Rabu, 25 Januari 2017

Dolan Plus-Plus

Januari 25, 2017 0 Comments
Hari Minggu kemarin, pagi-pagi sekali saya sudah keluar rumah untuk pergi ke Selatan.  Dalam rangka apa? Akan saya jelaskan dalam tulisan ini.

Pertama, silaturahmi. Sejak Ibu pulang pertengahan Januari lalu, kami memang belum bertemu. Ibu yang dimaksud dalam tulisan ini Ibunya Veni, gaes. Ibu sedang hamil besar, dan beliau akan stay in Banyuwangi for a long time. Setidaknya beliau nanti akan lahiran di Banyuwangi. Ibu pulang di saat kami disibukkan dengan jadwal seminar yang datang secara tiba-tiba. Berkali-kali Suryanto mengajak saya ke Genteng, namun apa daya, proposal mengalihkan dunia saya. Dan setelah saya selesai seminar, barulah kami berangkat ke Genteng. Hari Sabtu Veni menginap di Banyuwangi. Sabtu siang, saya dan Veni menyelesaikan segala urusan yang telah di rencanakan maupun urusan yang tidak di rencanakan. Menjelang maghrib kami baru bisa rebahan. Sesi rebahan tidak berlangsung lama, ba’da isya’ kami keluar lagi. Kami ngumpul bertiga. Ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon. Rasanya sudah lama kami tidak ngumpul bertiga seperti kemarin. Kami pulang setelah mematangkan rencana untuk besok, selain itu waktu juga menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. 


Sekitar pukul enam pagi, kami –saya dan Veni– bersiap untuk pergi. Suryanto berangkat terlebih dahulu, selain harus mengambil barang dagangan –tetep, otak dagang dimanapun berada– dia juga paham, dua sahabatnya ini susah untuk di ajak pergi pagi-pagi sekali. Saya dan Veni tiba di Dasri sekitar pukul setengah delapan. Tidak lama setelah itu Suryanto datang. Lega rasanya sudah bertemu Ibu dan Ibenk. Tidak banyak perubahan yang terjadi sejak terakhir kali saya bertemu mereka. Ibenk tetap ganteng, meskipun agak aneh melihat Ibu dengan perutnya yang semakin buncit. Gimana nggak aneh, wong dulu belio masih lincah main air sambil lari-larian di pantai, naik turun gumuk Teluk Ijo, nyetir di medan yang sungguh menguji kemampuan mengemudi kita. Lah, sekarang? Boro-boro, bangun dari duduk lesehan aja syusah. :D

Kedua, wisata religi. Seperti yang sudah di rencanakan, dari rumah Veni kami pergi ke Blokagung. Ini kesekian kalinya saya masuk area pesantren, namun untuk ponpes Blokagung, ini pertama kalinya bagi saya. Selalu ada atmosfer yang berbeda ketika memasuki kawasan pesantren. Apa, ya? Suasana yang susah didefinisikan. Benar adanya lagu yang familiar di telinga kita, “Suasana di kota santri, asyik senangkan hati.” Masuk ke kawasan dimana banyak santri berkeliaran memang memiliki sensasi berbeda. Hari itu hari Minggu, mereka tetap menjalankan aktivitas sekolah seperti biasa. Saya tidak tahu pukul berapa kami tiba di Blokagung, yang jelas waktu itu sepertinya bertepatan dengan jam istirahat para santri. Jadilah akhirnya saya mendapat pemandangan aktivitas mereka di sekitaran pondok. Mayan, cuci mata pagi-pagi, hahahaha.

Setelah sempat lupa jalan menuju makam dan bertanya sana-sini kepada para santri, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Area makam yang seperti bale itu adem, bikin betah. Saya hanya duduk di teras, waktu itu saya sedang halangan, jadi nggak ikut ngaji dengan mbak-mbak santri disana. Suryanto yang telah berubah dari kaos oblong dan celana jeans ke pakaian dinas (sarung, koko dan songkok) segera menuju dekat makam. Veni yang sudah wudhu juga langsung menuju dekat makam. Saya hanya bisa duduk di pinggiran sambil ngejagain sendal mereka. Hmmm, saya mah apa -___-

Veni selesai. Suryanto belum selesai. Saya dan Veni menuju kamar mandi perempuan. Veni membetulkan jilbabnya yang nggak betul (karena jilbab nggak betul adalah salah satu penyebab perempuan badmood, selain PMS, dicuekin dan lapar), dan saya buang air kecil. Masih di dalam kamar mandi, saya mendengar pengumuman yang disiarkan melalui pengeras suara. Pengumuman itu berisi tentang larangan bagi santri maupun santriwati untuk mengakses sosial media selama mereka mendapat kiriman, kurang lebih seperti itulah pengumuman yang saya dengar. Hingga saya keluar dari kamar mandi, pengumuman itu masih disiarkan. Saya dan Veni hanya tersenyum penuh arti mendengar pengumuman itu. Kemudian, disusul kembali dengan pengumuman selanjutnya. Saya lupa bagaimana detailnya, yang jelas pengumuman itu tentang santri yang ingin menemui santriwati harus melapor terlebih dahulu. Saya langsung mbatin, “Kesempatan dah tuh buat yang mau ketemu gebetan.”
 
Sebenarnya jika dipikir-pikir, toh pengurus pesantren juga tidak akan tahu jika santri/santriwatinya mengakses sosial media. Ya, kan? Iya, mungkin pengurus tidak tahu, tapi Allah tahu, Mey. Duh, ngeri. :D

Begitu, loh, hidup di pondok, yang kalau kata Suryanto adalah penjara suci. Banyak larangannya, banyak nggak bolehnya, banyak peraturannya, banyak ini-itunya. Tapi, ya tetep, pesantren masih banyak penggemarnya.

Setelah Suryanto selesai, kami pun pulang. Sekali lagi, saya mengamati keadaan di sekitar pesantren. Saya suka atmosfer ini, suka sekali. Andai dulu Bapak dan Ibu memasukkan saya ke pesantren, akan jadi seperti apa saya sekarang? Dan kira-kira pesantren mana yang jadi tempat saya belajar? Ah, tidak apa saya tidak mondok, yang penting anak saya kelak harus mondok. Ya, nak, ya?

Sayangnya, saya sama sekali tidak mengambil foto saat berada di area pesantren. Saya baru sadar ketika sudah keluar area. Kan lumayan untuk kenang-kenangan. Karena jaman sekarang no pict dibilang hoax. Tapi jaman sekarang pula pict itu sendiri sumber hoax. Eh, ini apa, sih, kok bahas-bahas hoax?

Ketiga, mbolang. Sebenarnya acara ketiga ini diluar kehendak saya. Lalu kehendak siapa? Sudah jelas, the one and only, sing ana tunggale, Suryanto Salsyaf. Keluar dari area pesantren kami berhenti. Suryanto mulai mengeluarkan kompor-kompornya, mulai dari kompor kayu, kompor minyak, kompor listrik, hingga kompor gas. Semua dia nyalakan. “Ayo nang ndi ngono, sek jam sakmene.” Waktu itu kira-kira jam sepuluh pagi. Saya seperti biasa, sudah ngomel-ngomel. Berhubung di Genteng jarang ada wisata alam, akhirnya Suryanto menelpon temannya yang entah siapa dan menanyakan lokasi air terjun yang juga entah apa namanya. Veni sibuk mencari tempat ganti (iya, jadi keluar dari area pesantren dia langsung mengganti rok-nya dengan celana, sepertinya dia sudah well-prepared, tahu kalau selesai dari Blokagung kita pasti akan dolan, wkwkwkwk warbiayasa), saya sibuk ngedumel di atas motor, Suryanto sibuk menginterogasi temannya. Akhirnya seperti biasa, setelah musyawarah yang tidak mufakat sama sekali kami berangkat. Kami menuju air terjun kepala naga. Sebenarnya banyak versi nama, ada yang bilang air terjun kepala naga, ada juga yang bilang air terjun tengkorak. Ini kok namanya nggak ada yang nyenengin semua, ya.

Saya tidak tahu kami menuju daerah mana. Yang jelas kami melewati rel kereta api. Yang jelas kami melewati jalan ke arah Umbul. Yang jelas kami melewati rumah Mbak Heni. Oh ya, kami juga sampai di daerah bernama Sepanjang. Setelah naik turun jalan, akhirnya kami nyasar. Yaah, meskipun akhirnya kami sampai tempat tujuan dengan selamat, namun drama dibalik kesasar-sasar itu sungguhlah luar biasa. Kami melewati berupa-rupa jenis medan. Berbatu, berpasir, berkerikil. Hingga akhirnya Veni sadar jika perjalanan kami ini sebenarnya mubeng. “Ngerti ngene kan mau lewat Umbul ae.” Ya keleus, Ndo. Namanya juga pertama kali, nggak ada persiapan, buta arah pula, jadinya ya meneketehe. Kami juga sempat mampir ke rumah Intan –teman SMA Veni– karena insiden tidak tahu jalan ini. Begitulah, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, kan? Nyambung-lah akhirnya tali silaturahmi Intan dan Veni. Dari Intan, kami mendapat versi nama lain lagi tentang air terjunnya, yakni air terjun Legomoro. Dan ternyata memang benar, setelah beberapa menit mengendarai motor kami tiba di depan banner besar bertuliskan Wisata Air Terjun Legomoro. Sekitar area air terjun lumayan rapi dan bersih. Banyak tenda-tenda pedagang berjejer dengan rapi. Masuk ke wisata ini tidak ada charge, alias gratis. Hanya saja disediakan kotak amal di pintu masuk sebagai pengganti biaya masuk. Kita bisa memberi seikhlas kita. Tentu kita sadar perawatan serta pengembangan tempat wisata agar tetap nyaman juga membutuhkan dana.

Setelah puas menikmati air tejun, melihat-lihat sekeliling, nyantai di semak-semak (sudah seperti shooting program ethnic runway -___-), dan tidak lupa dokumentasi, kami pun pulang. Karena Veni sudah sadar dari ketidaktahuannya, kami pulang melewati jalan yang lebih cepat. Tidak lagi melewati jalan awal kami berangkat.




Kami berhenti di salah satu masjid. Masjid yang letaknya di bulak sawah ini begitu tenang, sunyi, tentram, adem, menyenangkan, wis pokoknya bikin betah. Saya yang sedang tidak sholat hanya duduk-duduk di teras. Nyender di salah satu pilar ditemani semilir angin membuat saya ingin rebahan, tapi hanya sekedar ingin. Bisa-bisa nanti saya kesirep.



Well, itu lah kisah perjalanan plus-plus kami. Perjalanan jasmani iya, perjalanan rohani juga iya. Seperti orang bijak bilang, hidup harus seimbang. Hubungan vertikal dan horizontal harus harmonis.

Jumat, 20 Januari 2017

Pertemuan Singkat

Januari 20, 2017 0 Comments
Sejauh apapun kita berada, dia akan tetap dekat. Selama apapun kita tak bertemu, dia akan tetap menjadi dia, sahabat kita. Hari ini saya pergi ke perpustakaan daerah. Selain karena buku yang hendak saya cari, saya juga rindu tempat ini. Sampai di sana, saya bertemu Mbak Inung, Mbak Putri dan Mas Rama. Mereka wajah-wajah lama yang telah akrab dengan saya. Mbak Inung sempat mengucapkan selamat atas sempro yang telah saya lalui. Saya dan dia sama. Dulu, Mbak Inung adalah peserta sempro pertama.

Setelah basa-basi yang lumayan lama dengan para penghuni perpustakaan itu, saya masuk ke ruang baca. Dari dalam, ada seseorang yang melambai-lambai ke arah saya. Saya sempat tidak mengenali, karena lumayan jauh. Tapi, beberapa detik kemudian saya segera sa’i (lari-lari kecil maksudnya, wkwk) menghampiri perempuan itu.

Saya tidak menyangka jika dia kemari hari ini. Memang tempo hari dia bertanya apakah masuk ke perpustakaan harus memiliki kartu anggota terlebih dahulu? Saya jawab tidak. Lha, kok hari ini kami bertemu. Seperti biasa, saya selalu heboh. Kami berpelukan macam pelem India, cipika-cipiki, dan ceriwis ra wis wis.

Beginilah fenomena mahasiswa tingkat akhir, banting setir tempat nongkrong. Kami bercerita tentang masing-masing tugas akhir kami. Dia menumpahkan segala kekesalan akibat tiga kali ganti judul. Saya lalu ingat Melinda, yang sudah melakukan seminar tapi lantas harus ganti judul. Duh, nyut-nyutannya everywhere, gaes.

Pertemuan kami hanya singkat saja, namun manjur lah untuk mengobati rindu. Nampaknya, setelah ini dia akan lebih lama berada di Banyuwangi. Karena lokasi penelitiannya ada di Banyuwangi. Begitulah, sejauh apapun kita pergi, rumah selalu menjadi tempat ternyaman.

Akhirnya, setelah sesi pemotretan (baca: selfie) usai, saya terlebih dulu pulang. Oh ya, ternyata chemistry kami masih saja seperti yang dulu. Tak sengaja saya lihat kunci loker dia, disana tertulis angka 19. Sedangkan kunci loker saya nomor 18. Hahahaha, saya langsung ngikik-ngikik nggak jelas. Kami lupa, ini perpustakaan, bukan pasar. Kami tak bisa seenaknya saja tertawa terbahak-bahak.

Sekali lagi saya bilang, sejauh apapun kita berada, dia akan tetap dekat. Selama apapun kita tak bertemu, dia akan tetap menjadi dia, sahabat kita. Sahabat akan tetap jadi sahabat, sejarang apapun kita bertemu. Oke, Cut, selamat menempuh tugas akhir. Nikmati setiap sakit, lelah, pusing dengan hati yang gembira. Meskipun saya tahu hal tersebut tidak mudah dilakukan. Siapa yang akan tetap gembira saat dihadapkan pada tugas akhir yang sungguh menguras tenaga?

Ciee berurutan :D
Si pipi jembar :D

Biarlah

Januari 20, 2017 0 Comments
Memang benar, tidak ada yang abadi di dunia ini. Sebagaimana yang terjadi pada saya, mungkin juga pada orang lain di sekitar saya. Keinginan dan harapan dapat sewaktu-waktu berubah seperti perasaan manusia. Segala hal yang terjadi pada saya akhir-akhir ini, membuat saya berfikir dua kali dalam menentukan langkah. Segala perasaan sedih, marah, kecewa, takut, semua itu mempengaruhi pola pikir saya.

Dulu, saya berani merajut dengan indah mimpi-mimpi yang membuat saya tidak ingin bangun dari tidur. Mimpi-mimpi yang selalu saya dambakan untuk menjadi nyata. Mimpi-mimpi yang –dengan bodohnya– saya yakin akan terwujud. Semua itu hanya mimpi-mimpi yang saya bangun di saat saya belum siap untuk kehilangan. Hari ini saya sadar, saya tidak ingin lagi membangun mimpi-mimpi indah di atas ketidakjelasan hidup. Semua serba gamang, serba tidak pasti. Hari ini A, bisa jadi lusa berubah jadi B, C, bahkan D. Saya sadar, yang seharusnya saya lakukan hanyalah menjalani hidup yang Tuhan berikan hari ini. Besok biarlah jadi urusan untuk besok. Kemarin biarlah jadi pelajaran untuk hidup hari ini dan seterusnya.

Dulu, dengan agresif sekali saya memimpikan hidup bersama orang-orang yang saya kasihi –anak dan suami– di sebuah rumah sederhana. Menikah, menjadi istri serta ibu yang baik. Membuat bekal makan siang untuk anak-anak. Memasak masakan sehat untuk keluarga kecil saya. Membuat kebun toga di belakang rumah. Menanam beragam bunga di halaman depan rumah, dan menyirami mereka setiap sore. Lalu –masih dalam mimpi saya– saya akan mendengarkan murotal untuk bayi yang ada dalam kandungan saya. Membaca buku Andrea Hirata di perpustakaan kecil di sudut rumah. Olahraga atau jalan-jalan sore bersama suami dengan perut yang semakin membesar. Travelling bersama pasangan halal saya. Keluar melihat dunia yang selama ini tidak bisa saya lakukan. Pergi ke tempat-tempat baru. Pergi ke tempat-tempat yang jauh, tanpa perlu khawatir tanpa perlu takut tidak mendapat izin. Serta hal-hal menyenangkan dan menenangkan lainnya. Mendidik putra dan putri saya dengan bekal ilmu yang saya miliki. Melayani suami dengan segenap jiwa dan raga. Menjadi menantu yang disayang oleh mertua. Menjadi perempuan yang dapat diandalkan dalam situasi apa saja. Menjadi ibu yang dapat melihat putra dan putrinya tumbuh dewasa. Menjadi istri yang mendampingi suaminya hingga menua bersama.

Semua hal-hal manis itu selalu saya impikan bersama seseorang. Hingga saya lupa, apa yang sudah saya lakukan untuk keluarga? Apa yang sudah saya berikan untuk mereka? Saya tidak bisa menjadi egois lantas abai kepada mereka, keluarga saya. Semakin jauh, semakin dewasa, seiring berjalannya waktu, saya sadar. Saya memiliki Fahri yang masih sangat membutuhkan saya. Saya memiliki Ardi yang masih harus berjuang bersama saya untuk Bapak dan Ibu kita. Saya memiliki mereka yang masih harus saya bahagiakan. Tidak adil rasanya jika saya hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri saja.

Lantas saya berfikir, tak usah menikah saja! Toh, hukum menikah tidak wajib. Toh, saya tidak akan berdosa jika tidak menikah. Toh, tidak menikah juga bukan suatu kejahatan. Saya akan dedikasikan seluruh hidup saya untuk membahagiakan keluarga. Saya akan sekolahkan Fahri hingga ia masuk ke perguruan tinggi. Saya akan membawa Fahri, Ardi, Bapak dan Ibu pergi melihat tempat-tempat baru. Ya, kami sekeluarga akan pergi seperti dulu. Saya akan mengajak mereka semua nonton film di bioskop. Makan di tempat favorit kami, warung lesehan. Saya akan mengajak mereka semua melakukan hobi yang selama ini mati suri, memancing. Kami juga akan pergi ke rumah saudara-saudara kami.

Ya. Bukankah semua itu juga sesuatu yang membahagiakan? Menyenangkan?

Saya sudah terlalu lelah dengan segala sakit hati ini. Saya tidak bisa percaya siapapun. Saya tidak bisa percaya pada setiap orang yang datang dengan membawa janji-janji. Saya tidak bisa benar-benar memberikan hati saya yang pernah terluka. Saya tidak bisa benar-benar memberi kesempatan pada mereka. Sialnya lagi, saya tidak bisa menemukan obat untuk hati saya yang terluka. Keadaan ini membuat saya marah, membuat saya tidak terima, dan akhirnya kecewa. Sejatuh apa sebenarnya? Mengapa segalanya terasa sulit bagi saya?

Saya tidak bisa memikirkan seseorang lagi selain dia. Sudah selama ini, namun dia masih saja ada. Picik rasanya ketika saya harus berfikir “Jika tidak dengan dia, tak usah menikah saja!” Apa hebatnya dia? Lagi, saya sadar. Urusan hati merupakan urusan pelik yang tak dapat kita mengerti. Urusan hati merupakan urusan rumit yang tak dapat kita selesaikan dengan rumus-rumus fisika. Perasaan tak dapat dipaksakan. Ia tak akan bisa menuju pada orang yang bukan kehendaknya.

Selanjutnya, saya tidak akan memaksa takdir untuk berubah. Apa yang telah terjadi, biarlah. Saya tidak akan memaksa hati untuk berpindah, biarlah. Saya hanya melapangkan hati atas segala hal yang telah terjadi, agar rasa sesak itu terkikis sedikit demi sedikit. Karena saya tahu, ketika saya bersikeras untuk lupa, hal itu hanya sia-sia belaka. Maka, saya tak akan pernah bisa melupakan. Semau apapun, tak akan pernah bisa.

Banyuwangi, 19 Januari 2017 (23.19 WIB)

Kamis, 19 Januari 2017

Sudahlah, Kak

Januari 19, 2017 0 Comments
Kemarin sebelum ke kampus, saya dan Erni mampir ke SR 21. Disana saya bertemu Kakak Lia, yang pas ketemu, saya selalu berik-berik nggak jelas. Nggak tahu, ketemu siapa saja saya selalu girap-girap begitu, turunan siapa ndane?

Sebelum bicara sepatah, dua patah kata, dia ujug-ujug menodongku dengan pertanyaan. Bahkan sebelum saya sempat duduk di kursi tunggu. “Kak, aku wingi moco blog-mu. HTI iku opo se?” Setelah dia bicara seperti itu di tambah ekspresi wajahnya yang innocent tapi ngeselin, kami berdua ngakak di dalam ruangan yang hanya berisi beberapa orang tersebut.

Namanya juga secret reader, nggak ada yang suruh baca ya dibaca. Saya jawab, “HTI itu Hizbut Tahrir Indonesia, Kak.” Dah, saya hanya jawab sebatas itu saja. Lha kok tiba-tiba dia bilang, “Aku koyok e tertarik melok HTI, Kak.” Saya tidak tahan untuk tidak mendelik dan tentunya ngakak (lagi).

Saya tahu mungkin dia hanya bercanda, atau mungkin juga dia benar-benar serius dengan ucapannya. Karena jaman sekarang susah untuk bedain mana yang serius mana yang nggak serius. *opo to iki?
Saya jadi membayangkan bagaimana jadinya jika Lia benar-benar jadi kader HTI. MasyaAllah, sudah tentu tidak akan saya temui lagi Lia yang gila seperti hari ini. Nanti, pasti saya akan menemui Lia dengan keadaan lain. Lia yang bergamis, bercadar, berkaos kaki, berubah tutur katanya, anggun langkahnya, santun perilakunya, pokoknya Lia yang lain, lah.

Sudah, Kak. Janganlah kamu memikirkan hal-hal seperti itu dulu. Lebih baik kau urus dulu urusan skripsi dan urusan perasaan yang masih jungkir balik nggak keruan. Nanti, ada saatnya kita duduk bersama, cerita ini itu sambil ngopi. Ya? Huwehehehe …
Lagi pula, saya sanksi, bisa-bisa HTI nggak omes punya kader kaya kamu, Kak. -___-

Selasa, 17 Januari 2017

Nano-Nano Sempro

Januari 17, 2017 0 Comments
Akhirnya 16 Januari telah terlewati. Hari dimana 3M melakukan seminar proposal sekaligus sebagai penampil pertama. Iya, 3M. Mey, Melinda, Mahendra, gitu maksudnya.

Kami mendapat kesempatan untuk menjadi cermin bagi kawan-kawan seperjuangan yang lain. Sedangkan kami sendiri tidak memiliki cermin untuk bercermin. Apa yang terjadi pada 3M semalam merupakan cermin untuk yang lain agar mereka dapat memberikan penampilan yang lebih baik lagi.

Seminar yang dihadiri oleh dosen pembimbing utama dan anggota semalam berjalan lancar, meskipun sedikit tegang. Tentu tegang, wong kami adalah penyaji pertama, ditambah dospem kami adalah Pak Purdi dan Bu Leni. Mukaddimah yang disampaiakn Pak Purdi dan Bu Leni menjadi palu yang menghantam-hantam saya semalam. Kalimat-kalimat yang dilontarkan membuat saya kehilangan konsentrasi. Bisa dibilang, semalam itu adalah presentasi saya yang paling buruk selama kuliah.

Dari jam 4 saya tiba di kampus, mengatur ruangan, menata kue, cek materi, saya biasa saja. Beda dengan Melinda, dia sudah sibuk menyiapkan pertanyaan, wajah muram durja, dan sesore itu sudah nggak nyambung saya ajak bicara, padahal seminar masih dua jam lagi. Kondisi fisik dan mental saya juga baik-baik saja hingga saya duduk di depan bersama 2M yang lain. Saya juga masih baik-baik saja saat mengucap salam dan menyapa kawan-kawan yang hadir. Barulah saat pemaparan, saya merasa ada yang salah. Apa yang saya sampaikan tidak seperti yang saya harapkan. Ditambah lagi, ditengah jalan saya ditegur oleh salah satu dosen. Kacau sudah materi yang ada di kepala saya. Mereka menguap pergi.

Dari sana mental saya sudah dangdutan, jungkir balik tidak keruan. Akhirnya waktu saya terbuang sia-sia. Saya kehabisan 10 menit yang berharga itu. Saya duduk kembali dengan khidmat.

Anehnya, perasaan percaya diri itu timbul lagi setelah saya duduk. Karena pemaparan saya yang tidak sampai selesai itu, tentu menjadi kesempatan berharga bagi audience untuk menghajar saya habis-habisan. Nanti saat sesi tanya jawab mereka bisa menanyakan hal-hal yang belum saya sampaikan. Seperti metode penelitian, metode pengumpulan data, teori yang saya gunakan, populasi dan sampelnya kenapa itu, definisi operasionalnya bagimana, dan hal-hal lain yang menyangkut proposal saya.

Namun, hal tersebut tidak terjadi, gaes. Tidak ada yang bertanya pada saya tentang hal-hal tersebut. Hanya Pak Haryono, itu pun setelah saya beri saran untuk bertanya melalui WA. Duh, begini amat yak nasib Hayati.

Ada dua orang yang bertanya pada saya, tapi ya gitu, pertanyaan mereka bukan seputar proposal saya. Hanya hal-hal yang berkaitan dengan fenomena di proposal saya. Sesi tanya jawab ini merupakan ajang pembuktian diri yang semaksimal mungkin saya gunakan. Intinya, merupakan pembalasan dendam atas pemaparan yang tidak sampai selesai tadi.

Dua sesi tanya jawab itu berlangsung panjang dan lama. Saya hanya mendapat tiga pertanyaan dari total 8 penanya. Lima sisanya merupakan jatah Melinda dan Mahendra. Sesi tanya jawab selesai, seminar selesai, barulah evaluasi. Sesi evaluasi ini menjadikan kami –3M– seperti duduk di kursi pesakitan. Kami di adili sedemikian rupa, di patahkan segala semangat, di peras seluruh perasaan, di jatuhkan hasil jerih payah kami, revisi sana-sini.

Evaluasi yang diberikan dosen pembimbing tidak hanya untuk kami yang duduk di depan ini, melainkan juga seluruh mahasiswa yang hari itu duduk di ruangan B13. Selama evaluasi berlangsung saya hanya merasakan perut saya melilit, jantung saya yang ritme detaknya semakin cepat, pikiran saya kemana-mana, konsentrasi terbagi, saya juga sebenarnya tidak terlalu yakin dengan apa yang saya catat semalam. Nasib saya jadi sepeti Ikal, di adili dosen dalam keadaan perut kosong. Kemudian saya ingat, saya hanya sempat berbuka dengan air putih saja. Hampir setengah sembilan akhirnya selesai seluruh rangkaian acara seminar. Saya keluar ruangan dengan perasaan lega.

Dari rumah, saya membuka bekal yang saya bawa tadi dan menghabiskannya hingga tandas. Ibu Bapak saya marah, “Buko kok jam 9!” Biarlah, biarlah mereka nesu seperti itu, perasaan saya sedang bahagia hari ini.

Saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh kawan yang telah hadir dalam sempro semalam. Terimakasih untuk para sahabat yang telah membantu kami. Terimakasih Dhaniswara team atas semangat dan dukungan. Terimakasih kepada Bapak dan Ibu dospem yang begitu perhatian sehingga tiap lembar proposal saya tidak luput dari tinta merah, hiks.

Tidak henti saya ucapkan terimakasih pada Bapak Slamet dan Ibu Isro’iyah yang telah mendukung dengan cara-cara yang agak beda dari yang lain. Pokoknya terimakasih banyak. Untuk adik-adikku, terimakasih sudah menjadi adik yang baik dan pengertian dengan tidak meminjam laptop di saat-saat skripsi seperti ini. Peluk cium untuk kalian semuaaaaaaa.

Sebelum SemPro
Thanks to Dhaniswara Team

Kamis, 12 Januari 2017

Terimakasih, Wasi'a

Januari 12, 2017 0 Comments
Saya masih dalam proses beradaptasi dengan iklim semester akhir. Beberapa hari ini saya harus bolak-balik kampus untuk bimbingan proposal skripsi. Di satu kesempatan, saat saya menikmati me-time saya, saya tersenyum. Ternyata seperti ini rasanya, lelahnya, perjuangannya.

Hari ini saya kembali ke kampus menemui Dosen Pembimbing, bersama dua rekan seperjuangan saya lainnya. Melinda dan Mahendra. Selasa lalu saya sudah bimbingan. Pak Purdi memberi revisi pada beberapa bab. Sudah tentu dan pasti, bab dua. Bab ini memang sungguh luar biasa. Butuh kesabaran tingkat makrifat untuk menghadapinya.

Sekitar setengah jam, Pak Purdi memberikan wejangan, nasihat, masukan, kritik, saran, semuanya. Saya bersyukur mendapat DosPem sebaik beliau, duduk di sebelah beliau seperti duduk di sebelah alm. Kakung. Keriput di tangannya, gurat lelah di wajahnya, semua seperti Kakung. Nah, kan, saya jadi rindu Kakung.

Kami bertiga selesai bimbingan menjelang Maghrib. Mau tidak mau memang harus selesai, karena Pak Purdi harus pulang ke Jember. Selepas Pak Purdi keluar dari perpustakaan beberapa teman bergabung bersama kami dan berbicara mengenai persiapan sempro.

Saya masih fokus ke laptop hingga tidak terasa mereka pamitan pulang. “Muleh ambi sopo, Me?”
“Di susul, Ce.” Saya jawab.

Akhirnya mereka meninggalkan saya di perpustakaan. Saya bergabung dengan Kakak Lia dan Farin yang berada di sebelah barat perpustakaan. Ya daripada saya sendirian di depan laptop kaya orang jomblo? Kan mending gabung sama mereka. Dipikir-pikir, saya kok jadi lebih banyak punya teman di Ekonomi daripada di fakultas saya sendiri.

Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit, empat puluh menit, berpuluh-puluh menit pun berlalu. Tiba-tiba kaca pembatas antara ruang baca dan ruang administrasi sudah di ketuk. Kak Lia nyahut, “Iyo, sek ta.” Saya nggak sadar, saya kira Lia sedang bicara dengan temannya. Lalu, beberapa detik kemudian baru lah saya ngeh. Ternyata yang ngetuk kaca tadi mas-mas perpus. Sudah waktunya tutup. Saya ngakak dalam hati. gimana bisa saya jadi lemot begini?

Akhirnya setelah beberes, saya keluar perpustakaan. Sudah hampir sepi, hanya satu dua kendaraan yang tersisa. Saya segera sms Ibu untuk minta di jemput. Sedari tadi saya WA Ardi centang soalnya. Beberapa menit setelah mengirim sms, saya melangkah ke depan gerbang. Saya berpapasan dengan Bu Wiwik, TU fakultas pertanian. Kami pun menunggu jemputan berdua. Malam itu saya dan Bu Wiwik banyak bercerita. Terutama Bu Wiwik. Beliau cerita tentang anak-anaknya. Beberapa menit berlalu, Bu Wiwik mendapat telepon dari fakultas dan harus kembali masuk ke kampus.

Saya sendirian. Duduk di depan kampus malam-malam. Di pinggir jalan raya pula. Tidak lama setelah Bu Wiwik masuk kampus, suami beliau datang. Saya tahu itu suami Bu Wiwik, tapi suami Bu Wiwik tidak tahu jika gadis yang duduk sendirian malam itu adalah saya. -__-

Saya terus cek ponsel. Saya terus melihat belokan di sebelah kampus, barangkali muncul Ardi. Tapi nyatanya dia tidak muncul-muncul. Ardi bukan tipe orang yang akan membiarkan saya menunggu selama ini, sebenarnya. Dia sama seperti Bapak, lebih baik dia yang menunggu daripada saya yang harus menunggu. Lantas saya ingat, saya belum mengisikan pulsa di nomor Ibu saya.

Segera saya telepon. Jawaban Ibu saya membuat saya harus ambekan jeru. “Ardi keluar yo, Abah e belum dateng. Piye terus? Coba adik e telponen.” Saya kepingin nangis, tapi kok ya malu. Bu Wiwik sudah keluar dari kampus, beliau pamitan ke saya. Bu Wiwik pergi.

Krik…krik…krik… lha terus saya ngapain disini? Saya harus nunggu mereka pulang sampai jam berapa? Sejam? Dua jam? Tiga jam? Masa saya pulang jalan kaki?

Saat sedang galau, gundah, dan gulana seperti itu, seorang gadis beralmamater menghampiri tempat saya duduk. Dia pasti juga menunggu jemputan. Saya mempersilahkan dia untuk duduk di tempat Bu Wiwik duduk tadi. Dia tersenyum lantas duduk di sebelah saya. Saya merasa jadi orang terjutek dan tercuek di dunia. Saya hanya fokus pada ponsel dan terus-terusan menelpon Ardi. “Maaf nomor yang anda tuju sedang berada d luar jangkauan.” Duh, leeee, kowe nang Pluto ta kok di luar jangkauan iki -____-

Akhirnya saya pasrah, saya biarkan saja ponsel saya. Saya mulai mengajak perempuan sebelah saya itu ngobrol.

A = “Habis ujian susulan, Mbak?”
X = “Iya, Mbak.”
Lalu kami diam.
X = “Eh, enggak Mbak, habis ujian sertifikasi.”
Saya tertawa, dia juga.
X = “Mbak nunggu jemputan juga?”
A = “Iya.” (Nunggu kepastian, Mbak. Kepastian siapa yang akan jemput saya.)

Tidak lama setelah kami ngobrol, seorang Bapak –yang saya yakin adalah orangtua gadis itu– datang. Gadis itu berdiri dan membetulkan sepatunya. Si Bapak sempat menyapa saya dan menanyakan rumah saya dimana. Mungkin beliau tahu jika saya tidak ada yang menjemput. Akhirnya di tawari lah saya tumpangan. Saya langsung menerima tawaran tanpa pikir panjang.

Sepanjang jalan barulah saya dan gadis yang ternyata bernama Wasi’a itu cerita panjang lebar. Kami juga bertukar kontak. Rumah Wasi’a di Rogojampi, saya lupa tepatnya Rogojampi mana. Turun dari motor saya mengucapkan terimakasih kepada Wasi’a dan Ayahnya. Ayah Wasi’a bilang “Sak koncoan yo kudu gedigu, nduk.”

Dari awal Bapak menawarkan saya tumpangan, saya sudah ngembung iluh. Dan nasihat sederhana tadi membuat saya semakin berkaca-kaca. Kami berpisah di depan gang.

Wasi’a dan Ayahnya adalah potret bagaimana seharusnya manusia berperilaku. Dunia ini butuh lebih banyak orang-orang seperti Wasi’a dan Ayahnya. Orang-orang yang peduli terhadap sekitarnya, orang-orang yang menyejukkan dengan perilakunya, orang-orang sederhana dengan kebiasaan baiknya. Saya dan keluarga saya belajar lagi hari ini, belajar dari guru kehidupan, guru kami malam ini adalah Wasi’a dan Ayahnya.

Terimakasih, Wasi’a. Terimakasih, Bapak.

Senin, 02 Januari 2017

Belajar Dari Pinokio

Januari 02, 2017 0 Comments
Setelah membagikan tautan blog saya mengenai acara HTI di facebook, saya kebanjiran komentar. Beberapa orang yang saya kenal memberikan reaksinya kepada saya, baik langsung lewat kolom komentar maupun lewat inbox.
 
Jujur saja tulisan tentang HTI itu adalah tulisan yang menurut saya paling benar (maksudnya nggak ada baper-baperan, curhat nan alay, melodrama) dibanding tulisan saya sebelum-sebelumnya. Jadi setelah melalui proses editing yang lumayan lama, saya mantap untuk membagikannya ke facebook. Karena ada banyak tulisan yang saya posting di blog namun tidak saya share ke facebook. Jika saya boleh menebak, asal mula munculnya beragam komentar itu adalah karena judul yang saya berikan. Karena waktu itu saya memberi judul yang propaganda sekali, “Terimakasih, HTI”.

Nah, bagi orang yang gemar komentar sebelum membaca tentu pemikiran mereka sudah kemana-mana. Jangan-jangan saya sudah menjadi aktivis HTI, begitu kira-kira. Padahal, ucapan terimakasih disini memiliki banyak tafsir. Bisa terimakasih secara harfiah –berdasarkan arti leksikal– ataupun terimakasih secara kiasan.

Sebelumnya saya tidak pernah mengikuti kelas menulis, mengikuti pelatihan menulis, atau mengikuti seminar-seminar kepenulisan. Menulis yang saya maksud disini adalah menulis sebuah tulisan (artikel, esai, opini)  dengan gaya bahasa yang efektif, analisis yang kuat, fakta yang tepat, data yang akurat, sesuai kaidah kepenulisan, juga sesuai EYD. Bukan tulisan-tulisan guyonan, curhatan lebay seperti tulisan saya selama ini. Meskipun dewasa ini banyak situs yang menyediakan tulisan dengan gaya kepenulisan yang enjoy, ringan, bahkan ngakak-able, namun tetap berbobot. Situs apakah salah satunya? Mojok.co jawabannya. Sebagai pembaca setia Mojok –yang sudah dua kali mengirim artikel tapi tetap tak ada jawaban– saya sangat terinspirasi oleh tulisan para kontributor tetapnya. Gaya menulis mereka memang jempolan. Selalu menyisipkan kalimat pisuhan menjadi ciri utama tulisan mereka.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar saya sudah suka menulis. Menulis karangan, menulis cerita sehari-hari a.k.a diary. Dulu happening sekali menulis diary. Hampir seluruh teman perempuan di kelas memiliki diary. Hingga saat saya ulang tahun –waktu itu saya kelas 3 sd– seorang kawan memberi saya kado sebuah buku diary berwarna hijau muda. Saya rasa sejak saat itu lah warna hijau menjadi warna favorit saya. Buku diary itu sangat indah, gaes. Saya tidak pernah menggunakannya selama bertahun-tahun hingga saya masuk SMP, karena eman. Baru ketika SMP saya mulai mengisi diary hijau muda itu.

Kegiatan menulis juga khatam saya rasakan ketika sekolah dasar. Waktu itu ketika ujian Bahasa Indonesia selalu ada soal tambahan untuk membuat karangan dengan pilihan tema yang telah disediakan. Jika teman-teman saya paling mentok (bukan bebek lho, ya ...) menulis setengah lembar folio, saya bisa satu lembar penuh bolak-balik. Tidak hanya saat sekolah, saat ngaji dulu pun saya selalu menjadi buruh nulis puji-pujian. Menulis dalam arti yang sebenarnya. Menggunakan buku/kertas dan pensil/bolpoin. Kegiatan tulis menulis itu vakum ketika saya mulai memiliki laptop. Berpindah dari kertas dan pensil, saya mulai mengetik. Ternyata ada begitu banyak (sekali lagi, bukan bebek lho, ya...) kerugian ketika kita mulai meninggalkan aktivitas menulis yang sesungguhnya. Maka, saya sangat berterimakasih ketika semester 4/5 lalu dipertemukan dengan Bapak Agus Budihardjo. Beliau membuat kami kembali ‘menulis’. Kami dapat tugas resume –tulis tangan– setiap seminggu sekali. Bahkan tugas akhir kami adalah membuat makalah dengan ditulis tangan. Tugas-tugas tersebut menjadikan jemari saya kembali lincah. Karena selama kuliah kegiatan tulis menulis yang paling banyak di lakukan hanya ketika UTS/UAS.

Bicara mengenai menulis, pada dasarnya semua orang bisa menulis. Hanya jenis dan tingkatannya saja yang membedakan. Saya merupakan tipe orang yang suka menulis blog dengan tidak berdasarkan judul. Jadi, isinya dulu yang saya tulis, setelah selesai baru saya memikirkan judul apa yang akan saya gunakan. Pun sama dengan tulisan HTI itu. Saya menulis dulu segala uneg-uneg di dalam hati, saya tuangkan apa yang saya pikirkan, setelah selesai baru saya memikirkan judul apa yang pantas. Akhirnya, muncul ide untuk memberikan judul ‘Terimakasih, HTI’.

Karena judul itu akhirnya banyak reaksi yang timbul. Angka viewers untuk tulisan itu pun lumayan tinggi. Selama saya bergumul dengan blog, tulisan saya yang paling banyak pembacanya yakni “Mereka Hari Ini”. Sebuah tulisan yang saya dedikasikan untuk ketiga sahabat lama saya. Ada sekitar 95 viewers.

Sebenarnya, teknik pemberian judul merupakan salah satu elemen penting yang harus kita kuasai agar tulisan kita menarik banyak minat pembaca. Teknik pemberian judul yang anti mainstream merupakan salah satu trik agar situs atau blog kita mendapat jumlah kunjungan yang terus meningkat. Namun jangan seperti kebanyakan tulisan yang memberikan judul tapi sama sekali tidak sesuai dengan isi. Itu namanya bo .... hong.

Saya belajar hal-hal seperti ini justru bukan dari kelas menulis, gaes. Saya belajar dari Drama Korea. Banyak orang yang menganggap remeh perempuan yang suka nonton drakor. Padahal, mereka tidak tahu, ada banyak tipe perempuan penyuka Drama Korea. Ada yang sekedar penikmat, ada yang pengamat, ada yang penikmat sekaligus pengamat, ada juga yang suka menganalisis. Saya termasuk semuanya. Penikmat iya, pengamat nggak terlalu, menganalisis kadang-kadang, pencatat quotes selalu. Tidak semua Drama Korea hanya menampilkan kisah-kisah roman picisan.

Salah satu Drama Korea yang saya rekomendasikan untuk ditonton adalah ‘Pinochio’. Drama dengan 20 episode ini mengisahkan tentang seorang gadis yang memiliki sindrom pinokio (setiap dia bohong dia akan cegukan) yang bermimpi menjadi reporter. Tentu mimpi gadis ini sulit sekali jadi kenyataan. Tidak ada seorang pinokio di dunia ini yang menjadi reporter. Bagaimana dia akan membawakan berita apabila dia tidak bisa berbohong?

Drama ini mengulik kenakalan-kenakalan dalam dunia televisi (khususnya stasiun berita). Segala upaya dilakukan oleh seorang reporter demi mendapat berita yang eksklusif, meskipun mengabaikan fakta. Mereka tidak tahu berita yang mereka sampaikan akan berdampak sangat besar terhadap seseorang. Ada hidup seseorang yang hancur hanya karena berita yang tidak benar. Nah, hal demikian lah yang menjadi magnet dalam drama ini. Mata kita jadi terbuka. Tidak semua media bekerja dengan jujur. Tidak semua reporter/wartawan memedulikan fakta. Ketika fakta menjadi tidak penting hanya karena mengejar rating. Apakah semua media seperti itu? Tentu tidak. Apakah semua reporter/wartawan seperti itu? Tentu juga tidak.

Salah satu pelajaran yang saya ambil dari drama ini ada di episode 10. Ada adegan ketika salah satu wartawan senior (Sung Cha Ok) memberikan seminar tentang menulis berita kepada wartawan junior. Dia menyampaikan topik seminar “Fakta dan Dampaknya”. Seorang wartawan pernah bertanya pada Sung Cha Ok tipe pria yang ia suka, lalu Cha Ok menjawab “Saya menyukai pria yang tinggi.” Keesokan harinya, wartawan tersebut menulis berita dengan judul “Wartawan Sung Cha Ok menyukai pria yang tinggi”. Ini adalah laporan yang berdasarkan fakta. Sangat tidak menarik, bukan? Kata Cha Ok. Lalu Sung Cha Ok memberikan opsi kedua atas judul laporan tersebut, yakni “Wartawan Sung Cha Ok membenci pria yang pendek”. Jika kalian melihat kedua laporan ini, mana yang lebih menarik? Serempak peserta menjawab “Yang kedua”. Kok mereka mau sih jadi yang kedua.

Begitulah kebanyakan pola berpikir seseorang. Orang lebih tertarik mendengar hal negatif daripada positif. Saya belajar bagaimana cara memilih judul pada Sung Cha Ok. Namun bukan sebagai wartawan atau reporter, juga bukan sebagai penulis berita.

Ilmu seperti ini bermanfaat sekali bagi orang yang hobi nulis macam saya. Dari sana, saya juga terus memperbaiki kualitas tulisan. Mulai dari yang mudah saja, being formal. Ayah Prie G.S pernah bilang bahwa menjadi formal merupakan suatu keharusan. Bukan untuk menjadi seorang formalis, melainkan agar kita luwes di sembarang tempat, sembarang keadaan

Jadi, para jamaah blog ismafawwaz yang baik hatinya, don’t underestimate the power of drama, ya? Kita tidak pernah tahu bahwa sebuah drama/film justru akan lebih mudah memberikan pemahaman kepada kita.

Minggu, 01 Januari 2017

Tahun Baru 2017

Januari 01, 2017 0 Comments
Meskipun telah memasuki hari ketiga di tahun 2017, saya juga tak ingin melewatkan rapalan doa dan harapan untuk tahun yang baru ini. Waktu bergulir sesuai porosnya. Dari waktu ke waktu apa yang menjadi keinginan manusia berbeda-beda.

Saya misalnya. Apa yang menjadi keinginan saya sebenarnya sama saja tiap tahun. Semakin baik, bermanfaat bagi sesama, semakin bahagia, serta hal-hal positif lainnya. Hanya saja di tahun ini saya menyelipkan doa agar segala urusan studi saya lancar dan berakhir bahagia di bulan Juli atau Desember nanti.

Ya, apalagi jika bukan wisuda. Momen perayaan kelulusan bagi seluruh mahasiswa angkatan 2013 yang sangat ditunggu. Hari ini saya tengah disibukkan dengan penyusunan proposal yang lumayan yaaaaah gitu lah. Saya hanya bisa berdoa agar segalanya dapat berjalan lancar. Meskipun harus melalui proses yang melelahkan, melalui masa yang sulit, menempuh jalan yang penuh bebatuan, terseok-seok, tertatih-tatih, dan ter-ter yang lain, semoga terbalas dengan indah. Semuanya.

Ada yang berbeda dengan tahun baru saya kali ini. Malam tahun baru ada Donat di sebelah saya. Kami menginap di Jurang-Jero, di rumah Mak e. Sepanjang malam tahun baru itu kami melalui beragam peristiwa. Dimulai dari menjenguk sahabat kami yang sedang sakit. Suryanto sakit. Baru kali ini dia sakit seserius ini. Radang tenggorokan. Teguran dari Tuhan, dia sering mengonsumsi softdrink, kopi instan, serta minuman rasa-rasa lainnya. Akhirnya beginilah hadiah tahun baru yang harus dia terima. Lemah tak berdaya. Tiada lagi hal paling memilukan selain sakit di malam tahun baru yang juga bertepatan dengan malam minggu, ya kan?

Keluar dari rumah Suryanto, saya dan Donat menuju rumah Milla. Kami memberikan donasi jilbab yang seharusnya sudah tersalurkan beberapa hari yang lalu. Dari rumah Milla barulah kami ke Blambangan. Saya tidak terlalu tahu siapa itu Kiai Muzakki. Yang saya tahu dari Milla beliau adalah Kiai dari Jember. Saya dan Donat akhirnya duduk diam di salah satu sudut Taman Blambangan. Sambil mendengarkan sholawat yang dilantunkan, juga sambil bercerita segala hal yang saya ingin ceritakan. Malam itu, saya bercerita banyak. Donat diam dan menyimak sebuah curhatan di akhir tahun 2016 itu dengan khusyuk.

Kami tidak mengikuti acara renungan hingga selesai. Pukul sepuluh kurang lima belas menit kami pulang. Dari rumah tidak banyak hal yang kami lakukan. Menyambung sesi curhat yang terputus tadi, nonton drama, hingga tidak terasa suara kembang api terdengar. Tiba-tiba Donat mengucapkan “Selamat tahun baru, ndo.” Kami tertawa. Baru kali ini kami melewatkan pergantian tahun bersama, di dalam kamar dengan ditemani Drama Korea. What the fun. :D

Hahaha. Selamat tahun baru, Nat. Selamat tahun baru, gaes. Semoga segala doa dan harapan di tahun yang baru ini diijabah oleh Allah. Sudah, segini saja tulisan awal tahun. Moga kita bertemu di tahun baru yang akan datang, ya.

Sumber : Google