Rabu, 24 Juli 2024

BAHASA KASIHKU

Juli 24, 2024 0 Comments

Akan selalu ada masanya dimana kita benar-benar mengenal siapa diri kita sebenarnya. Apa yang kita senangi, apa yang kita tidak sukai, apa yang menjadi keunggulan kita, apa yang menjadi kelemahan kita. Apa yang selalu kita lakukan ketika stres. Apa hal-hal yang kita hindari untuk merasa aman dan nyaman.

Ada banyak hal yang aku pelajari selama ini. Salah satunya soal apa yang suka aku lakukan kepada orang lain. Aku menyadari salah satu bahasa kasihku yang aku suka berikan kepada orang lain adalah word of affirmation, pujian melalui kata-kata. Tidak jarang tanpa aku sadari kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa peduli soal dampaknya.

Tapi, yang aneh justru aku tidak cukup senang ketika mendapat hal serupa dari orang lain. Bahasa kasihku dari orang lain bukan pujian melalui kata-kata. Meskipun aku akan selalu berterima kasih atas pujian-pujian tersebut. Alih-alih pujian aku lebih suka act of service.

Bagi orang lain mungkin hal sepele, tapi bagiku tidak. Aku menyadari hal ini ketika banyak momen dimana aku mendapat act of service. Dan ketika mendapatkan hal itu ternyata cukup membuatku penuh kupu-kupu. Terlepas dari jenis kelaminnya, mau dia laki-laki atau perempuan, aku akan sangat menghargainya.

Dulu, aku pernah memandu sebuah acara. Di acara itu ada stage manager yang bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan semua aspek dari produksi panggung, termasuk juga kapan MC harus in dan out. Ada momen ketika aku dan partner MC-ku selesai segmen pertama, kami langsung ke backstage. Di situ stage manager ini langsung membukakan botol minum dan menyodorkan kepadaku agar bisa segera dikonsumsi.

Nah, gesture kecil seperti ini ternyata membekas. Aku senang dan terkesan. Ada juga momen ketika aku pergi kondangan dengan teman. Gesture teman mengambilkan piring dan sendok kepadaku ketika kami hendak makan juga membuatku merasa happy. Dari sana aku menyadari bahwa aku senang menerima bahasa kasih yang satu ini. Meskipun mungkin si pemberi tidak menyadari hal kecil yang mereka berikan ini berdampak padaku.

Sama halnya dengan pujian yang aku berikan kepada orang lain semata ya karena memang itulah yang aku rasakan. Ada teman yang baru cukur rambut, aku tidak akan segan bilang "waaahhh bagusnya". Atau parfum yang mereka pakai wanginya aku suka, aku juga tidak akan segan memuji bau harum mereka.

Jadi, aku rasa penting buat kita memahami bagaimana diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum akhirnya nanti kita akan mantap untuk berbagi hidup dengan manusia lainnya selamanya. Selamanya itu tidak sebentar, jadi pastikan kamu bersama orang yang tepat dan benar. Orang yang bisa memahamimu dan juga bisa memahami dirinya sendiri.


Jumat, 14 Juni 2024

KEJUTAN DARI TUHAN

Juni 14, 2024 0 Comments

Menulis catatan ini di hari libur kerja. Aku belum cerita, ya? Aku sekarang bekerja, literally bekerja di sebuah perusahaan. Yes, di usia 29 tahun ini aku memulai lagi dari awal, and it’s really okay.

Tepat saat ulangtahunku kemarin (31/5) aku mendapat pengumuman hasil interview hari Selasa (28/5). Mungkin sebelum tiba-tiba pengumuman interview aku akan cerita bagaimana muasalnya aku bisa ikut interview.

Beberapa waktu yang lalu, adik sepupuku, Hani, menawarkan posisi admin di tempatnya bekerja, CV Boga Lestari, atau yang lebih kita kenal dengan Amanda Brownies. Admin lama akan resign per akhir Mei 2024. Aku yang waktu itu merasa bosan dengan rutinitasku, berani untuk mencoba.

Kandidatnya tidak hanya aku saja, ada satu lagi kenalan kepala cabang outlet. Selasa pagi kami datang dan memenuhi panggilan interview. Selayaknya interview, kami ditanya ini itu. Aku menjawab semua dengan tanpa beban, nothing to lose. Sudah lama enggak ngantor membuatku gugup kalau misalnya nanti diterima. Sepertinya selama ini aku terlalu lama freelance tidak terikat apapun, jadinya tiba-tiba gugup.

Selesai interview aku siaran seperti biasa. Sampai kemudian hari Jumat, tepat di momen ulangtahunku ke 29 tahun, Hani menelpon. Dengan diawali drama sinetron Hani kasih kabar kalau aku diterima. Sebetulnya firasat diterima ini sudah aku rasakan sejak dia kirim WA ke ibuku soal surprise untukku.

Long short story, Jumat malam aku mendapat pesan resmi dari kepala cabang Amanda Banyuwangi. Besok siang (1/6) aku sudah mulai masuk bekerja. Semua terasa cepat, malam itu aku, ibu dan Ai sedang menghadiri selawat dalam rangka harlah Ansor ranting Karangrejo. Perasaan pertama yang aku rasakan adalah bingung.

Aku bingung bagaimana nanti memberi tahu programerku di Mandala. Awal-awal aku masih belum berterus terang soal mendapatkan pekerjaan. Jadi, Sabtu dan Minggu itu aku masih izin tidak siaran, dengan alasan yang tidak aku jelaskan. Satu dua hari masih oke, tapi tentu saja hari Senin aku mulai menceritakannya pada programer. Dengan beberapa pertimbangan aku harus menyesuaikan jadwalku siaran.

Akhirnya aku berada pada titik dimana aku pernah memintanya pada Tuhan. Aku ingin sibuk, aku mau sibuk bekerja sehingga tidak ada lagi bagian-bagian yang membuatku merasa hidup ini tidak adil. Tapi, hey, memangnya kapan hidup itu adil?

Begitulah prosesnya berjalan. Di hari keempat belas ini aku mulai bisa mengatur tempo. Aku mulai bisa menikmati ritmenya. Segalanya aku harap bisa berjalan dengan biasa saja tanpa perlu riuh suara. Sekarang, aku sedang mempersiapkan diri atas hal-hal ajaib yang akan Tuhan berikan. Apapun itu, aku akan menerimanya dengan suka cita.

Rabu, 29 Mei 2024

NAMA ADALAH DOA

Mei 29, 2024 0 Comments

Hari ini aku dan ibu nonton live IG Tasmi’ Al-Qur’an Juz 30 kelasnya Ai. Karena hari ini giliran kelompoknya Ai tampil. Enggak sia-sia anak-anak madin sejak kelas 5, sekarang mereka sudah hapal juz 30 dengan baik.

Live IG dimulai jam tujuh pagi. Aku dan ibu lumayan sedikit mellow pas ustazah mereka memberikan pengantar dan nasihat, Bu Sarah namanya. Anak-anak memanggil beliau Umma Sarah.

Tapi, sebetulnya tulisan ini bukan tentang Tasmi’ Al-Qur’an. Ketika nonton live mereka aku lihat satu akun bergabung. Akun yang sudah bisa kutebak adalah akun ustazah Sarah. Nama akunnya Sarah Iswandari. Aku klik akun tersebut dan muncul beberapa postingan terkait kegiatan beliau di sekolah.

Aku bilang ke ibu soal nama beliau yang mirip denganku. “Buk, Namanya umma sarah itu Sarah Iswandari.”

“Lek kakak e Isfandari yo, Isfan. Beda satu huruf aja.”

Kemudian ibu bercerita soal bagaimana dulu beliau bingung memberikan nama panggilan buatku. Hampir saja ibu memangilku Fanda, tentu saja diambil dari Isfandari.

“Tapi kok mirip Panda, ojok wes, engko malah digawe lok-lokan.” Tentu aku bersyukur ibuku berpikir jauh sebelum memanggilku dengan nama Fanda itu. Karena kalau benar terjadi, kayaknya sekarang namaku sudah diplesetkan ke Panda, alih-alih Fanda. Dan tentu saja jokes yang keluar adalah “Gak makan nasi dong ya, makannya bambu.”

Aku dan imajinasiku ini astagaaa. Entah kenapa aku suka membayangkan hal-hal yang bisa saja mungkin tidak terjadi.

Aku langsung teringat cerita ibu soal bapak yang dulu hampir saja menamaiku Hijriyanti. Untung saja, sekali lagi ibu menyelamatkanku dari masa depan diolok-olok teman. Bukannya enggak bagus, tapi bapakku tuh memang orangnya begitu. Apa yang dipikirin ya itu aja yang dikeluarin.

Anyway, kasih nama anak tuh memang harus dipikirin, ya. Selain karena nama adalah doa, nama ini bakal jadi bulan-bulanan di masa depan atau enggak itu juga penting. Wkwkwk.

Yah, paling enggak kelak anak bangga sama nama yang dikasih orangtuanya. Minimal enggak malu lah. Belum menikah, belum punya anak, tapi aku sudah kepincut sama beberapa nama yang kelak akan aku berikan pada anakku. Insyaallah. Duh, membayangkan aku memanggil nama itu saja aku sudah berbinar-binar.

Jumat, 24 Mei 2024

SAYANG SI GEMPAL

Mei 24, 2024 0 Comments

Setelah selesai acara seminar kemuslimahan yang diadakan di aula Poliwangi, aku dan De Lilis pergi ke Mi Nyonyor Rogojampi untuk makan. Aku belum makan sejak pagi dan hanya mengisi perut dengan kue-kue yang disuguhkan oleh panitia. Di beberapa momen aku sedikit oleng, meski tidak parah seperti ngemc beberapa waktu yang lalu. Entah kenapa aku tidak terbiasa sarapan, apalagi kalau pagi itu ada kegiatan.

Selesai acara sekitar setengah lima sore. Aku dan Lilis tiba di Mi Nyonyor kurang lebih jam lima. Setelah pesan kami duduk berhadapan di pojokan. Kami menyambung cerita yang tadi sempat terputus karena situasi yang tidak memungkinkan untuk deeptalk.

Sejak dulu aku selalu mengagumi kegigihan Lilis dalam berorganisasi. Anaknya tabah, kuat, berani. Ketika kemarin Bibeh bikin story bahwa dia lamaran, aku kaget bukan main. Setahuku dia sedang melanjutkan S2-nya. Dan, dulu dia pernah bilang kalau tidak mau terburu-buru menikah. Prioritasnya masih banyak yang lain.

Tapi, takdir Allah lain. Aku enggak bisa enggak menangis mendengar cerita Lilis. Anak ini betul-betul menerima ketetapan Tuhan dengan hati yang luas. Kalau aku di posisinya belum tentu mampu. Segala hal yang menghimpitnya dihadapi dengan tenang.

Ada satu ucapannya yang membuatku nelangsa. Kalau sudah begitu aku enggak bisa lagi berkata-kata selain misuhi pemerintah. Sudah lah, semua ini memang salah pemerintah. Enggak bisa memberikan perlindungan pada rakyatnya, pejabatnya korup enggak karu-karuan. Apa sih yang dicari? Enggak takut ya sama Tuhan?

Kembali ke Lilis. Perempuan ceria di depanku ini sebentar lagi menikah. Menikah dengan lelaki yang siap mendampingi Lilis dalam suka maupun duka. Lelaki yang tidak saja baik, tapi juga pemberani. Dia bahkan dengan bangga mendukung Lilis menyelesaikan S2-nya, meski dia sendiri tidak sekolah setinggi Lilis.

Dude, ini lho. Mestinya memang tidak ada laki-laki yang musti minder ketika berhadapan dengan perempuan yang berpendidikan. Tidak perlu rendah diri, tidak perlu malu, tidak perlu merasa tidak pantas. Dukung dia, dampingi dia, rangkul, berikan semangat. Kelak, anak-anakmu juga akan menerima pendidikan pertamanya dari sang ibu, kan?

Semoga segala hal baik terjadi dalam kehidupan Lilis setelah ini. Setelah semua badai yang dia lalui. Setelah guncangan hebat yang dia hadapi.

Jumat, 12 April 2024

IDULFITRI 1445 H

April 12, 2024 0 Comments

Lebaran tahun ini seperti lebaran-lebaran biasanya. Bedanya kami sekeluarga tahun ini lebaran di Karangrejo, bukan lagi di Pakis. Sedih, tentu, tapi hidup memang begitu. Ramadan hari kesekian aku dan ibu ke Pakis untuk menemui Mak Yem, Mbah Sri, Mak Tik dan De Ros. Mereka bersemangat menyambut kedatanganku dan ibu karena tentu saja selain ini kedatangan kami pertama setelah pindah, mereka juga menyesalkan kepindahan kami yang seperti tergesa sampai tidak sempat berpamitan pada tetangga.

Ya begitulah keluargaku. Senang melakukan apa-apa dalam senyap. Dulu ketika ibu hamil Ai saja tidak ada satupun tetangga yang tahu bahkan sampai Ai lahir. Kami pulang dari rumah sakit pakai becak sambil ibu gendong Ai yang masih usia sehari. Ndilalah, keadaan sekitar rumah sepi sekali siang itu. Tapi, namanya Tupai, sepandai apapun lompat, suatu hari akan kepleset juga. Akhirnya para tetangga tahu kehadiran Ai di rumah kami.

Kembali lagi ke lebaran. Lebaran tahun ini ada suasana baru. Kalau biasanya pagi di saat idulfitri kami selalu formasi lengkap, tahun ini tidak. Ardi shift malam, jadi pagi itu ketika hari lebaran dia tidak di rumah. Dulu ketika masih di Pakis aku sering membayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang masih harus bekerja ketika hari H lebaran. Eh, ternyata sekarang adikku sendiri mengalaminya. Dan, sebetulnya ya tidak apa-apa. Toh, tidak di momen lebaran pun setiap hari kami bertemu dan berkumpul.

Satu lagi suasana baru yang kami alami adalah karena absennya bapak di lebaran tahun ini. Beliau tidak ikut sholat id maupun unjung-unjung ke saudara karena sedang wasir. Ya, wasir a.k.a ambeien. Antara sedih dan ingin ketawa karena bapak susah duduk dan cara jalannya pun otomatis aneh. Enggak pernah terbayangkan oleh kami bapak harus megalami wasir yang sampai menyebabkan dirinya absen di momen lebaran tahun ini. Jadi, yang pergi unjung-unjung ya hanya kami bertiga. Aku, ibu dan Ai.

Keluar rumah rasanya aneh karena cuma bertiga. Ini mah seperti kami kalau lagi main aja. Entah ke pantai, ke taman atau sekadar makan di luar. Tapi, sekali lagi, itulah hidup. Dua anggota keluarga absen dan meski rasanya sedikit aneh, tetap tidak apa-apa. Dewasa ini lebaran ya begitu-begitu saja rasanya.

Seperti biasa kami berkumpul di rumah mbah. Meski telah almarhum, tapi rumah mbah selalu jadi jujugan pertama kami sekeluarga. Karena di sini ada bude kami, di rumah ini juga kami menerima banyak tamu dari tetangga sekitar.

Semakin tahun semakin menyadari para pakde, bude, om dan tante sudah semakin tua. Sepupu-sepupuku yang dulu masih single dan haha hihi bareng sekarang satu per satu sudah berkeluarga. Bahkan ada yang sudah susah pulang ke Banyuwangi karena anak masih kecil. Sekali lagi, begitulah kehidupan.

Lebaran tahun ini tidak banyak yang kupanjatkan. Tuhan telah berbaik hati memberi kami sekeluarga banyak hal. Tuhan memberi lebih dari yang kami bayangkan. Selamat lebaran, teman-teman. Maafkan aku atas segala salah, entah itu ucapan maupun perbuatan, sudi kiranya dimaafkan.

Sabtu, 06 April 2024

MENGKHIANATI SKALA PRIORITAS

April 06, 2024 0 Comments
Ramadan sudah hari ke-26, lebaran sudah di depan mata, Inspektur Vijay malah memilih bawa pulang LED TV Second segede gaban yang entah buat apa. Ya pastinya buat nonton tv, tapi kenapa? Kenapa segede jendela rumah Belanda? Padahal di rumah sudah ada tv yang masih berfungsi dengan baik.

Bapak bilang tadi pas ke tempat sepupunya beliau melihat tulisan "dijual" di LED TV itu. Sungguh aku enggak habis pikir kenapa bapak memilih menghabiskan uang THR-nya untuk beli barang itu ketimbang dipakai buat beli yang lain yang lebih penting.

Maksudku adalah, mbok ya yang penting-penting aja dulu gitu loh. Bapakku tuh memang sejak dulu kayak terang-terangan mengkhianati skala prioritas yang sudah susah-susah diciptakan di dunia ini. Enggak ada itu yang namanya memprioritaskan kebutuhan. Apa aja yang bikin dia happy, pasti dibeli.

Dulu mungkin kami, anak-anaknya, enggak banyak komplain karena masih kecil. Tapi, pas sudah dewasa begini melihat bapak impulsif beli-beli barang gitu pasti kami sewotin. Kalau sudah begitu pasti bapak juga balik sewot. Jadilah kita sewot-sewotan.

Satu sifat bapak yang sulit aku pelajari dan entah kenapa enggak nurun ke aku adalah "santai aja, jangan terlalu dipikirin". Sikap ini sebetulnya membantu kita untuk menjalani hidup yang semakin banyak akrobatnya ini. Itu sebabnya aku cocok berkawan dengan Bibeh, karena Bibeh tuh mirip bapakku. Di dekat Bibeh, semua urusan cincay saja. Di dekat bapakku, hidup yang penuh akrobat ini jadi ringan saja.

Kondisi kami yang sekarang ini, tidak bisa dipungkiri, berdampak padaku. Setiap hari kayak dicekik, padahal ya sebetulnya enggak semenakutkan itu. Bisa jadi aku enggak pernah tahu apa yang ada di pikiran bapak, beban yang dipikul beliau tanpa kami semua tahu, dan aku akan selalu berdoa pada Tuhan semoga bapak sembuh atas luka-luka yang dia rasakan sendirian.

Senin, 18 Maret 2024

SEBUAH PANGGILAN

Maret 18, 2024 0 Comments

Akhir-akhir ini betul-betul menguras energi. Setelah satu panggilan masuk tempo hari (yang aku tidak ada pikiran negatif apapun sebelum bahkan setelah mengangkatnya) dengan durasi yang cukup panjang. Di awal obrolan aku tetap berpikir ini hanya panggilan biasa. Tapi, ketika suara perempuan di ujung sana cukup serius dan mulai menyebut satu nama, aku seperti disengat lebah.

Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana aku dimintai informasi. Hari dimana aku merasa gagal sekali lagi menjadi teman. Gagal mengingatkan sejak awal. Gagal menjaga segalanya tetap pada tempatnya.

Setengah jam menelpon, rasanya itu adalah setengah jam terlamaku. Aku mendengar suaranya bergetar. Aku mendengar suaranya menahan amarah. Sampai kemudian aku mendengarnya menangis.

Setelah semua ini, sebetulnya apa yang hendak Kau beri padanya? Apa yang hendak Kau berikan sehingga jalan yang harus ditempuh sungguh berliku?

Tuhanku, aku sama sekali tidak keberatan menjadi tempat berkeluh kesah teman-teman perempuanku. Tapi, mendengar mereka menangis, terluka, sedih, hal itu ternyata juga menguras energi. Aku bingung harus bagaimana, harus apa, selain hanya bisa diam mendengarkan.