Minggu, 15 Juli 2018

Menghargai Sebuah Keputusan

Sebenarnya ada banyak pembahasan yang hendak saya tulis, namun terkendala rasa malas yang luar biasa akhirnya tema ini lagi yang muncul di blog saya. Kok kayaknya nggak ada bahasan lain, padahal memang nggak ada.

Saya hanya ingin meluruskan pemikiran beberapa orang terhadap yang namanya ‘keputusan hidup’. Saya lelah jika harus memberi tahu satu-satu orang agar paham, karenanya saya tulis saja, kemudian share. Syukur kalau ada yang baca, heuheu.

Tahun ini usia saya sudah dua puluh tiga tahun. Usia yang bagi sebagian orang sudah pas untuk menikah, pas untuk punya anak, pas untuk melanjutkan pendidikan S2, dan lain sebagainya. Saya telah menyelesaikan pendidikan S1 saya Desember tahun lalu. Ada rencana untuk melanjutkan S2? Jika Tuhan beri saya kesempatan, tentu. Saya masih ingin belajar Ilmu Komunikasi.

Kuliah sudah selesai, kenapa tidak menikah? Ini adalah pertanyaan yang sering sampai pada saya. Semacam FAQ gitu.

Begini jamaah ismafawwaz yang budiman (benerin posisi duduk). Menikah bagi saya adalah keputusan hidup seseorang yang luar biasa mulia. Dengan menikah seseorang telah menyempurnakan separuh agamanya. Dengan menikah seseorang akan melepaskan dirinya dari tanggung jawab keluarga dan memikul tanggung jawab baru. Menikah itu mudah, membina kehidupan setelah menikah itu yang tidak mudah. Menikah itu ringan, pertanggung jawaban kelak di hari akhir itu yang berat. Itu sebabnya bagi saya menikah tidak cukup hanya dengan syarat dan rukun saja, tapi juga dengan bekal ilmu.

Dan pertanyaan ‘kuliah sudah selesai, kenapa tidak menikah?’ ini kok seperti tujuan saya menyelesaikan kuliah hanya untuk menikah. Saya kuliah untuk mencerdaskan diri, biar nggak digoblok-goblokin orang kek di twitter tempo hari. Saya kuliah untuk memperbaiki pola pikir, dari yang rumit menjadi ringkas. Saya setuju dengan apa yang pernah Iqbal posting di Instagramnya dulu. Sekolah tinggi buat apa? Apalagi perempuan, ujung-ujungnya masuk dapur juga. Sekolah bukan pelajarannya yang akan terpakai (tbh, sampai sekarang juga nggak banyak mata kuliah yang kepake di kehidupan sehari-hari aku, hiks) tapi koneksi, wawasan, cara berpikir, terbiasa on time, terbiasa deadline, kesempatan menyampaikan pendapat/ide di depan umum, public speaking, itu yang akan terpakai. Dan semua itu didapat setidaknya basicnya dari sekolah. Iya, kan? Presentasi, tugas kelompok, ngumpulin tugas pada waktunya, berorganisasi serta banyak hal yang tidak kita sadari membentuk mindset untuk siap bersaing setelah lulus nanti.

Halah, Mey, wong kamu kuliah biar jadi sarjana og. Bhaiq-

Kualitas setiap orang itu berbeda. Keputusan hidup setiap orang juga berbeda. Tujuan-tujuan hidup yang hendak dicapai orang pun berbeda-beda. Dan menikah, bukan satu-satunya tujuan hidup yang hendak Meydiana Isfandari binti Slamet Bunyamin capai, gaes. Bahkan memikirkan tentang pernikahan saja saya merasa nggak pantas. Ilmu masih dibawah rata-rata, pacar nggak punya, kerjaan nggak punya, mau nikah? Meh.

Jadi, sekali lagi, meskipun saya telah menyelesaikan kuliah bukan berarti saya bisa melanjutkan hidup dengan menikah. Lulus kuliah ki yo megawe, ndes. Tapi memang ada beberapa orang (mungkin banyak) yang setelah menyelesaikan kuliah mereka menikah. Ya tidak apa-apa, sekali lagi keputusan hidup manusia berbeda-beda. Setelah menikah ada yang bisa melanjutkan studi. Sekolah lagi sambil ngurus segala tetek bengek rumah tangga. Itu bagus.

Kembali pada persoalan menikah. Meskipun teman-teman dekat satu per satu sudah melepas masa lajangnya, saya take a chill pill aja. Baper ya jelas ada. Gila apa nggak baper melihat prosesi akad nikah teman sampai ke resepsi, belum lagi video-video nikahan mereka, ditambah lagi guwe yang ngemc nikahan mereka, njir. Sebagai manusia normal, baper itu wajar, ya gimana wong punya perasaan. Kecuali kalau nggak punya perasaan, apanya yang mau dibawa?

Tapi setelah euforia kebahagiaan itu selesai, bapernya ya selesai. Saya juga kembali pada kehidupan nyata, bahwa menikah bukan satu-satunya tujuan hidup yang hendak saya capai.

Seperti tempo hari, di Stasiun Gubeng. Saat menunggu kereta Mutiara Timur untuk pulang ke Banyuwangi, saya dan salah seorang teman melihat sebuah pemandangan manis. Sebuah keluarga, terdiri dari bapak, ibu, anak dan menantu. Sepasang suami istri yang kami tebak pengantin baru ini pamitan ke orang tua mereka. Setelah cium tangan, cipika-cipiki, dadah-dadah, mereka masuk ke peron. Saya dan teman saya memperhatikan mereka, dan si teman sebelah saya ini nyahut: “Kepingin, Mey? Wes ndang rabi.”

Please, deh. Itu tuh pemandangan yang too sweet and so heart-warming. Siapa yang nggak senang melihat pemandangan manis seperti itu? Akhirnya saya nyahut, “Sik suwiii.” | “Ngenteni opo?” | “Ya ampun 23 tuh masih enom.” | “Limang tahun ngkas?” | “28-29, lah.” | “Selak tuwek awmu.” Kemudian saya jawab bahwa usia itu memang terlalu tua jika saya hidup di pelosok desa antah berantah sana.

Saya melihat rentang usia 27-30 adalah usia yang pas. Matang secara psikologis, matang secara financial (ini gimana kader bkkbn kok malah kampanye nikah usia 27, wkwk). Lantas apakah saya egois? Tidak memikirkan bapak dan ibu yang semakin tua? Kenapa yakin sekali bahwa mereka akan terus membersamai saya hingga saatnya saya menikah nanti?

Bapak dan ibu saya bukan tipe orang tua jadul yang pemikirannya: anak selesai kuliah dinikahkan, bebas sudah satu tanggungan. Yang selalu bapak dan ibu saya bahas adalah apakah saya sudah ada keinginan untuk bekerja? Karena selama ini kerja saya nggak bisa dikatakan jelas.

Umur manusia tidak ada yang tahu. Ya, sebagai wali, bapak memang sudah semakin tua. Saya tidak tahu siapa yang lebih dulu berpulang, saya atau bapak. Mana ada, sih, anak yang berdoa agar orang tuanya cepat mati? Pasti berdoa agar orang tua panjang umur, agar kita dapat berkhidmat pada mereka dengan baik. Agar mereka dapat melihat kita melalui berbagai macam peristiwa dalam hidup. Termasuk peristiwa pernikahan.

Semakin kemari saya semakin paham kenapa sikap saya jadi seperti ini mengenai pernikahan. Hal ini disadari atau tidak dipengaruhi oleh latar belakang keluarga besar bapak. Keluarga besar bapak saya rata-rata menikah di usia yang sangat matang. Bapak sendiri dulu baru menikah di usia tiga puluh tujuh tahun, and it doesn’t matter. Pergaulan masa remaja bapak yang banyak di Jakarta membuat pemikiran bapak termasuk dalam kategori modern. Beliau tidak terlalu ambil pusing oleh pandangan orang kenapa di usia yang sudah matang belum juga menikah. Beberapa saudara perempuan bapak saya juga ada yang menikah di usia yang sangat matang. Hal-hal bersifat turunan ini yang saya yakini mendominasi cara berpikir saya.

Saya tidak mau dipaksa menikah. Saya juga tidak mau terpaksa menikah. Jika sampai hari ini saya sudah menolak lamaran (mmm bukan lamaran, sih, namanya lamaran itu ya datang ke rumah ketemu orang tua) beberapa orang, itu ya karena saya memang belum ingin menikah. Bukan karena kamu tidak suka dengan orang tersebut? Orang yang saya sukai saja ajakan menikahnya saya tolak, apalagi orang lain yang cuma saya kenal biasa?

Lantas mengapa saya menolak ajakan menikah dari orang yang saya sukai tersebut? Pertama, saya belum ingin menikah dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan, sedangkan orang yang saya sukai tersebut ingin sesegera mungkin (satu sampai dua tahun ke depan) menikah. Jelas saya menolak, meskipun bayaran yang harus saya terima kemudian adalah melihat dia akhirnya meminang perempuan lain. Menyesal karena telah menolak ajakannya untuk menikah? Tidak. Tidak sama sekali. Saya justru akan menyesal jika waktu itu mengiyakan dan akhirnya saya menggantungnya lebih lama lagi karena ketidakpastian sikap saya ini. Dia butuh kepastian waktu untuk menikah, sedangkan saya belum ingin menikah. Apa nggak sebaiknya dia mencari perempuan yang sudah pasti mau diajak menikah? Iya, kan?

Kedua, saya ingin fokus pada pekerjaan dan Ai. Dulu, sebelum Ai lahir saya memiliki mimpi untuk menikah di bawah usia dua puluh lima tahun. Semuanya berubah sejak ada Ai di rumah kami, meskipun dia bukan satu-satunya alasan kenapa saya berubah pikiran. Dia adalah prioritas. Saya ingin menyekolahkan dia tanpa bantuan siapapun. Saya tidak mau ada campur tangan dari suami dalam hal pendidikan Ai. Memang tidak ada kewajiban bagi saya untuk membiayai seluruh pendidikan Ai. Bapak dan ibu saya tidak pernah memberikan tanggung jawab kepada saya untuk mengurus pendidikannya. Ini murni kesadaran diri, balas budi kepada bapak dan ibu, meski saya sadar seluruh hidup saya tidak akan pernah bisa membalas segala yang telah mereka berikan pada saya. Sampai kapan saya hanya akan fokus pada Ai? Mbuh.

Ketiga, ada keraguan. Dulu saya memang membayangkan hidup saya berdua dengan dia, mendampingi dia hingga kami menua. Tapi, malam dimana dia mengutarakan niatnya untuk menikah dengan saya, saya jadi bimbang. Saya memikirkan hal-hal diluar kami berdua. Tidak ada kelegaan yang saya rasakan. Ya begitulah hati manusia, gampang oleng kapten.

Keempat, ilmu saya mengenai pernikahan jauh dibawah rata-rata. Saya nggak mau menikah dalam keadaan goblok. Nggak ngerti sama sekali hakikat pernikahan, kesakralan ijab qabul, tanggung jawab saat nanti punya anak, dan lain sebagainya.

Kelima, ini baru saya sadari setelah selama ini merenung. Ternyata saya masih nggak bisa jauh dari bapak ibu saya. I love my family so much, and not ready yet to stay away from them.

Jadi, perkara menikah itu tidak bisa kita pukul rata pada semua orang. Masing-masing orang memiliki waktunya sendiri-sendiri. Dan waktu itu tidak ada yang terlambat atau terlalu cepat, semuanya pas, sesuai kapasitas.

Maka, teman-teman jamaah ismafawwaz yang baik hatinya, stop ngebacot ke teman kalian untuk segera menikah. Mind your own business. Keputusan hidup orang berbeda-beda. Mereka mau nikah kapan itu terserah mereka. Mereka mau nikah atau enggak itu juga keputusan mereka. Menikah juga nggak wajib ini, kok. Ape, lu?

Astaghfirullaah, maapin saya, gaes. Lagi mens hari pertama, maap, yak.

Oh iya, satu lagi, nih. Teruntuk mbak-mbak, ukhti-ukhti yang baru saja hijrah, itu tolong pembahasannya ganti yang lain. Nape kawin mulu yang diurusin. Ngebet banget pen nikah?

Ya enggak. Cuma, kan, risih aja ya setiap ngeposting yang dibahas ‘menikah muda’ melulu. Benar apa yang dikatakan mbak ini dalam cuitannya:

Sumber: twitter pribadi
Coba deh kalian lebih concern ke kasus-kasus yang menimpa sesama kalian. Sexual harassment yang lagi marak terjadi, bukannya malah nyalahin sesamanya dengan bilang “Ya mangkanya pake baju yang bener, aurat kemana-mana.” Bisa juga aware dengan angka kematian ibu dan bayi yang jumlahnya nggak sedikit. Kira-kira apa penyebabnya? Terus juga pentingnya bagi perempuan untuk pendewasaan usia pernikahan (pup). PUP bukan tanpa alasan, loh. Itu tuh menjaga kita dari resiko kematian saat melahirkan karena terlalu dini. 

Atau sederhana aja deh, kita lihat perempuan-perempuan di sekitar kita, masih adakah yang tidak bisa membaca atau menulis? Perempuan tuh perlu di edukasi yang kayak begitu-begitu, ukhti. Perempuan juga perlu di upgrade kemampuan dirinya sendiri. Biar apa? Ya biar mereka jadi perempuan yang mandiri. Nggak cuma “how to be a good wife” aja, nanti giliran monmaap nih, ditinggal suami, ya misal aja suami meninggal, kecelakaan, selingkuh, kita nggak hanya bisa nangis. Tapi juga bisa survive setelahnya dengan kemampuan yang perempuan miliki. Karena saya yakin, perempuan itu kuat. Lebih kuat dari yang bisa mereka bayangkan.

Deuuuh, nape w emosi .......

Eh tapi sumpah saya nggak ada masalah kok sama mereka-mereka yang menikah muda, beneran. Saya justru angkat topi buat mereka. Karena mereka sudah berani mengambil keputusan mulia dalam hidup. Orang-orang yang menikah muda yang saya kenal ini juga menikah dengan pintar. Maksudnya ilmu mereka sudah baik, mereka paham hakikat pernikahan. Jadi insyaallah nggak akan ada drama dikemudian hari yang menimpa mereka. Drama apa? Ya, betul: perceraian.

Sumber: twitter Turkey Home

Tidak ada komentar:

Posting Komentar