Hari
ini saya kembali menyadari betapa bahagia dan sedih manusia itu berbeda-beda. Perantaranya
juga bisa dari apa, dari mana, atau dari siapa saja.
Saya
ingin cerita tentang sedih dan bahagianya ibu saya. Kesedihan ibu saya ini
teramat sederhana dan ora ndakik-ndakik,
gaes. Pun dengan kebahagiannya. Tapi saya sering terlewat apa-apa saja yang
membuat beliau sedih.
Hari
ini jadwal siaran saya kosong. Dua jadwal siaran saya, Citizen Voice dan Musikisme
semuanya digantikan oleh Nandi dan Robby, karena beberapa waktu lalu saya
menggantikan jadwal mereka. Saya bangun siang hari ini setelah beberapa hari
sebelumnya jadwal begitu rapat. Setelah mandi dan main sebentar dengan Araa,
saya nyetrika baju. Setrikaan saya benar-benar numpuk kaya hutang negara :’(
Saat
sedang menyetrika, Mak Yem (tetangga timur rumah) datang ke rumah mencari ibu. Selang
beberapa menit kemudian mereka berdua keluar rumah. Saya yang sedang sibuk
nyetrika nggak begitu ngeh dengan apa
yang ibu dan Mak Yem lakukan. Sampai akhirnya ibu kembali lagi ke rumah.
Saya
tetap dengan aktivitas saya nyetrika sampai kemudian bapak yang ada di depan
rumah lagi otak-atik mio-nya, manggil ibu. Bapak bilang ke ibu kalau sudah
selesai. Saya masih juga belum ngeh
apanya yang sudah selesai. Saya dengar ibu buru-buru mematikan kompor dan
segera keluar rumah lagi.
Saya
tidak memerhatikan aktivitas ibu karena memang posisi saya nyetrika itu
membelakangi orang-orang. Setelah selesai dengan keriweuhannya, ibu mendekati
saya dan bilang, “Alhamdulillah, kak, iso digawe sampek lebaran.”
“Apanya?”
“Panci
lontrik sing biasa dipake masak lontong. Ibuk e wingi sampek nangis gara-gara
panci bocor pas masak.”
Saya
yang memang belum pernah tahu ibu nangis perkara lontong jadi penasaran.
“Lebaran
kapan itu ibuk e nangis?”
“Tahun
kemarin iki. Wes masak lontong setengah jalan kok banyune netes-netes, ternyata
panci bocor.”
![]() |
| Ini penampakan pancinya. |
Ibu
bercerita bagaimana kemudian beliau mengeluarkan lagi lontong-lontong itu dan
menambal panci andalannya tersebut dengan enjet
(kapur yang biasanya dibuat orang tua nyirih)
dan lain sebagainya. Saya mendengarkan ibu cerita sambil tetap menggosok baju
dan sambil nelangsa.
Ternyata
momen-momen ibu sedih seperti itu saya melewatkannya. Dan hari ini, melalui
tukang patri, ibu saya teramat bahagia. Sesederhana itu. Bisa saya tebak raut
wajah ibu yang siap memasak lontong untuk hidangan hari raya. Bisa saya lihat
raut wajah ibu yang siap memasak lontong untuk sanak saudara yang memang selalu
titip dibuatkan oleh ibu.
Begitu
banyak yang bisa saya syukuri dalam kehidupan saya. Punya orang tua yang
keduanya masih sehat wal afiat. Punya ibu yang selalu mendukung setiap aktivitas
saya. Kesedihan orang tua saya bukan karena saya tidak bekerja kantoran dengan
gaji besar, bukan karena saya tidak jago masak, bukan karena saya belum menikah
atau lain sebagainya.
Sekarang
saya mengerti kenapa saya tidak ikut panik ketika teman-teman perempuan saya
satu per satu melepas masa lajang. Saya ada di sirkel keluarga inti yang sehat.
Ya, keluarga inti saya betul-betul nggak banyak bacot. Keluarga inti saya tidak
buru-buru meminta saya cepat menikah. Saya tidak bilang kalau keluarga inti
saya keluarga yang open minded, ya. Karena
pada beberapa kasus bapak saya itu konservatif banget. Berbeda dengan ibu saya,
yang meski hanya lulusan MI dan tumbuh besar dengan gempuran kehidupan, tapi point of view beliau jauh lebih baik.
Dan
satu hal lain yang saya sadari adalah, menjadi ibu rumah tangga harus siap
dengan kesedihan-kesedihan perihal tetek bengek dapur yang kayaknya sekarang
ini masih belum kepikiran sama kita. Panci andalan bocor, ternyata bisa sesedih
itu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar