Dan
kok ndilalah memang sudah jodoh, gaes. Setelah membaca postingan tadi aku
segera melipir ke depan tivi, niatnya mau
nonton acara lalala yeyeye itu, tapi
ternyata nggak ada. Ya sudah, aku
melihat-lihat channel yang lain, dan berhenti di channel tv one. Memang sudah
rezeki, acara “Makna Dan Peristiwa” yang dipandu oleh akhi Teuku Wisnu pagi ini
mendatangkan dua bintang tamu yang keren-keren. Muzammil dan Wirda. Kan, memang
rezeki anak sholehah sih ya. Meskipun
hanya kebagian dua segmen terakhir aku tetap bersyukur karena dapat
mendengarkan secara langsung Kak Zammil mengaji.
Di
segmen dua terakhir, Mas Wisnu sempat menanyakan bagaimana respon sekeliling
terhadap Muzammil. Maksudnya begini, duh,
aku sendiri malah bingung. Bagaimana reaksi sekelilingnya, lingkungan
kampusnya, terhadap kegiatan-kegiatan Muzammil.
Dan
jawaban Muzammil sempat membuatku iri. Dia bilang, dia bersyukur bahwa dia
berada di lingkungan yang sangat mendukung kegiatan keislamannya. Dia juga
bilang, para stake holder yang ada di
kampus Alhamdulillah juga merupakan pribadi-pribadi yang sholeh dan sholehah.
Subhanallah sekali. Aku langsung meratapi nasib. Lah di kampus ane? Boro-boro,
masjidnya aja kaga punya toa -____-
Lain
Muzammil, lain pula Wirda. Seperti yang sudah diberitakan kemarin-kemarin,
bahwa Wirda sempat mengenyam pendidikan SMA di Washington DC. Disana Wirda
tidak hanya sekolah tapi juga mengajar Al-Qur’an. Berdasarkan pengalamannya,
menjadi minoritas di negara yang mayoritas Nasrani menjadi ujian luar biasa
bagi Wirda. Pokoknya harus punya iman yang kuat, deh, katanya.
Muzammil
dan Wirda adalah salah dua representasi pemuda muslim keren masa kini. Mereka
berdua adalah sosok yang layak menjadi panutan bagi anak-anak muda muslim di
Indonesia. Karena kita semua tahu zaman sekarang susah menemukan pemuda-pemuda
yang mencintai dan mengamalkan Qur’an untuk kehidupan sehari-hari. Apalagi saat
ini, ketika hijab mulai pudar makna dan fungsinya. Berbondong-bondong mereka
berhijab, namun hanya sebatas trend dan fashion. Ketika para mas-mas muslim
yang notabene calon imam sibuk meramaikan café, masjid justeru menjadi tempat
yang mereka datangi seminggu sekali, saat hari Jum’at, itu pun jika datang.
Ramadhan
merupakan bulan yang memang penuh berkah. Contoh nyata adalah konten berita
yang tersaji. Begitu banyak berita-berita bernafaskan islam yang menyejukkan
hati. Muncul juga sosok-sosok hafiz Qur’an yang menampar diri. Sayangnya,
berita semacam ini hanya akan kita nikmati selama Ramadhan, setelah itu mereka
akan pergi.
Kembali
kepada Muzammil dan Wirda. Aku bersyukur berkali-kali karena Indonesia masih
memiliki sosok panutan seperti mereka. Bukan tidak mungkin di luar sana masih
banyak Muzammil dan Wirda yang lain, hanya saja tidak ter-ekspose.
Dari
mereka akhirnya aku sadar. Apa yang sudah aku lakukan sejauh ini? Apa yang
sudah aku berikan untuk Tuhanku? Bagaimana nasib bacaan Qur’anku? Bagaimana tanggung
jawabku sebagai muslimah? Sudahkah aku menjadi panutan bagi sekitarku?
Kadang
kita sibuk mencari pengakuan atas eksistensi diri kita di mata manusia, namun
kita lupa dengan eksistensi diri kita di mata Tuhan. Kita sibuk membenahi
kualitas raga kita hanya untuk terlihat indah dimata manusia, namun kita lupa
membenahi kualitas rohani kita agar terlihat indah dimata Tuhan. Aku, kamu,
kita, akhirnya harus kembali meluruskan niat. Hubungan vertikal dan horizontal
haruslah seimbang.
Akhir
kata, Kak Zammil adalah contoh laki-laki yang imamable. Ya gimana, senakal-nakalanya perempuan pasti juga mau
dapat imam yang “keren” seperti dia. Sebrengsek-brengseknya laki-laki pasti
juga ingin membenahi masa kelamnya dengan makmum yang khitbahable seperti Dik Wirda.
Seperti
kata Mbak Fatma Arlana dalam tulisannya di Mojok, aku juga ingin mengucapkan
terimakasih kepada Kak Zammil. Terimakasih karena telah menunjukkan bahwa keren
itu tak semata dilihat dari tampilan fisik atau uraian materialistik belaka.
Terimakasih juga kepada Dik Wirda yang senantiasa membuat kami para
perempuan-perempuan ini iri akan kemampuannya.
Jadi,
untuk calon imamku yang tengah sibuk memperbaiki diri, tak masalah jika bacaan
Qur’anmu tak semerdu Mas Zammil. Yang penting bacaan Qur’anmu lancar, dan enak
di dengar. Enak di dengar tak mesti harus merdu, wahai calon imamku. Karena aku
sadar betul, bacaan Qur’anku pun tak sesyahdu Dik Wirda. Tapi, satu hal yang
harus kamu tahu, hari ini aku terus memperbaiki bacaanku agar kelak kita bisa
ngaji berdua.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar