Minggu, 31 Desember 2017

Dua Ribu Delapan Belas

Desember 31, 2017 0 Comments

Selamat tahun baru 2018.

Tahun dimana Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Surat Izin Mengemudi (SIM) habis masa berlakunya. Siap-siap ngurus perpanjangan, nih.

Malam ini saya ngetik sambil makan mi sedap ayam bawang plus nonton running man. Nginep di rumah mak e. Dah gitu aja, gaes.

Postingnya gak perlu nunggu jam 00.00 kan, ya? Keburu ngantuk euy aing. 😂😂😂

Sabtu, 30 Desember 2017

Dua Ribu Tujuh Belas

Desember 30, 2017 0 Comments
Tinggal menghitung hari, dan semuanya akan berakhir. Tuntas sudah penanggalan di tahun dua ribu tujuh belas. Banyak suka duka yang aku lalui. Tak terasa sudah berapa banyak air mata yang tumpah di tahun ini. Berapa banyak tawa yang menghiasi wajahku di tahun ini. Berapa kali aku jatuh sakit di tahun ini.

Dua ribu tujuh belas adalah tahun yang berat bagiku. Di tahun ini aku menghadapi tugas akhir yang agaknya membuat moodku tidak stabil. Urusan perkuliahan yang hanya tinggal sedikit lagi itu justru menambah beban bagiku. Administrasi, birokrasi, semuanya njelimet. Aku rasa inilah fase paling menyebalkan selama aku menjadi mahasiswa.

Selain itu, aku memikirkan banyak hal yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa yang menjadi beban pikiran. Aku menjalani hidup dengan ritme yang entah bagaimana grafiknya. Sehingga setiap bertemu dengan orang, orang itu akan bertanya “Kamu kok kurusan? Banyak pikiran?”

Ya. Banyak sekali hal yang kupikirkan. Ya! Ingin sekali aku bilang ‘ya’ saat orang menebak demikian. Tapi nyatanya? Aku tidak bisa menjawab ‘ya’ sesuai kata hatiku. Aku bingung harus menjelaskan apa dan mengapa. Sampai akhirnya yang aku lakukan hanya menyimpan semuanya dalam hati dan menangis. Menangis hingga lelah.

Tahukah kalian bahwa tidak semua orang suka dengan pertanyaan-pertanyaan interogasi semacam itu? Pertanyaan-pertanyaan yang mencampuri urusan hidup orang lain? Tahukah? Aku termasuk salah satu dari sekian orang tersebut. Aku tidak suka saat orang lain membombardirku dengan pertanyaan ingin tahu, pertanyaan tidak penting, pertanyaan privasi, pertanyaan ini itu.

Banyak urusan hidup yang membuatku cukup sensitif beberapa bulan ke belakang. Masalah keluarga, teman, organisasi, dan banyak lagi. Perasaan tidak enak, perasaan ingin balas budi, perasaan ingin berhenti, semuanya hadir, lengkap.

Tinggal menghitung hari, dua ribu tujuh belas akan pergi. Semoga dengan perginya tahun ini, mampu membawa pergi pula segala pilu yang ada di hati.

Sumber: Google

Kamis, 28 Desember 2017

Untuk Apa Melupakan

Desember 28, 2017 0 Comments
Melupakan adalah pekerjaan sia-sia yang tidak sepatutnya orang normal lakukan. Semakin kita berusaha untuk melupakan, semakin kuat ingatan kita akan hal itu muncul. Ya kecuali jika kita amnesia. Bagaimana cara agar kita tidak selalu mengingat kenangan? Sibukkanlah dirimu. Sibukkan dirimu dengan hal-hal baik. Apakah hal itu cukup? Tentu tidak. Nanti, saat siang tenggelam dan malam menjelang, ingatan-ingatan tentang kenangan itu akan datang. Jika sudah seperti itu, kita bisa apa? Jika kita sudah menyibukkan diri sedemikian rupa lantas tetap teringat, kita bisa apa?

Sejauh ini, selama ini, aku tetap berusaha untuk sibuk. Aku tidak melupakan apapun. Aku mengingat setiap hal yang menimpa hidupku. Aku mengingat setiap jengkal tempat yang aku datangi. Aku mengingat setiap orang yang datang membawa perubahan dalam hidupku. Aku mengingat setiap peristiwa yang membuatku sedih, menangis, tertawa, marah.

Melupakan adalah pekerjaan sia-sia. Melalui tulisan ini aku ingin menjelaskan segalanya. Kau tahu? Kita berdua sudah seperti orang asing yang tidak saling kenal. Aku hanya tidak ingin kita berakhir seperti dua orang yang enggan bertemu satu sama lain.

Begitu banyak peristiwa yang menimpa kita berdua. Dari awal, dari awal kita saling mengenal satu sama lain, hingga pengakuan yang aku buat. Semuanya berjalan penuh liku, kau tahu itu. Tuhan menguji dengan sangat luar biasa, terlebih aku. Aku, dari sudut pandangku, aku merasa Tuhan menghukumku atas hal-hal yang telah kuperbuat. Aku terpuruk, iya. Aku sakit, iya. Menyesal? Berulang kali aku katakan bahwa aku tidak pernah menyesal dengan semua hal yang terjadi. Urusan kita memang menjadi urusan paling rumit yang pernah aku hadapi.

Saat dia datang dan menanyakan ada hubungan apa aku denganmu, aku sudah merasa bersalah. Aku merasa menjadi perempuan yang tidak tahu etika. Sedih sudah pasti. Sedih karena aku harus berada di posisi seperti ini. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, “Sebesar itukah perasaanku padamu? Hingga aku abai pada perasaan perempuan lain yang saat itu menemanimu. Sebesar itukah perasaanku padamu? Hingga aku tetap dan tetap acuh padamu sampai saat itu.”

Aku sadar aku salah. Aku salah membiarkan kita melewati batas. Tidak, aku yang melewati batas. Aku yang melanggar aturan.

Aku masih membaca tulisan-tulisanmu. Beberapa tulisan masih berhubungan denganku. Tidak adil rasanya jika hanya kau yang berkeluh kesah. Aku juga, banyak keluh kesah yang ingin aku sampaikan. Semoga kau membaca.

Jika kau hanya bisa melihat segala aktivitasku melalui media sosial, aku tekankan untuk tidak sok tahu. Kau boleh menilaiku dari sudut pandangmu, menilaiku dari pengamatanmu, tapi sekali lagi aku tekankan, tidak segala hal yang kau lihat itu benar adanya. Jika kau bilang aku kini telah bahagia dengan kehidupan sekarang, aku aamiin-kan.

