu keluarga, bukan KK pemain sepak bola.

Setelah langkah satu, dua, tiga jadi apa prok prok prok selesai, sekarang tinggal dibuka laman sensus.bps.go.id. Sebelum mulai sensus mohon dibaca dulu ucapan selamat datang dari BPS pusat, biar pa-ham. Nanti ada panduan untuk mengisi nomor KK dan NIK. Setelah itu juga diarahkan untuk membuat password dan harus memasukkan kode buram atau captcha. Passwordnya seperti biasa kombinasi angka dan huruf. Simpel aja dan nggak perlu panjang-panjang kayak tol probowangi dan rumit kayak Langit Sore.

Cinta itu sederhana~~~

Yang rumit itu kamu~~~

Setelah itu kalian akan diberikan pertanyaan mengenai kependudukan dan perumahan, semuanya akan ditanyakan secara lengkap. Sans aja, gaes, ini bukan tes CPNS. Jadi, nggak perlu bawa jimat segala.

Kurang lebih ada 17 pertanyaan yang diberikan, dan estimasi waktu untuk satu anggota keluarga kurang lebih 5 menit, lah. Oh, ya, jangan lupa untuk sering-sering pencet fitur “simpan sementara” yang ada di pojok kanan (kalau nggak salah ingat), barangkali pas enak-enak ngisi data dan mau lanjut ke anggota keluarga selanjutnya laman bps loading. Kalau sudah pencet simpan sementara kita bisa melanjutkan lagi pengisian data yang tertunda. Kalau belum pencet fitur simpan sementara kita bakal mulai proses dari awal lagi. Capek tauk.

Bagaimana, sobat magerku? Mudah bukan? Kalau mau ngasih tahu yang lainnya, kalian juga bisa download bukti bahwa sudah berpartisipasi pada SPO 2020 dan bisa dicetak juga. Lumayan tahu buat ngisi feed instagram dengan postingan yang berfaedah dan mencerahkan. Jangan lupa juga kasih tagar #MencatatIndonesia. Oh, ya (lagi), data yang sudah kita rekam ini sifatnya rahasia dan tentunya kerahasiaan informasi kita dijamin sama undang-undang.

Lagian, ya, gaes. SPO 2020 ini cocok banget buat sobat introvert yang kurang nyaman bertemu sama orang asing. Kalau kalian mengisi dengan benar dan nggak ada yang terlewat, pokoknya sudah berhasil, kalian jadi nggak perlu didatangi petugas sensus di bulan Juli 2020 besok. Peugas sensus akan datang ke rumah-rumah untuk mendata masyarakat yang belum mengikuti SPO 2020 dengan cara wawancara, dan itu berlangsung 1 Juli-31 Juli 2020. Pastikan kue lebaran masih ada, ya!

Baiklah, selamat mengikuti sensus penduduk online 2020 semuanya. Mari bantu pemerintah untuk #MencatatIndonesia.

Kiri ke kanan: Pak Benny, saya, Pak Yansen (wakil direktur Mandala), Pak Tri Erwandi.