Senin, 25 September 2017

Duta Santri Banyuwangi 2017

September 25, 2017 0 Comments
Kemarin saya berkesempatan menjadi bagian dari pemilihan Duta Santri Banyuwangi yang diselenggarakan oleh Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) Kabupaten Banyuwangi di Sun East Mall (SEM) Genteng. Apa itu RMI? RMI merupakan ikatan pondok pesantren. Berhubung di belakangnya ada NU, sudah pasti RMI-NU adalah ikatan pondok pesantren Nahdlatul Ulama. Paham, ya, gaes?

Mengapa saya menjadi bagian dari acara tersebut? Apakah saya menjadi salah satu panitia acara? Tidak, bosque. Apakah saya menjadi supporter salah satu peserta? Hmmm, tidak juga. Ataukah saya menjadi salah satu peserta Mbak Santri? Ha Ha Ha Ha. Apalagi ini, tentu tidak, bosque. Lantas kenapa? Becoz saya dipercaya untuk memandu acara tersebut dari awal hingga akhir. Yak, betuuul, saya jadi MC. Saya dan Kang Zakki (partner MC) yang sama-sama bukan santri ini benar-benar dibuat terpesona oleh finalis Mbak dan Kang Santri kemarin.

Grand Final Mbak dan Kang Santri dilaksanakan Hari Minggu, dan saya mendapat perintah untuk ngemc di Hari Kamis malam. Pas mau tidur, ndilalah kok nge-cek hape, ndilalah (lagi) ada WA masuk dari pimred. Isinya bukan lagi tawaran untuk ngemc, tapi perintah. Saya yang tadinya ngantuk jadi tambah ngantuk baca pesan blio. Masih mending saya, lha Mas Zakki dapat perintahnya Hari Sabtu. Apa nggak………hahahahaha ~

Sabtu sore saya baru bisa komunikasi dengan Mas Zakki, karena kami memang belum saling kenal sebelumnya. Dari cara blio balas WA, saya dah bisa nebak orangnya asik. Emang cuma hati dia aja yang gabisa kutebak. Pasti tidak sulit untuk membangun chemistry di atas panggung.

Minggu pagi, sekitar pukul 7.15 saya sudah sampai di SEM. Dan mall-nya masih tutup. Ingin ku melipir ke rumah Donat dan membetulkan riasan wajah yang mulai memuai ini. Itu event pertama dimana saya ngemc harus dandan. Ribet, tapi pie maneh. Kalo kata Mbak Via “meh sambat kaleh sinten, yen sampun mekaten”. Untung ada Fida, satu-satunya perempuan yang saya kenal baik di acara itu, yang bisa saya ajak membetulkan riasan di wajah saya.

Pertama kali bertemu Mas Zakki juga di hari H. Blio datang bersama istri dan ponakannya. Setelah salam-salaman macam lebaran, kami (saya dan Mas Zakki) ngobrol terkait acara. Sharing sebentar, langsung klik. Alhamdulillah partner ngemc kali ini syeruuu. Memang, ya, kalo kita melakukan bidang yang memang kita suka dan dapat rekan yang cocok, itu menyenangkan. Gak makan dari pagi sampe selesai acara juga oke bae.

Kemarin ada tiga babak yang dilalui oleh ketiga puluh finalis Mbak dan Kang Santri Banyuwangi. Babak pertama yakni pertanyaan seputar ilmu pengetahuan. Ada 4 kategori yang menjadi fokus pertanyaan. Yakni, wawasan kebangsaan, Banyuwangen, Aswaja & ke-NU-an, terakhir adalah keislaman. Dari tiga puluh peserta itu dikerucutkan lagi menjadi 14 finalis. Tujuh Kang Santri dan tujuh Mbak Santri.

Ke-14 finalis ini dipertemukan dalam babak kedua. Dimana babak kedua ini waktunya untuk unjuk bakat. Lagi-lagi, saya dibuat kagum oleh bakat yang mereka miliki. Beragam bakat yang mereka tampilkan, diantaranya adalah baca kitab, imrity, taghoni, pidato bahasa arab, pidato bahasa inggris. Dan semuanya luar biasa. Di sebelah panggung, saya dan Kang Zakki cuma bisa haha-hehe.

Mungkin bagi mereka yang setiap hari terbiasa berhadapan dengan dunia pesantren, pemandangan seperti di Sun East Mall kemarin sudah biasa. Tapi, bagi saya pribadi, hal itu luar biasa. Saya makin kagum dengan paket komplit yang dimiliki oleh seorang santri. Tidak hanya ilmu agama mereka yang oke, ilmu pengetahuan umum juga baik. Rasa-rasanya santri adalah representasi manusia idaman. Atau biar gampang, saya sebut santri ini istri-able dan suami-able. Heuheuheuheu. 

Dari acara ini keinginan saya untuk mondokin anak kelak jadi semakin mantap. Gak mau tau gimana caranya pokoknya harus saya pondokin. Calon ibu otoriter, nih.

Back to event ~
Setelah semua finalis menampilkan bakat masing-masing, akhirnya terpilih tiga pasang Kang Mbak santri yang melaju ke babak akhir. Di babak ini mereka diberi pertanyaan oleh dewan juri seputar fenomena generasi millenial. Beragam sekali pertanyaannya. Dan para finalis pun terampil dalam menjawab. Semakin sore suasana di SEM semakin ramai. Supporter tak henti memberi dukungan kepada finalis favorit mereka.

Akhirnya sampai pada penobatan Duta Santri Banyuwangi. Semua menunggu, siapakah yang akan menjadi juara satu?

Gelar Duta Santri Banyuwangi diberikan kepada Kang Sholeh Mubarrok dan Mbak Nurul Hidayah. Keduanya berasal dari pondok pesantren Darussalam Blokagung. Kang Sholeh Mubarrok atau akrab disapa Solbar merupakan santri dengan bakat luar biasa. Pidato Bahasa Arab-nya yang membuat saya ngakak (padahal gak tahu artinya) menjadi senjata pamungkasnya.

Mbak Nurul Hidayah lain lagi. Bakat yang ia tampilkan yakni baca kitab. Saya suka ketika Nurul melenggang di atas panggung dan memberikan kibasan maut pada roknya. Sedikit nakal tapi anggun.

Saya ucapkan selamat kepada seluruh peserta Mbak & Kang Santri. Juga kepada Duta Santri Banyuwangi terpilih. Kalian adalah insan pilihan. Kalian adalah panutan. Kalian adalah idola. Semangat mewujudkan segala mimpi dan harapan. Mari bergandengan tangan untuk Indonesia yang lebih ramah. Jadilah santri yang membanggakan, santri yang terbuka dengan apa saja, santri yang tidak menutup diri dari ajaran-ajaran baru.

Sekali lagi, selamat Mbak & Kang Santri Banyuwangi. Sampai jumpa di #itsmeytime, ya?