Menyambung apa
yang sudah saya posting di dua sosial media saya, facebook dan instagram,
tulisan ini adalah versi panjang kali lebarnya. Pertama kali PAC IPNU IPPNU
Kec. Banyuwangi merilis poster Ngaji Fiqih kira-kira dua bulan lalu. Saya mulai
mengikuti ngaji fiqih jika tidak salah di pertemuan keempat, dan itu sudah pada
ujung pembahasan haid.
Sebagai manusia
yang ngajinya nggak tuntas, ini adalah majelis yang saya cari selama ini. Dulu,
andai saya tidak berpindah-pindah rumah, mungkin sampai saat ini saya masih
bisa ngaji di TPQ Nurul Qomar. Sejak pindah ke Jurang Jero, lalu ke Pakis, saya
sudah berhenti ngaji. Sempat mengaji di masjid depan RS. Fatimah, tapi tidak
berlangsung lama, hanya beberapa bulan.
Ngaji Fiqih yang
diselenggarakan oleh kawan-kawan Nahdliyin ini sangat membantu saya dalam
menghabiskan waktu yang berkualitas. Setiap Selasa malam saya selalu riang
mengendarai motor menuju kantor PCNU. Karena apa? Ya karena ngaji fiqih ini. Karena
bertemu dengan kawan-kawan yang sama-sama haus akan ilmu.
Ngaji fiqih disini
berbeda sekali dengan kita belajar agama di sekolah. Ustad kami di PCNU bernama
Ustad Surur. Beliaulah yang membuat suasana ngaji fiqih berbeda. Mungkin karena
Ustad Surur masih muda juga jomblo, beliau mampu membaur dengan murid-muridnya
yang baperan macam saya dan Fitria. Tidak ada kesan menggurui dalam diri
beliau. Ngaji pun rasanya jadi menyenangkan sekali. Saya patut memberikan
apresiasi setinggi-tingginya pada PAC IPNU IPPNU Kec. Banyuwangi. Mereka mampu
istiqomah dalam menyelenggarakan ngaji fiqih tiap minggunya. Istiqomah itulah
yang sulit, karena bukan main godaannya.
Kembali kepada
ngaji fiqih. Setiap minggu kami akan membahas sebuah kitab yang di dalamnya
berisi tentang amalan-amalan wanita. Bagaimana menyikapi darah haid, darah
nifas, apa saja jenis-jenis darah. Sepertinya sepele, tapi susah. Ustad Surur
pernah bilang, “Kenapa penduduk neraka
kelak kebanyakan adalah wanita?” karena para wanita tidak mengerti apa yang
boleh dan tidak boleh bagi dirinya sendiri. Tidak menghargai suami, melawan
pada suami, tidak mengindahkan nasihat dari suami, bepergian keluar rumah tanpa
izin dari suami, tidak paham apa yang sedang terjadi dalam diri wanita itu
sendiri, tidak mengerti bagaimana cara bersuci setelah nifas, tidak bisa
membedakan mana darah istihadhoh, mana darah nifas, mana darah haid, tidak tahu
bagaimana cara mengqadha sholat setelah haid, tidak tahu bagaimana hukum-hukum
berpuasa, cara membayar hutang puasa wajib, dan lain sebagainya. Begitu payah
saya selama ini hanya tahu bahwa siklus pendarahan wanita hanya haid dan nifas.
Istihadhoh? Apa pula itu ~
Jika ada ungkapan better late than never, itu pas sekali
untuk saya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Belajar itu tidak
ada kata terlambat. Tuhan pasti memiliki alasan mengapa saya dipertemukan
dengan kawan-kawan pilihan itu saat telah berumur 22 tahun. Mungkin Tuhan ingin
saya tidak cepat-cepat menikah. Tuhan mau saya belajar dulu, membekali diri,
menyiapkan mental, menyiapkan jiwa dan raga sedemikian rupa. Mungkin, loh,
yaaa, mungkin. Ya soalnya apa kata dunia kalau saya belajar tentang fiqih
ketika saya sudah meniqa, malov? Bekal apa yang saya bawa untuk
mengarungi bahtera rumah tangga bersama kekasih dunia akhirat saya kelak? Bekal
cinta? Yo ra mashooook, malov, ra mashoook.
Kuantitas manusia-manusia
yang hadir juga alhamdulillah stabil jika saya amati. Dari awal saya menghadiri
ngaji fiqih ini, tidak lelah saya mengajak Melince dan cabe keringnya Untag
alias Lia untuk ikut serta. Tapi, sungguh subhanallah sekali mereka ini, malov. Saya berusaha istiqomah ngajakin
mereka, lha mereka nggak kalah istiqomahnya absen melulu. Seperti kemarin
ketika saya lagi-lagi japri mereka. Lia bilang, “Kak, skripsi sek yo. Rumusku salah.” Yo untung ra jalan hidupmu
sing salah, Kak. (((silahkan ngakak, diperbolehkan, kok)))
Lain lagi Melinda,
dia ini tipe-tipe chat lama ikut kagak. Mulai dari bilang dia belum mandi,
terus tanya acara kira-kira sampai jam berapa, lha kok ujung-ujungnya dia
bilang, “Mendut ee, insyaallah minggu
depan, ya?” Astaghfirullah, Melindaaa. Jadi kamu lebih pilih Mendut
daripada ngaji? Hambok aku di ajak
gitu, lho. *eh
Tapi mau bagaimana
lagi. Kesadaran itu tidak bisa dipaksakan. Ya semacam cinta gitu, lah, tak bisa
dipaksakan. (((silahkan bilang eaaak)))
Hanya saja yang
saya sayangkan adalah jumlah peserta laki-laki. Saya nggumun deh, tiap pertemuan yang saya lihat ya Kang Sholeh dan Mas
Aji. Itu-ituuu saja. Kalaupun ada peserta lain itupun hanya satu, jadinya
berempat sama Ustad Surur. Tidak pernah saya menjumpai peserta laki-laki lebih
dari empat. Nah, ini, nih, persoalan yang krusial. Padahal ilmu fiqih itu penting.
Ya minimal kita tahu bagaimana hukum-hukum dalam agama kita. Lalu jika para
lelaki itu tidak tahu, buta dan tuli persoalan fiqih, padahal tanggung jawab
besar berada di pundaknya kelak ketika dia menjadi kepala rumah tangga, apa
nggak sungguh theeer lhaaa lhuuu ...
Jangan bisanya cuma bilang “Cari istri yang sholihah” tapi sendirinya nggak
mensholehkan diri. Jangan jadi egois sejak dalam pilihan, dong. Perempuan-perempuan
sholihah mana mau sama akhi-akhi modal omong doang.
Sungguh banyak
sekali pelajaran yang terserap diluar persoalan itu sendiri. Seperti minggu
lalu Ustad Surur sempat membahas hubungan suami istri yang sehat dalam rumah
tangga. Suami dan istri harus tahu kapasitas diri masing-masing. Jangan egois,
jangan tidak saling mengerti. Jika suami merasa dirinya tidak mampu mengajari
sang istri fiqih-fiqih wanita, ya jangan menghalangi istri untuk belajar fiqih
di luar rumah, seperti majelis-majelis. Udah nggak bisa ngajarin malah ngurung
istri dalem rumah, alasannya pakai hadits “Dan diharamkan keluar bagi seorang
wanita untuk ziarah, sholat jamaah, mengunjungi kerabat, bermajelis, kecuali
dengan ridha suami” tapi giliran ditanya istri apa itu darah wiladah, lha kok
suaminya searching di google. Kan anu, gaes.
Yo opo ora?
Oleh sebab itu,
kelak, nih, jika saya di izinkan menikah dan memiliki keturunan oleh Tuhan,
akan saya masukkan anak-anak saya ke pondok pesantren. Dah, nggak bisa di
ganggu gugat!
Akhir kata,
silahkan hadir setiap Selasa malam pukul 19.00 di mushola PCNU Banyuwangi untuk
mengikuti “Ngaji Fiqih”. Satu jam saja meluangkan waktu untuk kehidupan bumi
bulat
yang lebih baik. Eaaa.
Jika calon
suamimu nggak paham Fiqih, Ijolno uyah,
malov ~


Uhuk , jomblo perbaikaan . Setidaknya ketika sang anak turut berbangga punya ibu secerdas kalian , fiya , di
BalasHapusamin amin. gak kalah bangga juga jika punya ibu secerdas dan sekuat mb bibeh :)
Hapus