Minggu, 09 Desember 2018

Perihal Jodoh: Tuhan, plis kasih kisi-kisi.

Banyak jalan yang telah saya susuri bersama Bibeh. Di jalan itu pula banyak obrolan yang telah kami bahas. Dulu, kami pernah ngobrol masalah skripsi yang nggak mari-mari, masalah HTI dan sampai masalah hati. Hal terakhir lah yang paling kami minati. Hihihi.

Sore ini, setelah kami melakukan perjalanan tak terduga ke GWD, kami pulang ke rumah. Saya boncengan dengan Bibeh. Seperti biasa, saya lupa awalnya kami ngobrol tentang apa. Kemudian meluncurlah pertanyaan dari saya “Kelak lakik kita modelannya gimana, ya, Woh? Ngerti ndane sama sifat kita yang kek begini?”

Ah, ya, saya ingat. Tadi kami sedang ngobrol perihal laki-laki yang masih suka nyuruh Bibeh buat ngaji, belajar ini, belajar itu buat anak kelak, dsb. Bibeh dengan watak yang seperti itu langsung kalap dan membalas, “Eh, ya masa, sih, hal-hal kek begitu harus aku kasih tahu ke kamu? Itu udah urusan aku sama anakku kelak.”

Demi apa pun, saya ketawa. Lah bocah kek Bibeh diceramahin begituan mah mana mempan. Mantul shaaay. Dan kemudian terbitlah pertanyaan saya seperti di atas. Bibeh membenarkan pertanyaan saya. Kami suka penasaran sendiri bagaimana jodoh kami kelak. Apakah mereka bisa mengerti bagaimana kami. Apakah mereka bisa mendukung segala sesuatu yang kami sukai selama itu positif. Apakah mereka tahan banting dengan tingkah laku absurd kami yang kadang ngeselin, banyak ngeselinnya, sih.

Kalau sudah bahas yang begini kami suka mikir “Apakah karena sikap kita yang terlalu liberal ini yang menyebabkan betah menjomblo?” lantas saya bilang ke Bibeh, “Akutu takutnya pas nikah gampang nggak nurutan ke suami, Woh.”

Yes. Saya selalu terbayang hal itu. Nggak tahu kenapa, ya, tapi emang begitu. Saya suka mikir hal-hal aneh yang nggak perlu-perlu banget dipikirin sebenarnya. Saya rasa, sih, itu syndrome takut nikah, wkwkwk. Karena selain pikiran-pikiran aneh itu saya juga melihat pengalaman orang-orang sekitar saya. Mereka yang memutuskan menikah di usia muda dan kehidupan pernikahan setelah ijab qabul. Banyak yang justru membuat saya semakin nggak pingin buru-buru menikah.

Saya membayangkan bagaimana jadinya jika saya menikah lantas mobilitas saya jadi terbatas. Sekarang saja, sejak Ibu memutuskan untuk kembali bekerja, saya merasakan betul batasan itu. Kalau ada acara di luar saya suka kepikiran Fahri di rumah. Jika saya keluar pagi, saya selalu terburu waktu agar sampai lagi ke rumah setidaknya sebelum jam satu siang. Seperti hari ini, ketika ada job ngemc pagi dan Ibu kebetulan tetap masuk kerja, meski hanya setengah hari, pikiran saya nggak bisa tenang. Karena saya yakin Fahri pasti akan melewatkan makan siangnya karena nggak ada orang yang memaksanya untuk makan. Hal-hal seperti ini sudah membuat saya sadar jadi ibu rumah tangga itu tidak mudah. Dan saya, kayaknya nggak cocok jadi IRT.

Meskipun saya menyadari bahwa nanti akan ada masa dimana kita tidak lagi egois, itu pasti. Dengan kesadaran diri dan kerelaan hati, kita pasti akan berkhidmat pada anak dan suami. Saya sadar betul, seperti kata Bunda Anggie, setiap panggung ada masanya sendiri.

Itulah yang membuat saya dan Bibeh selalu berkata “Suami kita kelak gimana, ya?”

Hal itu cukup membuat saya mengerti bahwa tidak semua hal yang kita inginkan ada dalam satu sosok laki-laki. Pasti kita akan berkompromi satu dua hal pada orang tersebut. Karena kita juga pasti akan mendapat banyak pemakluman darinya. Sempurna itu mustahil. Jika saya mencari jodoh yang sesuai dengan apa yang saya inginkan, bisa jadi saya mati dalam keadaan jomblo.

Maka, dalam perihal jodoh ini saya selalu berkata pada Tuhan, “Nggak bisa apa, ya, kasih kisi-kisi gitu. Paling enggak biar ada persiapan. Wkwkwk.”

Sumber: IG @destinationistanbul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar