Minggu, 19 Juni 2016

Keluarga As-Sunnah



Ramadhan tahun ini merupakan ramadhan pertama bagiku dan teman-teman LDK As-Sunnah. Menjadi kebahagiaan tersendiri dapat khatmil qur’an bersama mereka. Ahad ini aku dan teman-teman berkumpul di masjid kampus untuk tadarusan. Aneh rasanya ketika siang-siang datang ke kampus, apalagi hari Minggu. Namun hari ini aku merasakan atmosfer lain, begitu nyaman melangkah masuk ke halaman kampus dan duduk bersama orang-orang yang khusyuk membaca Qur’an di dalam masjid.

Aku segera bergabung bersama mereka dan mengeluarkan Qur’an terjemahan yang selalu berada di dalam tasku. Sekilas aku memandangi mereka satu per satu. Begitu teduh, begitu damai, begitu menyejukkan. Aku membaca surah bagianku. Hanyut bersama bacaan Qur’an mereka.


Rasaya aku hampir tidak percaya aku sedang berada di antara mereka. Kami disini bersama-sama membaca kitab suci. Mas Bekti, Mas Ali, Mila, Cindy, Renita, dan dua mas-mas lainnya yang belum aku kenal. Tidak banyak memang yang datang, tapi ini sudah lebih dari cukup. Aku bersyukur berkali-kali dipertemukan dengan teman-teman yang se-visi seperti mereka.
Terlepas dari bagaimana anggapan orang-orang terhadap kami, kami tidak pernah ambil pusing dengan apa yang mereka pikirkan.

Setelah menyelesaikan bacaan, aku mengedarkan pandang ke halaman masjid. Suasana kampus yang lengang, hanya terlihat beberapa ekor manusia berkeliaran. Sesaat kemudian aku menangkap sosok seseorang yang kukenal. Salah satu dosen di kampus ini. Beliau datang dari arah gerbang dan sekilas melihat ke arah masjid. Lumayan lama mengamati masjid hingga beliau memarkir motornya di depan lobi. Aku mengamati beliau hingga masuk ke dalam lobi kampus.

Tidak tahu kenapa, setiap ada orang yang mengamati apa yang kami lakukan di dalam masjid aku selalu penasaran apa yang sedang mereka pikirkan. Apa yang terlintas di pikiran mereka ketika banyak ukhti berjilbab panjang kali lebar serta para akhi dengan peci/songkok di kepala mereka sedang ngumpul di masjid? Nggak tahu, penasaran aja dengan apa yang mereka pikrikan. Aku tidak akan penasaran seperti ini jika mereka tidak menunjukkan ekspresi tidak biasa sedemikian rupa. Aku tidak akan penasaran jika mereka bersikap biasa saja saat melihat kami. Aku harap bukan karena kampus ini adalah kampus merah putih, yang katanya nasionalis , lantas bersikap sebelah mata terhadap perkumpulan kami.

Ah, sebenarnya teman-temanku di LDK tak pernah ambil pusing oleh hal-hal seperti itu, aku saja yang suka repot memikirkannya.

Selesai khataman dan sholat ashar berjamaah kami segera berunding untuk menentukan tempat berbuka puasa. Setelah engkel-engkelan ngalor gidul, akhirnya disepakati untuk berbuka di Pesantogan Kemangi, Kemiren. Ini pertama kalinya bagi kami semua makan di tempat yang baru buka beberapa bulan yang lalu.



Kapan ngimamin adik sholat tarawih, Bang?
Menjadi bagian dari mereka merupakan kebahagiaan tersendiri. Setidaknya aku tidak sendirian dalam berjuang untuk mengupgrade imanku. Tahu sendiri, kadar iman kita selalu naik turun layaknya roller coaster, gaes. Aku tidak bisa membayangkan jika aku tak memiliki kawan-kawan yang senantiasa bersama-sama dalam kebaikan seperti mereka. Saling mengingatkan, saling menasihati. Aku memiliki Bang Bekti yang senantiasa menjadi tumpuan keluh kesah, dia sudah seperti Abang bagi kita semua. Abang yang keren dengan segala pengetahuannya yang luas.

Aku juga bangga dengan para akhwat di As-Sunnah. Mereka semua sangat menginspirasi.

Akhirnya, aku berdoa semoga kita semua diberi kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan apa yang sudah kita mulai. Semoga segala hal yang telah kita perjuangkan sejauh ini dapat membawa berkah.
Sehat selalu, teman-teman …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar