Banyak
jalan yang telah saya susuri bersama Bibeh. Di jalan itu pula banyak obrolan
yang telah kami bahas. Dulu, kami pernah ngobrol masalah skripsi yang nggak mari-mari, masalah HTI dan sampai
masalah hati. Hal terakhir lah yang paling kami minati. Hihihi.
Sore
ini, setelah kami melakukan perjalanan tak terduga ke GWD, kami pulang ke
rumah. Saya boncengan dengan Bibeh. Seperti biasa, saya lupa awalnya kami
ngobrol tentang apa. Kemudian meluncurlah pertanyaan dari saya “Kelak lakik kita modelannya gimana, ya,
Woh? Ngerti ndane sama sifat kita yang kek begini?”
Ah,
ya, saya ingat. Tadi kami sedang ngobrol perihal laki-laki yang masih suka
nyuruh Bibeh buat ngaji, belajar ini, belajar itu buat anak kelak, dsb. Bibeh
dengan watak yang seperti itu langsung kalap dan membalas, “Eh, ya masa, sih, hal-hal kek begitu harus aku kasih tahu ke kamu? Itu
udah urusan aku sama anakku kelak.”
Demi
apa pun, saya ketawa. Lah bocah kek Bibeh diceramahin begituan mah mana mempan.
Mantul shaaay. Dan kemudian terbitlah
pertanyaan saya seperti di atas. Bibeh membenarkan pertanyaan saya. Kami suka
penasaran sendiri bagaimana jodoh kami kelak. Apakah mereka bisa mengerti
bagaimana kami. Apakah mereka bisa mendukung segala sesuatu yang kami sukai
selama itu positif. Apakah mereka tahan banting dengan tingkah laku absurd kami
yang kadang ngeselin, banyak ngeselinnya, sih.
Kalau
sudah bahas yang begini kami suka mikir “Apakah
karena sikap kita yang terlalu liberal ini yang menyebabkan betah menjomblo?”
lantas saya bilang ke Bibeh, “Akutu
takutnya pas nikah gampang nggak nurutan ke suami, Woh.”
Yes. Saya selalu terbayang hal itu. Nggak tahu
kenapa, ya, tapi emang begitu. Saya suka mikir hal-hal aneh yang nggak
perlu-perlu banget dipikirin sebenarnya. Saya rasa, sih, itu syndrome takut nikah, wkwkwk. Karena
selain pikiran-pikiran aneh itu saya juga melihat pengalaman orang-orang
sekitar saya. Mereka yang memutuskan menikah di usia muda dan kehidupan
pernikahan setelah ijab qabul. Banyak yang justru membuat saya semakin nggak
pingin buru-buru menikah.
Saya
membayangkan bagaimana jadinya jika saya menikah lantas mobilitas saya jadi
terbatas. Sekarang saja, sejak Ibu memutuskan untuk kembali bekerja, saya
merasakan betul batasan itu. Kalau ada acara di luar saya suka kepikiran Fahri
di rumah. Jika saya keluar pagi, saya selalu terburu waktu agar sampai lagi ke
rumah setidaknya sebelum jam satu siang. Seperti hari ini, ketika ada job ngemc
pagi dan Ibu kebetulan tetap masuk kerja, meski hanya setengah hari, pikiran
saya nggak bisa tenang. Karena saya yakin Fahri pasti akan melewatkan makan
siangnya karena nggak ada orang yang memaksanya untuk makan. Hal-hal seperti
ini sudah membuat saya sadar jadi ibu rumah tangga itu tidak mudah. Dan saya,
kayaknya nggak cocok jadi IRT.
Meskipun
saya menyadari bahwa nanti akan ada masa dimana kita tidak lagi egois, itu
pasti. Dengan kesadaran diri dan kerelaan hati, kita pasti akan berkhidmat pada
anak dan suami. Saya sadar betul, seperti kata Bunda Anggie, setiap panggung
ada masanya sendiri.
Itulah
yang membuat saya dan Bibeh selalu berkata “Suami
kita kelak gimana, ya?”
Hal
itu cukup membuat saya mengerti bahwa tidak semua hal yang kita inginkan ada
dalam satu sosok laki-laki. Pasti kita akan berkompromi satu dua hal pada orang
tersebut. Karena kita juga pasti akan mendapat banyak pemakluman darinya.
Sempurna itu mustahil. Jika saya mencari jodoh yang sesuai dengan apa yang saya
inginkan, bisa jadi saya mati dalam keadaan jomblo.
Maka,
dalam perihal jodoh ini saya selalu berkata pada Tuhan, “Nggak bisa apa, ya, kasih kisi-kisi gitu. Paling enggak biar ada
persiapan. Wkwkwk.”
![]() |
| Sumber: IG @destinationistanbul |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar