Menulis catatan ini di hari libur kerja. Aku belum cerita, ya? Aku sekarang bekerja, literally bekerja di sebuah perusahaan. Yes, di usia 29 tahun ini aku memulai lagi dari awal, and it’s really okay.
Tepat saat ulangtahunku kemarin (31/5) aku mendapat pengumuman hasil interview hari Selasa (28/5). Mungkin sebelum tiba-tiba pengumuman interview aku akan cerita bagaimana muasalnya aku bisa ikut interview.
Beberapa waktu yang lalu, adik sepupuku, Hani, menawarkan posisi admin di tempatnya bekerja, CV Boga Lestari, atau yang lebih kita kenal dengan Amanda Brownies. Admin lama akan resign per akhir Mei 2024. Aku yang waktu itu merasa bosan dengan rutinitasku, berani untuk mencoba.
Kandidatnya tidak hanya aku saja, ada satu lagi kenalan kepala cabang outlet. Selasa pagi kami datang dan memenuhi panggilan interview. Selayaknya interview, kami ditanya ini itu. Aku menjawab semua dengan tanpa beban, nothing to lose. Sudah lama enggak ngantor membuatku gugup kalau misalnya nanti diterima. Sepertinya selama ini aku terlalu lama freelance tidak terikat apapun, jadinya tiba-tiba gugup.
Selesai interview aku siaran seperti biasa. Sampai kemudian hari Jumat, tepat di momen ulangtahunku ke 29 tahun, Hani menelpon. Dengan diawali drama sinetron Hani kasih kabar kalau aku diterima. Sebetulnya firasat diterima ini sudah aku rasakan sejak dia kirim WA ke ibuku soal surprise untukku.
Long short story, Jumat malam aku mendapat pesan resmi dari kepala cabang Amanda Banyuwangi. Besok siang (1/6) aku sudah mulai masuk bekerja. Semua terasa cepat, malam itu aku, ibu dan Ai sedang menghadiri selawat dalam rangka harlah Ansor ranting Karangrejo. Perasaan pertama yang aku rasakan adalah bingung.
Aku bingung bagaimana nanti memberi tahu programerku di Mandala. Awal-awal aku masih belum berterus terang soal mendapatkan pekerjaan. Jadi, Sabtu dan Minggu itu aku masih izin tidak siaran, dengan alasan yang tidak aku jelaskan. Satu dua hari masih oke, tapi tentu saja hari Senin aku mulai menceritakannya pada programer. Dengan beberapa pertimbangan aku harus menyesuaikan jadwalku siaran.
Akhirnya aku berada pada titik dimana aku pernah memintanya pada Tuhan. Aku ingin sibuk, aku mau sibuk bekerja sehingga tidak ada lagi bagian-bagian yang membuatku merasa hidup ini tidak adil. Tapi, hey, memangnya kapan hidup itu adil?
Begitulah prosesnya berjalan. Di hari keempat belas ini aku mulai bisa mengatur tempo. Aku mulai bisa menikmati ritmenya. Segalanya aku harap bisa berjalan dengan biasa saja tanpa perlu riuh suara. Sekarang, aku sedang mempersiapkan diri atas hal-hal ajaib yang akan Tuhan berikan. Apapun itu, aku akan menerimanya dengan suka cita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar