Sebuah
tulisan yang akan menjelaskan bagaimana mimpi-mimpiku kelak saat membina sebuah
hubungan bernama rumah tangga.
Oke.
Pertama akan aku jelaskan mengapa aku menuliskan hal ini. Agar kelak, jika
seseorang –entah siapa– mengutarakan niat baiknya untuk beribadah bersamaku,
aku bisa berikan tautan link tulisan ini. Secara, aku bukan tipe orang yang
akan duduk berlama-lama berdua dan menjelaskan visi misiku dalam berumah
tangga. Am so bisi yunow ~
(Visi misi? Mo nyaleg kali aaah...)
Kedua,
tulisan ini adalah hasil curhat-curhatan kesekian yang aku lakukan bersama
seorang guru. Jadi mumpung masih lekat di ingatan, harus di abadikan.
Ketiga,
tulisan ini adalah selingan dari project #OldbutGold yang sedang kubuat. Karena
deadline project itu suka suka aku,
jadi ya santai aja dulu.
Keempat.
Ah, sudahlah, tiga aja, gak perlu banyak-banyak.
Gaes, pembaca ismafawwaz yang baik hatinya dimana pun
kalian berada. Apa kabar? Semoga kebaikan selalu menyertai kalian semuanya.
Aamiin.
Aku
akan memulai tulisan ini dengan sebuah kisah tentang cita-cita mulia gadis
bernama Meydiana Isfandari. Ya, gaes,
tidak lain dan tidak bukan adalah aku sendiri. Beberapa tahun silam gadis
bernama Meydiana atau yang biasa dipanggil Mey oleh kawan-kawannya itu memiliki
cita-cita untuk menikah di usia sebelum 25 tahun.
Tahu
kenapa? Karena saat itu gadis bernama Mey masih belum terpapar radiasi kerasnya
kehidupan. Dia masih polos saat itu. Masih usia SMK. Masih lugu-lugunya. Masih
pemalu. Malu jalan sendirian lewat gerombolan laki-laki di kantin. Malu naik
angkot kalo isi angkotnya laki semua. Malu lewat depan mesjid sekolah yang
selalu ramai oleh para ikhwan solehah, eh, soleh. Pokoknya malu dalam segala
hal yang berbau public area.
Gadis
bernama Mey itu bercita-cita menikah di usia sebelum 25 tahun. Tahu kenapa?
Karena dia gadis yang memegang teguh nasihat BKKBN, bahwa usia ideal bagi
seorang perempuan untuk menikah adalah 21-25 tahun. Kondisi psikisnya sudah
matang, secara fisik –kondisi rahim, I
mean– juga sangat baik untuk mengandung. Pokoknya kita bisa mewujudkan
keluarga yang sehat dan bahagia jika kita mengikuti himbauan BKKBN, pikir gadis
bernama Mey itu.
Gadis
bernama Mey itu bercita-cita menikah di usia sebelum 25 tahun. Tahu kenapa? Dia
berpikir, pasti seru jika kelak ia memiliki anak yang ketika telah dewasa,
masih seumuran dengan dirinya. Dia melihat ke dirinya sendiri. Dia, gadis
bernama Mey itu memiliki seorang Ibu yang masih tampak muda, karena memang Ibunya
menikah di usia muda. Usia muda, gaes,
bukan usia anak, tolong ini dicatat.
Dia
dan Ibunya selalu terlihat seperti kakak beradik jika berjalan bersama. Karena
orang-orang menilainya demikian. Jadi, gadis bernama Mey itu selalu
membayangkan serunya jika ia berjalan bersama anaknya kelak, dan orang-orang
mengira mereka adalah kakak-beradik. Gadis bernama Mey itu juga berpikir, ia
tidak akan tertinggal jauh oleh pergaulan anak-anaknya kelak. Ia masih bisa
mengikuti perkembangan zaman anaknya.
Tapi
itu dulu, dulu sekali. Ketika ia belum bertemu banyak orang. Ketika ia belum
tertimpa nestapa kehidupan. Ketika ia belum banyak menerima pelajaran hidup
dari sekitar. Ya, dulu sekali.
Setelah
menerima banyak sekali kejadian-kejadian, cita-cita nan mulia itu mulai
berserakan. Bukan ia tidak ingin menikah, bukan. Hanya saja angka 25 sudah
tidak lagi ia pusingkan. Ia tak pernah sekali pun berpikir untuk menikah dalam
waktu dekat ini. Kalian pasti tahu, gaes,
ada orang-orang yang sedang ia prioritaskan.
Dari
peristiwa-peristiwa yang telah ia hadapi, ia paham, masih banyak mimpi yang
ingin ia lunasi sendirian. Mungkin jika ia bisa memilih, ia ingin tinggal saja
di luar kota, luar pulau, luar negeri asal tidak luar planet, dimana tidak ada
satu pun orang yang mengenali dirinya dan keluarganya, dan hidup baik-baik saja
berlima. Ia dan adik laki-lakinya yang telah tamat sekolah akan bekerja.
Membuatkan rumah untuk orang tua mereka di pinggiran kota. Rumah dengan pekarangan
yang luas, dimana Bapak dan Ibu mereka bisa menghabiskan masa tua mereka dengan
tenang bersama. Pekarangan yang luas agar Bapak bisa memelihara ayam, kelinci,
ikan dan Ibu bisa menanam beragam tanaman obat keluarga, beragam jenis sayur
dan beberapa jenis rempah. Pekarangan yang luas agar Ai bisa bermain sepeda
sepuasnya.
Gadis
bernama Mey itu masih ingin melihat adik pertamanya melanjutkan pendidikan
strata satu. Ia pun sama, ingin melanjutkan pendidikan magister, jika ada
kesempatan. Mimpi-mimpi sederhana seperti itu yang membuat ia berpikir untuk
tidak tergesa membina rumah tangga. Ia akan kesal jika hari ini datang seorang
laki-laki yang berniat baik mengajaknya menikah. Ia akan kesal karena lagi-lagi
ia harus menolak niat baik dari seseorang. Meskipun niat itu datang dari
laki-laki yang mungkin ia sukai, gadis bernama Mey itu pasti menolak.
Ia
paham bahwa hatinya hampir saja mati rasa, atau mungkin sudah. Patah hati itu
kejam, gaes. Ia mampu mematikan hati
seseorang. Meski ia tahu, seperti kata Banda Neira, bahwa yang patah akan
tumbuh, yang hilang akan berganti, yang hancur lebur akan terobati, yang pernah
jatuh akan berdiri lagi. Dan fase tumbuh, berganti, terobati, serta berdiri
lagi, tengah ia hadapi saat ini. Ia menikmati masa-masa itu. Masa dimana ia
tumbuh, terobati, hingga kemudian berdiri lagi dan menatap dunia dengan kepala
tegak.
Gadis
bernama Mey itu, saat ini tengah fokus dengan hobi dan kesukaannya. Ia tengah
beristirahat setelah hiruk pikuk pendidikannya tempo hari. Namun begitu, ia tak
bisa istirahat terlalu lama. Ia harus segera bekerja agar mimpi-mimpi sederhana
tadi dapat terwujud.
Gadis
bernama Mey itu, ah, janganlah sekali-kali kau singgung ia dengan
pertanyaan-pertanyaan tentang menikah. Kalian tahu? Ia pandai sekali
menyembunyikan perasaannya. Jika saat ini kalian melihatnya dengan pribadi yang
ceria, humoris, bahagia, itu tidak selalu menampakkan ia yang sebenarnya. Ia
telah menyimpan banyak hal sendirian selama hidupnya. Ada hal-hal yang tak
ingin ia tunjukkan, bahkan kepada orang terdekatnya sekalipun. Jika selama ini
kau mengenal ia sebagai gadis yang mudah baper, itu semata hanya kamuflase.
Hatinya tidak selemah itu.
Gadis
bernama Mey itu memiliki keluarga yang pasti kalian akan iri jika melihat
kebersamaan mereka. Meski ia telah berusia 22 tahun, namun kedua orang tuanya
tetap melihat ia sebagai gadis kecil yang harus dijaga 24 jam. Ia memiliki
Bapak yang galak, tapi lucu. Bapak adalah orang yang akan selalu ia andalkan
dalam situasi apapun. Bapak adalah penjaganya selama ia hidup hingga hari ini.
Kalian tahu apa yang unik dari Bapaknya? Bapaknya tidak pernah sekalipun
memaksa dirinya untuk berada di dapur. Membantu Ibunya memasak, atau belajar memasak
agar kelak ia menjadi istri yang bisa diandalkan. Selama ini, jika mereka dalam
kondisi –enaknya makan apa, nih?– Bapak selalu menjadi garda terdepan untuk
membuatkan mereka sekeluarga nasi goreng. Dan ia berani bertaruh bahwa nasi
goreng buatan Bapaknya jauh lebih enak dibanding buatan Ibunya, apalagi
buatannya.
Bapak
juga tidak pernah sekali pun membahas masalah cucu. Padahal usianya genap enam
puluh tahun September ini. Ia sadar bahwa kehadiran Ai dirumah mereka adalah
salah satu sebab mengapa Bapak tak pernah membahas cucu. Ai hadir menjadi
pelipur duka bagi keluarga mereka. Mereka semua berbahagia atas kehadiran anak
laki-laki bernama Fahriza Zulfikar itu.
Bapak
tetaplah Bapak. Yang ingin menikahkan anak gadisnya dengan raganya sendiri,
tidak diwakilkan oleh siapapun. Gadis bernama Mey itu sadar, sesadar-sadarnya
bahwa Bapak tak lagi muda. Raganya semakin menua. Segala semoga selalu ia rapal
ke hadapan Yang Maha. Agar kelak Bapak dapat melepas dirinya dari tanggung
jawabnya dan membina rumah tangga.
Begitulah
sosok Bapak yang teramat ia sayangi.
Kalian
juga harus tahu bahwa gadis bernama Mey itu memiliki Ibu yang luar biasa
menyenangkan. Ibunya tak pernah rewel dengan problematika hidup. Itulah yang
selalu ia kagumi dari sosok Ibunya. Ibu adalah panutan. Ibu adalah poros
kehidupannya. Sedari kecil, Ibu telah mengajarkan hal-hal baik. Ada sebuah
pelajaran berharga yang ia terima saat masih kecil, saat belum duduk di bangku
sekolah, yakni toleransi. Yang menjadikannya tumbuh sebagai gadis yang mampu
menerima hal-hal berbeda dari kebiasaan. Ibunya dibesarkan oleh keluarga
nasrani yang taat. Namun ibunya juga tumbuh menjadi muslimah yang taat. Tak
berpindah keyakinan Ibunya meski ia hidup dalam lingkungan dengan keyakinan
yang berbeda. Gadis bernama Mey itu selalu bangga memiliki Ibu yang dibesarkan
oleh kakek neneknya yang nasrani. Sebuah kebanggaan yang terus mengalir hinga
hari ini.
Keinginan
untuk ‘masih ingin tetap bersama keluarga’ merupakan sikap yang ia tiru dari
sosok Ibunya. Semasa muda Ibunya menghabiskan waktu untuk bekerja, membaktikan
diri untuk Ibu dan saudara-saudaranya. Hingga kemudian pada usia 21 beliau
menikah. Keputusan untuk menikah itu bukan keputusan yang tergesa-gesa. Pada
waktu itu usia 21 merupakan usia yang matang untuk menikah. Banyak kawan-kawan
Ibu yang menikah di bawah usia 20 tahun.
Begitulah
segelintir kisah dari gadis yang bernama Mey itu. Setidaknya kau harus tahu
jika ingin mengenal bagaimana wataknya.
Kembali
ke aku. Sekarang aku akan mencoba menuliskan mimpi-mimpi hidupku saat membina
rumah tangga bersama teman yang akan menemaniku seumur hidup.
Sek, sek, kenapa sekarang malah bingung mau nulis apa. :’(
Yang
jelas, wahai calon teman hidupku, aku adalah perempuan yang menyukai kebebasan.
Sudah selama ini aku hidup dengan aturan-aturan yang diberlakukan oleh Bapakku.
Mungkin nanti aku tak bisa menjadi istri yang baik karena bakalan sering nggak manut.
Aku bukan tipe perempuan penurut seperti mereka, wahai calon teman hidupku. Aku
harap kamu mengerti, karena itulah aku.
Dan
kelak, seperti prinsip yang dianut oleh Bapakku. Jangan sampai setelah menikah
kita tinggal di rumah orang tua. Aku tak mau. Tersebab itu lah kau harus giat
bekerja agar kita bisa memiliki rumah kita sendiri. Tenang saja, aku memiliki
banyak kawan yang bekerja sebagai developer
perumahan, cincai lah itu. Tapi, jika
bisa, aku tak terlalu suka tinggal di perumahan. Ini juga turunan dari Bapak.
Bapakku tak suka tinggal di kompleks perumahan. Urusan tempat tinggal bisa lah
kita atur nanti di belakang. Asal tidak tinggal dengan orang tua, itu saja.
Tapi ya nggak kemudian kita tidur di kolong jembatan, ya, wahai calon teman
hidupku.
Tidak
ada istilah perempuan matre. Yang ada hanya laki-lakinya yang kere. Aku tidak
menuntut kelak kita harus hidup bergelimang harta seperti Nia Ramadhani dan
Ardi Bakrie. Karena aku sadar, hidup tidak selalu menyenangkan. Namun, kau
tahu, kan, finansial yang baik juga akan berpengaruh terhadap keutuhan rumah
tangga? Cinta saja tidak bisa membuat kita bertahan hidup, wahai calon teman
hidupku. Jika memang begitu, mungkin dah
lama aku mendarat di Istanbul, poto-poto kemudian upload ke Instagram, hanya
dengan modal cinta. Beli tiket pesawat pakai cinta, urus paspor dan visa pake
cinta, beli cemilan di Istanbul pake cinta. Cinta, kamu mata uang baru, ya?
Aku
seorang perempuan yang realistis. Di masa depan akan ada banyak hal yang kita
butuhkan. Manusia itu tercipta dengan sifat hedon. Takarannya aja yang
beda-beda. Ada yang hedon banget, ada yang hedon aja (gak pake banget), ada
yang kadang-kadang hedon, dan kadang-kadang hedon banget. Ya wis ngono kuwi, lah, wahai calon teman
hidupku. Dan, insyaallah, semoga, aku adalah tipe istri yang hedon aja (gak
pake banget). Itupun dalam satu kebutuhan tertentu. Buku, gincu dan gamis
lucu-lucu, misalnya. Tiga hal itu sering membuatku lupa bahwa uang di dompet
tinggal selembar-lembarnya. Aku realistis, tapi ya logis. Nggak mungkin aku
beli gamis lucu-lucu tapi harganya bisa buat beli buku “Atlas Walisongo”nya
Agus Sunyoto lima buah. Ya kecuali kalo kamu yang bayarin dengan sadar diri dan
sukarela, wahai calon teman hidupku. Aku juga nggak mungkin, lah, beli gincu
yang harganya nggak masuk akal, padahal fungsinya juga sama aja, biar bibir
berwarna dan kita terlihat lebih segar dan cantik sehingga mendulang pahala
karena menyenangkan hati suami. Yaaa, sekali lagi, kecuali jika memang kamu
yang berniat memanjakan istrimu ini. Masa ditolak? Nanti aku di cap istri
durhaka.
Aku
juga bukan tipe istri yang duduk diam di rumah menunggu suami pulang kerja,
wahai calon teman hidupku. Karena aku tak bisa berpangku tangan menunggu nafkah
darimu. Aku bukan tipe perempuan seperti itu :’(
Aku
ingin bisa beli ini itu dengan jerih payahku sendiri. Karena tahu sendiri
perempuan suka tidak jelas. Pergi ke pasar niatnya hanya beli A, yang dibawa
pulang A tapi beserta B, C, D sampai Z. Kan gak jelas itu namanya. Lho, kamu tadi bilangnya adalah tipe istri
yang hedon aja, Mey? Ya tapi jika aku berdiam diri di rumah, gak
ngapa-ngapain pasti berubah jadi hedon banget, lah. Onlenan terus di rumah sambil ngelihatin barang lucu-lucu di online shop. Aku mbatin doang? Ya ndoweh,
wahai calon teman hidupku.
Maka,
alangkah senangnya hatiku jika kelak masih bisa bekerja walau sudah menikah. Bukan
begitu? Namun, jika memang kau tak menghendaki aku bekerja, ya tak masalah. Asal
kau memiliki penghasilan yang tetap. Setiap bulan menerima gaji. Itu berarti
calon teman hidupku nanti haruslah memiliki pekerjaan yang jelas. Yang apabila
kelak anak kita ditanyai oleh Bu Gurunya, “Apa pekerjaan ayahmu, Nak?” dia bisa
menjawab dengan lancar. Guru, Bu. Dokter, Bu. Pilot, Bu. Polisi, Bu (eh,
jangan, aku tak mau dapat suami polisi). Jika ternyata kau itu adalah seorang
pengusaha, maka biarkan aku bekerja. Kenapa? Jika aku jelaskan alasannya dalam
tulisan ini, bisa sampai tujuh lembar kertas A4. Please, ini bukan latar belakang skripsi.
Kelak
saat kita memiliki rumah sendiri, aku ingin memiliki sudut favoritku. Tempat dimana
aku akan menghabiskan waktu untuk membaca, untuk mengisi blog, untuk foto-foto,
untuk nonton cover-cover sholawatan di yutub, dan untuk nonton Drama Korea. Membayangkan
diriku duduk-duduk santai dengan perut yang membuncit, ah, sungguh menggelikan.
Halaman depan rumah juga akan aku tanami beragam tanaman hias serta beberapa
pohon. Setiap sore, aku akan berdiri sambil bersiul-siul ringan saat menyirami
mereka. Eh, gak jadi, aku gak bisa bersiul-siul. Barusan aku coba, ternyata fals.
Kemudian
halaman belakang rumah akan aku sulap menjadi tempat nongkrong kita yang
romantis. Satu set meja dan kursi kecil. Sebuah kursi ayun warna putih yang
muat untuk dua orang akan aku letakkan di halaman belakang rumah. Bisa kita
gunakan untuk bersantai di Minggu pagi atau sore setelah kau sibuk bekerja
selama enam hari dalam seminggu. Kita akan bercengkerama sambil ngeteh tipis-tipis
lalu mencelupkan biskuit roma kelapa yang gurih itu ke dalam teh. Tapi jangan
lama-lama, nanti biskuitnya mblenyek
kemudian mblaur ke tehnya. Jadinya kita
gak minum teh, tapi minum bubur, wahai calon teman hidupku.
Oh,
ya, kamu bisa mengerjakan urusan-urusan rumah tangga, kan? Seperti mencuci,
memasak, menyetrika, mengganti genting yang bocor, memasang engsel pintu, memperbaiki
kabel yang putus, memperbaiki kran air yang bocor, menguras kulkas, menguras
bak kamar mandi, menguras sumur, memasang kabel tabung gas, tawar-menawar harga
di pasar, dan lain-lain. Jika tidak bisa, ya tidak masalah, karena aku juga
tidak ahli dalam semua hal yang ku sebutkan tadi. Yang penting kau tak lupa
sholat lima waktu, walaupun di akhir waktu.
Aku
tidak terlalu jago dalam urusan-urusan rumah tangga. Kau harus tahu ini, agar
setelah menikah kau tak kaget dengan kemampuanku yang terbilang apa adanya ini.
Karena faktanya, sampai dewasa ini pun aku tak pernah berbelanja kebutuhan
sehari-hari di pasar sendirian. Andalanku adalah Ibu. Aku tak pandai menawar
harga. Sampai dewasa ini pun aku tak pernah dipermasalahkan oleh Bapak karena
tak jago masak. Sambal yang kubuat sering sekali keasinan, enaknya hanya
kadang-kadang, kalo pas bejo. Mencuci, menyetrika, aku juga sering malas
mengerjakan hal-hal ini, oleh sebab itu pakaian kotorku bisa satu bak
menggunung, itu baju kotor seminggu lebih. Jika stok pakaian bersih dan bagus
di lemari telah mendekati sakaratul, barulah aku mencuci pakaian-pakaian kotor
tadi. Yaaa, beginilah aku, wahai calon teman hidupku.
Kelak,
saat kita telah hidup bersama, aku berkeinginan untuk memiliki ‘me time’ kita sendiri. Kita keluar
rumah, jalan-jalan, jajan ini jajan itu, duduk bersama, bercerita sambil
ngemil, lalu pulang ke rumah dengan berbahagia. Atau bisa juga ‘me time’ dengan tidur saja seharian di
rumah. Atau kita karaokean di rumah berdua juga bisa, menyanyikan lagu-lagu Dewa,
Armada, Banda Neira, Kahitna, Nike Ardilla, Raisa, Isyana atau Nella Kharisma.
Aku
juga memimpikan kita bisa rekreasi bersama keluarga besar kita. Kita ajak orang
tua kita masing-masing untuk pergi piknik. Atau bisa juga pekan ini kita pergi
bersama kedua orang tuaku, dan pekan depan kita pergi dengan orang tuamu. Aduuuh
mama sayangeee, indah betul.
Satu
lagi mimpiku yang harus kau tahu, wahai calon teman hidupku. Kelak jika kita
memiliki anak, aku berkeinginan untuk memasukkan dia ke pondok pesantren. Untuk
mimpiku yang satu ini, semoga kau juga sepaham denganku. Dan juga, tolong, kita
punya dua anak saja, ya? Dengarkanlah himbauan BKKBN itu. Lihatlah data-data
kependudukan Indonesia. Kau akan tercengang dengan fakta-fakta yang ada. Oleh sebab
itu, dua anak adalah pilihan yang tepat. Ya oke, lah, jika ingin tambah. Tapi satu
saja! Tiga adalah angka maksimal. Karena aku juga tiga bersaudara.
Wahai
calon teman hidupku. Kau tahu, kan, aku menyukai sekali Istanbul? Negara dua
benua yang sangat ingin aku pijak tanahnya, aku hirup udaranya, aku telusuri
bangunan-bangunan bersejarahnya. Jika sampai pada hari pernikahan kita aku tak
berkesempatan kesana sendiri, maka setelah menikah keinginanku itu juga menjadi
bagian yang selayaknya kau tunaikan. Menyenangkan hati istri sungguh besar
pahalanya, wahai calon teman hidupku, asal kau tahu.
Oh,
ya, satu lagi. Aku menginginkan mahar pernikahanku kelak adalah novel-novel
karya Andrea Hirata. Kau sudah tahu hal ini? Dulu aku pernah menuliskannya di
blog. Novel-novel karya Andrea Hirata yang belum aku miliki tentunya. Jika tidak
mampu, maka bawa saja aku ke Edensor. Ehehehe.
Mey, bukankah sebaik-baik perempuan
adalah yang maharnya tidak memberatkan? Tiket Edensor kuwi larang, tjoy.
Halaaaaah, kere! :(
Demikianlah,
mimpi-mimpiku di masa depan yang harus kau tahu.
Mey, apakah calon teman hidupmu itu
harus orang NU?
Sak karepe Gusti Allah, lah. Sing penting
ki kowe tahlilan, yasinan, muludan, sholawatan, ziarah kubur. Wis, ngono wae. Luwih
apik neh lek NU. Heuheuheu ...
![]() |
| Instagram: @turkey_home |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar