Rabu, 08 Januari 2020

Menjadi Tua yang Biasa Aja

Baru saja saya dan ibu belanja kebutuhan untuk khitanan Fahri. Berdasarkan the power of lambe ke lambe, kami menemukan tempat belanja kebutuhan yang murah, alias grosir. Ternyata tempatnya teramat dekat, tetangga kampung, Pakis Plampang.

Dari ancer-ancer yang diberikan oleh Pakde Pur, akhirnya kami sampai ke sebuah rumah yang disebelahnya terdapat bangunan mirip garasi mobil tapi besar sekali. Dua truk kayaknya muat. Di luar pintu, sebelum masuk area toko, saya melihat jurigen-jurigen minyak goreng. Agak di depannya saya melihat tumpukan-tumpukan botol saus dan kecap. Melongo ke dalam toko saya melihat tumpukan beras berbagai varian menjulang tinggi. Mata saya tidak henti-hentinya menyapu ruangan besar tersebut. Kopi sachet menjuntai bermacam-macam merek, shampoo pun demikian.

Toko Bu Iip namanya. Di sebelah toko adalah rumah si pemilik. Jadi, rumah dan toko ada dalam satu pagar. Di depan rumah Bu Iip saya menemukan tumpukan mi kuning, mi khas orang-orang hajatan. Kemudian agak ke pinggir ada berkrat-krat telur ayam.

Malam ini toko grosir Bu Iip lumayan ramai. Saya yakin betul kalau siang tentu jauh lebih ramai. Saya melihat aktivitas orang-orang yang berbelanja. Bu Iip, suaminya, anak perempuannya dan satu pegawainya tampak sibuk. Semua orang ramah-ramah, mulai dari Bu Iip, suami, anak dan pegawainya. Meski harus antre untuk dilayani tapi saya menikmati. Justru senang bisa mengamati lebih lama aktivitas mereka.

Sambil melihat-lihat, saya melipir ke ibu dan bilang “Buka grosiran kayak gini modalnya berapa? Buka ginian aja yuk di rumah.” Ibu hanya tertawa dan memberikan komentar bahwa beliau nggak mau dimusuhin tetangga. Maklum, tetangga kami ada yang buka warung kelontong.

Saya melanjutkan melihat aktivitas orang-orang di warung Bu Iip. Nggak tahu kenapa malam ini saya begitu kepingin bisa buka toko grosir seperti Bu Iip. Random aja gitu. Setiap Minggu pagi saya melihat pecel rawon depan Mandala yang selalu ramai dan hal itu membuat saya pingin jadi bakul pecel rawon aja. Kemudian melihat pentol Pak Lan yang nggak pernah sepi juga membuat saya pingin jadi bakul pentol aja. Atau melihat tetangga saya, sepasang suami istri, Mbak Ulfa dan Mas Joko yang setiap pagi peracangannya nggak pernah sepi juga membuat saya pingin jadi bakul peracangan aja. Setiap melihat aktivitas ekonomi masyarakat yang terus bergerak dan nggak muluk-muluk, saya latah kepingin begitu juga. Dan malam ini giliran Bu Iip yang ingin saya tiru.

Semakin dewasa, semakin berumur, rasanya hidup jadi semakin sederhana. Hidup tenang bersama orang-orang yang dicintai. Semua mimpi dan ambisi bukan lagi yang paling ingin dicapai. Tercapai syukur, enggak juga nggak apa-apa. Hehehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar