Assalamu'alaikum :)
Yuk, daripada berlama-lama, kita langsung ke TKP *nah loh :D
Di sebuah toko roti berjajar berpuluh-puluh roti. Bentuknya beraneka macam, dan isinya pun beragam. Ada roti selai, roti daging, roti sosis, roti nanas dan masih banyak lagi. Melihat penampilannya saja, air liur kita bisa menetes.
Di salah satu sudut lemari kaca, tempat roti dipajang, terdengarlah obrolan
"Hai, Bolu, kapan kamu akan laku?" tanya Pie Apel yang berenda-renda tubuhnya, dengan nada menyindir. Bolu yang gendut dengan tubuh belang coklat hanya tersenyum.
"Kue murahan sepertimu, paling-paling hanya dibeli orang biasa." sindir Pie Apel. Bolu mengernyitkan dahinya. "Apa ada orang yang luar biasa?" godanya kemudian. Pie Apel terbelalak. "Ah, bodohnya kau ini. Tentu saja ada! Sstt... mereka itu orang-orang kaya dan berduit. Mereka sudah bosan dengan penampilan dan rasamu. Kalau aku...," Pie Apel mengangkat dagunya, "penampilanku pasti sesuai bagi mereka yang bercita rasa tinggi."
Bolu akan menyahut, namun dibatalkan. Dua orang Ibu masuk ke dalam toko. Yang satu bertubuh subur dan sederhana. Satunya lagi cantik, langsing dan kelihatan kaya. Ibu yang gemuk membeli Bolu dan Ibu yang langsing membeli Pie Apel. Ketika pembayaran di kasir, Pie Apel mencibir.
"Benar kan? Apa kataku tadi?"
Bolu diam saja. Ia telah berada di dalam kantung plastik. Bolu bertanya-tanya, akan dinikmati oleh siapa dirinya nanti. Tubuhnya bergoyang-goyang dalam kantung plastik.
Bolu tiba di sebuah rumah sederhana. Ia disambut oleh tiga anak kecil yang manis-manis. Mereka memperebutkan dirinya. Ah, mengapa Ibu itu hanya membeli sebuah roti?
"Tenang, jangan berebut begitu. Uang Ibu hanya cukup untuk membeli sepotong roti. Kita bagi sama-sama ya." Ibu itu menasihati ketiga anaknya. Lantas, beliau membagi Bolu menjadi tiga bagian sama besar. Masing-masing anak mendapat bagian. Bolu tersenyum bahagia. Ia senang karena anak-anak itu menyukainya. Dalam hati Bolu berkata, mudah-mudahan Ibu ini diberi banyak rezeki, agar bisa membelikan roti Bolu lagi untuk anak-anaknya.
Lain halnya dengan Pie Apel. Ia tidak dimasukkan dalam kantung plastik. Tapi dalam kardus kecil yang bagus. Kata si Penjual, agar tubuhnya tidak rusak tergesek plastik. Pie Apel girang bukan main. Ia membayangkan akan dinikmati oleh keluarga kaya.
Pie Apel dibawa Ibu langsing itu naik mobil mewah. Mereka tiba di sebuah rumah dengan pagar setinggi dua meter. Pie Apel diletakkan di atas meja makan berbahan kayu jati. Sampai sore, tak ada seorang pun yang menyentuhnya. Sampai akhirnya, seorang anak gadis dengan rambut di kuncir datang dan mengambilnya. Gadis itu menggigit sambil berjalan ke halaman.
"Uh, bosan! Aku bosan makan roti seperti ini terus." keluh gadis kecil. Ia melemparkan Pie Apel ke dalam keranjang sampah begitu saja.
Pie Apel terkejut. Ya Tuhan, belum pernah ia di perlakukan seperti ini sebelumnya. Pie Apel sedih. Ia pasrah ketika pembantu dirumah itu membuangnya ke tempat sampah, di pinggir jalan. Sebentar lagi dia akan diangkut oleh truk sampah.
Pie Apel masih memikirkan nasibnya yang malang. Tiba-tiba seorang pengemis datang, dan mengais-ngais tempat sampah itu. Pengemis menemukan dirinya. Setelah tubuhnya dibersihkan dari kotoran, pengemis itu membungkusnya dengan kertas koran. Pie Apel menutup hidungnya. Uh, bau pengemis ini lebih busuk dari bau tempat sampah tadi.
Pie Apel menurut saja dibawa pengemis itu ke suatu tempat. Ketika sampai, Pie Apel terkejut. Anak-anak kecil duduk berderet-deret di lorong pasar yang sempit, gelap dan bau. Tempat itu rupanya dijadikan tempat singgah para pengemis jika hari telah gelap.
Pie Apel diberikan kepada seorang anak kurus yang kumal. Dengan sigap anak itu melahapnya. Pie Apel tertegun. Kasihan... Dia begitu rakus menikmati dirinya. Pie Apel menjadi sadar. Buat apa dia menyombongkan dirinya di hadapan Bolu. Apalah arti dirinya jika tidak bisa membuat orang lain menyukainya.
Oleh : BE. Priyanti
Sumber : Majalah MENTARI Edisi 638 Juni 2012
Oleh : BE. Priyanti
Sumber : Majalah MENTARI Edisi 638 Juni 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar