Menjalani tarawih pertama di Karangrejo dengan perasaan sentimentil. Yang terus berulang, suatu saat henti itu benar adanya. Belasan tahun aku hidup di Pakis, menyatu dengan seluruh hal di sana, tiba-tiba suatu hari harus terhenti. Dengan sekejap aku tidak lagi menjadi bagian dari sana.
Tempo hari aku sempat bertanya ke
ibu, “kira-kira anak-anak merasa kehilangan aku gak, ya?”
Perasaan hampa itu baru terasa
ketika segala hal yang selalu rutin kita lakukan tiba-tiba terhenti. Bulan
ramadan seperti ini biasanya aku akan menjadi penghuni tetap shaf baris kedua
(kadang-kadang juga baris pertama) dan tadarus bersama anak-anak.
Sampai kemudian semalam aku
melaksanakan tarawih di musala tempat Ai ngaji. Entah di rakat berapa aku
menangis. Ingat rutinitasku di Pakis yang tentu saja sekarang sudah tidak bisa
dilakukan. Kami sudah biasa berpindah, tapi kepindahan kami kali ini benar-benar
seperti membawa serta ratusan kilogram batu di pundak kami, berat sekali.
Tinggal di Pakis adalah durasi
terlama kami selama no maden. Tinggal di Pakis adalah zona nyaman yang sayang
untuk ditinggalkan. Tapi apa daya, hidup harus terus berjalan.
Sampai tadi malam aku merasakan
sebuah keistimewaan memiliki tempat tinggal yang bersebelahan dengan musala. Di
Pakis, rumah kami dekat sekali dengan musala. Kalau mau tarawih tinggal jalan
kaki saja. Di sini kami harus bawa motor untuk bisa ke musala terdekat.
Ini adalah ramadan pertamaku di
Karangrejo, yang mana itu juga menjadi ramadan pertama tidak tadarus di musala
bersama Tante Lita, Karin, Dzikri, Upik, Hana, Ria, dll.
Aduh, udah kangen aja balik ke
Pakis lagi apa, ya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar