Jumat, 17 April 2015

I'm Sorry

Aku tidak ingin ada pada situasi seperti ini. Aku mau kita baik-baik saja. Aku tidak ingin ada sesuatu. Aku mau semuanya hanya seperti ini.
Lihatlah, kau bahkan terlalu pengecut untuk mengatakannya. Kau buat seolah-olah ada orang lain yang menyimpan persaan terhadapku.
Padahal aku tahu bahwa kau sendirilah orangnya.
Ya, kau.

Kau tahu, bahkan aku sudah menganggapmu sebagai seorang saudara. Sebagai seorang sahabat. Kenapa hal seperti ini harus terjadi? Kenapa?

Aku selalu menahan diri untuk tidak berprasangka buruk. Aku selalu menarik diri dari perasaan-perasaan mengganjal ini. Tapi, sinyal yang kau berikan terlampau jelas. Sehingga aku tak bisa lagi membedakan.

Kenapa harus seperti ini?

Kau tahu sendiri.
Aku sudah menjadi kaku sekali setelah kejadian terdahulu. Aku bahkan tidak dapat melupakannya. Aku benci mengetahui sebuah fakta bahwa aku masih sangat membutuhkannya.
Cinta? Mungkin saja.

Kau tahu sendiri, kan?
Tembokku kian meninggi setelah kejadian tersebut. Aku yakin kau tidak akan sanggup melompatinya.
Aku bahkan sudah menceritakan padamu  perihal perasaanku padanya.

Bukan tidak mungkin suatu hari nanti, tapi tidak sekarang.
Whoever you are, I'm so sorry.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar