Kamis, 08 Oktober 2015

Kapan Hijrah, Mey?

Aku sering membayangkan diriku berubah seperti mereka.
Mereka yang tertutup rapat dengan gamisnya.
Mereka yang terlihat anggun dengan jilbab besarnya.
Mereka yang terlihat santun dengan lakunya.

Aku berjilbab sudah hampir lima tahun.
Lima tahun yang masih jauh dari sempurna.
Aku mengingat bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi.
Mulai dari awal SMK hingga hari ini.

Tak banyak peningkatan yang terjadi.
Aku masih tidak mengerti bagimana seharusnya aku bersikap.
Aku masih tidak tahu bagaimana seharusnya aku berpakaian.
Dulu, yang aku tahu hanya sekedar memakai jilbab.

Seiring berjalannya waktu semua perlahan berubah.
Aku melihat sekelilingku.

Aku pernah dibuat terkejut dengan hadirnya seorang wanita berpakaian serba hitam masuk ke kantor tempat magangku dulu.
Bukan hanya serba hitam, tapi aku bahkan sama sekali tidak dapat melihat sedikitpun kulitnya.
Semuanya tertutup. From toe to the top.
Aku hanya dapat melihat sedikit kedua matanya yang tertutup cadar, itupun tidak jelas.
Aku masih asing dengan pemandangan seperti ini.
Aku masih sering kaget.
Wajar saja, karena aku tinggal di Indonesia bukan di Arab sana.

Hal ini mengingatkanku pada ceramah seorang guru agama di sekolah, Pak Dzaki.
Pak Dzaki pernah bilang bahwa cadar itu sebenarnya adalah tradisi Suku Badui di Arab.
Suku Badui menggunakan cadar untuk melindungi mata mereka dari badai pasir.
Jadi sebenarnya cadar itu hanya bagian dari tradisi.
Akan menjadi aneh jika orang memakai cadar di Indonesia.
Karena di Indonesia kan nggak ada badai pasir?
Yang ada Badai Kerispatih #halah
Dan pula, yang tidak termasuk aurat wanita itu kan wajah dan telapak tangan.
Jadi sebenarnya tidak perlu bercadar.
Yaa, tapi kembali lagi pada individu.
Aku tetap menghormati mereka yang bercadar.
Itu mengingatkanku pada Aisyah.
Dan kalau aku mengingat Aisyah, sudah pasti selanjutnya akan ingat Fahri alias Bang Fe *wkwkwkwkwk ….

Kemarin aku bertemu dengan dosen ketje.
Panggil saja beliau Bu Yusmia *hahaha
Setelah adegan salim dan cipika cipiki selesai tiba-tiba beliau bilang dengan lantangnya *yaa bisa dibilang berisik lah -___-
“Kamu kapan syar’inya sih Mey, celonoaaaan ae.”

Deg …

Hmm, rasane nano-nano.
Mungkin Bu Mia sudah terlalu lelah mengamati aku *mungkin lhoo yaa, mungkin :D
Mungkin Bu Mia menunggu kapan aku datang ke kampus dengan ber-gamis-ria *sekali lagi mungkin.
Tapi Buk, one thing that you should know is …
You are the one of my favorite person.
You are nice, you are beautiful, you are smart, you are crazy sometimes *ups :D
And you are a good mom, a good wife, a good lecturer, a good friend *hmm semoga beliau nggak baca tulisan ini.
Njenengan itu selalu membuat saya kagum karena cara berpakaian yang adem tenan dipandang.
Jadi Buk, aku mau banget bisa seperti Bu Mia.

Aku sudah lama move on dari celana jeansku.
Tapi jujur, aku belum bisa move on dari celana kain ini.
Aku sudah mulai nyicil mengumpulkan jilbab-jilbab besar.
Mengumpulkan gamis.
Karena apa?
Karena aku juga ingin berhijrah.
Tapi pasti akan aneh kalau ada perempuan wes anggun nganggo gamis terus ngakak sak bantere -__-
Aku paling ndak bisa disuruh ngguyu alon.

Besok, kalau aku sudah menikah akan berhijrah.

Tiba-tiba sebuah suara bergumam …

“Emang situ yakin umurnya sampai di tahap itu?”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar