Minggu, 15 Maret 2015

Like Father Like Son

Rasanya baru kemarin aku melihatnya tidak mau sekolah.
Melihatnya menangis dengan kencang karena dicubiti Abah.
Rasanya baru kemarin aku mendengar kegaduhan pagi yang disebabkan olehnya.
Karena dia yang membohongi Abah dan Ibu.
Berbohong demi tidak mau masuk sekolah.

Dia yang pagi itu harus berkelahi dahulu dengan Abah.
Yang harus mendapat pukulan dulu dari Abah.
Dia yang pagi itu seharusnya senang karena hari pertama masuk sekolah dasar.
Namun pagi itu aku justru disuguhi sajian menyesakkan.
Aku tidak tega melihatnya menangis hingga seperti itu.
Walaupun ya dia memang sangat nakal.

Entah setan darimana yang membuatnya sangat tidak ingin masuk sekolah.
Dia tidak berijazah TK.
Dua kali Abah dan Ibu mencoba mendaftarkannya.
Hasilnya nol besar.
Bukan dia yang duduk manis di kelas, tapi justru Ibu.
Saat teman-temannya belum datang memang dia duduk diam dikursinya.
Tapi saat satu per satu temannya berdatangan dia justru keluar kelas dan bermain sendiri.

Begitu banyak aksi nakal yang dia lakukan dulu.
Mulai dari melempar anak-anak ayam piaraan Abah ke sungai, yang membuat Ibu harus berlarian ke sungai bawah untuk mencegat anak-anak tak berdosa itu, walaupun akhirnya mereka ditemukan sudah tak bernyawa.
Hingga menghancurkan beberapa tahu dagangan guru ngaji kami (kebetulan waktu itu kami bertetangga) yang entah berapa jumlahnya. Hingga Abah harus membeli separuh dari seluruhnya.
Dia juga pernah beberapa kali menghajarku dibagian kepala hingga aku mimisan.

Dia juga yang jika tak dituruti kemauannya akan menangis.
Mending kalau hanya nangis.
Lha ini sambil joget membenturkan kepala sendiri ke tembok atau lantai.
Siapa yang tidak takut melihat kelakuan seperti ini?
Dia juga bukan pemain debus, kan?
Kalau tiba-tiba darah segar mengalir dari kepalanya kan ya ndak lucu.

Abah dan Ibu sampai berkali-kali konsultasi pada Ustadz di beberapa daerah di Banyuwangi.
Mulai dari diberi air yang entah sudah diberi doa apa.
Hingga merubah namanya yang katanya terlalu berat.
Aku lantas teringat saat dia lahir bertepatan dengan reformasi Indonesia.
Itu mengapa Abah memberinya nama Refangga Ardiansyah.
Ah, masa iya nama Refangga terlalu berat?

Perubahan nama tidak juga menghasilkan apapun.
Abah dan Ibu menyerah.
Mereka pasrah saja apa yang ingin dia lakukan.

Hingga suatu saat secara tiba-tiba dia dengan semangatnya berangkat ngaji bersamaku yang waktu itu hanya melongo melihat sikapnya.
Kesambet setan kebon mana nih anak? Pikirku.
Aku tentu senang. Karena dia memang sudah duduk diam di musholla waktu itu.
Dan Bu Sri bilang "Wah ada murid baru"
Dia hanya nyengir memperlihatkan gigi-gigi putihnya.

Kita tidak akan pernah tahu rasanya jika belum pernah mencoba.
Dia hanya tidak ingin mencoba bagamana rasanya sekolah.
Ibu yang selama ini aku lihat tidak pernah marah menghadapinya, sampai harus memukul dan menyeretnya untuk berangkat sekolah.
Banyak hal yang sudah Ibu janjikan jika dia mau sekolah.

Akhirnya dia bersekolah. Walaupun waktu itu Ibu harus ikut duduk disebelahnya didalam kelas.
Aku tak habis pikir sebenarnya. Apa yang dia takutkan?
Setelah kejadian hari pertama sekolah lagi-lagi kami dibuat melongo olehnya.
Dia menyukai sekolahnya. Sangaaaat menyukai.
Hingga saat dia sakit pun dia masih tetap ingin sekolah dan berdalih akan membawa obat ke sekolah agar dia diperbolehkan masuk oleh Ibu.
Dan Ibu, hanya terharu mendengar itu.
Entah, kali ini dia kesambet di kebon yang mana.

Dia yang hari ini sudah duduk di kelas 1 SMK.
Dia yang hari ini sudah lebih tinggi daripada aku.
Dia yang hari ini sudah selalu memboncengku. Padahal dulu aku yang selalu menjadi sopirnya.
Setiap aku mengingat masa lalu rasanya tak percaya bahwa dia yang dulu tak mau sekolah itu kini sudah kelas sepuluh.
Dia sudah besar. Wajahnya sangat India. Dan hidung yang mancungnya melebihi aku :D

Aku selalu was-was terhadap pergaulannya di sekolah.
Kemarin saat sedang hebohnya pertandingan futsal yang melibatkan sekolahnya, dia selalu keluar untuk menonton.
Aku, Abah dan Ibu hanya menasihatinya agar tak pulang terlalu malam dan menghindari aksi-aksi anarki yang biasa terjadi antar supporter.
Dia tidak pernah keluar malam. Paling hanya saat kerja kelompok dan nonton futsal itu.
Kecemasanku bertambah saat sekolahnya masuk final, apalagi melawan rival abadi.
Waktu itu dia pulang larut sekali. Aku baru tertidur ketika dia pulang.
Aku tahu sekolahnya kalah, aku melihatnya dari cara dia membuka pintu dan mengucap salam.

Apa yang aku khawatirkan terjadi. Dia ikut-ikutan anarkis.
Aku membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan terkait kejadian pengerusakan sekolah rivalnya.
Esoknya aku melempar sebuah koran yang memuat berita tawuran itu ke meja didepan Abah.
Abah membacanya dan aku mulai maracau mengutuki tindakan mereka.
Akhirnya dia diinterogasi oleh Abah.
Sayangnya, aku malah mendapat percakapan dua orang Bapak dan anak yang iyuh sekali.
"Gak popo nang, iku jenenge kekompakan."
Oalah Bah Bah, kok malah begini jadinya.

Tapi aku bersyukur. Dia bukan tipe anak yang suka keluyuran tidak jelas.
Dia menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang memang sangat dia sukai.
Memancing.
Dia selalu memancing bersama teman-temannya saat weekend ataupun saat libur UTS seperti tempo hari. Dia bisa berlama-lama ada di pesisir yang membuatnya semakin hitam legam.
Ini sudah pasti tidak lepas dari andil Abah yang dulu selalu mengajak aku dan dia memancing di berbagai tempat. Mulai dari tambak di Karangrejo, Pantai Boom, Cacalan, Meneng, entah dimana lagi yang aku lupa nama tempatnya.
Ya, dulu Abah sering sekali mengajak kami berempat memancing. Tentunya sebelum ada Fahri :D
Sekarang mungkin Abah trenyuh melihat anak laki-lakinya sudah memancing sendiri dengan teman-temannya tanpa dirinya.
Cemburu dengan teman-teman dia juga bisa jadi :D

Ya, like father like son.
Hobi dia sama seperti Abah.
Ini membuatku berpikir jangan-jangan Abah dulu senakal dia? :D

Abah Ardi :)

1 komentar: