Ramadhan
tahun ini merupakan ramadhan pertama bagiku dan teman-teman LDK As-Sunnah.
Menjadi kebahagiaan tersendiri dapat khatmil qur’an bersama mereka. Ahad ini
aku dan teman-teman berkumpul di masjid kampus untuk tadarusan. Aneh rasanya
ketika siang-siang datang ke kampus, apalagi hari Minggu. Namun hari ini aku
merasakan atmosfer lain, begitu nyaman melangkah masuk ke halaman kampus dan
duduk bersama orang-orang yang khusyuk membaca Qur’an di dalam masjid.
Aku
segera bergabung bersama mereka dan mengeluarkan Qur’an terjemahan yang selalu
berada di dalam tasku. Sekilas aku memandangi mereka satu per satu. Begitu
teduh, begitu damai, begitu menyejukkan. Aku membaca surah bagianku. Hanyut
bersama bacaan Qur’an mereka.
Rasaya
aku hampir tidak percaya aku sedang berada di antara mereka. Kami disini
bersama-sama membaca kitab suci. Mas Bekti, Mas Ali, Mila, Cindy, Renita, dan
dua mas-mas lainnya yang belum aku kenal. Tidak banyak memang yang datang, tapi
ini sudah lebih dari cukup. Aku bersyukur berkali-kali dipertemukan dengan
teman-teman yang se-visi seperti mereka.
Terlepas
dari bagaimana anggapan orang-orang terhadap kami, kami tidak pernah ambil
pusing dengan apa yang mereka pikirkan.
Setelah
menyelesaikan bacaan, aku mengedarkan pandang ke halaman masjid. Suasana kampus
yang lengang, hanya terlihat beberapa ekor manusia berkeliaran. Sesaat kemudian
aku menangkap sosok seseorang yang kukenal. Salah satu dosen di kampus ini.
Beliau datang dari arah gerbang dan sekilas melihat ke arah masjid. Lumayan lama
mengamati masjid hingga beliau memarkir motornya di depan lobi. Aku mengamati
beliau hingga masuk ke dalam lobi kampus.
Tidak
tahu kenapa, setiap ada orang yang mengamati apa yang kami lakukan di dalam
masjid aku selalu penasaran apa yang sedang mereka pikirkan. Apa yang terlintas
di pikiran mereka ketika banyak ukhti berjilbab panjang kali lebar serta para
akhi dengan peci/songkok di kepala mereka sedang ngumpul di masjid? Nggak tahu,
penasaran aja dengan apa yang mereka pikrikan. Aku tidak akan penasaran seperti
ini jika mereka tidak menunjukkan ekspresi tidak biasa sedemikian rupa. Aku
tidak akan penasaran jika mereka bersikap biasa saja saat melihat kami. Aku
harap bukan karena kampus ini adalah kampus merah putih, yang katanya
nasionalis , lantas bersikap sebelah mata terhadap perkumpulan kami.
Ah,
sebenarnya teman-temanku di LDK tak pernah ambil pusing oleh hal-hal seperti
itu, aku saja yang suka repot memikirkannya.
Selesai
khataman dan sholat ashar berjamaah kami segera berunding untuk menentukan
tempat berbuka puasa. Setelah engkel-engkelan ngalor gidul, akhirnya disepakati
untuk berbuka di Pesantogan Kemangi, Kemiren. Ini pertama kalinya bagi kami
semua makan di tempat yang baru buka beberapa bulan yang lalu.
![]() |
| Kapan ngimamin adik sholat tarawih, Bang? |
Menjadi
bagian dari mereka merupakan kebahagiaan tersendiri. Setidaknya aku tidak
sendirian dalam berjuang untuk mengupgrade imanku. Tahu sendiri, kadar iman
kita selalu naik turun layaknya roller
coaster, gaes. Aku tidak bisa
membayangkan jika aku tak memiliki kawan-kawan yang senantiasa bersama-sama
dalam kebaikan seperti mereka. Saling mengingatkan, saling menasihati. Aku memiliki
Bang Bekti yang senantiasa menjadi tumpuan keluh kesah, dia sudah seperti Abang
bagi kita semua. Abang yang keren dengan segala pengetahuannya yang luas.
Aku
juga bangga dengan para akhwat di As-Sunnah. Mereka semua sangat menginspirasi.
Akhirnya,
aku berdoa semoga kita semua diberi kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan
apa yang sudah kita mulai. Semoga segala hal yang telah kita perjuangkan sejauh
ini dapat membawa berkah.
Sehat
selalu, teman-teman …




Tidak ada komentar:
Posting Komentar