Sabtu, 06 April 2024

MENGKHIANATI SKALA PRIORITAS

Ramadan sudah hari ke-26, lebaran sudah di depan mata, Inspektur Vijay malah memilih bawa pulang LED TV Second segede gaban yang entah buat apa. Ya pastinya buat nonton tv, tapi kenapa? Kenapa segede jendela rumah Belanda? Padahal di rumah sudah ada tv yang masih berfungsi dengan baik.

Bapak bilang tadi pas ke tempat sepupunya beliau melihat tulisan "dijual" di LED TV itu. Sungguh aku enggak habis pikir kenapa bapak memilih menghabiskan uang THR-nya untuk beli barang itu ketimbang dipakai buat beli yang lain yang lebih penting.

Maksudku adalah, mbok ya yang penting-penting aja dulu gitu loh. Bapakku tuh memang sejak dulu kayak terang-terangan mengkhianati skala prioritas yang sudah susah-susah diciptakan di dunia ini. Enggak ada itu yang namanya memprioritaskan kebutuhan. Apa aja yang bikin dia happy, pasti dibeli.

Dulu mungkin kami, anak-anaknya, enggak banyak komplain karena masih kecil. Tapi, pas sudah dewasa begini melihat bapak impulsif beli-beli barang gitu pasti kami sewotin. Kalau sudah begitu pasti bapak juga balik sewot. Jadilah kita sewot-sewotan.

Satu sifat bapak yang sulit aku pelajari dan entah kenapa enggak nurun ke aku adalah "santai aja, jangan terlalu dipikirin". Sikap ini sebetulnya membantu kita untuk menjalani hidup yang semakin banyak akrobatnya ini. Itu sebabnya aku cocok berkawan dengan Bibeh, karena Bibeh tuh mirip bapakku. Di dekat Bibeh, semua urusan cincay saja. Di dekat bapakku, hidup yang penuh akrobat ini jadi ringan saja.

Kondisi kami yang sekarang ini, tidak bisa dipungkiri, berdampak padaku. Setiap hari kayak dicekik, padahal ya sebetulnya enggak semenakutkan itu. Bisa jadi aku enggak pernah tahu apa yang ada di pikiran bapak, beban yang dipikul beliau tanpa kami semua tahu, dan aku akan selalu berdoa pada Tuhan semoga bapak sembuh atas luka-luka yang dia rasakan sendirian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar