Senin, 19 September 2016

#Cie, nikah ...

September 19, 2016 0 Comments
Akhirnya tuntas sudah pencarian itu dalam sebuah ikatan suci pernikahan. She was found him. Sekitar sebelas hingga duabelas tahun yang lalu, dia adalah teman bermain saya. Sungguh waktu beranjak begitu cepat. Dimulai pada hari dimana dia datang ke rumah untuk mengantar sebuah undangan pernikahan. Dari situ saya sadar, dia bukan lagi teman masa kecil saya. Dia telah beranjak dewasa, bahkan hari ini dia telah menjadi seorang istri.

Saya penah bercerita tentang ketidaksukaan saya terhadap kehidupan no maden. Gara-gara no maden itu lah akhirnya saya meninggalkan tempat saya dibesarkan. Meninggalkan teman-teman saya, meninggalkan mushola tempat saya mengaji, meninggalkan tetangga-tetangga yang begitu baik terhadap keluarga saya dan tentu meninggalkan kenangan-kenangan manis maupun pahit di Krasak. Dia adalah salah satu kawan yang begitu dekat dengan keluarga saya. Namanya Desi. Usia kami beda setahun, kalau tidak salah. Desi menjadi teman saya bermain sehari-hari di rumah. Dia juga menjadi teman saya mengaji di Mushola Nurul Qomar. Kami satu sekolah, namun tidak satu angkatan. Bertahun-tahun hidup di Krasak, akhirnya waktu yang tidak saya inginkan tiba. Kami sekeluraga harus pindah. Dan saya meninggalkan Desi. Marah, sedih, jengkel, semua terakumulasi menjadi perasaan yang begitu menyakitkan. Ketika saya sudah merasa nyaman, kenapa harus ada momen untuk meninggalkan?

Sejak kepindahan itu saya masih bisa berhubungan dengan Desi lewat surat. Kami rajin bertukar surat hingga akhirnya kebiasaan berkirim surat itu terhenti (karena kami sudah pegang ponsel), jadilah akhirnya kami sms-an. Bagi anak seusia kami waktu itu, jarak antara Pakis dan Kerasak terasa jauuuh sekali. Jadi hanya sekali dua kali Desi main ke rumah waktu itu. Saya ingat betul ketika pulang sekolah SMP dia ingin ikut main ke rumah. Akhirnya saya dan Desi pulang ke Pakis dengan ngontel berdua. Aaah, saya rindu masa-masa seperti itu.

Desi adalah partner saya dalam segala situasi. Dia adalah teman main, teman mengaji, teman bolos ngaji, teman tadarusan, teman nyuci baju di kali, teman mandi di kali, teman ngeledrek dari rumah hingga Pantai Boom (padahal pamitnya jalan-jalan nggak jauh di sekitar rumah), teman duet di panggung Maulid Nabi, teman duet saat nari di perayaan kemerdekaan di lapangan Mushola Al-Biru, teman sepedahan sore-sore, teman blusukan ke kebonan demi sebongkah sawi (singkong), teman kecek (hujan-hujanan), teman nonton film india, teman nonton kaset-kasetnya Wafiq Azizah. Ah, semuanya lah. And I miss that old time. Andai saya tetap bertahan di Krasak hingga hari ini, mungkin kami menjadi insan yang tidak terpisahkan. Serius loh ini.

Akhirnya, hari ini saya, Ibu dan Fahri datang ke Krasak. Tempat yang sangat tidak asing bagi kami, kecuali Fahri. Datang ke Krasak seperti datang kembali ke rumah. Bagaimanapun, daerah ini adalah tempat saya dibesarkan. Kami memasuki lorong gang yang menjadi saksi Diana dan Desi kecil berlarian. Semua kenangan-kenangan masa kecil itu tiba-tiba terputar kembali. Atmosfer bahagia menyeruak kemana-mana. Sampai di depan rumah pengantin, banyak pasang mata pelabot yang memandang kami dari atas hingga bawah, lalu kemudian satu di antara mereka berteriak “Mbak Iiiiis .....”. Nah, terjadilah akhirnya reuni dengan para tetangga itu.

Saya lekas masuk dan menyalami De Mut (Mama Desi). Hingga akhirnya dipertemukanlah saya dengan penganti wanita. Begitu pintu kamar pengantin terbuka saya langsung memeluk Desi erat-erat, dan tidak lupa nangis. Saya memeluk dia erat sekali. Dan nangis pun semakin menjadi-jadi. Di dalam kamar ternyata juga ada Ayuk dan beberapa kearabat Desi lainnya. Ayuk juga adalah kawan masa kecil saya, kami. Tidak kalah erat saya memeluknya. Dan dia semakin cuwantik. “Yo iyo laaaah, marine.” kata Ayuk. Nyesel saya muji -__- 

Pertemuan hari ini cukup mengobati rasa kangen yang telah mengendap bertahun-tahun. Lebaran kemarin kami tidak sempat bertemu, karena ketika saya datang, Desi sedang pergi. Huwaa, akhirnya dia resmi jadi istri.

Dan hal paling membosankan ketika bertamu ke rumah manten adalah pertanyaan-pertanyaan yang yaaah cen ngoten lah, kalian tahu sendiri. Berhubung yang melabot adalah dulunya juga tetangga kita, saya dan Ibu tidak terlalu canggung untuk ngobrol ngalor ngidul. Begitu banyak orang yang pangling terhadap saya. Apalagi ketika tadi saya bertemu Adon, beliau bilang “Ya Allah, bengen mage cilik saiki wes semene.” Ya Allah Adon, ya kali saya nggak gede-gede. Jadi sebenarnya hari ini tadi adalah hari dimana kami sekalian silaturrahmi dengan para tetangga kami.

Saya juga bertemu Mbok Du’ah, ahlinya kue seantero Krasak :D beliau juga bilang “Mari ngene kowe wes yo?” saya hanya nyengir sambil jawab “Ya pokok e Mbok Du’ah kudu nginep. Hang nggawe jajanek. Lantas beliau ngakak.

Kembali ke kamar pengantin.

Di dalam kami semua terlibat dalam suasana sukacita luar biasa. Ketika Desi sedang sibuk menerima tamu, Ayuk memberikan sekuntum mawar merah muda kepada saya. Saya melotot, tapi kemudian kami tertawa. Saya heran, datang dari manakah kebiasaan “nyolong kembang manten” ini? Tidak berhenti di sana, ketika pengantin keluar kamar, saya, Ayuk dan salah satu teman kemudian menarik secara membabi buta rangkaian melati yang sudah tidak terpakai. Duuh dasar para jomblo, nggak bisa banget lihat kembang manten nganggur dikit :D

Dulu, ketika masih kecil saya sering bertanya dalam hati, “Kamar pengantin itu isinya gimana, ya? Terus selesai akad, mereka di dalem ngapain?”

Hari ini semuanya terjawab, gaes. Nggak ada yang namanya romantis-romantisan selesai akad, nggak ada juga yang namanya rebahan sejenak selesai akad, nggak ada. Yang ada malah pemandangan kamar pengantin yang berantakan (karena banyak seserahan berkeliaran di atas ranjang), kamar pengantin yang gerah (karena banyak kerabat yang masuk dan ingin chit-chat sama pengantin baru), kamar pengantin yang sumpek (karena banyak atribut-atribut pengantin), dan yang ada justru teriakan-teriakan kelaparan dari kedua mempelai. Wkwkwkwk ...

Baiklah. Selamat menempuh hidup baru Desi dan Sandi. Selamat memasuki kehidupan sebagai pasangan suami istri. Semoga segera dapat momongan. Wes lah, nggak perlu pacar-pacaran dulu, toh pacarannya udah bertahun-tahun, wes tuwuk. Mending cepet kasih saya ponakan *ketawausil

Barakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair ...

Yang tengah cepat nyusul, katanya.

Sabtu, 17 September 2016

IRT "Cerdas"

September 17, 2016 0 Comments

Suatu hari saya membuka Instagram dan menemukan sebuah gambar yang membuat saya sedikit mesem-mesem. Tentang seorang wanita dengan pendidikan tinggi namun ujung-ujungnya hanya menjadi ibu rumah tangga.

Well, saya pernah membicarakan hal ini kepada teman-teman perempuan saya. Berbagai macam pendapat dan pandangan mereka tentang hal ini. Ada yang ingin menjadi wanita karir, ada yang ingin menjadi wanita yang bekerja dari rumah (saya nggak tahu apa sebutannya), ada juga yang murni ingin menjadi ibu rumah tangga.

Tentu beda kepala beda isi. Tidak semua orang harus berpikir seperti apa yang kita pikirkan. Tidak semua orang harus bertindak seperti apa yang kita lakukan. Terlepas dari itu semua, kita juga harus menghargai keputusan tiap-tiap individu. Saya rasa komentar "Sekolah tinggi-tinggi kok ujungnya cuma jadi ibu rumah tangga?" adalah komentar skeptis.

Menjadi ibu rumah tangga yang full time di rumah bukanlah hal yang mudah. Mendidik anak di rumah tidaklah cukup dengan bekal pendidikan ala kadarnya. Alah, jadi IRT ini doang. Diem di rumah, nggak perlu susah mikir, cuma ngandelin tenaga.

Salah. Ibu itu madrasah, sekolah, pendidikan pertama bagi anak-anaknya. Ibu itu tidak hanya sekedar ngurus dapur, bersih-bersih rumah dan merawat anak. Ada tanggung jawab yang besar di pundaknya.

Saat ini saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk belajar menjadi orang tua. Saya memiliki adik yang masih balita. Fahri, namanya. Umur Fahri belum genap lima tahun. Di masa pertumbuhannya sekarang, begitu banyak hal-hal yang membuatnya tidak berhenti bertanya. Rasa ingin tahu yang begitu besar. Dia bertanya kenapa ini begini atau itu begitu.

Melalui Fahri, Tuhan mengajarkan kepada saya untuk melatih rasa sabar. Tidak jarang saya masih suka marah ketika Fahri nakal. Saya masih suka mencubit ketika Fahri tidak mendengarkan kata-kata saya. Padahal, secara psikologis hal seperti itu dapat berdampak pada perilakunya kelak. Jika sudah sadar seperti itu, saya selalu menyesal dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi.

Dari kejadian-kejadian yang sudah saya alami tersebut, saya sadar saya masih perlu banyak belajar tentang parenting.

Saya merasa telah gagal sebagai seorang kakak. Saya belum bisa sabar menghadapi Fahri. Perasaan gagal itulah yang akhirnya membuat saya berpikir "Saya masih belum siap jadi seorang ibu."

Saya tidak ingin menjadi seorang ibu yang tidak tahan banting. Seorang ibu yang emosional, suka marah-marah, suka main tangan, tidak sabar, serta hal-hal tercela lainnya. Saya tidak ingin seperti itu.

Jika disuruh memilih antara menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga? Harapan saya adalah menjadi ibu rumah tangga.

Saya tidak tahu bagaimana Tuhan akan menyiapkan jalan saya kelak. Berakhir menjadi Ibu rumah tangga atau wanita karir dengan tetap merawat anak.

Yang jelas, setiap wanita berhak mendapatkan pendidikan yang tinggi. Bukan untuk menjadi saingan para lelaki, tetapi untuk membangun generasi.

Maka, seorang wanita tak cukup hanya baik secara jasmani, ia pun harus baik secara rohani.

Semoga saya dan kalian akan menjadi ibu yang baik kelak untuk anak-anak.

Sabtu, 10 September 2016

Jangkrik Bos!

September 10, 2016 0 Comments
Sore ini saya berkesempatan untuk menonton film yang tengah menjadi buah bibir masyarakat Indonesia Raya. Film humor yang dibuat untuk mengenang tokoh legenda lawak Indonesia, yakni Dono, Kasino, Indro.

Secara keseluruhan film ini berhasil membuat saya mulas karena terus tertawa. Dibuka oleh wajah Om Indro yang bulat dan lucu ketika membawakan berita yang sama sekali tidak penting. Bahkan sesaat sebelum Om Indro bicara, ada seseorang di dalam bioskop yang berkomentar “Baru lihat wajahnya saja sudah bikin ketawa.”
Ah Bapak bisa aja.

Saya adalah seorang anak yang dibesarkan oleh keluarga pecinta warkop. Terutama Bapak. Bapak saya adalah fans sejati film-film  Dono, Kasino, Indro. Saya pernah melihat Bapak nonton film warkop di tv sampai ngakak sejadi-jadinya. Saya yang waktu itu masih kecil kan jadi bingung kenapa kok Bapak saya bisa ngakak seperti itu. Saya hanya bisa melototin tivi dengan tetap tidak mengerti apa yang membuat Bapak seperti itu.
Maklum lah ya, masih kecil.

Kembali pada Warkop DKI Reborn. Film ini tetap menyajikan lawakan-lawakan cerdas khas warkop DKI. Intinya, menonton film ini akan membawa kita pada masa-masa kejayaan warkop dulu. Ditambah para pemain yang totalitas dan pas.

Vino Bastian menurut saya adalah pilihan pas untuk memerankan sosok Kasino. Vino cocok sekali menjadi tokoh yang demen misuh ala Jakartean. Masih ingat peran Vino dalam film Punk in Love? Nah, misuhnya uapik banget to? Hanya saja disini dia misuh dengan logat Jawa Timuran. Mau jancuk atau muke gile, He’s play his role well. Hanya saja tubuh Vino terlalu kekar untuk sosok Om Kasino, menurut saiyyaa …

Untuk peran Om Indro saya rasa belum dapat gregetnya sih, menurut saiyya loh yaa. Memang logat dan gaya bicaranya wis pas. Tapi seperti ada sesuatu yang menurut saya kurang. Apa karena Om Indro yang asli masih ada, jadi saya sulit untuk menerima bahwa Tora itu Om Indro. But, over all saya suka.

Terakhir. One and only. Abimanaaaa. Hemmm sayang sudah nikah, #loh. Saya jatuh cinta pada Abimana sejak dia membintangi film 99 Cahaya di Langit Eropa. Di film itu Abimana yang dipasangkan dengan aktris favorit saya, Acha, menjadi sosok laki-laki idaman wanita yang menyejukkan hati, menyejukkan pandangan, menyejukkan semuanya lah pokoknya, hahaha …

Eh kok ternyata di film ini belio dapet peran jadi Om Dono. Saat melihat berita film ini di televisi, saya sempat mikir “Apa iya bisa sama seperti aslinya?”. Sama jelas tidak, hampir iya. Saat pers conference Abimana bercerita tentang bagaimana tersiksanya saat ia harus memakai gigi palsu demi agar terlihat sama dengan almarhum.

Dan setelah melihat hasilnya pada film Warkop DKI Reborn, benar-benar usaha yang bagus. Saya nggak ngerti gimana rasanya harus ngomong dengan gigi palsu yang menyiksa seperti itu, yang jelas pasti merepotkan.

Abimana juga memainkan perannya dengan sangat baik. Kepolosannya, keluguannya, kenaifannya, kebaikannya, almarhum sekali. Apalagi kalau sudah memasang wajah melengos, duuuh du ngakak.

Fix film ini recommended sekali. Bisa ditonton segala usia, eh bisa nggak ya? Soalnya pas bagian si Bos dan ciwinya lagi ehem di kantor agak gimanaaaa gitu, wkwkwk …

Yang jelas, menonton film ini dapat menyegarkan pikiran kita yang sedang keruh. Apalagi bagian behind the scene, lebih parah lucunya. Dari mulai Vino yang salah menyebut nama, hingga gigi palsu Abimana yang lepas dari kandangnya.