Sabtu, 06 Agustus 2016

Mereka Hari Ini

Agustus 06, 2016 2 Comments
Dari kiri ke kanan: Inda, Ima, Saya, Intan

Kami di didik dalam satu sekolah yang sama, SMKN 1 Banyuwangi. Mereka adalah salah tiga teman-teman terbaik yang saya miliki. Benar adanya bahwa semakin dewasa teman-teman kita akan semakin berkurang. Semacam yang saya alami saat ini. Teman-teman yang tersisa dan sering menghabiskan waktu bersama paling hanya satu dua.

Seperti foto di atas. Dulu, kami berempat satu komplotan saat sekolah. Bukan, kami bukan komplotan macam Genji dan dulur-dulurnya itu. Perempuan-perempuan manis seperti kami nggak berbakat jadi bromocorah :D

Sudah lah, langsung saja ke inti tulisan.

Sejak lulus dari SMK, kami mulai jarang bertemu. Di tambah lagi saat kedua temanku melanjutkan kuliahnya ke Jember. Ima di Universitas Jember dan Intan di STIE Mandala, Jember. Aku dan Inda tetap berada di Banyuwangi. Kami pun telah terbiasa bertemu setahun sekali. Kalau nggak libur UAS, ya libur lebaran.

Nah, hari ini saya akan bercerita tentang kisah mereka bertiga, kawan-kawan yang sekarang sedang berjuang di jalan mereka masing-masing.
 
Inda Rizkya Putri. Hari ini dia menjadi perempuan pendidik generasi bangsa. Mengabdi menjadi guru di SDN Singolatren (SD 1 apa SD 2, mbel?). Saya yakin dia banyak mendapat pelajaran hidup dari anak-anak didiknya. Belajar tentang kesabaran, kesederhanaan, keikhlasan, pelajaran-pelajaran hidup semacam itu pasti sudah tamat ia rasakan.
Inda memang perempuan yang sudah aktif sejak dulu kala. Saya senang ada perempuan semacam ini. Aktif, gesit, cekatan dan yang paling penting positif. Karena modal cantik doang mah buat apa? Banci Tahiland juga cantik, lebih malah.

Nur Halimah. Perempuan sebelah kiri saya. Perempuan Kabat ini sekarang belajar di Universitas Jember. Peraih beasiswa Banyuwangi Cerdas ini dulu sejenis dengan saya. Sama-sama polos dan lucu, eh, lugu. Kami nggak pernah pacaran, di deketin cowok pun nggak pernah.
Di Unej Ima aktif pada sebuah organisasi kepenulisan ilmiah. Di organisasi itu pula status sendirinya gugur. Dia dapat pacar -___-

Terakhir Intan. Dalam tulisan ini dia mendapat porsi yang lebih banyak daripada yang lain. Karena memang dia tokoh utama tulisan saya hari ini.

Intan Kurniasari. Perempuan sebelah saya, kanan sendiri, putri dari pasangan Pak Darto dan Bu Is ini memang the one and only. Perempuan yang dulunya tomboy kelas kakap, hari ini mulai bermetamorfosis menjadi kupu-kupu nan cantik. And you know gaes, today she’s studying abroad. Thailand. Alhamdulillah di Thailand, kalau saja Turki, saya bisa mencak-mencak nggak karuan wkwkwk.

Intan dan Fiya (yang juga teman sekolah kami di SMK) merupakan dua dari beberapa anak yang berhasil mendapat beasiswa Joint Degree. Joint Degree sendiri merupakan kegiatan kerjasama antara perguruan tinggi di dalam negeri dengan perguruan tinggi di luar negeri, untuk melaksanakan program studi secara bersama serta saling mengakui lulusannya.

Luar biasa gadis Karangente ini. Pagi tadi aku sempat bbm-an, dia sambat makanan di Thailand aneh-aneh. Dia mual, katanya semuanya seperti berbau Babi. Mblo, mblo, namanya juga negara orang, bukan negara sendiri. Thailand pula. Saya hanya bisa ngakak dan membalas chatnya “Yo hang sabar, ndane sing ono halalan thoyyiban food?” | “Ono halalan tapi mung siji, hang dodol wong Malaysia, dadi kadung tuku ‘nak mane? yang ni, nak ni, macem ni’, :D”

Saya ngakak sejadi-jadinya saat dia membalas seperti itu. Saya jadi membayangkan yang berjualan itu adalah Mail. Iyaaa, Mailnya Upin-Ipin hahahaha.

Mbel, sehat-sehat terus di Thailand. Saya, temanmu ini hanya bisa mendoakan. Tetap rendah hati dan tetap jadi diri sendiri. Tetap jadi Intan Kurniasari yang saya kenal. Belajar yang tekun, jangan lupa cuci mata, fardhu ‘ain kuwi, mbel. Masa sudah nyampe Thailand terus isinya kuliah mulu, bosen ah :D

Saya, Inda dan Ima bangga. Setidaknya di antara kita berempat ada yang pernah ke luar negeri, wkwkwk. Saya juga yakin Bapak dan Ibu dirumah bangga luar biasa. Bu Is bisa pamer ke para tetangga kalau anaknya sekarang sedang kuliah di luar negeri. Bagi orang tua, terutama Ibu, hal seperti itu adalah prestise tersendiri. Saya juga yakin Langgeng dan Risma bangga memiliki kakak seperti kamu. Kamu adalah motivasi mereka agar bisa belajar hingga ke luar negeri juga. Dimas mah masih kecil, belum ngerti embaknya pergi kemana hehehe. Saya teringat Pak Kris. Kalau saja beliau masih ada, beliau pasti juga bangga.

Jangan lupa untuk take your time. Coba untuk berdiam diri di tempat yang benar-benar hening. Putar kembali perjuanganmu selepas dari sekolah dasar. Masa-masa mendaftar jenjang SMP, hingga akhirnya lulus dari SMP. Jatuh bangun apa saja yang sudah kamu lalui. Bagaimana sulitnya merangkak dari setiap jatuh yang telah terlewati. Putar kembali perjuanganmu semasa SMK. Rutinitas setiap pagi menunggu angkutan. Kamu, Ima dan saya memang tidak seberuntung anak-anak lain dengan fasilitas mewah dari orang tuanya, tapi kita tidak ambil pusing.

Putar kembali perjuangan mencari beasiswa agar kamu bisa kuliah. Hingga akhirnya kamu belajar di kampus yang hari ini membawamu ke Thailand. Lihat mbel, semua perjuangan itu berbuah manis. Semanis diriku, eh, kamu maksudku.

Pokoknya jangan lupa muhasabah, evaluasi diri. Oh ya, semoga kerudungnya bisa istiqomah. Masih buka tutup nggak apa-apa, perlahan, keep on going. Yang namanya berproses itu kadang dipuja kadang dihina.

Rabu, 03 Agustus 2016

Tidak Pacaran: Hak Segala Bangsa

Agustus 03, 2016 0 Comments
Memang ya, untuk menjadi beda itu harus tahan sama nyinyiran, godaan dan cobaan. Maka berbahagialah kamu sekalian yang sukses menjadi beda dengan sukses pula nahan cobaan.

Bahasan kali ini tidak jauh-jauh dari yang namanya pacaran. Ya semoga gaes sekalian tidak bosan. Saya hanya merasa perlu ada yang diluruskan dari spekulasi-spekulasi yang ada di luar sana tentang kenapa ada orang yang tidak mau pacaran. Secara, saya juga adalah salah satu pelaku “orang yang tidak mau pacaran”.

Pertama-tama saya harus jelaskan dulu kenapa saya jadi seperti ini. Padahal, dulu ku tak begini *halah.

Oke, yang pertama baca Qur’an dan maknanya, saya nggak pacaran tuh bukan karena ayat “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32). Kagak! Karena saya sadar, saya bukan ukhti-ukhti jilbab lebar yang alim. Saya masih oke-oke aja di bonceng ama ikhwan, salaman ama ikhwan | Btw, ikhwan iki sopo?

Kedua, saya nggak pacaran juga bukan karena dilarang oleh orang tua. Dulu, saya nggak banyak bergaul sama laki-laki karena takut sama Bapak. Lha sekarang udah gede, Bapak malah nanya pacar saya siapa. Jadi, Alhamdulillah Bapak saya bukan orang kolot jaman dulu yang ngelarang anak perawannya untuk main sama siapa saja. Bapak saya orangnya tegas, beliau hanya menunggu waktu yang tepat di mana anak gadisnya sudah mumayyiz. Bisa membedakan mana yang baik, mana yang tidak baik. Jadi, sekali lagi saya tegaskan, orang tua bukan alasan saya untuk tidak minat pada hubungan yang namanya pacaran.

Ketiga, saya nggak pacaran karena memang pacaran bukan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Iya kan? Pacaran memang bukan suatu hal yang harus dipenuhi, kan? Memang nanti pas interview kerja, HRD-nya bakal nanya mantan kita berapa? Ya kali. Nanti, di akhirat, malaikat Munkar Nakir juga tidak akan bertanya siapa saja mantan kita. Jadi ya bukan masalah besar kalau kita tidak pacaran. Sama hal-nya dengan kuliah, bukan masalah besar juga kalau saya tidak kuliah. Karena kuliah memang bukan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Terus, kenapa saya masih kuliah? Ya biar dapat gelar sarjana sosial. Gelarnya jelas, S.Sos. Kalau pacaran, saya nanti dapat gelar apa?

Keempat, lha memangnya pacaran itu menyempurnakan separuh agama saya? Endak, to? Yang menyempurnakan separuh agama kita itu menikah. Gini deh, mending sendiri dulu tapi tau-tau nikah, kabar bahagia, kan? Daripada yang bertahun-tahun pacaran, di nikahin juga belum tentu, masa iya mau selamanya hidup dalam bayang-bayang pertanyaan “kapan nikah?”. Itu yang cemen laki-lakinya, atau perempuannya yang terlalu naif?

Healah, Mey Mey, ngomong wae ra enek sing mbribik.

Sini dah, ngeMilo bareng saya. Terus saya ceritain kalo kemarin tuh, baruuuu aja kemarin, ada orang yang ngajakin saya nikah. Saya ceritain juga siapa-siapa aja yang udah nyatain perasaannya ke saya. Jelas saya tolak, karena tujuan saya dalam waktu dekat ini bukan menikah, tapi wisuda. Kenapa nggak wisuda setelah menikah? Kan enak nanti foto wisudanya bareng suami. | Wis to, ojo di penggok-penggokno.

Saya mah orangnya santai bae. Pacaran silahkan, nggak pacaran juga silahkan. Saya hanya kasihan sama orang yang sukanya ngasih label “sok alim” ke orang yang nggak mau pacaran. Ya elah, kurang piknik, lu?

Saya juga nggak bilang kalau pacaran itu haram, kok. Saya MdI (Meydiana Isfandari), bukan MUI. Saya nggak pacaran karena memang saya sudah terbiasa seperti ini dari dulu. Nggak kelabakan juga kalau nggak punya pacar. Kalau malam minggu juga nggak kebingungan keluar sama siapa. Jadi nggak perlu heran lagi kalau ada orang yang betah sendirian. Masing-masing orang memiliki alasan atas setaip keputusan yang telah mereka ambil. Jadi jangan di gepuk roto.

Oleh sebab itu, wahai pembaca ismafawwaz yang budiman. Janganlah kita menjadi muslim dan muslimah yang menyebalkan, yang suka nyinyirin sodara seiman, bukankah hal seperti itu sungguh perbuatan yang merugikan?

Eh, satu lagi alasan kenapa saya nggak pacaran. Kata Pak Imam, saya nggak cocok dijadikan pacar. Cocoknya dijadikan isteri. Huayoloooh … wkwkwk …