Sabtu, 30 April 2016

Roda Kehidupan

April 30, 2016 2 Comments
Baiklah, akhirnya di malam menjelang Isya’ ini aku dan Bu Is harus berkaca-kaca.
Kembali menyadari bahwa dalam kehidupan ini ada Yang Maha Merubah Keadaan.

Rumah kami kedatangan tamu saat hampir maghrib tadi.
Tamu yang sudah tidak asing bagi keluargaku.
Beliau merupakan sahabat karib Abah, Pak Bambang.
Pak Bambang datang bersama putranya.

Sayangnya saat itu Abah belum pulang kerja.
Pak Bambang dan putranya rela menunggu Abah pulang hingga sekitar pukul 6 petang.
Segera Abah menemui mereka saat sudah sampai rumah.
Abah bergegas masuk ke dalam rumah untuk meletakkan sepasang sepatu boot yang sepertinya masih baru.
Lalu aku dengar sedikit percakapan Abah dan Ibu, “Dijual sama Pak Bambang.”
Setelah itu aku melihat Abah mengeluarkan beberapa uang dari sakunya dan kembali menemui sahabatnya itu.
Aku beringsut pada Ibuku, menanyakan apa yang sedang terjadi.

Aku mengerti dan akhirnya mataku berkaca-kaca.
Allah ya, begitu mudahnya Dia merubah keadaan hambanya.
Siapa yang nggak kepingin nangis melihat sahabat orang tua kita datang ke rumah hanya untuk menjual sepatu boot?
Siapa yang nggak nelongso melihat sahabat orang tua kita yang begitu baik di masa lalu tiba-tiba datang dengan keadaan yang berbeda?
Pak Bambang meninggalkan kenangan yang baik dalam ingatanku.
Dulu, beliau pernah datang dengan membawa serenteng kopi untuk dinikmati bersama Abah.
Saat dimana seharusnya tuan rumah lah yang menyediakan kopi, beliau malah membawa sendiri kopi dari rumah.
Dulu, Pak Bambang pernah menunggui Abah yang sedang mengerjakan teras belakang.
Mereka bercerita, tertawa, lama sekali sampai pekerjaan Abah selesai.
Beliau orang yang baik. Setidaknya begitulah yang aku ketahui.
Terlepas bagaimana kehidupan rumah tangganya, aku tidak pernah tahu.

Satu hal yang selalu membuatku terkesan oleh beliau, beliau selalu memanggil kami, anak-anak Abah, dengan panggilan “Nak”
Coba pikir, orang tua mana yang hari ini masih memanggil anak-anak muda dengan panggilan “Nak”?
Paling banter pasti “Nduk” kalau nggak ya “Le”.

Kejadian hari ini benar-benar membuatku sedih.
Dan kejadian hari ini kembali mengingatkan kami tentang rasa syukur pada segala keadaan.
Aku memang belum ngobrol dengan Abah setelah kepulangan Pak Bambang tadi, karena Abah dan Ibu buru-buru harus kondangan.
Tapi aku yakin, nanti ketika Abah sudah pulang beliau akan bicara seperti ini,
“Itulah hidup, kadang kita di atas kadang juga di bawah. Selagi kita mampu membantu, maka bantu dengan ikhlas lalu lupakan. Apalagi membantu sahabat yang sedang kesusahan. Hidup di dunia kalau tidak bermanfaat untuk sekeliling ya percuma.”
Tentu ndak akan sama persis seperti itu, tapi Abah selalu mengajari kami untuk saling membantu saat kita mampu membantu.

Kamis, 28 April 2016

Keep Longlast, Donatku ...

April 28, 2016 0 Comments
Aku tidak pernah mengerti kenapa waktu terasa begitu lamban.
Jarak dari hari Minggu ke Senin terasa sangat jauh.
Ini masih Kamis dan aku sudah merindukan dia lagi.
Bagaimana bisa aku sudah kangen bahkan saat aku belum meninggalkan pekarangan rumahnya?
Hari minggu lalu saat aku pamitan dia bilang, “Gak usah kangen lho?”
Bahkan saat dia bicara seperti itu aku sudah mulai merindukannya.

Aku sadar hidup ini tidak selalu seperti yang kita inginkan.
Jika hidup berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan tentu aku sudah berada di ruang siaran sebuah radio, seperti yang aku cita-citakan.
Jika hidup berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan tentu aku sudah keluyuran hingga pelosok Banyuwangi tanpa harus khawatir tak di acc oleh Abah.
Jika hidup berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan pastilah aku sudah menginjak tanah Istanbul sejak dulu.
Jika hidup berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan tentu hari ini aku tidak kehilangan kamu … *krik krik krik …………..

Aku tidak tahu bagaimana hubungan kami esok hari.
Aku tidak tahu bagaimana hubungan kami esok lusa.
Karena kembali aku sadar tidak ada yang selamanya di dunia ini.
Tidak ada yang abadi, begitu kalau kata Mas Ariel dan band-nya.

Aku tidak tahu apakah karena akhir-akhir ini kami sering menghabiskan malam bersama *pikirannya, jangan kemana-mana yaa …
Dia sering menginap di tempatku, dan saat itulah kami selalu bercerita apapun.
Dia tahu sepak terjang kisah asmaraku, aku pun sama.
Intinya, kami tahu bagaimana karakter satu sama lain.
Entah saking dekatnya atau bagaimana, aku sering membayangkan kami berdua bekerja di tempat yang sama kelak.
Membayangkan kami akan jalan-jalan bersama melihat dunia.
Aku sering membanyangkan hal-hal tidak masuk akal yang selalu membuatnya berkata “Opo sih???” hahaha ….

Belakangan ini aku tahu dia sedang terganggu dengan sesuatu di masa lalu.
Sesuatu yang hilang di masa lalu dan hari ini sesuatu itu mencoba untuk menyapanya kembali.
Tidak banyak yang bisa aku lakukan selain menyediakan tempat curhat yang nyaman untuknya.
Aku berusaha sebaik mungkin untuknya, untuk persahabatan kita.
Kami sadar, semakin dewasa yang kita butuhkan adalah teman.
Mungkin dulu saat kami masih sekolah ada begitu banyak teman yang kita miliki.
Namun, saat kita dewasa nanti kita hanya akan membutuhkan beberapa yang benar-benar mengerti dan mengisi kita.

Aku teringat sebuah postingan di fanspagenya Bang Tere …
Sahabat terbaik itu tidak selalu dibutuhkan untuk memberikan nasihat, mengingatkan, apalagi menceramahi kita.
Dalam level yang sangat mengagumkan, sahabat baik justeru cukup sebagai tempat menumpahkan seluruh unek-unek, rasa penat, kesal, kecewa, dan sebagainya. Dia akan mendengarkan segala cerita kita, tanpa berkomentar satu kata pun. Inilah sahabat sejati.

We're in brown ...

Sabtu, 23 April 2016

Nightmare Siang Bolong

April 23, 2016 0 Comments
Manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri tanpa manusia lainnya.
Pernyataan itu benar adanya, tak terbantahkan.
Wanita butuh laki-laki, laki-laki butuh wanita.
Selalu begitu, ini juga tak terbantahkan.

Pagi ini aku dan Bu Is pergi ke pasar Sabtu yang ada di timur rumah.
Sebelum pergi aku mencoba si Fiz R dulu, istilah zaman sekarang “dipanasi”.
Ajaib, sekali engkol mesin hidup.
Aku bersyukur, walaupun jarang dipakai tapi Fiz R nggak rewel di engkolan pertama.
Segera setelah itu aku ajak Fiz R muter-muter di halaman.
Itu tadi, biar mesinnya panas.
Setelah merasa cukup baru aku matikan mesin dan masuk ke rumah untuk memakai jilbab dan jaket.

Aku, Bu Is dan Fahri sudah siap untuk berangkat.
Aku segera menghampiri Fiz R dengan banyak-banyak berdo’a.
Semoga dia nggak rewel seperti biasanya.
Aku masukkan kunci dan memutar ke arah tulisan “On”
Dan mulailah aku komat-kamit nggak jelas.
Di engkolan pertama suara mesin jadi seperti suara embek diare.
Brrrp…. Brrrrrp….. brrrrrpppp….
Aku loyo di atas jok.
Ah, ini adalah nightmare di siang bolong.
Sudah pasti mesin ini nggak akan hidup meskipun di sogok oli seliter -____-

Bu Is segera memasang wajah kuyu, Fahri hanya tertawa.
Berulang kali aku berusaha mengengkol mesin.
Berulang kali itu pula upayaku gagal.
Bu Is pun sama, berulang kali mencoba berulang kali pula gagal.
Dan Fahri hanya bisa bilang “Nggak jadi ke Sabtuan Kak?”
Aih, aku benar-benar payah jika berhadapan dengan kamu, Fiz R.

Beruntung ketika kami sedang sibuk merayu Fiz R, dan yang dirayu sok jual mahal, ada Kang Wang yang sedang membersihkan tumpukan kayu di depan rumahnya, yang juga berhadapan dengan rumahku.
Aku dan Ibu segera menuntun Fiz R ke depan gerbang.
Setelah itu segara muncul kalimat-kalimat sambat yang tertuju untuk Fiz R kepada Kang Wang.
Kang Wang adalah seorang tetangga yang sangat peka.
Gimana enggak?
Padahal kami belum minta tolong untuk ngengkolin si Fiz R, tapi Kang Wang sudah menghampiri kami untuk melakukan pertolongan pertama pada kemacetan.
Ah … kalian para lelaki harusnya mencontoh Kang Wang.
Sungguh tampan budi pekerti tetanggaku ini, hahahahaha …..

Dan di tangan Kang Wang, dengan tiga kali engkolan akhirnya Fiz R terbatuk-batuk hingga akhirnya kembali meraung-raung.
Benar-benar motor lakik.
Beginilah jika dirumah nggak ada Ardi dan nggak ada Abah.
Bukan sekali dua kali aku dipermainkan oleh si Fiz R.

Dulu, ketika aku bayar uang kuliah di Bank Jatim motor ini kembali berulah.
Beruntung ada Pak Satpam baik hati yang langsung tanggap ketika ada seorang perempuan mungil yang bersusah payah ngengkol mesin motor yang nggak hidup-hidup.
Ketika di Tangkong pun sama, untung ada Mas Widi yang sedang nginep di rumah mbahnya waktu itu.
Dan juga waktu aku berhenti membeli bensin di salah satu kios di dekat rumah guru SD-ku.
Untung ada Pak, eh, Mas yang juga sedang berhenti untuk membeli gorengan.
Pada intinya, beruntung ada para lelaki yang dikirim Tuhan untuk membantuku menghadapi Fiz R yang rewel itu.
Bisa dibayangkan jika tida ada para laki-laki yang sudah aku sebutkan tadi -__-

Senin, 18 April 2016

Suntikan Semangat (Lagi)

April 18, 2016 0 Comments
Hari ini aku dapat sms dari teman lamaku.
Dia temanku saat SD, Dimas.
Berhubung smsnya nggak bisa aku screenshoot, jadi aku tulis aja ya gaes …

Assalamu’alaikum….
Mey…wes 5minggu iki…suwe gak nulis ng blog maneh awkmu….
Awkmu kn mari tko air trjun *********…pasti banyak cerita di situ…tulis mey…tulis….

Begitu gaes isi smsnya.
Itu beneran, nggak di ada-adain dan nggak aku edit.
Ejaannya juga begitu, jumlah titiknya juga bisa aku pastikan sama dengan yang di hp.
Sudahlah, pokoknya isi smsnya begitu.

Aku tersentuh, bagaimana bisa Dimas niteni tulisanku?
Bagaimana bisa dia menghitung berapa lama aku tidak posting tulisan?
Dia bilang 5 minggu?
Ah, ya … sepertinya memang sudah lama sejak tulisanku yang terakhir.
Aku bilang padanya dengan nada guyon, apakah dia pembaca setia?
And you know what he said?
Dia bilang, dia senang membaca tulisan-tulisanku *Alhamdulillah ^_^
Dia bilang, beda rasanya membaca tulisan orang yang tidak dia kenal dengan membaca tulisan teman sendiri *Ah, kamu memang teman yang baik, Dim ^_^
Dia juga bilang, kadang tertawa-tertawa sendiri saat membacanya *Waspada, Dim, waspada …

Ah, Dim. Aku rasa kamu terkena penyakit gila nomor 40 ala Pak Cik.
Hahaha, semoga kamu nggak di anggap gila oleh rekan-rekanmu.
Masa iya ada orang senyam-senyum sendiri sambil melototin layar hape di tengah laut?

Aku sendiri agak kaget ketika tiba-tiba kamu sms.
Sudah lama sejak komunikasi terakhir kita.
Bukan hal baru bagi seorang teman yang sedang menempuh pendidikan pelayaran seperti kamu, sinyal pasti menjadi barang mewah bagi kalian.
Sekali dapat sinyal pasti mereka akan menggunakannya untuk menghubungi orangtua, istri, anak, pacar, gebetan, bahkan mungkin selingkuhan hehehe …

Kembali ke Dimas.
Dimas adalah satu-satunya teman laki-laki jaman SD yang sampai saat ini masih berkomunikasi baik denganku.
Ya, setidaknya setiap aku mengaktifkan BBMku dia akan muncul untuk sekedar bertanya kabar.
Dia juga salah satu teman yang ternyata juga menyukai tulisan-tulisanku.
Terimakasih, Dim …

Seperti kasus Lia tempo hari, Dimas juga memberikan aku suntikan semangat untuk menulis.
Aku merasa seseorang telah menghargai apa yang aku tekuni.
Teman seperti Lia dan Dimas adalah salah satu motivasi untukku tetap menulis.
Mereka senang aku juga senang.

Begitulah, akhirnya aku kembali mensyukuri setiap kejadian.
Teman yang care, teman yang mampu menghargai, teman yang nice.
Teman yang baik kan juga termasuk rezeki dari Allah ya, gaes J

Minggu, 03 April 2016

Beban yang Telah Menyingkir

April 03, 2016 0 Comments
Malam ini tepat 13 hari setelah kejadian itu aku berani bercerita padanya.
Benar-benar malam yang berat.
Tengah malam aku baru berani menceritakan segala unek-unek selama ini.

Aku membenarkan maksud blog yang ditulis oleh sahabat kami.
Dan reaksinya benar-benar membuatku heran.
Dia tidak kaget sama sekali.
Akhirnya malam ini menjadi ajang buka-bukaan bagi kami.
Tak lagi mempedulikan waktu yang terus beranjak.

Dia meluapkan segala perasaannya.
Aku pun sama, aku juga meluapkan perasaanku hingga susah untuk mengontrol emosi.
Aku bilang padanya bagaimana susahnya aku menjaga rahasia yang akhirnya dia ketahui.
Bagaimana aku merasa bersalah setiap aku melihat wajahnya, karena aku tak menceritakan dari awal.
Bagaimana aku tersiksa ingin cerita semuanya, tapi belum siap.

Aku takut ketika nanti aku menceritakan yang sebenarnya, hubungan kami jadi berubah.
Ketika segalanya sudah jelas seperti ini, aku mendapati kenyataan yang sungguh melegakan.
Dia, sahabatku ini, menunjukkan sikap dewasanya yang membuatku kagum.
Hari ini aku jadi sadar, hubungan kami bertiga tidak akan berubah karena salah satu diantara kami memiliki perasaan lebih.
Aku sadar, hubungan kami bertiga bukan sekedar pertemanan abege kemarin sore.
Kami bertiga meskipun kadang childish, selfish or anything else, tapi kami mampu menyelesaikan dengan baik masalah ini.
Aku juga jadi sadar bahwa mereka berdua adalah sahabat-sahabat baik yang tidak sekedar jadi teman senang, susah pun mereka ada.
Dan masalah yang melibatkan perasaan kami bertiga, tuntas dengan happy ending.
Thank you my doughnut …
Kadang-kadang kita bisa jadi gila, aneh, kekanakan, egois, tapi kita juga mampu membuat masing-masing di antara kita menjadi pribadi yang lebih bijak, pribadi yang lebih baik, pribadi yang lebih dewasa.
Terimakasih karena selalu menjadi pendengar yang anteng, hehehehe ….