Pada tahun 1994, seorang perempuan membuka sebuah kado pernikahan yang berisi album foto. Album foto berwarna hitam dengan gambar perempuan asing di sampul depan. Perempuan yang sangat jelita. Album foto itu lantas digunakan untuk meletakkan beberapa dokumentasi pernikahan si perempuan. Tidak hanya foto-foto pernikahan, tapi juga foto-foto masa muda dan beberapa dokumentasi potret dirinya sebelum pernikahan.
Di balik sampul depan album foto, si perempuan meletakkan beberapa foto yang ia gunting dari sebuah koran. Potret satu keluarga yang amat ia kagumi, hingga hari ini. Ia beri keterangan di atas gambarnya, keluarga bahagia. Keluarga itu adalah keluarga Muchsin Alatas. Ada juga guntingan koran yang menampakkan wajah Desy Ratnasari ketika muda. Entah dua foto itu dari koran apa dan edisi tahun berapa.
Di halaman belakang, perempuan
tersebut meletakkan foto seorang penyiar radio yang sedang berada di ruang
siaran. Terdapat wadah kaset berwarna biru di dekatnya dan juga terlihat mixer serta mic siaran, khas studio radio. Penyiar bernama Anik itu memakai
baju berwarna pink, rambutnya indah tergerai sebatas punggung. Anik terlihat
sedang duduk di kursi plastik berwarna putih. Darimana saya tahu penyiar itu
bernama Anik? Karena si perempuan juga menggunting beberapa keterangan yang
kemudian ia tempel di sisi-sisinya.
Radio Kasihku Bumiayu. PT Radio Kelana Sumbangsihku yang lebih populer
dengan sebutan Radio Kasihku di Kotif Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah,
menangkap bulan Ramadhan sebagai peluang. Begitu keterangan yang saya baca
di halaman belakang album foto itu. Keterangan yang lain juga mencantumkan
tulisan: Penyiar Anik sedang bertugas di
studio satu, juga mencantumkan keterangan lain, yaitu: Kompas, Rabu, 29 Januari 1997.
Dari sana saya tahu bahwa koran
yang digunting oleh perempuan itu adalah koran Kompas edisi 29 Januari 1997 (jika
merujuk pada keterangan ini bisa jadi foto keluarga Muchsin Alatas dan Desy
Ratnasari di sampul depan itu juga dari koran edisi yang sama). Dan, perempuan
itu adalah ibu saya.
Sampai hari ini jika saya
bertanya apa alasan ibu menempel foto penyiar radio tersebut, jawabannya selalu
sama, “Enggak tahu, bagus aja, keren
gitu.” Hingga akhirnya, dua puluh dua tahun kemudian anaknya menjadi
seorang penyiar radio.
Saya seperti dibukakan jalan oleh
Tuhan. Sejak kecil akrab dengan yang namanya radio, sejak kecil akrab dengan
suara penyiar yang keluar dari radio, sejak kecil juga sudah terbiasa berkirim
atensi ke radio. Dan, sejak kecil saya sudah melihat gambar yang ibu tempel di
halaman belakang album foto itu. Entah merasa tersugesti atau bagaimana, saya
juga mau kelak menjadi seperti Penyiar Anik.
Long story short, beberapa waktu yang lalu saya dan ibu
bernostalgia dengan melihat-lihat album foto tersebut. Hingga sampai di halaman
belakang itu saya iseng memeriksa apakah Radio Kasihku Bumiayu itu masih
mengudara atau tidak. Saya ambil handphone
dan mulai mengetikkan namanya di google.
Surprisingly, radionya masih mengudara hingga hari ini. Saya dan
ibu speechless. Tidak menyangka bahwa
kami bisa mendengarkan radio yang selama ini hanya tersimpan rapi di halaman
belakang album foto, tanpa pernah mendengarkan suaranya. Waktu kami mendengarkan,
Radio Kasihku Bumiayu sedang memutar lagu-lagu tanah Hindustan.
Dulu, tentu mustahil bagi ibu
untuk bisa mendengarkan radio yang jauh sekali, terpisah provinsi. Tapi,
sekarang dengan kemajuan teknologi, kami bisa mendengarkan Radio Kasihku
Bumiayu. Bahkan saya bisa melihat aktivitas mereka lewat instagram.
Rasanya seperti menelusuri waktu.
Disadari atau tidak, Radio Kasihku memiliki history
yang berarti dalam perjalanan profesi saya sebagai penyiar radio. Mungkin jika
dulu ibu tidak menempel potongan koran Kompas itu, saya pun tidak punya naluri
untuk menekuni dunia siaran. Mungkin jika dulu ibu menempel foto petugas pemadam
kebakaran, bisa jadi hari ini saya sudah menjadi pengendali api yang pantang
pulang sebelum padam. Mungkin jika dulu ibu menempel foto Nia Daniaty sedang
konser, bisa jadi hari ini saya sudah menjadi pengusaha gelas kaca. Wallahua’lam.
Saya berdoa agar Radio Kasihku Bumiayu terus mengudara hingga nanti saya punya kesempatan untuk datang langsung ke radio yang membuat saya mau menjadi seorang penyiar radio itu. Syukur-syukur jika saya bisa bertemu juga dengan Penyiar Anik.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar