Saya menghabiskan beberapa menit
di depan laptop untuk memulai tulisan ini. Sebelumnya, selamat lebaran,
teman-teman. Semoga kita semua berlapang dada untuk menerima segala keputusan Tuhan
dan memulai semuanya lagi dari awal dengan hati yang baru.
Ungkapan ‘tak ada yang abadi’
agaknya harus menjadi pedoman hidup bagi setiap kita. Agar ketika kita
menghadapi hal-hal yang berbeda dari kebiasaan, kita tidak terkejut. Jika tahun
ini ada dari kalian yang berlebaran berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, maka
ingatlah pedoman bahwa ‘tak ada yang abadi’ di dunia ini.
Tahun lalu, kita masih bisa
berlebaran bersama keluarga dan menikmati suasana hangat bersama mereka. Tapi
tahun ini, kita harus abstain untuk berkumpul bersama keluarga saat lebaran
karena harus menjalankan kewajiban pekerjaan.
Tahun lalu, kita masih bisa
berlebaran bersama orang-orang terkasih dan bersenda gurau bersama sembari
menikmati opor ayam. Tapi tahun ini, kita harus ikhlas melewati lebaran tanpa
hadirnya orang-orang tekasih karena mereka harus ‘pulang’ lebih awal.
Tahun lalu, kita masih merayakan
lebaran seorang diri. Belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hadir saat
lebaran, sehingga menjadi ajang bully
oleh handai taulan. Tapi tahun ini, kita patut bersyukur karena sudah bisa dengan
bangga mengajak teman hidup untuk berlebaran bersama keluarga besar.
Tahun lalu, kita masih bisa
berlebaran dengan fisik yang sehat, sehingga bisa mendatangi rumah tetangga dan
saudara. Tapi tahun ini, kita harus berlapang dada dengan kondisi fisik yang
lemah karena sakit saat hari raya.
Tahun lalu, kita masih merasakan
suasana hangat berlebaran di rumah bersama keluarga. Tapi tahun ini, kita mesti
menghadapi ujian dengan berlebaran di tempat seadanya karena rumah kita hangus
terbakar atau rata oleh tanah karena bencana alam.
Tahun lalu, kita masih menerima
yang namanya ampau lebaran. Tapi tahun ini, karena sudah bekerja dan
berpenghasilan, kita bisa memberi adik-adik kecil kita ampau lebaran.
Segala kejadian tersebut membuat
ungkapan ‘tak ada yang abadi’ menjadi benar adanya. Ia tak hanya kekal sebagai
ungkapan, tapi menjadi hukum yang berlaku dalam semesta.
Tahun ini, saya harus bersyukur
karena telah mampu memberi untuk orang-orang dari hasil kerja saya. Hasil dari
pekerjaan yang sangat saya cintai. Hasil dari pekerjaan yang membuat saya
selalu merasa cukup.
Disisi lain, saya harus bersedih
hati karena lebaran tahun ini kondisi fisik bapak tidak sebugar lebaran tahun
lalu. Saat mengunjungi rumah saudara di Kedunen, bapak tidak ikut. Selama
bertahun-tahun kami selalu keluar rumah bersama saat lebaran. Dari yang dulu
satu motor berempat (sebelum ada Fahri) hingga sekarang kami butuh dua motor
untuk pergi. Setiap lebaran kami selalu bersama. Bapak, ibu, saya, Ardi, Fahri.
Namun, ketika tahun ini saya harus disadarkan oleh fakta kesehatan bapak yang
tidak lagi seperti dulu, saya agak tidak terima.
Kenapa harus bapak saya?
Bertahun-tahun keluarga kami tidak apa-apa. Tidak ada yang sakitnya sampai
seperti sakit bapak saya saat ini, yang setiap saya melihat beliau membersihkan
luka-lukanya, hati saya hancur.
Kemudian saya ingat hukum yang
berlaku dalam semesta itu, dan kesedihan saya berangsur hilang. Hal-hal seperti
ini harusnya sudah tidak perlu diratapi. Tuhan memberikan sesuatu pada kita, di
sisi lain sudah tentu ada sesuatu yang lainnya yang Dia ambil. Tahun ini
mungkin Tuhan memberikan kepada saya kecukupan finansial sehingga bisa berbagi,
tapi Tuhan juga mengambil nikmat sehat kepada bapak saya sebagai ujian.
Siapa yang tidak ingin
kehidupannya di dunia lancar-lancar saja? Baik-baik saja? Tentu semua orang
menginginkan hal tersebut. Hidup berjalan dengan lancar dan sesuai dengan
harapan. Tapi, kan, tidak begitu. Tentu setiap dari kita memiliki persoalan
hidupnya masing-masing.
Tidak cukup sampai pada bapak saja
saya dibuat sedih. Ketika datang ke rumah Mbah Ji (kakak kandung mbah saya dari
pihak ibu) hati saya kembali dibuat hancur. Mbah Ji, satu-satunya kakek yang
saya miliki saat ini, harus kehilangan nikmat sehat juga. Beliau telah pikun.
Tidak ada lagi guyonan yang kerap beliau lontarkan pada saya dan keluarga
ketika datang. Fisiknya memang terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan
jiwanya.
Ketika saya duduk di depan beliau
dan mencium tangannya, pandangan matanya kosong. Beliau memang menyambut setiap
tamu yang datang dengan senyum, tapi tidak ada satu pun orang yang ia kenali.
Bahkan, saya sampai berucap “Diana, mbah” dengan harapan beliau bisa mengenali
saya, karena salah satu cucunya ada yang namanya sama dengan saya, Diana.
Tapi beliau hanya berujar lirih,
“Diana”, sambil tetap tidak mengingat saya. Saya yang hanya cucu jauhnya ini
saja sedih melihat kenyataan orang-orang yang kita sayangi ini lupa terhadap
kita. Apalagi istri, anak-anak dan cucunya. Mbah Ji memberikan kenangan yang
baik di ingatan saya dan keluarga. Dari tahun ke tahun di masa lampau (sebelum
beliau pikun), saat keluarga kami datang, beliau selalu menyambut kami penuh
hangat, tidak lupa tawanya yang selalu terpasang di wajahnya.
Kembali lagi saya menyadari bahwa
tidak ada yang abadi di dunia ini. Orang-orang harus bersiap diri untuk
menerima perubahan, menerima kenyataan, menerima keputusan Tuhan. Susah memang,
tapi pasti bisa.
Sekali lagi, selamat merayakan
Idulfitri dengan cara masing-masing. Mari saling memaafkan, mari saling menguatkan.
![]() |
| Sumber: @turkey_home |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar