Hai adik, selamat hari lahir yaa …
Tidak terasa dia sudah 17 tahun.
Dia sudah semakin tinggi, melebihi aku.
Sepertinya baru kemarin dia mengayuh sepeda ke SMP.
Sekarang lihat …
Dia sudah melesat ke STM dengan motor.
Dia sudah semakin tinggi, melebihi aku.
Sepertinya baru kemarin dia mengayuh sepeda ke SMP.
Sekarang lihat …
Dia sudah melesat ke STM dengan motor.
Waktu memang berjalan sangat cepat, tanpa kita sadari.
Ada banyak hal yang rasanya aku lewatkan.
Aku sampai lupa, bagaimana bisa dia sudah selalu memboncengku saat ini?
Padahal dulu aku selalu didepan, dia dibelakang.
Ada banyak hal yang rasanya aku lewatkan.
Aku sampai lupa, bagaimana bisa dia sudah selalu memboncengku saat ini?
Padahal dulu aku selalu didepan, dia dibelakang.
Begitu banyak momen yang aku lewatkan bersama dia.
Jika boleh aku bandingkan, rasa-rasanya tidak ada sepasang adik-kakak yang lebih gila dibanding kami.
Mungkin dia tidak bisa aku andalkan untuk terlihat manis di depan teman-temanku.
Tapi sejujurnya, dia adalah pribadi humoris yang sangat supel.
Ya, dia sangat humoris.
Sama seperti aku dan Abah.
Jika boleh aku bandingkan, rasa-rasanya tidak ada sepasang adik-kakak yang lebih gila dibanding kami.
Mungkin dia tidak bisa aku andalkan untuk terlihat manis di depan teman-temanku.
Tapi sejujurnya, dia adalah pribadi humoris yang sangat supel.
Ya, dia sangat humoris.
Sama seperti aku dan Abah.
Aku ingat bagaimana dulu aku dan dia sering bertengkar.
Aku ingat bagaimana dulu nakalnya dia sehingga Abah dan Ibu membawanya ke seorang Ustad.
Bagaimana dulu dia kekeuh tidak ingin sekolah.
Hal-hal seperti itu membuatku kembali tersadar bahwa waktu berjalan maju dan pasti.
Kami berdua adalah adik-kakak yang boleh dibilang rukun.
Eh, nggak juga sih …
Aku ingat bagaimana dulu nakalnya dia sehingga Abah dan Ibu membawanya ke seorang Ustad.
Bagaimana dulu dia kekeuh tidak ingin sekolah.
Hal-hal seperti itu membuatku kembali tersadar bahwa waktu berjalan maju dan pasti.
Kami berdua adalah adik-kakak yang boleh dibilang rukun.
Eh, nggak juga sih …
Dia adalah adik yang luar biasa.
Tidak banyak bicara dan bertingkah.
Aku tidak tahu apakah di sekolah dia juga begitu atau tidak.
Dulu, saat dia masih SD aku masih bisa mendengar tentangnya dari Bu Ika yang kebetulan teman Ibuku.
Bu Ika sering bilang kalau Refangga itu anaknya lucu.
Punya banyak teman di sekolah.
Semua teman-teman cowok maupun ceweknya banyak yang suka berteman dengannya.
Terutama cewek, karena dia lucu.
Tidak banyak bicara dan bertingkah.
Aku tidak tahu apakah di sekolah dia juga begitu atau tidak.
Dulu, saat dia masih SD aku masih bisa mendengar tentangnya dari Bu Ika yang kebetulan teman Ibuku.
Bu Ika sering bilang kalau Refangga itu anaknya lucu.
Punya banyak teman di sekolah.
Semua teman-teman cowok maupun ceweknya banyak yang suka berteman dengannya.
Terutama cewek, karena dia lucu.
Hahaha OMG, sudah kuduga akan seperti itu.
Dia memang humoris. Pantas saja.
Dia memang humoris. Pantas saja.
Dia tidak hanya pintar ngelawak di depan teman-temannya.
Di depan Guru, bahkan di depan penjual baju didalam Pasar pun dia melucu.
Aku agak kaget ketika Pak Misrayu guruku SMP sangat mengenali dia.
Pak Misrayu justru lebih mengenal adikku ketimbang aku.
Kebetulan dia sekolah di SMP yang sama denganku dulu.
Aku berusaha menebak-nebak kesan apa yang ada pada Pak Misrayu tentang adikku yang satu ini.
Kesan nakalkah? Kesan pintar? Kesan baik? Atau kesan lucu?
Di depan Guru, bahkan di depan penjual baju didalam Pasar pun dia melucu.
Aku agak kaget ketika Pak Misrayu guruku SMP sangat mengenali dia.
Pak Misrayu justru lebih mengenal adikku ketimbang aku.
Kebetulan dia sekolah di SMP yang sama denganku dulu.
Aku berusaha menebak-nebak kesan apa yang ada pada Pak Misrayu tentang adikku yang satu ini.
Kesan nakalkah? Kesan pintar? Kesan baik? Atau kesan lucu?
Dia juga tumbuh menjadi pribadi yang cerdas.
Mungkin secara akademik dia standard.
Tapi kemampuan non-akademiknya jauh melebihi aku.
Dia sangat telaten bermain dengan Rubik.
Aku yang hanya bisa melongo melihat jemarinya cekatan memutar-mutar benda kubus itu.
Berkali-kali dia mencoba mengajariku bermain Rubik.
Berkali-kali itu pula aku mengecewakannya.
Aku benar-benar tidak bisa dan nggak omes.
Mungkin secara akademik dia standard.
Tapi kemampuan non-akademiknya jauh melebihi aku.
Dia sangat telaten bermain dengan Rubik.
Aku yang hanya bisa melongo melihat jemarinya cekatan memutar-mutar benda kubus itu.
Berkali-kali dia mencoba mengajariku bermain Rubik.
Berkali-kali itu pula aku mengecewakannya.
Aku benar-benar tidak bisa dan nggak omes.
Dia juga adalah partnerku dalam bermain game.
Walaupun lebih banyak dia yang selalu berhasil memecahkan misi-misi yang ada dalam sebuah game di Laptopku.
Dia akan dengan sabar mengutak-atik mouse untuk mencari apa yang harus diselesaikan.
Dia akan sangat telaten membaca petunjuk-petunjuk dalam Bahasa Inggris yang aku tahu sekali bahwa dia tidak paham dan selalu menyuruhku mengartikannya.
Hingga akhirnya dia akan berteriak, “Oooh ngene kek Kak carane. Iso wes aku."
Dan aku kembali hanya melongo dibuatnya.
Ah, kau ini. Kenapa aku nggak se omes dirimu.
Berjam-jam kita berdua bisa berada didepan Laptop untuk bermain game.
Sehingga kadang kami lupa bahwa kami juga memiliki satu lagi adik yang masih butuh diajak bermain, Fahri.
Walaupun lebih banyak dia yang selalu berhasil memecahkan misi-misi yang ada dalam sebuah game di Laptopku.
Dia akan dengan sabar mengutak-atik mouse untuk mencari apa yang harus diselesaikan.
Dia akan sangat telaten membaca petunjuk-petunjuk dalam Bahasa Inggris yang aku tahu sekali bahwa dia tidak paham dan selalu menyuruhku mengartikannya.
Hingga akhirnya dia akan berteriak, “Oooh ngene kek Kak carane. Iso wes aku."
Dan aku kembali hanya melongo dibuatnya.
Ah, kau ini. Kenapa aku nggak se omes dirimu.
Berjam-jam kita berdua bisa berada didepan Laptop untuk bermain game.
Sehingga kadang kami lupa bahwa kami juga memiliki satu lagi adik yang masih butuh diajak bermain, Fahri.
Hari ini genap usiamu 17 tahun.
Usia dimana gerbang kedewasaan mulai dibuka.
Selamat atas selembar kartu identitas yang akan kau miliki tahun ini.
Setelah kau memilikinya selamat berjuang sepertiku dulu.
Karena Abah pasti akan membawamu ke Polres untuk mengurus SIM.
Huwaah, pasti setelah SIM sudah ditangan aku tidak akan pernah memboncengmu lagi.
Sudah pasti kau akan terus mengambil alih kemudi.
Usia dimana gerbang kedewasaan mulai dibuka.
Selamat atas selembar kartu identitas yang akan kau miliki tahun ini.
Setelah kau memilikinya selamat berjuang sepertiku dulu.
Karena Abah pasti akan membawamu ke Polres untuk mengurus SIM.
Huwaah, pasti setelah SIM sudah ditangan aku tidak akan pernah memboncengmu lagi.
Sudah pasti kau akan terus mengambil alih kemudi.
Oke, selamat bertambah usia.
Semoga segala harapan dan cita-cita dapat terwujud.
Semakin bijak dan mendewasa.
Jangan suka ngebut kalau bawa motor.
Semakin sayang Abah, Ibu, Kakak, Fahri.
Menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat untuk sekeliling.
Semoga segala harapan dan cita-cita dapat terwujud.
Semakin bijak dan mendewasa.
Jangan suka ngebut kalau bawa motor.
Semakin sayang Abah, Ibu, Kakak, Fahri.
Menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat untuk sekeliling.
Satu lagi …
Bahasa Inggrismu, tingkatkan!
Bahasa Inggrismu, tingkatkan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar