Cerita ini saya ambil dari buku karya Saikhul Hadi dengan judul "Di Hatinya Cuma Ada Cinta". Dalam buku ini terdapat banyak kisah di jaman Rasulullah dan para sahabatnya. Ini adalah salah satu kisah yang akan membuat keimanan kita bertambah, insyaallah^^
Seseorang lelaki datang kepada Ibrahim bin Adham. Tokoh sufi ini dikenal sebagai konsultan spiritual pada masanya. Dengan cerdik ia bisa mengatasi masalah-masalah yang terkait dengan rohani. Di hadapan Ibrahim bin Adham lelaki ini tak henti menangis.
“Aku adalah orang yang tidak berguna. Selalu saja mudah tergoda melakukan maksiat. Saya sungguh menyesal. Namun tidak lama kemudian melakukannya lagi. Wahai Ibrahim, orang yang dikasihi Allah, tunjukkanlah kepadaku sesuatu yang bisa membuatku tidak melakukan maksiat,” ratap lelaki itu.
“Akan aku berikan kepadamu lima perkara yang bisa membuatmu jera melakukan dosa.”
“Apa itu, Tuan, katakan.”
“Pertama,” kata Ibrahim,”jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan sesuatu pun dari rezeki-Nya.”
Lelaki itu sontak memandang Ibrahim. Wajahnya tidak percaya dengan apa yang barusan diucapkan sufi ini.
“Apakah Anda sedang bercanda Tuan? Bukankah semua rezeki berasal dari Allah? Jika aku tidak boleh memakannya lantas aku makan rezeki dari mana?”
“Jika anda mengetahui hal itu, apa pantas kamu memakan rezeki-Nya tapi bermaksiat kepada-Nya,”
“Tentu tidak, aku mengaku salah.”
Ibrahim melanjutkan, “Kedua, jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Allah, jangan tinggal di bumi-Nya.”
Dengan terheran-heran, lelaki itu berkata,”Lantas aku akan tinggal dimana? Adakah bumi selain bumi Allah?”
“Jika kamu sudah mengetahui hal ini, apa pantas kamu tetap tinggal di bumi-Nya sedang kamu bermaksiat kepada-Nya.”
“Tentu tidak, Tuan. Lalu apa yang ketiga?”
“Ketiga,” kata Ibrahim, “jika kamu ingin berbuat maksiat, carilah tampat yang tidak bisa dilihat oleh Allah. Apabila kamu bisa mendapatkan tempat seperti itu, berbuat maksiatlah sesukamu.”
“Aduh, Tuan, adakah tempat yang tidak diketahui oleh Allah? Dia mendengar derap kaki semut hitam di gurun sahara pada malam gelap gulita. Oh, tidak ada tempat yang luput dari penglihatan Allah,” ratap lelaki itu.
“Jika kamu mengetahui hal itu, apa pantas kamu masih berbuat maksiat kepada-Nya?”
Lelaki itu menggeleng. “Bagaimana dengan yang keempat?”
“Jika kamu didatangi malaikat maut untuk mengambil nyawamu, katakan padanya, ‘Jangan lakukan, tundalah beberapa saat lagi, aku akan bertaubat,” kata Ibrahim.
“Tidak mungkin Tuan, jika ajal telah datang, maka tidak dapat diundurkan atau dimajukan sedetik pun.”
“Ternyata kamu juga sudah mengetahuinya, lalu mengapa masih ingin berbuat maksiat?”
Kini lelaki itu bercucuran air mata. Hatinya sangat tersentuh dengan nasihat-nasihat sederhana yang diberikan Ibrahin bin Adham. “Dan yang terakhir…”
“Cukup Tuan, … cukup,” lelaki itu memotong pembicaraan Ibrahim. “Tak perlu engkau lanjutkan lagi nasihatmu. Tak mampu lagi aku mendengarnya. Ya Allah, ampunilah dosaku, aku bertaubat kepada-Mu.”
Kawan, bagaimana dengan kita? Tergetarkah hati kita mendengar nasihat Ibrahim bin Adham sebagai ‘mantra’ penangkal maksiat?#

Tidak ada komentar:
Posting Komentar