Aku hanya ingin mengoreksi beberapa tulisan sok tahumu itu. Dulu mungkin saya menang, karena ia belum menjadi sepopuler seperti saat ini. Populer bagaimana yang kau maksud? Dari lahir aku sudah populer............di kalangan keluarga besarku. Dulu mungkin saya menang, sebelum dirinya sudah dikerubungi oleh akhi-akhi lulusan pondok pesantren. Sebentar, tahu dari mana jika aku dikerubungi akhi-akhi lulusan pondok pesantren? Akhi-akhi lulusan pondok itu levelnya juga mbak-mbak santri yang patuh dan anggun, bukan aku yang mblakrak kesana kemari ini. Dulu mungkin saya sangat percaya diri, sebelum akhirnya mengetahui siapa ia saat ini, siapa-siapa saja yang mencoba memenangkannya. Please, aku masih Meydiana yang dulu. Dan aku bahkan tidak tahu siapa saja orang yang berusaha memenangkanku saat ini. Bisa kau sebutkan satu per satu?

Dari dulu, kau adalah pemenang. Kau berhasil merobohkan bentengku, apa namanya jika bukan pemenang? Aku mengapresiasi kejujuranmu yang menulis bahwa kau gagal move on. Bolehkah aku tertawa? Bolehkah aku berkata kasar?

Rasakan! Setidaknya aku tahu, aku lega, tidak hanya aku yang merasakan hal tersebut. Tidak hanya aku yang harus menahan sakit tiap kali mengingatmu. Tidak hanya aku yang merasakan kegagalan untuk bangkit lagi. Kau bilang berpindah dari seseorang yang benar-benar kita harapkan untuk menjadi masa depan itu tidaklah mudah. Kau pikir aku tidak? Apa kau pikir aku melalui hidup setelah peristiwa yang menimpa kita dengan baik-baik saja? Berat, kau tahu.

Kau benar, beberapa kali kita bertemu tanpa tegur sapa. Di pernikahan Mbak Devi, kita bertatap muka. Aku berusaha untuk tersenyum padamu saat itu, tapi kau mengalihkan pandangan. Aku berusaha untuk menyapa. Jika kau melihatku saat memandu Hari Santri Oktober lalu, aku melihatmu hadir disana justru dari postingan instagrammu. Aku melihatmu saat di Festival Sholawat, karena posisiku yang tidak mungkin meninggalkan panggung, aku hanya sekilas memerhatikanmu. Berharap saat acara berakhir kita dapat bertegur sapa. Aku lelah dengan keadaan kita yang seperti ini. Aku hanya ingin kita bertegur sapa saat bertemu. Itu saja. Jika dengan menghapus kontak, unfriend facebook, unfollow instagram, dapat membuatmu lupa, silahkan. Jika dengan melakukan itu semua dapat membuatmu merasa lebih baik, tidak apa-apa. Karena cara masing-masing orang untuk move on berbeda.

Pada akhirnya waktu akan menyelesaikan semuanya. Pada akhirnya waktu akan menyembuhkan setiap luka. Pada akhirnya waktu yang akan menjawab segalanya. Hanya durasinya saja yang tidak bisa kita kira-kira.

Kau boleh membaca ini sambil tersenyum, tertawa atau terserah berekspresi seperti apa. Terimakasih telah membaca.

Sumber: Instagram


Kamis, 21 Desember 2017

Nonton Film

Desember 21, 2017 0 Comments

Lagi gak pingin nulis yang berat dan panjang. Malam ini kami bertiga nonton Ayat-Ayat Cinta 2. Saya, Holip, Bibeh. Fiya absen, karena dia lembur kerja.

Film ini bikin kami misek-misek di pojokan. Mata kami sembab. Tapi saya yang paling parah. Keluar studio bertemu banyak orang saya jadi nggak nyaman, ya karena mata bengep ini.

Besok insyaallah saya akan tulis film AAC2 ini based on my humble opinion. Itu juga kalau besok mood baik dan nggak kumat-kumaten.

Baiklah, see you tomorrow ~

Rabu, 20 Desember 2017

Liburan Ceria

Desember 20, 2017 0 Comments

Siang ini saya, Bibeh, Dik Ayu silaturahmi ke rumah Holip. Perempuan-perempuan jalang ini, eh, lajang maksudnya, bertamu ke rumah perempuan yang juga lajang. Jadilah 4 perempuan lajang bersatu. Kami siap menyelamatkan dunia yang semakin tak berpihak pada perempuan baik-baik cem kami.

Dik Ayu sangat ingin bertemu Holip, biar bisa sharing masalah menulis. Apalagi Dik Ayu juga suka menulis cerpen. Saya dan Bibeh? Kami cuma leyeh-leyeh sambil ngabisin kripik singkong yang dikasih gula, lupa namanya saya. Emang saya dan Bibeh ini nggak ada gunanya blas kalo bertamu. Ngabisin suguhan doang. Heuheuheu.

Ba'da ashar kami berempat pindah tempat ngobrol. Kami ke pantai boom. Dari sana kami duduk-duduk manja di tribun sambil menikmati lukisan alam ciptaanNya. Ngobrol ngalor ngidul ditemani seporsi tahu walil dan sekresek keripik singkong yang saya lupa namanya.

Kegiatan sore ini membuktikan bahwa bahagia itu tidak butuh kemewahan. Duduk melingkar ditemani cemilan dan ngobrol bareng, itu sudah bahagia. Silaturahmi jadi erat. Pikiran jadi segar.

Mas Alan juga hadir di tengah-tengah kami sore ini. Kami ngobrol tentang banyak hal. Tentang bagaimana sedihnya harus ngobrol ma pohon, ya becoz Mas Alan dulu kuliahnya di kehutanan, itu jadi topik yang seru bagi kami.

Menjelang senja, kami pulang. Tapi tentu setelah ritual poto-poto terselesaikan.

Bapakku yang Lucu

Desember 20, 2017 0 Comments

Malam ini saya masih diberi kesempatan untuk hadir dan bersholawat bersama Habib Syech. Berangkat setelah maghrib, saya dan partner in crime saya (sebut saja Bibeh) langsung menuju pendopo. Biasa, lah, ya, urusan Bibeh banyaaak. Saya cuma nemenin dia.

Ada sedikit cerita yang bagi saya ini lucu. Tapi nggak tahu lagi bagi kalian. Sebelum berangkat ke stadion, Bapak bertanya, karena blio melihat anaknya ini sudah rapi dengan jilbabnya. "Mau kemana, Kak?" Saya jawabnya pake kode. Karena waktu itu ada Fahri yang juga memandang saya menunggu jawaban. Kalo saya jawab mau sholawatan, dah pasti Fahri minta ikut. Saya jawab pertanyaan Bapak dengan melambai-lambaikan bendera NU yang saya dapat di sholawatan bareng Habib tahun lalu.

Bapak saya paham. Blio bilang lagi, "Ojo bengi-bengi yo balik e." Ingin sa jawab, "Oke siap, bosque. Nggak malam tapi pagi." tapi ora wani.

Beberapa saat kemudian Bibeh datang. Saya langsung menyambar tas yang telah siap dengan amunisi. Hampiiir aja sampai pager, tiba-tiba Bapak manggil dengan kerasnya. Saya nengok. Bapak saya ngelambaikan tangannya mirip orang pegang bendera. Awalnya saya nggak ngeh Bapak saya ngapain. Sampai akhirnya otak ini bisa berjalan lagi sesuai kaidah, saya langsung paham.

Oh iya, bendera!

Saya lari masuk ke dalam rumah. Segera mengambil bendera hijau yang sudah siap di meja belajar. Apalah artinya sholawatan hari ini kalau sampai bendera NU itu ketinggalan.

Lucu, kan, ya, ceritanya?
Enggak, ya?
Yawda ~

Ada satu lagi cerita. Terserah mau menilai lucu atau tidak.

Sepulang dari sholawatan, pintu pagar rumah terbuka sedikit. Saya heran, karena nggak mungkin Bapak lupa nutup. Blio adalah orang paling teliti di keluarga kami. Setelah dadah-dadah sama Bibeh dan Dek Lilis, saya masuk. Pas mau ngunci tiba-tiba ada orang nanya, "Rame, Din?"
Saya nengok. Astaga Tuhaaaaan, ternyata Bapak aing dari tadi ada di bawah pohon mangga lagi bakar sampah. Untung saya nggak kaget :(

Saya jawab pertanyaan Bapak.
A : rame ngeeets
B : ramean endi karo konsere Slank?
A : helloooow, emang aing pernah nonton konser Slank? (tapi cuma mbatin)

Bapak saya tuh kadang-kadang suka lucu.

Kamis, 30 November 2017

Konferensi Karnivora Indonesia 2017

November 30, 2017 0 Comments
Berakhir sudah seluruh rangkaian acara Konferensi Karnivora Indonesia (KKI) tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Forum HarimauKita (FHK) di Hotel Ketapang Indah Banyuwangi. Saya bersyukur bisa menjadi orang yang turut terlibat dalam menyukseskan acara tersebut. Menjadi bagian dari forum yang luar biasa keceeeee, subhanallah. Tempat berkumpulnya orang-orang luar biasa yang concern terhadap dunia konservasi, ilmu biologi serta kehutanan. Saya tidak sangka jika acara tersebut akan mendatangkan beragam profesional dari berbagai daerah.

Baik, saya akan cerita bagaimana awalnya hingga saya bisa memandu acara mereka. Duh, nyebut diri sendiri sebagai orang yang memandu acara aja aku nderedeg, gaes.

Jumat sore (24/11) menjelang maghrib, saya dapat WA dari Bunda Anggie. FYI, waktu itu saya lagi di rias karena pukul 18.00 akan melaksanakan akad nikah yudisium. Sudah barang tentu saya tidak ngutek-ngutek hp. Waktu itu hp saya tinggal di kamar. Nah, ketika sudah selesai dandan dan selesai selfie-selfie dengan MUA yang notabene adik sepupu sendiri dan Bapak, barulah saya sempat cek ponsel.

Saya buka pesan dari Bunda Anggie. Bunda kirim file buku program berbentuk pdf. Lalu ada keterangan di pesan berikutnya, “Mey bisa ngemc itu?”

Waktu itu saya lagi nggak bisa mikir jernih, gaes. Saya langsung balas WA Bunda, “Bundaaa, maaf, habis dandan.” Bunda balas dengan, “Iyaaa, bunda lupa kalo hari ini Mey yudisium.”

Eh, perlu nggak sih saya jelaskan secara detail isi pesan WA kami? Wkwkwk. Ya pokoknya inti pesannya begitu. Akhirnya kami bertemu di kampus. Saya dekati Bunda dan ngobrol masalah ngemc itu. Entah karena suasana yang kurang kondusif atau bagaimana, tapi yang jelas obrolan kami kurang intens. Saya juga masih belum mengiyakan tawaran ngemc itu.

Selesai acara yudisium saya juga tidak ngobrol masalah itu dengan Bunda. Akhirnya saya kembali ke rumah. Malam harinya, ada WA masuk atas nama Mbak Laksmi. Mbak Laksmi memperkenalkan diri bahwa beliau dari Forum HarimauKita, dan sedang mencari MC untuk acara Hari Senin (27/11) hingga Rabu (29/11). Saya yang lagi lembur bikin seserahan untuk lamaran langsung pecah konsentrasi. Antara nge-wrapping ama ngebales WA, bayangin dah tuh ribetnya.

Mbak Laksmi menjelaskan secara singkat detail acara, hingga akhirnya menanyakan apa saya bisa? Ya jelas bisa, wong di rumah juga nggak ngapa-ngapain. Kan udah officially pengangguran. Heuheuheu. Mbak Laksmi juga bilang, “Mbak Mey biasanya berapa kalo ngemc? Budgetnya?” saya ngikik baca bagian itu. Ya karena selama ini nggak pernah di tanya tentang begituan. Saya langsung laporan ke Ibu saya, you know what? Ibu saya juga ngikik. Akhirnya saya dan Mbak Laksmi sepakat untuk bertemu Hari Minggu (26/11). Bayangin, gaes, acaranya Senin, ketemu ama panitianya Minggu. Bayangiiiiin ...

Minggu pagi, sekitar pukul 10 saya bertemu panitia inti KKI yang jumlahnya hanya 5 orang di Ketapang Indah. Ya, hanya 5 orang. Lima orang anak muda luar biasa yang saya temui hari itu. Mbak Laksmi, Mbak Areth, Mas Ardi, Mas Tomy dan Mas Yanuar. Kesan pertama bertemu mereka: oke, mereka asyik. Setelah kenalan dan basa-basi, akhirnya saya tahu bahwa domisili FHK ini di Bogor. Pantesan cara ngomong mereka kayak Bibeh. Spontan saya langsung ingat perempuan jadi-jadian asal Rogojampi itu. Eh, Rogojampi atau Blimbingsari?

Mbak Laksmi cerita secara singkat bagaimana nanti acara KKI ini dikemas dan siapa-siapa saja tamu kehormatan yang akan hadir. Mbak Laksmi menyebutkan salah satu tamu yang hadir adalah Pak Dirjen. Saya yang masih nggak ngeh cuma bisa O aja ya kan. Jujur, hingga hari itu saya masih belum bisa kebayang acaranya bakal gimana. Sampai akhirnya saya di briefing di venue. Mas Ardi, yang saya tebak adalah sutradara dalam acara ini segera mengambil alih. Kami duduk bareng sambil melototin laptop yang di layarnya terpampang rundown acara. Mas Ardi menjelaskan apa-apa saja yang akan terjadi besok. Sebenarnya semua sudah ada di buku program, mulai dari nama-nama pembicara utama, nama moderator, KKI itu apa, tujuan diselenggarakan KKI, hingga sponsor-sponsor yang nanti akan di ad lips.

Tapi, Mas Ardi menjelaskan kembali dengan gayanya yang sumpah lucu. Blio tuh nggak nyungkani. Tidak membuat saya merasa tertekan dengan kalimat-kalimat “Pokoknya besok harus perfect ya”, “Jangan sampai ada salah ucap”, “Ini acara penting loh” dan lain sebagainya. “Kita enjoy aja besok, semi formal kok ini.” katanya.

Oh, ya, gaes. Dilihat-lihat Mas Ardi itu mirip geraldytan. Iya, Geraldy yang tingkahnya mirip set di uyahi, selebgram pencinta K-Pop. Skip.

D-Day pun tiba. Konferensi Karnivora Indonesia 2017 dibuka langsung oleh Bapak Ir. Bambang Sukendro, MM, selaku kepala Balai Taman Nasional Baluran. Pembukaan hingga masuk ke sesi oral berjalan lancar. Saya yang awalnya gugup sekali, akhirnya bisa membawa diri dengan baik. Acara ini semi formal, jadi saya harus sedikit improvisasi di beberapa bagian. Selebihnya saya mengandalkan suara dan penampilan yang baik.

KKI berlangsung selama tiga hari. Tiga hari itu pula saya mendapat banyak pelajaran baru tentang dunia konservasi, tentang mamalia karnivora, tentang apa itu camera trap, tentang teknik-teknik penelitian yang mereka gunakan, dan saya banyak menemui orang-orang luar biasa di konferensi ini.

KKI 2017 ini menghadirkan enam orang pembicara utama, antara lain:
1. Prof. Dr. Gono Semiadi. Beliau merupakan Guru Besar Penelitian Mamalia dan Pengelolaan Satwa Liar yang saat ini bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Profil selengkapnya sila searching sendiri di Google, ya? Beliau memaparkan mengenai “Kondisi terkini karnivora Indonesia: Penelitian dan status konservasinya”.

2. Dr. Tonny Soehartono. Beliau merupakan Presiden Direktur dari PT. Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI). Dr. Tonny memaparkan mengenai “Pembelajaran strategi intervensi konservasi mamalia karnivora di Indonesia”.

3. Dwi Nugroho Adhiasto, M.A, adalah Wildlife Trade Program Manager dari Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP). Beliau memaparkan mengenai “Memahami dan mencegah perburuan dan peredaran ilegal harimau sumatera di kawasan konservasi, Indonesia”.

4. drh. Erni Suyanti. Dokter Hewan yang ada di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Beliau menjadi Kick Andy Heroes 2017. Saat KKI 2017 lalu, beliau memaparkan mengenai “Interaksi mamalia karnivor: Strategi, tantangan dan solusinya”.

5. Ir. Wiratno, M.Sc. Beliau merupakan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Beliau memaparkan tentang “Kebijakan Pemerintah: Perlibatan Masyarakat dalam Upaya Konservasi Mamalia Karnivora”. Bagian beliau saya suka takut salah sebut dari "Wiratno" jadi "Wiranto".

6. Samedi, PhD. Direktur Program Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera. Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). Beliau memaparkan mengenai “Persepsi lembaga donor dalam strategi konservasi mamalia karnivora skala lanskap”.

Itulah keenam orang hebat yang turut hadir dalam KKI 2017 di Hotel Ketapang Indah. Selain enam pembicara tersebut, hadir pula presentator sesi oral dari berbagai kalangan. Meliputi mahasiswa, praktisi, aktivis konservasi, juga dalam KKI lalu hadir pula Eka dan Jamal, dua siswa asal Sumatera yang memenangkan karya tulis dalam World Tiger Day.

Saya merasa semakin tidak tahu apa-apa berada di tengah mereka. Sungguh ilmu itu sangat luas, manusia hanya titik kecil yang tidak seberapa dibandingnya.

Di area KKI saya juga menyaksikan peristiwa-peristiwa yang sungguh heart-warming. Ada pemandangan dua sejoli (Dr. Tonny Soehartono dan Prof. Ani Mardiastuti). Mereka adalah pasangan suami istri. Mereka berdua pokoknya subhanallah sekali, gaes. Bapak dan Ibu ini bersahaja, humble banget, ramah ke semua orang. Saya beruntung sekali bisa duduk satu meja dengan beliau berdua, selain dengan Mas Ardi dan Mbak Laksmi.

Pada satu kesempatan, saya tanya ke Ibu Ani, “Ibu, gimana rasanya punya suami yang concern ke urusan konservasi juga? Seru, ya, suami istri kerja bareng, menggeluti dunia yang sama.” Bu Ani tersenyum, “Nggak, ah, Mbak, biasa aja. Seru, sih, iya, kemana-mana bisa bareng Bapak.” Aaaaah, that’s too sweet, apalagi yang di pamerin adalah perempuan single macam eyke. Melelehlah aing dibuatnya.

Bapak (Dr. Tonny) juga orang yang tidak sungkan untuk menyapa orang terlebih dahulu. Ketika coffee break, saya sempat ditanya oleh beliau, “Kerja dimana, Mbak?” | “Saya kuliah, Pak. Desember besok wisuda.” | “Masih muda, ya?” (kami tertawa)

Bapak –meskipun saya baru tahu sekilas– adalah sosok yang baik, santun, sederhana. Mereka berdua adalah orang-orang hebat, orang-orang berilmu yang tidak sombong. Peribahasa padi makin berisi makin merunduk itu tepat sekali untuk Bapak, Ibu dan orang-orang yang kemarin hadir di KKI 2017. Karena mereka memang begitu adanya.

KKI 2017 adalah event profesional pertama saya. Semua berjalan sesuai rundown dan tepat waktu. Meskipun ada beberapa perubahan agenda, itu adalah hal yang wajar dalam sebuah acara. Dari KKI 2017 ini, saya belajar banyak hal. Disiplin kerja, kebersamaan, profesionalitas, mengatasi gugup dan banyak lagi.

Saya ucapkan terimakasih kepada Bunda Anggi, yang telah merekomendasikan saya kepada FHK. Terimakasih kepada super duper tim panitia. Lima orang anak muda yang menyelenggarakan event luar biasa sekelas KKI. Dari mereka saya belajar bahwa, sedikit orang kadang justru lebih well-prepared daripada melibatkan banyak orang tapi pas hari H keteteran. Terimakasih kepada Mas Ardi yang sudah selalu sabar saat saya banyak tanya. Selalu memberi masukan saat saya mulai pegang microfon. Terimakasih kepada Mbak Laksmi yang sudah menyiapkan segala yang saya butuhkan dengan telaten. Terimakasih kepada Mas Tommy yang sejak saya datang pertama kali blio selalu membuat saya nggak sungkan dengan banyak ketawa. Dikit-dikit ketawa, dikit-dikit ketawa, hambok yang banyak gitu lho, Maz. Terimakasih kepada Mbak Areth (ketua panitia KKI) yang selalu oke di segala keadaan. Oh ya, terimakasih juga karena telah menyebut nama saya saat ucapan terimakasih.

Jadi, gaes, selama pengalaman saya jadi MC, baru kali ini ada yang mengucapkan terimakasih karena telah memandu acara mereka dengan baik. Mbak Areth melakukan itu saat penutupan KKI 2017 kemarin. Saya terharu. Bukan hanya sekedar “Terimakasih kepada MC pada hari ini” melainkan “Terimakasih untuk MC kita, Mbak Mey”. Weeees, disitu perasaan saya bahagia, terharu, kabeh dadi siji. Terimakasih juga Mbak Areth atas kesempatan yang diberikan. Terimakasih juga pada Mas Yanuar, yang walaupun kita irit ngobrol, tapi kau selalu hadir menjadi sosok yang bisa di lihatin pas capek di sela-sela acara. Wkwkwk. Karena dalam sebuah event akan selalu ada Mas-Mas panitia yang enak dilihat.

Begitulah pengalaman seru saya bersama KKI 2017. Selama tiga hari itu saya merasakan jadi orang yang kerjanya eight to four. Pergi pagi pulang sore. Barakallah.


Mas Ardiiii
Mbak Areth, ketua panitia
Mbak Laksmi, executive officer at FHK

Senin, 09 Oktober 2017

Sosial Media adalah Koentji!

Oktober 09, 2017 0 Comments
Pernahkah kalian merasa jenuh dengan kehidupan ini, gaes? Lelah dengan segala hiruk pikuk dunia. Dunia yang hanya sementara dan fana ini terus memberikan sesuatu yang baru. Manusia dengan sifat hedonisnya juga terus-terusan berinovasi menelurkan teknologi-teknologi terbaru. Belum sempat merasakan yang ini sudah muncul yang itu. Belum sempat nyobain yang di sini sudah ada lagi yang di situ. Begitu saja terus hingga kuda laut jalan di darat. Ku lelah ~

Jika kalian pernah merasakan kelelahan dan ingin hilang saja, kita sama. Lalu, pernahkah kalian merasakan kejenuhan saat bersosial media? Semakin banyak akun-akun nggak berfaedah turunan saracen yang bermunculan. Akun-akun penebar fitnah, hoax, ujaran kebencian, pemecah belah umat dan bangsa. Buka facebook banyak akun bokep keliaran, banyak akun melodrama yang suka share tentang pelakor, poligami, de el el yang menunjukkan sisi negatif perempuan. Buka instagram banyak alay milenial yang suka upload foto selfie tapi captionnya tausiyah. Buka twitter ada bae akun anonim yang ava-nya topeng tapi suka nuduh akun lain –yang terbukti jelas akun dan avanya– antek PKI. Hmmm, apa kalian tidak lelah, gaes? Jika pernah lelah dan ingin berhenti saja bersosial media, kita sama. Samaaaaa :(

Segala kegalauan itu sudah melanda saya sejak tahun 2016 lalu. Saya merasa jenuh dengan rutinitas yang begitu-begitu saja. Bangun tidur cek ponsel, scrolling sosmed, istirahat bentar, cek ponsel lagi, buka medsos lagi, baca mojok, kepoin akun doi, istirahat lagi, gitu terus sampe batre low. Hingga akhirnya Tuhan memisahkan saya dengan si cinta (dalam hal ini gawai). Awal Januari 2016 gawai pertama yang saya miliki mati. IC-nya rusak. Oke, spaneng-lah saya karena tidak pegang gawai. Tambah pula waktu itu sedang sibuk-sibuknya menata hati KKN.

Minggu pertama, minggu kedua, hingga akhirnya menginjak bulan, saya mulai terbiasa. Saya menjadi manusia normal dengan rutinitas normal sehari-hari. Tidur, makan, boker, kuliah, nonton drama, dikerjain tugas, dan sederet aktivitas ajaib lainnya. Januari 2016 saya mulai disibukkan dengan kegiatan KKN. Karena kesibukan itu saya jadi sedikit melupakan kegalauan tidak ada gawai. Ingat dulu pas masa KKN saya sampai download bluestack di laptop hanya agar bisa bbm-an dan main sosmed. Si cinta (dalam hal ini laptop) sampai harus mengerang tiap saya gunakan untuk buka aplikasi bluestack (sungguh kasihan melihat si cinta harus menanggung beban berat karena nonanya yang egois ini). Saya tidak ingin penggemar saya berpikir bahwa Mey t’lah hilang dari bumi yang bulat ini, kemudian banting setir jadi menggemari dedeq kampus yang itu. Hanya aku dedeq kampus yang patut digemari. Hanya aku ~

Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, sukses saya lewati tanpa gawai. Pasti berat ya, Mey, hidup tanpa gawai? Ah, siapa bilang? Yang berat itu hidup tanpa cinta, malov. (monggo kalau mau bilang eaaak sambil salto).

Kembali lagi ke pribadi orang. Saya bukan tidak bisa wadul ke Bapak, bilang kalau gawai rusak, terus minta belikan lagi. Bisa saja. Tapi malov, saya bukan anak yang setega itu melihat pitak di kepala Bapak saya semakin lebar karena nambahin beban blio dengan keinginan saya yang nggak penting-penting banget. Dulu saja, ketika pertama kali Bapak bilang ke saya, “Gak mau beli hape kaya teman-temanmu?” saya sudah gak tega dan pingin nangis. Saya tahu ketika Bapak berani kasih tawaran seperti itu, tandanya blio ada rezeki lebih. Tentu sebagai anak yang berbakti saya tidak sia-siakan tawaran tersebut. Bukan begitu? Heuheuheu ~

Jika di total berapa lama saya tidak pegang gawai, itu berarti totalnya ada 183 hari. Kok hapal, Mey? Ya di hapalin. Wedok kok, apa-apa yang nggak penting tuh dihapalin. Dari tanggal 5 Januari hingga 5 Juli 2016. Ya, 5 Juli 2016 itu adalah malam takbir Idul Fitri. Saya tidak tahu skenario seperti apa yang Tuhan berikan pada saya. Saat tidak pegang gawai saya dapat tawaran untuk ikut bergabung di tim penelitian sejarah NU Banyuwangi. Bertemulah saya dengan orang-orang Nahdliyin. Dari kegiatan itu saya dapat reward. Reward itulah yang akhirnya saya pakai untuk beli Huawei Y520 U22. Sungguh sebuah drama ketika saya bonceng Ibu naik Fiz R dan kita berdua membelah dinginnya malam disertai suara takbir berkumandang untuk pergi ke Bismar. Dari rumah, saya drama lagi, rasanya syahdu sekali bisa beli gawai dengan uang sendiri yang insyaallah berkah.

Pertengahan 2016 jika tidak salah, saya mulai berkeinginan untuk tidak lagi menggunakan BBM. Pertama kali uninstal BBM godaannya luar biasa. Rasa masih ingin eksis itu sangat kuat. Di kontak BBM saya banyak sekali teman-teman yang berasal dari luar daerah. Teman saat bertemu di acara luar kota. Akhirnya saya harus rela kehilangan kontak mereka. Pertama kali merasakan hidup dengan BBM juga aneh, karena waktu itu saya belum rajin menggunakan WA.

Pada akhirnya semua memang harus dibiasakan. Kadang saya iri dengan @lilydewai yang sudah menanggalkan semua medsosnya dan hanya memiliki twitter (tapi tetep aja dia masih suka anxiety and depression tipikal mass-milenial). Mbak Liliy, yang saya kenal belum lama, sudah tidak terikat dengan facebook, instagram, line, dll. Pernah satu kali dia bikin thread tentang suka duka memiliki sedikit medsos. Memang kita jadi agak kuper, tapi porsi bahagianya lebih besar. Kita jadi jarang menemui tulisan hate-speech, jarang menemukan konten-konten negatif, juga jadi awet kuota. Hahahaha. Tapi @lilydewai adalah pengecualian. Dia masih suka cemas-cemas gak jelas. Twit-twitnya masih bertolak belakang dengan nuansa bahagia. Ehe ~

Sejak bertemu dengan @lilydewai di twitland, kegalauan saya jadi datang lagi. Keinginan untuk lepas dari dunia medos makin besar. Saya coba perlahan. Mulai dari uninstal aplikasi instagram dan facebook. Karena dua medsos ini yang memiliki pengaruh besar untuk pamer menurut saya, heuheu. Dan kegalauan itu terjawab kemarin saat saya menghadiri bincang buku “Millenial Nusantara” bersama penulisnya langsung, Hasanuddin Ali.

Cak Ali banyak menjelaskan bagiamana tipikal milenial zaman now. Blio juga menjelaskan ada 5 tipologi generasi milenial. Lebih jelasnya sila klik hasanuddinali.com 

Dari sana saya utarakan apa yang menjadi kegalauan saya. Dengan kondisi sosial media saat ini rasanya wajar jika saya merasa begitu lelah. Banyak sekali akun-akun keblinger yang dengan tidak merasa berdosa menulis kalimat-kalimat provokatif berujung fitnah. Galau saya bertambah ketika menyadari satu hal. Jika saya berhenti, jika saya tidak lagi main sosmed, apa jadinya dunia persosmedan Indonesia? Kehilangan makhluk bully-able macam saya? Bukan begitu?

Benar kata Gus Romli, pertahanan yang baik itu adalah menyerang. Jangan diam aja, nerimo, sabar, saat melihat akun-akun tidak berfaedah itu sedang menyebarluaskan hoax. Apalagi ketika sudah menghina poro yai. Kita harus melakukan sesuatu. Saya mah angkat tangan kalau harus twitwor dengan mereka. Ranah itu biar dilakukan oleh orang-orang macam Gus Romli, admin NU Garis Lucu, admin ala NU dan pimred eug. Orang-orang seperti saya ini hanya perlu menyebarluaskan kebaikan, cinta, kasih dan sayang. Hal-hal positif gitu lah pada intinya, dengan dibumbui aroma baper pasti akan terasa lebih sedap dan disukai para alay milenial. Yakin saya.

Cak Ali pun memberikan nasihat kepada saya agar tetap menggunakan sosial media. Tetaplah eksis dan mengajak orang-orang untuk optimis. Karena kalau bukan kita yang menebar kebaikan, siapa lagi? Eggy Sudjana? Jonru? Ehe ~

Dulu, saya juga membatasi pertemanan di facebook. Saya tidak ingin ngoleksi orang-orang tak dikenal di facebook. Tapi, sekarang semua berubah. Saya lebih open minded. Saya harus memiliki banyak teman agar promosi Ngaos Fiqih, It’s Mey Time, serta Bincang Buku (coming soon) dapat berjalan lancar. Bukan begitu, malov?

Iya-in ajaaaaa ~

Sumber: Google

Senin, 25 September 2017

Duta Santri Banyuwangi 2017

September 25, 2017 0 Comments
Kemarin saya berkesempatan menjadi bagian dari pemilihan Duta Santri Banyuwangi yang diselenggarakan oleh Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) Kabupaten Banyuwangi di Sun East Mall (SEM) Genteng. Apa itu RMI? RMI merupakan ikatan pondok pesantren. Berhubung di belakangnya ada NU, sudah pasti RMI-NU adalah ikatan pondok pesantren Nahdlatul Ulama. Paham, ya, gaes?

Mengapa saya menjadi bagian dari acara tersebut? Apakah saya menjadi salah satu panitia acara? Tidak, bosque. Apakah saya menjadi supporter salah satu peserta? Hmmm, tidak juga. Ataukah saya menjadi salah satu peserta Mbak Santri? Ha Ha Ha Ha. Apalagi ini, tentu tidak, bosque. Lantas kenapa? Becoz saya dipercaya untuk memandu acara tersebut dari awal hingga akhir. Yak, betuuul, saya jadi MC. Saya dan Kang Zakki (partner MC) yang sama-sama bukan santri ini benar-benar dibuat terpesona oleh finalis Mbak dan Kang Santri kemarin.

Grand Final Mbak dan Kang Santri dilaksanakan Hari Minggu, dan saya mendapat perintah untuk ngemc di Hari Kamis malam. Pas mau tidur, ndilalah kok nge-cek hape, ndilalah (lagi) ada WA masuk dari pimred. Isinya bukan lagi tawaran untuk ngemc, tapi perintah. Saya yang tadinya ngantuk jadi tambah ngantuk baca pesan blio. Masih mending saya, lha Mas Zakki dapat perintahnya Hari Sabtu. Apa nggak………hahahahaha ~

Sabtu sore saya baru bisa komunikasi dengan Mas Zakki, karena kami memang belum saling kenal sebelumnya. Dari cara blio balas WA, saya dah bisa nebak orangnya asik. Emang cuma hati dia aja yang gabisa kutebak. Pasti tidak sulit untuk membangun chemistry di atas panggung.

Minggu pagi, sekitar pukul 7.15 saya sudah sampai di SEM. Dan mall-nya masih tutup. Ingin ku melipir ke rumah Donat dan membetulkan riasan wajah yang mulai memuai ini. Itu event pertama dimana saya ngemc harus dandan. Ribet, tapi pie maneh. Kalo kata Mbak Via “meh sambat kaleh sinten, yen sampun mekaten”. Untung ada Fida, satu-satunya perempuan yang saya kenal baik di acara itu, yang bisa saya ajak membetulkan riasan di wajah saya.

Pertama kali bertemu Mas Zakki juga di hari H. Blio datang bersama istri dan ponakannya. Setelah salam-salaman macam lebaran, kami (saya dan Mas Zakki) ngobrol terkait acara. Sharing sebentar, langsung klik. Alhamdulillah partner ngemc kali ini syeruuu. Memang, ya, kalo kita melakukan bidang yang memang kita suka dan dapat rekan yang cocok, itu menyenangkan. Gak makan dari pagi sampe selesai acara juga oke bae.

Kemarin ada tiga babak yang dilalui oleh ketiga puluh finalis Mbak dan Kang Santri Banyuwangi. Babak pertama yakni pertanyaan seputar ilmu pengetahuan. Ada 4 kategori yang menjadi fokus pertanyaan. Yakni, wawasan kebangsaan, Banyuwangen, Aswaja & ke-NU-an, terakhir adalah keislaman. Dari tiga puluh peserta itu dikerucutkan lagi menjadi 14 finalis. Tujuh Kang Santri dan tujuh Mbak Santri.

Ke-14 finalis ini dipertemukan dalam babak kedua. Dimana babak kedua ini waktunya untuk unjuk bakat. Lagi-lagi, saya dibuat kagum oleh bakat yang mereka miliki. Beragam bakat yang mereka tampilkan, diantaranya adalah baca kitab, imrity, taghoni, pidato bahasa arab, pidato bahasa inggris. Dan semuanya luar biasa. Di sebelah panggung, saya dan Kang Zakki cuma bisa haha-hehe.

Mungkin bagi mereka yang setiap hari terbiasa berhadapan dengan dunia pesantren, pemandangan seperti di Sun East Mall kemarin sudah biasa. Tapi, bagi saya pribadi, hal itu luar biasa. Saya makin kagum dengan paket komplit yang dimiliki oleh seorang santri. Tidak hanya ilmu agama mereka yang oke, ilmu pengetahuan umum juga baik. Rasa-rasanya santri adalah representasi manusia idaman. Atau biar gampang, saya sebut santri ini istri-able dan suami-able. Heuheuheuheu. 

Dari acara ini keinginan saya untuk mondokin anak kelak jadi semakin mantap. Gak mau tau gimana caranya pokoknya harus saya pondokin. Calon ibu otoriter, nih.

Back to event ~
Setelah semua finalis menampilkan bakat masing-masing, akhirnya terpilih tiga pasang Kang Mbak santri yang melaju ke babak akhir. Di babak ini mereka diberi pertanyaan oleh dewan juri seputar fenomena generasi millenial. Beragam sekali pertanyaannya. Dan para finalis pun terampil dalam menjawab. Semakin sore suasana di SEM semakin ramai. Supporter tak henti memberi dukungan kepada finalis favorit mereka.

Akhirnya sampai pada penobatan Duta Santri Banyuwangi. Semua menunggu, siapakah yang akan menjadi juara satu?

Gelar Duta Santri Banyuwangi diberikan kepada Kang Sholeh Mubarrok dan Mbak Nurul Hidayah. Keduanya berasal dari pondok pesantren Darussalam Blokagung. Kang Sholeh Mubarrok atau akrab disapa Solbar merupakan santri dengan bakat luar biasa. Pidato Bahasa Arab-nya yang membuat saya ngakak (padahal gak tahu artinya) menjadi senjata pamungkasnya.

Mbak Nurul Hidayah lain lagi. Bakat yang ia tampilkan yakni baca kitab. Saya suka ketika Nurul melenggang di atas panggung dan memberikan kibasan maut pada roknya. Sedikit nakal tapi anggun.

Saya ucapkan selamat kepada seluruh peserta Mbak & Kang Santri. Juga kepada Duta Santri Banyuwangi terpilih. Kalian adalah insan pilihan. Kalian adalah panutan. Kalian adalah idola. Semangat mewujudkan segala mimpi dan harapan. Mari bergandengan tangan untuk Indonesia yang lebih ramah. Jadilah santri yang membanggakan, santri yang terbuka dengan apa saja, santri yang tidak menutup diri dari ajaran-ajaran baru.

Sekali lagi, selamat Mbak & Kang Santri Banyuwangi. Sampai jumpa di #itsmeytime, ya?



Rabu, 09 Agustus 2017

Satu Jam Saja Demi Kehidupan Bumi Bulat yang Lebih Baik

Agustus 09, 2017 2 Comments
Menyambung apa yang sudah saya posting di dua sosial media saya, facebook dan instagram, tulisan ini adalah versi panjang kali lebarnya. Pertama kali PAC IPNU IPPNU Kec. Banyuwangi merilis poster Ngaji Fiqih kira-kira dua bulan lalu. Saya mulai mengikuti ngaji fiqih jika tidak salah di pertemuan keempat, dan itu sudah pada ujung pembahasan haid.

Sebagai manusia yang ngajinya nggak tuntas, ini adalah majelis yang saya cari selama ini. Dulu, andai saya tidak berpindah-pindah rumah, mungkin sampai saat ini saya masih bisa ngaji di TPQ Nurul Qomar. Sejak pindah ke Jurang Jero, lalu ke Pakis, saya sudah berhenti ngaji. Sempat mengaji di masjid depan RS. Fatimah, tapi tidak berlangsung lama, hanya beberapa bulan.

Ngaji Fiqih yang diselenggarakan oleh kawan-kawan Nahdliyin ini sangat membantu saya dalam menghabiskan waktu yang berkualitas. Setiap Selasa malam saya selalu riang mengendarai motor menuju kantor PCNU. Karena apa? Ya karena ngaji fiqih ini. Karena bertemu dengan kawan-kawan yang sama-sama haus akan ilmu.

Ngaji fiqih disini berbeda sekali dengan kita belajar agama di sekolah. Ustad kami di PCNU bernama Ustad Surur. Beliaulah yang membuat suasana ngaji fiqih berbeda. Mungkin karena Ustad Surur masih muda juga jomblo, beliau mampu membaur dengan murid-muridnya yang baperan macam saya dan Fitria. Tidak ada kesan menggurui dalam diri beliau. Ngaji pun rasanya jadi menyenangkan sekali. Saya patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya pada PAC IPNU IPPNU Kec. Banyuwangi. Mereka mampu istiqomah dalam menyelenggarakan ngaji fiqih tiap minggunya. Istiqomah itulah yang sulit, karena bukan main godaannya.

Kembali kepada ngaji fiqih. Setiap minggu kami akan membahas sebuah kitab yang di dalamnya berisi tentang amalan-amalan wanita. Bagaimana menyikapi darah haid, darah nifas, apa saja jenis-jenis darah. Sepertinya sepele, tapi susah. Ustad Surur pernah bilang, “Kenapa penduduk neraka kelak kebanyakan adalah wanita?” karena para wanita tidak mengerti apa yang boleh dan tidak boleh bagi dirinya sendiri. Tidak menghargai suami, melawan pada suami, tidak mengindahkan nasihat dari suami, bepergian keluar rumah tanpa izin dari suami, tidak paham apa yang sedang terjadi dalam diri wanita itu sendiri, tidak mengerti bagaimana cara bersuci setelah nifas, tidak bisa membedakan mana darah istihadhoh, mana darah nifas, mana darah haid, tidak tahu bagaimana cara mengqadha sholat setelah haid, tidak tahu bagaimana hukum-hukum berpuasa, cara membayar hutang puasa wajib, dan lain sebagainya. Begitu payah saya selama ini hanya tahu bahwa siklus pendarahan wanita hanya haid dan nifas. Istihadhoh? Apa pula itu ~

Jika ada ungkapan better late than never, itu pas sekali untuk saya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Belajar itu tidak ada kata terlambat. Tuhan pasti memiliki alasan mengapa saya dipertemukan dengan kawan-kawan pilihan itu saat telah berumur 22 tahun. Mungkin Tuhan ingin saya tidak cepat-cepat menikah. Tuhan mau saya belajar dulu, membekali diri, menyiapkan mental, menyiapkan jiwa dan raga sedemikian rupa. Mungkin, loh, yaaa, mungkin. Ya soalnya apa kata dunia kalau saya belajar tentang fiqih ketika saya sudah meniqa, malov? Bekal apa yang saya bawa untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama kekasih dunia akhirat saya kelak? Bekal cinta? Yo ra mashooook, malov, ra mashoook.

Kuantitas manusia-manusia yang hadir juga alhamdulillah stabil jika saya amati. Dari awal saya menghadiri ngaji fiqih ini, tidak lelah saya mengajak Melince dan cabe keringnya Untag alias Lia untuk ikut serta. Tapi, sungguh subhanallah sekali mereka ini, malov. Saya berusaha istiqomah ngajakin mereka, lha mereka nggak kalah istiqomahnya absen melulu. Seperti kemarin ketika saya lagi-lagi japri mereka. Lia bilang, “Kak, skripsi sek yo. Rumusku salah.” Yo untung ra jalan hidupmu sing salah, Kak. (((silahkan ngakak, diperbolehkan, kok)))

Lain lagi Melinda, dia ini tipe-tipe chat lama ikut kagak. Mulai dari bilang dia belum mandi, terus tanya acara kira-kira sampai jam berapa, lha kok ujung-ujungnya dia bilang, “Mendut ee, insyaallah minggu depan, ya?” Astaghfirullah, Melindaaa. Jadi kamu lebih pilih Mendut daripada ngaji? Hambok aku di ajak gitu, lho. *eh

Tapi mau bagaimana lagi. Kesadaran itu tidak bisa dipaksakan. Ya semacam cinta gitu, lah, tak bisa dipaksakan. (((silahkan bilang eaaak)))

Hanya saja yang saya sayangkan adalah jumlah peserta laki-laki. Saya nggumun deh, tiap pertemuan yang saya lihat ya Kang Sholeh dan Mas Aji. Itu-ituuu saja. Kalaupun ada peserta lain itupun hanya satu, jadinya berempat sama Ustad Surur. Tidak pernah saya menjumpai peserta laki-laki lebih dari empat. Nah, ini, nih, persoalan yang krusial. Padahal ilmu fiqih itu penting. Ya minimal kita tahu bagaimana hukum-hukum dalam agama kita. Lalu jika para lelaki itu tidak tahu, buta dan tuli persoalan fiqih, padahal tanggung jawab besar berada di pundaknya kelak ketika dia menjadi kepala rumah tangga, apa nggak sungguh theeer lhaaa lhuuu ... Jangan bisanya cuma bilang “Cari istri yang sholihah” tapi sendirinya nggak mensholehkan diri. Jangan jadi egois sejak dalam pilihan, dong. Perempuan-perempuan sholihah mana mau sama akhi-akhi modal omong doang.

Sungguh banyak sekali pelajaran yang terserap diluar persoalan itu sendiri. Seperti minggu lalu Ustad Surur sempat membahas hubungan suami istri yang sehat dalam rumah tangga. Suami dan istri harus tahu kapasitas diri masing-masing. Jangan egois, jangan tidak saling mengerti. Jika suami merasa dirinya tidak mampu mengajari sang istri fiqih-fiqih wanita, ya jangan menghalangi istri untuk belajar fiqih di luar rumah, seperti majelis-majelis. Udah nggak bisa ngajarin malah ngurung istri dalem rumah, alasannya pakai hadits “Dan diharamkan keluar bagi seorang wanita untuk ziarah, sholat jamaah, mengunjungi kerabat, bermajelis, kecuali dengan ridha suami” tapi giliran ditanya istri apa itu darah wiladah, lha kok suaminya searching di google. Kan anu, gaes. Yo opo ora?

Oleh sebab itu, kelak, nih, jika saya di izinkan menikah dan memiliki keturunan oleh Tuhan, akan saya masukkan anak-anak saya ke pondok pesantren. Dah, nggak bisa di ganggu gugat!

Akhir kata, silahkan hadir setiap Selasa malam pukul 19.00 di mushola PCNU Banyuwangi untuk mengikuti “Ngaji Fiqih”. Satu jam saja meluangkan waktu untuk kehidupan bumi bulat  yang lebih baik. Eaaa.


Jika calon suamimu nggak paham Fiqih, Ijolno uyah, malov ~