Senin, 17 Februari 2020

Perantara Bahagia

Februari 17, 2020 0 Comments
Hari ini saya kembali menyadari betapa bahagia dan sedih manusia itu berbeda-beda. Perantaranya juga bisa dari apa, dari mana, atau dari siapa saja.

Saya ingin cerita tentang sedih dan bahagianya ibu saya. Kesedihan ibu saya ini teramat sederhana dan ora ndakik-ndakik, gaes. Pun dengan kebahagiannya. Tapi saya sering terlewat apa-apa saja yang membuat beliau sedih.

Hari ini jadwal siaran saya kosong. Dua jadwal siaran saya, Citizen Voice dan Musikisme semuanya digantikan oleh Nandi dan Robby, karena beberapa waktu lalu saya menggantikan jadwal mereka. Saya bangun siang hari ini setelah beberapa hari sebelumnya jadwal begitu rapat. Setelah mandi dan main sebentar dengan Araa, saya nyetrika baju. Setrikaan saya benar-benar numpuk kaya hutang negara :’(

Saat sedang menyetrika, Mak Yem (tetangga timur rumah) datang ke rumah mencari ibu. Selang beberapa menit kemudian mereka berdua keluar rumah. Saya yang sedang sibuk nyetrika nggak begitu ngeh dengan apa yang ibu dan Mak Yem lakukan. Sampai akhirnya ibu kembali lagi ke rumah.

Saya tetap dengan aktivitas saya nyetrika sampai kemudian bapak yang ada di depan rumah lagi otak-atik mio-nya, manggil ibu. Bapak bilang ke ibu kalau sudah selesai. Saya masih juga belum ngeh apanya yang sudah selesai. Saya dengar ibu buru-buru mematikan kompor dan segera keluar rumah lagi.

Saya tidak memerhatikan aktivitas ibu karena memang posisi saya nyetrika itu membelakangi orang-orang. Setelah selesai dengan keriweuhannya, ibu mendekati saya dan bilang, “Alhamdulillah, kak, iso digawe sampek lebaran.”
“Apanya?”
“Panci lontrik sing biasa dipake masak lontong. Ibuk e wingi sampek nangis gara-gara panci bocor pas masak.”

Saya yang memang belum pernah tahu ibu nangis perkara lontong jadi penasaran.

“Lebaran kapan itu ibuk e nangis?”
“Tahun kemarin iki. Wes masak lontong setengah jalan kok banyune netes-netes, ternyata panci bocor.”

Ini penampakan pancinya.

Ibu bercerita bagaimana kemudian beliau mengeluarkan lagi lontong-lontong itu dan menambal panci andalannya tersebut dengan enjet (kapur yang biasanya dibuat orang tua nyirih) dan lain sebagainya. Saya mendengarkan ibu cerita sambil tetap menggosok baju dan sambil nelangsa.

Ternyata momen-momen ibu sedih seperti itu saya melewatkannya. Dan hari ini, melalui tukang patri, ibu saya teramat bahagia. Sesederhana itu. Bisa saya tebak raut wajah ibu yang siap memasak lontong untuk hidangan hari raya. Bisa saya lihat raut wajah ibu yang siap memasak lontong untuk sanak saudara yang memang selalu titip dibuatkan oleh ibu.

Begitu banyak yang bisa saya syukuri dalam kehidupan saya. Punya orang tua yang keduanya masih sehat wal afiat. Punya ibu yang selalu mendukung setiap aktivitas saya. Kesedihan orang tua saya bukan karena saya tidak bekerja kantoran dengan gaji besar, bukan karena saya tidak jago masak, bukan karena saya belum menikah atau lain sebagainya.

Sekarang saya mengerti kenapa saya tidak ikut panik ketika teman-teman perempuan saya satu per satu melepas masa lajang. Saya ada di sirkel keluarga inti yang sehat. Ya, keluarga inti saya betul-betul nggak banyak bacot. Keluarga inti saya tidak buru-buru meminta saya cepat menikah. Saya tidak bilang kalau keluarga inti saya keluarga yang open minded, ya. Karena pada beberapa kasus bapak saya itu konservatif banget. Berbeda dengan ibu saya, yang meski hanya lulusan MI dan tumbuh besar dengan gempuran kehidupan, tapi point of view beliau jauh lebih baik.

Dan satu hal lain yang saya sadari adalah, menjadi ibu rumah tangga harus siap dengan kesedihan-kesedihan perihal tetek bengek dapur yang kayaknya sekarang ini masih belum kepikiran sama kita. Panci andalan bocor, ternyata bisa sesedih itu.

Jadi, apa perantara bahagia kalian hari ini, gaes?