Kemarin
saya berkesempatan menjadi bagian dari pemilihan Duta Santri Banyuwangi yang
diselenggarakan oleh Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU)
Kabupaten Banyuwangi di Sun East Mall (SEM) Genteng. Apa itu RMI? RMI merupakan
ikatan pondok pesantren. Berhubung di belakangnya ada NU, sudah pasti RMI-NU
adalah ikatan pondok pesantren Nahdlatul Ulama. Paham, ya, gaes?
Mengapa
saya menjadi bagian dari acara tersebut? Apakah saya menjadi salah satu panitia
acara? Tidak, bosque. Apakah saya menjadi supporter salah satu peserta? Hmmm,
tidak juga. Ataukah saya menjadi salah satu peserta Mbak Santri? Ha Ha Ha Ha. Apalagi
ini, tentu tidak, bosque. Lantas kenapa? Becoz saya dipercaya untuk memandu
acara tersebut dari awal hingga akhir. Yak, betuuul, saya jadi MC. Saya dan
Kang Zakki (partner MC) yang sama-sama bukan santri ini benar-benar dibuat
terpesona oleh finalis Mbak dan Kang Santri kemarin.
Grand
Final Mbak dan Kang Santri dilaksanakan Hari Minggu, dan saya mendapat perintah
untuk ngemc di Hari Kamis malam. Pas mau tidur, ndilalah kok nge-cek hape,
ndilalah (lagi) ada WA masuk dari pimred. Isinya bukan lagi tawaran untuk ngemc,
tapi perintah. Saya yang tadinya ngantuk jadi tambah ngantuk baca pesan blio.
Masih mending saya, lha Mas Zakki dapat perintahnya Hari Sabtu. Apa nggak………hahahahaha
~
Sabtu
sore saya baru bisa komunikasi dengan Mas Zakki, karena kami memang belum
saling kenal sebelumnya. Dari cara blio balas WA, saya dah bisa nebak orangnya
asik. Emang cuma hati dia aja yang gabisa kutebak. Pasti tidak sulit
untuk membangun chemistry di atas panggung.
Minggu
pagi, sekitar pukul 7.15 saya sudah sampai di SEM. Dan mall-nya masih tutup.
Ingin ku melipir ke rumah Donat dan membetulkan riasan wajah yang mulai memuai
ini. Itu event pertama dimana saya ngemc harus dandan. Ribet, tapi pie maneh.
Kalo kata Mbak Via “meh sambat kaleh sinten, yen sampun mekaten”. Untung ada
Fida, satu-satunya perempuan yang saya kenal baik di acara itu, yang bisa saya
ajak membetulkan riasan di wajah saya.
Pertama
kali bertemu Mas Zakki juga di hari H. Blio datang bersama istri dan
ponakannya. Setelah salam-salaman macam lebaran, kami (saya dan Mas Zakki) ngobrol
terkait acara. Sharing sebentar, langsung klik. Alhamdulillah partner ngemc
kali ini syeruuu. Memang, ya, kalo kita melakukan bidang yang memang kita suka
dan dapat rekan yang cocok, itu menyenangkan. Gak makan dari pagi sampe selesai
acara juga oke bae.
Kemarin
ada tiga babak yang dilalui oleh ketiga puluh finalis Mbak dan Kang Santri
Banyuwangi. Babak pertama yakni pertanyaan seputar ilmu pengetahuan. Ada 4
kategori yang menjadi fokus pertanyaan. Yakni, wawasan kebangsaan, Banyuwangen,
Aswaja & ke-NU-an, terakhir adalah keislaman. Dari tiga puluh peserta itu dikerucutkan lagi menjadi 14
finalis. Tujuh Kang Santri dan tujuh Mbak Santri.
Ke-14 finalis ini
dipertemukan dalam babak kedua. Dimana babak kedua ini waktunya untuk unjuk
bakat. Lagi-lagi, saya dibuat kagum oleh bakat yang mereka miliki. Beragam
bakat yang mereka tampilkan, diantaranya adalah baca kitab, imrity, taghoni,
pidato bahasa arab, pidato bahasa inggris. Dan semuanya luar biasa. Di sebelah
panggung, saya dan Kang Zakki cuma bisa haha-hehe.
Mungkin bagi mereka
yang setiap hari terbiasa berhadapan dengan dunia pesantren, pemandangan
seperti di Sun East Mall kemarin sudah biasa. Tapi, bagi saya pribadi, hal itu
luar biasa. Saya makin kagum dengan paket komplit yang dimiliki oleh seorang
santri. Tidak hanya ilmu agama mereka yang oke, ilmu pengetahuan umum juga
baik. Rasa-rasanya santri adalah representasi manusia idaman. Atau biar gampang,
saya sebut santri ini istri-able dan suami-able. Heuheuheuheu.
Dari acara ini
keinginan saya untuk mondokin anak kelak jadi semakin mantap. Gak mau tau
gimana caranya pokoknya harus saya pondokin. Calon ibu otoriter, nih.
Back to event ~
Setelah semua finalis
menampilkan bakat masing-masing, akhirnya terpilih tiga pasang Kang Mbak santri
yang melaju ke babak akhir. Di babak ini mereka diberi pertanyaan oleh dewan
juri seputar fenomena generasi millenial. Beragam sekali pertanyaannya. Dan para
finalis pun terampil dalam menjawab. Semakin sore suasana di SEM semakin ramai.
Supporter tak henti memberi dukungan kepada finalis favorit mereka.
Akhirnya sampai pada
penobatan Duta Santri Banyuwangi. Semua menunggu, siapakah yang akan menjadi
juara satu?
Gelar Duta Santri
Banyuwangi diberikan kepada Kang Sholeh Mubarrok dan Mbak Nurul Hidayah. Keduanya
berasal dari pondok pesantren Darussalam Blokagung. Kang Sholeh Mubarrok atau
akrab disapa Solbar merupakan santri dengan bakat luar biasa. Pidato Bahasa
Arab-nya yang membuat saya ngakak (padahal gak tahu artinya) menjadi senjata
pamungkasnya.
Mbak Nurul Hidayah
lain lagi. Bakat yang ia tampilkan yakni baca kitab. Saya suka ketika Nurul
melenggang di atas panggung dan memberikan kibasan maut pada roknya. Sedikit nakal
tapi anggun.
Saya ucapkan selamat
kepada seluruh peserta Mbak & Kang Santri. Juga kepada Duta Santri
Banyuwangi terpilih. Kalian adalah insan pilihan. Kalian adalah panutan. Kalian
adalah idola. Semangat mewujudkan segala mimpi dan harapan. Mari bergandengan
tangan untuk Indonesia yang lebih ramah. Jadilah santri yang membanggakan,
santri yang terbuka dengan apa saja, santri yang tidak menutup diri dari
ajaran-ajaran baru.
Sekali lagi, selamat
Mbak & Kang Santri Banyuwangi. Sampai jumpa di #itsmeytime, ya?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar