Selasa, 31 Mei 2022

SELAMAT 28 TAHUN

Mei 31, 2022 0 Comments

Di kehidupan selanjutnya saya tetap mau terlahir sebagai anak dari bapak dan ibu saya. Yang sepanjang saya ingat, mereka akan selalu mengusahakan segalanya untuk anak. Bagian ini saya rasa semua orang tua pun begitu.

Mereka selalu mengusahakan untuk memberi kenangan yang baik. Hal-hal yang kami lakukan di masa lalu nyatanya membentuk saya menjadi anak yang sangat mencintai rumah hingga enggan berpisah dengan mereka. Kata orang rumah adalah tempat paling nyaman untuk pulang dan alhamdulillah sampai detik ini bagi saya adalah iya.

Banyak sekali cerita yang ibu ceritakan di kala kami sedang berdua. Cerita soal ibu yang dulu sebel banget sama bapak, karena mondar-mandir melulu depan rumah ibu. Bapak dan ibu saya dulu bertetangga. Bapak anak perumahan, ibu anak kampung di pinggir perumahan bapak.

Sampai hari ini kalau ibu cerita soal proses pertemuannya dengan bapak, ibu selalu enggak habis pikir kok bisa mereka berdua menikah. Dulu, di sebelah rumah ibu ada sebidang tanah wakaf yang ditanami banyak Pohon Jati. Modus bapak saya dulu adalah bertanya soal Pohon Jati ke ibu. Padahal mah dia sebenarnya tahu siapa pemiliknya, memang sengaja biar ada bahan obrolan.

Selesai insiden Pohon Jati, besok-besoknya lagi ada aja manuver bapak untuk mendekati ibu. Kali ini pasar malam. Dulu, ada pasar malam di lapangan dekat rumah Pak Kadafi. Semua orang tumplek blek di sana. Begitu juga ibu saya dan adiknya, yang tak lain tak bukan adalah tante saya. Saat sedang jalan-jalan di pasar malam, ibu melihat bapak. Secepat kilat ibu mengajak adiknya untuk bersembunyi.

Pokoknya, bapak adalah orang paling sabar se-universe untuk urusan mendekati ibu. Bapak tahu ibu sedang dekat dengan siapa saja, sedang menjalin hubungan dengan siapa saja, yang mendekati ibu siapa saja. Maklum, ibu saya ini ayune ora umum. Kembang desa pada zamannya. Singkat cerita, berkat kesabaran bapak itulah, ibu saya yang sebelnya gak karu-karuan itu akhirnya luluh.

Cerita soal mereka yang mall-date ke Wijaya terus dompet bapak sengaja diserahkan ke ibu, maksudnya teh biar ibu bisa belanja sepuasnya. Harga diri ya kaaan, hahaha. Waktu itu ibu beli setelan yang sekarang jasnya masih sering saya pakai. Kalau tahu bakal diwarisin ke saya harusnya mah dulu ibu belanja agak banyak.

Cerita soal dulu pas saya masih kecil, sering jalan kaki dari rumah Griya Giri Mulya ke Krasak lewat pantai. Saya pas diceritain bagian ini cuma bisa hah hah aja karena apa tidak capek? Ibu bilang “yo kakak e seneng dijak jalan, yo wes”. Namanya juga anak kecil.

Cerita soal dulu pas saya masih kecil sering diajak bapak kerja ke rumah Pakde Jenggot. Bahkan saya masih ingat ada satu momen ketika naik bis di Terminal Blambangan (posisi bis masih ngetem, belum jalan) saya muntah banyak sekali. Akhirnya saya dan bapak enggak jadi berangkat, kami pulang. Tuh, ternyata saya mabok darat sudah sejak dini.

Cerita soal dulu pas saya masih kecil (yang ini durasinya seriiiiing banget) sering diajak bapak main billyard. Bapak-bapak lain tuh ngajak anaknya ke pasar malam, ke tempat wisata, ke mana kek yang lazimnya ngajak anak kecil, ini malah diajak ke tempat billyard. Saya sampai hapal tempat-tempat billyard yang biasa saya kunjungi, eee, maksudnya yang biasa saya kunjungi kalau lagi diajak bapak.

Yang pertama di rumah Pak Jek, di Jalan Penataran. Yang kedua di SMP 1 Banyuwangi ke timur. Yang ketiga masih di Jalan Penataran, tapi masuk gang, rumah salah satu kawan bapak. Yang keempat di pintu masuk THR zaman dulu. Bapak saya enggak segan untuk bawa saya dan Ardi main meski pulangnya saya terpapar kata-kata waidih waileh yang anak kecil dengar dari para orang dewasa.

Pernah satu waktu ibu cerita, katanya tiba-tiba saya berlagak seperti bapak pas main billyard. Saya pakai sapu sebagai pengganti stik, korek kayu saya ibaratkan rokok, dan asu celeng yang keluar dari mulut ikut melengkapi cosplay saya sebagai pemain billyard. Saya enggak ingat bagian ini, tapi tiap diceritain saya selalu ngakak. Yah, namanya juga anak kecil, mereka peniru ulung.

Dari semua tempat billyard yang kami datangi, favorit saya adalah rumah Pak Jek. Karena di depan rumah beliau suka ada Kang Bakso dan kami sering sekali dijajanin bakso sama bapak atau bahkan sama teman-teman bapak yang waktu itu juga sedang main billyard.

Cerita soal strugling bapak dan ibu dalam menjalani perjalanan hidup sebagai suami dan istri juga respect betul. Dulu, setiap bapak pulang entah dari mana dan kami diperbolehkan beli Pop Ice di warung Mak Untung depan rumah, kami bahagia bukan main. Pop Ice adalah dewa minuman pada zamannya, dan kami jarang banget bisa minum Pop Ice waktu itu.

Setiap bapak menjaga saya dan Ardi di rumah karena ibu bekerja sebagai koki di resto, kami selalu makan makanan buatan bapak. Kebiasaan makan bersama saat kecil juga sangat membentuk saya untuk bersabar menunggu. Seringkali saya bolak-balik ke dapur untuk memeriksa apakah bapak sudah selesai masak atau belum. Karena prinsip beliau, kalau semua sudah matang, sudah selesai dihidangkan, baru kita makan bersama. Karena masakan bapak saya enak banget jadi menunggu lama pun tidak masalah.

Enggak ada orang yang sempurna, begitu juga orang tua saya. Ada bagian-bagian yang saya enggak mau warisi. Tapi, dari bagian-bagian yang saya enggak mau itu, ada lebih banyak bagian yang mau saya teruskan sebagai anak. Kebersamaan, kehangatan sebagai sebuah keluarga, nilai-nilai luhur yang diajarkan dan tentu saja canda tawa. Nasihat dari bapak yang akan selalu saya ingat: harus rukun, saling mengasihi dan menyayangi antara kakak dan adik, karena nanti di masa depan yang kalian punya ya hanya kalian sendiri sebagai saudara.

Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-28 tahun, Inspektur Vijay dan istri. Dua puluh delapan tahun yang lalu, 31 Mei 1994, bapak dan ibu saya menikah. Dear, Allah, terima kasih sudah menyatukan perfect duo ini dan mengizinkan saya, Ardi dan Fahri menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

Rabu, 04 Mei 2022

#NULISFILM: GARA-GARA WARISAN

Mei 04, 2022 0 Comments

 Kemarin siang aku dan ibu pergi ke Kepundungan, ke rumah mbah dan beberapa saudara yang ada di sana. Pulangnya, di atas motor, aku bilang ke ibu:

A: Ini nanti ibuk e kakak e drop ke rumah mak e, terus kakak langsung keluar lagi ya.

I: Oke, kemana?

A: Mmm, me time. Mau nonton film. Hehehe

I: Wiliiih, gaya. Iya, wes. Sama?

A: Sendirian ajaaa

I: Ngajak o temen ta kak

A: Duh, enggak. Pingin sendirian

Untuk urusan menyenangkan diri sendiri setelah bekerja keras ibuku selalu menjadi pendukung nomor satu. Beliau akan membiarkan aku melakukan hal-hal yang memang aku inginkan.

Akhirnya kemarin aku nonton Gara-gara Warisan. Sebenarnya niat awal nonton hari ini (4/5), tapi diri ini sungguh sangat tidak sabaran karena testimoni netizen sudah seliweran di twitter. Dan juga, hari ini cuti terakhir, enggak pingin pergi kemana-mana. Dan juga (lagi), takut Gara-gara Warisan keburu turun layar kegeser film horor yang lagi viral.

Ya udah, karena pas lagi bisa akhirnya langsung meluncur ke NSC Banyuwangi. Aku nonton yang jam 17.30 dan seperti biasa memilih seat C9 sebagai seat favorit sepanjang masa. Awalnya sempat jiper karena melihat tulisan “maaf, tiket hari ini habis” di ticket conter. Dalam hati udah kasak-kusuk, ini yang habis untuk semua tiket atau gimana?

Ternyata enggak, yang habis cuma tiket untuk film KKN, film lainnya aman sejahtera sehat sentosa. Menunggu dengan tidak sabar dan enggak tahu ya, perasaan udah excited sedari awal berangkat. Happy mulu bawaannya sepanjang jalan meski siangnya ada insiden yang bikin emosi.

Nonton sendirian ini udah bukan hal aneh lagi karena memang bukan pertama kalinya. Lima menit sebelum masuk studio satu aku segera menukar tiket f&b yang memang sepaket dengan tiket nonton. Studio satu dibuka, kami para penonton pun masuk. Kalau dihitung sih penontonnya enggak lebih dari dua puluh orang. Itu juga kalau enggak salah.

Film dimulai dengan adegan satu keluarga yang sangat manis. Pak Dahlan, Ibu Salma dan anak-anaknya. Adegan makan martabak bareng di meja makan aja aku udah menangyyys. Melihat Adam yang sudah selalu mengalah sejak masih anak-anak. Adegan-adegan berikutnya mengalir dengan sangat indah.

Film ini, sesuai dengan judulnya, berkisah soal Pak Dahlan yang mati-matian mempertahankan guest house agar bisa memberikan warisan untuk istri dan anak-anaknya. Dalam perjalanan pembagiannya tentu saja tidak berjalan mulus. Ada konflik-konflik dalam keluarga yang rasa-rasanya relate dengan kebanyakan rumah tangga. Konflik bapak dengan anak, konflik ibu tiri dengan anak, bahkan konflik antar saudara.

Perjalanan yang panjang itu membuat semuanya tersadar bahwa warisan yang jauh lebih berarti bukan harta benda, melainkan hutang, eh bukan, melainkan eksistensi keluarga. Keluarga yang rukun, keluarga yang saling menyayangi, keluarga yang saling menjaga. Hal itu jauh lebih berharga daripada apapun. Itu dah kenapa ada lagu harta yang paling berharga adalaaaah....... yak betul, duit satu triliyun, enggak dooong, keluarga.

This movie is a good roller coaster. Ya ketawa ngakak, ya nangis sesenggukan. Aku masih bisa merasakan vibe satu studio ketawa pecah pas ada jokes-jokes yang emang lucu banget. Dan kami semua hening pas adegan-adegan sedih dan menguras emosi. Chemistry the whole cast ya Allah ya Rabbi ya Karim so damn good! Pas Adam dan Laras marah-marah serem banget, akting mereka juara.

Btw, film ini karya perdana salah satu komika favoritku, Muhadkly Acho. Dia juga menjadi penulis dan sutradara di film ini. Kalau sudah berurusan dengan Acho bisa dipastikan kita mendapat komedi yang fresh, jaminan mutu pokoknya. Gara-gara Warisan is a must see, aku kasih 10/10. Masa 10/10? Buatku, sih, iya. Karena ya memang aku anaknya mudah senang.

Btw, jangan kaget kalau nanti ada adegan Neng Dicky tiba-tiba nyium kening Lolox. Itu adegan emang bener-bener unpredictable, wkwkwk.

Btw (lagi), tadi pas ngantri tiket, ada yang nyolek bahuku dari belakang. Ada mbak-mbak yang tanya apakah aku mau beli tiket atau sudah reservasi dulu? Aku bisa lihat perasaan was-was mbaknya akibat tulisan “maaf, tiket hari ini habis”.

Benar saja, mbaknya jauh-jauh datang ke NSC Banyuwangi buat nonton KKN di Desa Penari. Tadi harusnya dia nonton di NSC Genteng, tapi mall-nya masih tutup. Akhirnya sejoli ini nonton Gara-gara Warisan. Daripada jauh-jauh ke bioskop enggak jadi nonton, katanya. Semoga filmnya sepadan dengan jauhnya jarak yang kalian tempuh, ya.

Akhir kata, kuucapkan terima kasih atas karya yang luar biasa ini. Semoga kedepan akan terus kita saksikan film-film indah yang berkualitas.

Kamis, 07 April 2022

PENYIAR RADIO DI HALAMAN BELAKANG ALBUM FOTO

April 07, 2022 0 Comments

Pada tahun 1994, seorang perempuan membuka sebuah kado pernikahan yang berisi album foto. Album foto berwarna hitam dengan gambar perempuan asing di sampul depan. Perempuan yang sangat jelita. Album foto itu lantas digunakan untuk meletakkan beberapa dokumentasi pernikahan si perempuan. Tidak hanya foto-foto pernikahan, tapi juga foto-foto masa muda dan beberapa dokumentasi potret dirinya sebelum pernikahan.

Di balik sampul depan album foto, si perempuan meletakkan beberapa foto yang ia gunting dari sebuah koran. Potret satu keluarga yang amat ia kagumi, hingga hari ini. Ia beri keterangan di atas gambarnya, keluarga bahagia. Keluarga itu adalah keluarga Muchsin Alatas. Ada juga guntingan koran yang menampakkan wajah Desy Ratnasari ketika muda. Entah dua foto itu dari koran apa dan edisi tahun berapa.


Di halaman belakang, perempuan tersebut meletakkan foto seorang penyiar radio yang sedang berada di ruang siaran. Terdapat wadah kaset berwarna biru di dekatnya dan juga terlihat mixer serta mic siaran, khas studio radio. Penyiar bernama Anik itu memakai baju berwarna pink, rambutnya indah tergerai sebatas punggung. Anik terlihat sedang duduk di kursi plastik berwarna putih. Darimana saya tahu penyiar itu bernama Anik? Karena si perempuan juga menggunting beberapa keterangan yang kemudian ia tempel di sisi-sisinya.

Radio Kasihku Bumiayu. PT Radio Kelana Sumbangsihku yang lebih populer dengan sebutan Radio Kasihku di Kotif Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menangkap bulan Ramadhan sebagai peluang. Begitu keterangan yang saya baca di halaman belakang album foto itu. Keterangan yang lain juga mencantumkan tulisan: Penyiar Anik sedang bertugas di studio satu, juga mencantumkan keterangan lain, yaitu: Kompas, Rabu, 29 Januari 1997.

Dari sana saya tahu bahwa koran yang digunting oleh perempuan itu adalah koran Kompas edisi 29 Januari 1997 (jika merujuk pada keterangan ini bisa jadi foto keluarga Muchsin Alatas dan Desy Ratnasari di sampul depan itu juga dari koran edisi yang sama). Dan, perempuan itu adalah ibu saya.

Sampai hari ini jika saya bertanya apa alasan ibu menempel foto penyiar radio tersebut, jawabannya selalu sama, “Enggak tahu, bagus aja, keren gitu.” Hingga akhirnya, dua puluh dua tahun kemudian anaknya menjadi seorang penyiar radio.

Saya seperti dibukakan jalan oleh Tuhan. Sejak kecil akrab dengan yang namanya radio, sejak kecil akrab dengan suara penyiar yang keluar dari radio, sejak kecil juga sudah terbiasa berkirim atensi ke radio. Dan, sejak kecil saya sudah melihat gambar yang ibu tempel di halaman belakang album foto itu. Entah merasa tersugesti atau bagaimana, saya juga mau kelak menjadi seperti Penyiar Anik.

Long story short, beberapa waktu yang lalu saya dan ibu bernostalgia dengan melihat-lihat album foto tersebut. Hingga sampai di halaman belakang itu saya iseng memeriksa apakah Radio Kasihku Bumiayu itu masih mengudara atau tidak. Saya ambil handphone dan mulai mengetikkan namanya di google.

Surprisingly, radionya masih mengudara hingga hari ini. Saya dan ibu speechless. Tidak menyangka bahwa kami bisa mendengarkan radio yang selama ini hanya tersimpan rapi di halaman belakang album foto, tanpa pernah mendengarkan suaranya. Waktu kami mendengarkan, Radio Kasihku Bumiayu sedang memutar lagu-lagu tanah Hindustan.

Dulu, tentu mustahil bagi ibu untuk bisa mendengarkan radio yang jauh sekali, terpisah provinsi. Tapi, sekarang dengan kemajuan teknologi, kami bisa mendengarkan Radio Kasihku Bumiayu. Bahkan saya bisa melihat aktivitas mereka lewat instagram.

Rasanya seperti menelusuri waktu. Disadari atau tidak, Radio Kasihku memiliki history yang berarti dalam perjalanan profesi saya sebagai penyiar radio. Mungkin jika dulu ibu tidak menempel potongan koran Kompas itu, saya pun tidak punya naluri untuk menekuni dunia siaran. Mungkin jika dulu ibu menempel foto petugas pemadam kebakaran, bisa jadi hari ini saya sudah menjadi pengendali api yang pantang pulang sebelum padam. Mungkin jika dulu ibu menempel foto Nia Daniaty sedang konser, bisa jadi hari ini saya sudah menjadi pengusaha gelas kaca. Wallahua’lam.

Saya berdoa agar Radio Kasihku Bumiayu terus mengudara hingga nanti saya punya kesempatan untuk datang langsung ke radio yang membuat saya mau menjadi seorang penyiar radio itu. Syukur-syukur jika saya bisa bertemu juga dengan Penyiar Anik.

Senin, 28 Februari 2022

BABEBO AKA THRIFT SHOP

Februari 28, 2022 0 Comments

Sudah berminggu-minggu, tiap aku mengantar mbah pulang ke Jurangjero, perhatianku selalu tersita ke arah babebo yang ada di depan RS Fatimah. Tulisan obral 30.000 itu yang mencuri perhatianku. Aku baru menyadari jika di tempat itu ada babebo, istilah kerennya thrift shop.

Akhirnya, tadi pagi aku sempatkan untuk mampir, mumpung siaranku agak siang. Benar adanya bahwa thrift shopping itu untung-untungan. Lucky me, aku mendapat dua outer yang masih sangat bagus sekali. Yang satu di bagian dua puluh ribuan, yang satu di bagian tiga puluh ribuan. Dua outer itu aku tebus dengan harga gocap saja. Yang dua puluh ribu itu bahkan tempatnya di pojokan. Tempat yang jarang terjamah karena memang penataan bajunya agak sempit.

Rasanya seperti menang lotre (wait, aku enggak pernah menang lotre, enggak tahu rasanya gimana). Rasanya seperti beasiswa yang kamu apply ke universitas impianmu keterima (hmmm, enggak pernah ngerasain juga). Dahlah, pokoknya rasanya senaaang. Pusing bener mikir rasanya-rasanya.

Dari rumah aku cek lagi dan memang benar lucky me, outer yang satu masih bagus banget. Kancing cadangannya masih lengkap, ada dua. Warnanya juga masih cakep. Dan ukurannya juga pas banget di badanku yang kurus ini. Minus ada noda sedikit di bagian punggung, but cincai lah itu. Over all, kayaknya dulu emang jarang dipakai, jadi masih bagus.

Sejak dulu, entah kenapa, aku jarang sekali belanja baju baru. Baju-bajuku selama ini lebih banyak pemberian. Entah pemberian tante, pemberian sepupu, pemberian Ardi, yang paling epik adalah pemberian ibu (lebih tepatnya sih ngerampok punya ibu, wkwk). Belanja baju baru paling-paling setahun dua kali, atau entah berapa kali aku lupa.

Aku selalu merasa baju di rumah terlalu banyak sehingga seringkali aku duduk di depan lemari dan melihat baju mana saja yang bisa aku berikan kepada orang lain. Pernah satu waktu, aku berhasil mengumpulkan satu tas besar baju-bajuku yang masih layak untuk kuberikan ke tetangga. Tapi, setelahnya, selang beberapa minggu kemudian aku dapat kiriman pakaian satu tas besar dari tanteku. Rasanya kayak, buset dah, keluar satu kompi datang satu kompi yang lain.

Minggu, 27 Februari 2022

I'VE GOT MY BOOSTER

Februari 27, 2022 0 Comments

Setelah akhirnya mendapat dua dosis vaksin pada tahun lalu, tahun ini aku dan teman-teman mendapat vaksin booster. Pernah curi dengar dari Pak Wabup Sugirah soal vaksin booster yang katanya bikin meriang. Dan itu benar adanya, entah berlaku juga untuk yang lain atau enggak. Karena setiap orang reaksi terhadap vaksinnya berbeda-beda.

Aku vaksin hari Kamis (24/02) di Puskesmas Singotrunan. Kenapa di Puskesmas Singotrunan? Ya karena waktu itu Mbak Febri yang mengakomodir kami untuk booster. Dan sepertinya dia dapat informasi booster dari temannya yang bekerja di Puskesmas Singotrunan. Ancen Mbak Febri iki koncone sak kabupaten, dimana saja ada.

Kamis pagi kami menuju puskesmas, setelah mendapat nomor antrian, setelah pengecekan berat badan, tinggi badan dan pengecekan darah, akhirnya kami mendapat booster. Kami di sini adalah aku, Mbak Febri, Reno dan Nandot. Kamis itu jadwalku siaran pagi, jadi aku sarapan di radio.

Pulang dari booster masih baik-baik saja. Linu-linu sedikit adalah hal biasa ketika selesai vaksin. Dari rumah aku putuskan untuk makan (lagi) dan minum banyak air putih, kemudian istirahat. Sampai siang hari ketika akan berangkat siaran lagi badan masih oke. Hangat sedikit dan tentu saja masih nyeri di bagian lengan.

Baru ketika malamnya badan lumayan semakin hangat. Aku masih mengira bahwa nanti juga bakal enakan dengan sendirinya. Si paling optimis emang. Malam itu jam sembilan aku sudah ngantuk, dan akhirnya terlelap.

Sampai akhirnya kebangun jam 00.07 (kalau enggak salah ingat) dengan keadaan panas tinggi. Pusing di kepala dan nyeri di lengan ini sungguh menyiksa. Dua vaksin sebelumnya efeknya enggak separah ini. Vaksin pertama justru baik-baik saja, napsu makan bertambah malah. Vaksin kedua lumayan meriang tapi enggak parah banget kayak booster.

Turun dari kasur benar-benar seperti adegan sakit kayak di tipi-tipi. Tangan meraba apapun yang bisa dipegang biar enggak jatuh. Jalan pelan-pelan menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Kemudian ambil segelas air putih karena tenggorokan benar-benar kering. Kemudian dengan keadaan tangan gemetar ambil kotak obat dan ambil parasetamol. Setelah menenggak parasetamol aku kembali ke kamar.

Tentu saja tidak bisa langsung terlelap karena nyeri sekujur tubuh, plus masih panas. Aku sudah was-was jangan-jangan enggak bisa siaran besoknya. Karena Jumat (25/02) adalah jadwalku siaran pagi. Entah pukul berapa akhirnya aku tertidur. Dan, tralalaaaa..... bangun dalam keadaan baik-baik saja. Sudah enggak panas, enggak pusing, tapi nyeri masih ada dikit-dikit.

Aku lega karena tidak perlu merepotkan rekan penyiar lain untuk menggantikan jadwalku siaran. Akhirnya Jumat pagi itu aku bisa siaran pagi seperti biasa. Senangnya.

Jumat, 21 Januari 2022

MET HABEDE, AI.

Januari 21, 2022 0 Comments

Ternyata ada banyak hal yang selalu bisa disyukuri dalam hidup ini. Waktu yang Tuhan berikan adalah waktu yang tepat. Tidak pernah salah. Lahirnya Fahri, salah satunya.

Dulu mungkin aku bingung dan bertanya-tanya, kenapa Tuhan memberiku adik ketika aku sudah kelas dua SMK? Kenapa Tuhan menghadirkan satu manusia lagi diantara kami ketika kami sudah terbiasa berempat?

Nyatanya, semakin hari semakin aku menyadari nikmat Tuhan yang lain. Ada banyak hal baik yang datang silih berganti bersamaan dengan hadirnya Fahri ditengah-tengah kami. Ada pelajaran penting yang kami dapatkan seiring bertumbuhnya Fahri.

Aku senang Fahri tumbuh dan berkembang di saat aku maupun Ardi telah mampu mencari uang dengan jerih payah kami sendiri. Paling tidak, Fahri tidak perlu merasakan hal-hal yang dulu kakak dan abangnya rasakan. Oleh sebab itu, selama aku mampu, selama aku bisa, aku selalu berusaha untuk mencukupi apa yang dia butuhkan.

Nasihat yang dulu bapak berikan dan akan selalu aku ingat adalah soal betapa pentingnya saling menyayangi saudara. Adik menyayangi kakak, begitupun sebaliknya. Saling mengasihi, saling menyayangi, saling peduli, saling menjaga. Sebagai anak sulung dengan dua adik laki-laki dari keluarga sangat sederhana, aku tumbuh dengan sikap prihatin dan juga rapuh.

Hari ini Ai berulang tahun kesepuluh. Sudah sejak lama aku berencana untuk mengajak semuanya makan malam di luar rumah. Tadinya, aku memasukkan ide makan-makan di rumah saja sebagai alternatif. Tapi, kemudian aku ingat bagaimana ibu sudah lelah seharian menjaga Ara ditambah harus juga memasak makanan untuk kami. Aku segera mengeliminasi gagasan tersebut.

Semua berjalan dengan lancar. Ardi kebetulan masuk kerja shift malam, jadi dia bisa ikut kami terlebih dahulu sebelum kemudian berangkat kerja.Cuaca malam ini juga sangat bersahabat.

Saat semuanya berkumpul dalam satu meja seperti malam ini aku teringat masa-masa kami masih berempat. Bapak adalah orang yang membuat kami memiliki kebiasaan makan bersama. Aku masih ingat dulu ketika ibu bekerja dan bapak di rumah, urusan makan bapak yang ambil alih. Ketika aku berulang kali datang ke dapur untuk memastikan makanan sudah siap atau belum bapak selalu memintaku bersabar karena sedikit lagi selesai. Meski itu hanya tinggal menunggu sambal, bapak akan memastikan semua selesai terlebih dahulu baru kami bisa menyantap makanan bersama.

Hal itu yang kemungkinan membuatku tumbuh menjadi anak yang senang berada di rumah dan sangat menyayangi keluarga. I swear, entah apa jadinya aku jika ditinggal salah satu anggota keluargaku. Aku bahkan tidak berani membayangkan.

Sejujurnya aku malu meminta segala hal pada Tuhan disaat ibadahku padaNya masih payah. Segala hal yang Dia berikan seperti menamparku untuk segera menyadari apa yang kuberikan padaNya tidak sebanding dengan apa yang Dia berikan padaku.

Manusia, diberi nikmat malu, diberi ujian mengeluh.

Akhir kata, met habede ya, Ai. Semoga ulang tahun ulang tahun selanjutnya kita masih tetap bisa berlima.

Sabtu, 01 Januari 2022

HELLO, 2022.

Januari 01, 2022 0 Comments

Menulis catatan ini di hari pertama 2022. Jika tahun 2021 diawali dengan mimpi yang begitu indah, berbeda dengan 2022. Mimpi yang tidak bisa disebut indah, dan celakanya aku lupa apa mimpiku tadi. Wong kok lalian.

Semalam siaran bareng Andre, aku di rumah Andre di studio alias kami terhubung via telpon. Chit-chat soal kegiatan di malam tahun baru dan Andre juga bertanya apa resolusi untuk tahun 2022.

Semalam menghabiskan malam tahun baru dengan goreng pisang, dengerin Andre siaran dan ngobrol bareng ibu di dapur. Enggak lama karena setelah itu aku beranjak ke kamar, nonton Running Man dan kemudian tertidur.

Tidak menyiapkan resolusi apa-apa untuk tahun 2022. Paling-paling mengusahakan agar keinginan-keinginan sederhana di bulan Januari dapat terwujud. Seperti yang terdekat adalah peringatan ulang tahun Ai. Sudah masuk ke agenda untuk membawa seluruh keluarga makan malam di luar. Keingingan ini yang terus aku semogakan agar terlaksana dengan lancar, tidak ada halangan ketika hari H dan tentu saja bekerja lebih giat lagi.

Selebihnya, berdoa pada Tuhan seperti yang sudah-sudah. Diberi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga. Tahun ini semoga enggak ada lagi operasi-operasi yang mengharuskanku menginap di rumah sakit, atau operasi-operasi yang melibatkan anggota keluargaku yang lain.

Semoga tahun ini kami menjadi pribadi yang lebih baik lagi, menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lebih mawas diri, lebih berhati-hati. Segala kesedihan di tahun 2021, bisa tergantikan dengan kebahagiaan di tahun 2022. Segala kegagalan di tahun 2021, bisa tergantikan dengan keberhasilan di tahun 2022.

Oh, ya. Semoga 2022 makin rajin ngisi blog. Amiiiiiin.