Ketika hidup di zaman serba cepat, teknologi semakin di depan (yamaha kali ah), dunia terasa semakin jauh, dan pandemi nggak selesai-selesai, dunia maya kita selalu penuh dengan huru-hara. Setiap hari tidak ada kejadian yang luput dari sorotan. Ada saja hal-hal yang viral.
Seperti waktu itu yang dialami
Nia Ramadhani. Potongan video dia ketika memandu Tik-tok Awards mendapat banyak
sorotan, karena dianggap tidak profesional. Aku tidak berkomentar sebelum
melihat sendiri versi penuh videonya. Jadi, aku putuskan untuk melihatnya
sendiri di youtube.
Setelah selesai nonton baru aku
berani memberikan pendapat. Aku mencuitkan pendapatku dan mendapat banyak
respon dari netizen.
Jadi begini, menjadi master of
ceremony itu sesuatu yang bisa dilatih. Kemampuan memandu acara tidak datang
secara tiba-tiba. Lahir procot bisa cuap-cuap, enggak. Nangis mungkin iya. Dari
Nia Ramadhani kita belajar bahwa menjadi MC itu tidak mudah.
Kecerdasan bicara kadang tidak
dianggap sebagai sesuatu yang sudah sepatutnya mendapat value yang lebih. Aku
menyadari hal ini ketika diminta untuk memandu acara sekaligus menjadi
moderator di sebuah acara. Honorku lumayan besar pada waktu itu.
Aku sempat bertanya pada salah
satu panitia yang kebetulan memang kawan sendiri. Dia bilang, yang akan terus
aku kenang, bahwa kecerdasan bicara itu sudah sepatutnya dinilai lebih. Nggak
bisa hanya dinilai dengan terima kasih. Tentu konteks acara yang kita bahas
adalah acara besar. Kalau aku di hire
secara profesional ya honornya juga harus profesional.
Kembali ke Nia Ramadhani. Ada
banyak sekali yang bisa kita diskusikan soal kenapa Nia Ramadhani bisa seperti
itu di atas panggung. Bahkan ada pengamat yang menilai apa yang dialami Nia itu
adalah sebuah kecemasan. It’s natural.
Siapa yang nggak nerveous ada di
sebuah panggung besar dan ditonton seluruh Indonesia. Siapa yang nggak
deg-degan memandu sebuah acara yang disiarkan langsung di tv nasional.
Ini bukan soal merendahkan sesama
perempuan. Aku benar-benar mengambil pelajaran dari kejadian itu. Bahwa menjadi
MC itu enggak mudah. Dan meski tidak mudah tapi masih banyak yang tidak
benar-benar menganggapnya sebagai kemampuan yang layak mendapat apresiasi
lebih.
Aku sadar semua butuh yang
namanya proses. Pertama kali ngemc juga aku tidak langsung tampil memukau. Pertama
kali ngemc juga aku tidak langsung mendapat imbalan atas apa yang sudah aku
lakukan. Ada banyak sekali panggung yang aku lalui sebagai ajang aktualisasi
diri. Menaklukan banyak panggung untuk mendapat pengalaman dan mematangkan
kemampuan.
Percayalah, tidak mudah menjadi
seorang pembawa acara. Tidak mudah membuat acara menjadi hidup dan memberikan
kesan mendalam pada audience. Tidak
mudah menjadi sorotan di atas panggung. Tidak mudah memikul tanggung jawab
“berhasil atau tidaknya acara bergantung pada MC-nya.”
Dah begitu kalian tetep minta MC
gratisan dengan dalih “konco dewe”. Kalau ngaku konco tuh mbok ya berkontribusi
terhadap keberlangsungan hidup konconya. Kapan lagi kamu berkontribusi terhadap
hidup temanmu? Bukan begitu?
Semangat terus, Mbak Nia
Ramadhani. Jangan biarkan cocote netizen membuatmu berhenti belajar.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar