Memutuskan untuk resign dari
kantor tempat bekerja menghadapkan saya pada situasi dilematis. Setelah resign,
beberapa waktu kemudian ibu kembali bekerja di tempat yang sama dulu. Bu Kus
(atasannya) tidak sekali dua kali menghubungi ibu untuk kembali bekerja.
Setelah ibu merasa Ai sudah bisa ditinggal kerja, beliau akhirnya memutuskan
untuk bekerja.
Sejak ibu bekerja, semua urusan
menyangkut Ai saya yang handle. Mulai dari jemput dia pulang sekolah hingga
mengantarnya ngaji. Segala keperluannya pulang sekolah seperti makan siang
hingga mengerjakan tugas sekolah pun tak luput dari campur tangan saya.
Singkatnya, saya berganti peran dengan ibu, menjadi kakak rumah tangga.
Oleh sebab itu meskipun sekarang
saya sudah tidak bekerja lagi mobilitas saya tetap terbatas. Banyak pihak
menyesalkan keputusan saya untuk resign. Beberapa teman dekat menyayangkan,
terus kalau nggak kerja kamu mau ngapain? Kok bisa, sih, nggak kerja? Mau
ngerepotin orang tua terus?
Saya menyadari sepenuhnya apa
yang saya lakukan. Saya memahami resiko yang akan saya hadapi. Judgement dari orang-orang, omongan
negatif, dan lainnya.
Gaes, have you ever felt like you won’t get up every morning in every
day? Have you? Itu yang saya rasakan setiap malam menjelang dan mendapati
kenyataan bahwa besok saya harus kembali ke kantor untuk bekerja. Jika kalian
menanyakan apa alasan saya resign saya bingung harus menjawab apa. Biar mudah,
saya tidak cocok dengan pekerjaan tersebut. Menjadi service relation officer bukan bidang yang saya minati.
Mey, bukankah seperti yang kamu bilang bahwa tidak ada pekerjaan yang
mudah? Semua tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang kamu inginkan, kamu
tahu itu.
Tentu, tidak ada pekerjaan yang
mudah. Tapi saya bisa memilih, dan saya memilih untuk tetap menjaga pikiran
saya agar tetap sehat. Saya sadar betul saya tidak bisa menyenangkan semua
orang, karena memang begitu manusia, memiliki keterbatasan. Tapi hidup selalu
memiliki pilihan bukan? Dan saya memilih untuk mengikuti kata hati saya.
Memang betul, nggak kerja itu
nggak enak. Nggak punya pemasukan, nggak bisa beli buku sesering saat bekerja,
nggak bisa jajanin adik-adik dan keluarga sesering saat bekerja. Tapi sungguh
saya nggak ingin stress. Memaksakan pikiran untuk menanggung beban yang berat,
kalau beban fisik saja saya masih bisa tahan, tapi pikiran? No, i love me.
Sila judge saya egois, mementingkan diri sendiri, tidak apa-apa, itu hak
semua orang.
Berulang kali saya selalu bilang
ke diri sendiri bahwa pasti akan dapat ganti yang lebih baik. Pekerjaan yang
sesuai dengan saya, pas dengan saya, yang ketika saya bekerja saya melakukannya
dengan baik setiap hari.
Beberapa waktu yang lalu saya
dipanggil untuk interview sebagai station announcer di Jember. Saya berangkat
dengan percaya diri karena sudah mengantongi restu dari bapak dan ibu di
Banyuwangi. Selama perjalanan saya hanya bilang ke Tuhan, bahwa semua ketetapan
terjadi atas kuasa-Mu, saya tidak akan berharap banyak pada kesempatan kali
ini, jika ini rezeki saya maka saya akan dapat. Sudah, itu yang saya katakan
berulang kali dalam hati.
Saat interview saya ditanya apa motivasi ikut mendaftar sebagai station announcer. I said, i do what i love. Somebody told me that all the things that i have
to do is just do what i love. I love announcing, i love presenting, i love
hosting, that’s all my motivation.
Keluar dari ruangan saya mbatin “Halaaaah taeeeek, motivasi melok yo ben iso
megaweee, oleh duwit, foya-foya, hura-hura.” Tapi cuma mbatin. Harusnya mah
saya tambahin aja sekalian “I’m feeling
sexy when i’m talking with microphone, i loveeeee that so much.”
Akhirnya keputusan sudah diambil.
Pekerjaan itu belum menjadi rezeki saya. Yup, saya sudah menyiapkan dua mental
jauh-jauh hari. Mental diterima dan mental ditolak. Paling tidak saya sudah
mencoba.
Kejadian-kejadian dalam hidup
saya membuat saya sadar bahwa keputusan untuk tetap hidup adalah keputusan maha
luar biasa yang pernah dibuat oleh manusia secara sadar. Kita memilih untuk
tetap hidup dan menerima semuanya. Menerima untuk dicampakan, menerima untuk
dikecewakan, menerima untuk tidak dihargai, menerima untuk patah hati, menerima
untuk dibenci.
Tumbuh menjadi dewasa dan
menghadapi kompleksitas kehidupan. Belum lagi perihal menikah. Saya selalu
membuang jauh-jauh pikiran buruk tentang pernikahan. Saya takut jadi apatis. Kenyataan-kenyataan
yang tersaji di depan mata kepala saya sendiri adalah penyebabnya.
Kemarin-kemarin saat saya menunggui
Fahri ngaji, saya selalu ngobrol bersama Mbak Fitri (penjual jajanan di dekat
tempat ngaji) sembari menunggu ibu saya pulang kerja. Ketika ibu datang Mbak
Fitri selalu curhat apa saja ke ibu. Kebetulan waktu itu saya tepat persis di
depan Mbak Fitri. Mbak Fitri bercerita tentang mertua perempuannya yang sudah
tidak kooperatif sama sekali. Mertuanya ini selalu minta duit setiap hari. Mbak
Fitri ini hanya perempuan biasa yang untungnya sangat rajin. Dia berusaha
mendapat penghasilan tambahan dengan berjualan cireng, sosis, mi dan es di
dekat tempat pengajian. Jika kalian tahu bagaimana Mbak Fitri mengeluhkan ulah
mertuanya saya yakin kalian bakal nelangsa.
Saya nggak bermaksud untuk
menceritakan aib keluarga, tapi apa yang saya sharing ini menjadi salah satu pengingat bahwa berkeluarga tidak
semudah kita ambil napas. Pengingat bagi saya, juga pengingat bagi teman-teman
yang belum menikah.
Saya akan selalu bangga dengan
istri-istri cekatan yang mampu menghasilkan uang sendiri meskipun suaminya
bekerja. Hormatku setinggi-tingginya. Mereka memilih untuk tidak bergantung
pada suami. Siapa yang akan menduga jika suatu saat nanti ada hal tidak
diinginkan terjadi pada suami? Mati, misalnya. Atau perceraian.
Hal-hal yang teramat kompleks ini
nyata. Ada di depan mata kita dan saya tidak mau menutup mata atas itu. Ibu
saya berulang kali bilang bahwa menikah itu bukan suatu keputusan yang dapat
dengan mudah kamu ambil. Kamu harus siap dengan segalanya. Saya juga tidak mau
menikah karena dikejar deadline. Saya akan menikah dengan kesadaran diri
sepenuhnya. Tidak ada yang namanya terlambat menikah, semua tepat pada
waktunya.
Oh, ya. Kemarin saya juga nonton
#KeluargaCemara bersama Bibeh. Sebuah tontonan yang sangat recommended. Pingin banget
ngajakin sekeluarga nonton ini kek pas nonton Wiro Sableng dulu, tapi apa daya
duit masih nyangkut kemana-mana :(
Selesai nonton kami makan mi ayam
Pak Heri. Bercerita tentang masa depan, pernikahan, keluarga, adalah menu wajib
yang selalu kami lahap. Bibeh dan Veni adalah dua orang favorit saya jika
menyangkut urusan seperti ini.
Akhirnya, dengan kelapangan hati
saya harus terus melanjutkan hidup. Masih kuat. Tuhan masih senang mendengarkan
suara saya saat memohon, meski hanya dalam hati. Tidak dipungkiri memang ketika
jobless begini kadang meme-meme menyesatkan
itu benar adanya. Capek lah begini mulu, nikah aja udah.
Hmmm tidak semudah itu, Marfu’ah.
![]() |
| Sumber: Twitter |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar