Aku sering membayangkan diriku berubah seperti
mereka.
Mereka yang tertutup rapat dengan gamisnya.
Mereka yang terlihat anggun dengan jilbab besarnya.
Mereka yang terlihat santun dengan lakunya.
Aku berjilbab sudah hampir lima tahun.
Lima tahun yang masih jauh dari sempurna.
Aku mengingat bagaimana perubahan-perubahan yang
terjadi.
Mulai dari awal SMK hingga hari ini.
Tak banyak peningkatan yang terjadi.
Aku masih tidak mengerti bagimana seharusnya aku
bersikap.
Aku masih tidak tahu bagaimana seharusnya aku
berpakaian.
Dulu, yang aku tahu hanya sekedar memakai jilbab.
Seiring berjalannya waktu semua perlahan berubah.
Aku melihat sekelilingku.
Aku pernah dibuat terkejut dengan hadirnya seorang
wanita berpakaian serba hitam masuk ke kantor tempat magangku dulu.
Bukan hanya serba hitam, tapi aku bahkan sama sekali
tidak dapat melihat sedikitpun kulitnya.
Semuanya tertutup. From toe to the top.
Aku hanya dapat melihat sedikit kedua matanya yang
tertutup cadar, itupun tidak jelas.
Aku masih asing dengan pemandangan seperti ini.
Aku masih sering kaget.
Wajar saja, karena aku tinggal di Indonesia bukan di
Arab sana.
Hal ini mengingatkanku pada ceramah seorang guru
agama di sekolah, Pak Dzaki.
Pak Dzaki pernah bilang bahwa cadar itu sebenarnya
adalah tradisi Suku Badui di Arab.
Suku Badui menggunakan cadar untuk melindungi mata
mereka dari badai pasir.
Jadi sebenarnya cadar itu hanya bagian dari tradisi.
Akan menjadi aneh jika orang memakai cadar di
Indonesia.
Karena di Indonesia kan nggak ada badai pasir?
Yang ada Badai Kerispatih #halah
Dan pula, yang tidak termasuk aurat wanita itu kan
wajah dan telapak tangan.
Jadi sebenarnya tidak perlu bercadar.
Yaa, tapi kembali lagi pada individu.
Aku tetap menghormati mereka yang bercadar.
Itu mengingatkanku pada Aisyah.
Dan kalau aku mengingat Aisyah, sudah pasti
selanjutnya akan ingat Fahri alias Bang Fe *wkwkwkwkwk ….
Kemarin aku bertemu dengan dosen ketje.
Panggil saja beliau Bu Yusmia *hahaha
Setelah adegan salim
dan cipika cipiki selesai tiba-tiba
beliau bilang dengan lantangnya *yaa bisa dibilang berisik lah -___-
“Kamu kapan syar’inya sih Mey, celonoaaaan ae.”
Deg …
Hmm, rasane
nano-nano.
Mungkin Bu Mia sudah terlalu lelah mengamati aku
*mungkin lhoo yaa, mungkin :D
Mungkin Bu Mia menunggu kapan aku datang ke kampus
dengan ber-gamis-ria *sekali lagi mungkin.
Tapi Buk, one
thing that you should know is …
You are the one
of my favorite person.
You are nice,
you are beautiful, you are smart, you are crazy sometimes *ups :D
And you are a
good mom, a good wife, a good lecturer, a good friend *hmm semoga beliau nggak baca tulisan ini.
Njenengan itu selalu membuat saya kagum karena cara berpakaian
yang adem tenan dipandang.
Jadi Buk, aku mau banget bisa seperti Bu Mia.
Aku sudah lama move on dari celana jeansku.
Tapi jujur, aku belum bisa move on dari celana kain
ini.
Aku sudah mulai nyicil
mengumpulkan jilbab-jilbab besar.
Mengumpulkan gamis.
Karena apa?
Karena aku juga ingin berhijrah.
Tapi pasti akan aneh kalau ada perempuan wes anggun nganggo gamis terus ngakak sak
bantere -__-
Aku paling ndak
bisa disuruh ngguyu alon.
Besok, kalau aku sudah menikah akan berhijrah.
Tiba-tiba sebuah suara bergumam …
“Emang situ yakin umurnya sampai di tahap itu?”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar