Rabu, 22 Juni 2016

Bisa Ngaji: Keren Absolute!

Akhir-akhir ini linimasa sedang ramai oleh kehadiran sosok pemuda yang kita sepakat menjadi role mode pemuda sholeh masa kini. Dialah Muzammil, seorang imam masjid di ITB. Aku mengetahui tentang Muzammil di salah satu berita di tivi swasta. Tadi pagi saat baru bangun tidur aku sempat membaca salah satu postingan Mojok tentang Muzammil. Sebuah tulisan yang dibuat oleh seorang Ibu tersebut memberikan pernyataan bahwa Muzammil telah memberikan definisi keren yang berbeda. Keren hari ini adalah, mereka yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik. Atau lebih tepatnya, kini membaca Al-Qur’an termasuk kategori aktivitas yang keren.

Dan kok ndilalah memang sudah jodoh, gaes. Setelah membaca postingan tadi aku segera melipir ke depan tivi, niatnya mau nonton acara lalala yeyeye itu, tapi ternyata nggak ada. Ya sudah, aku melihat-lihat channel yang lain, dan berhenti di channel tv one. Memang sudah rezeki, acara “Makna Dan Peristiwa” yang dipandu oleh akhi Teuku Wisnu pagi ini mendatangkan dua bintang tamu yang keren-keren. Muzammil dan Wirda. Kan, memang rezeki anak sholehah sih ya. Meskipun hanya kebagian dua segmen terakhir aku tetap bersyukur karena dapat mendengarkan secara langsung Kak Zammil mengaji.

Di segmen dua terakhir, Mas Wisnu sempat menanyakan bagaimana respon sekeliling terhadap Muzammil. Maksudnya begini, duh, aku sendiri malah bingung. Bagaimana reaksi sekelilingnya, lingkungan kampusnya, terhadap kegiatan-kegiatan Muzammil.

Dan jawaban Muzammil sempat membuatku iri. Dia bilang, dia bersyukur bahwa dia berada di lingkungan yang sangat mendukung kegiatan keislamannya. Dia juga bilang, para stake holder yang ada di kampus Alhamdulillah juga merupakan pribadi-pribadi yang sholeh dan sholehah. Subhanallah sekali. Aku langsung meratapi nasib. Lah di kampus ane? Boro-boro, masjidnya aja kaga punya toa -____-

Lain Muzammil, lain pula Wirda. Seperti yang sudah diberitakan kemarin-kemarin, bahwa Wirda sempat mengenyam pendidikan SMA di Washington DC. Disana Wirda tidak hanya sekolah tapi juga mengajar Al-Qur’an. Berdasarkan pengalamannya, menjadi minoritas di negara yang mayoritas Nasrani menjadi ujian luar biasa bagi Wirda. Pokoknya harus punya iman yang kuat, deh, katanya.

Muzammil dan Wirda adalah salah dua representasi pemuda muslim keren masa kini. Mereka berdua adalah sosok yang layak menjadi panutan bagi anak-anak muda muslim di Indonesia. Karena kita semua tahu zaman sekarang susah menemukan pemuda-pemuda yang mencintai dan mengamalkan Qur’an untuk kehidupan sehari-hari. Apalagi saat ini, ketika hijab mulai pudar makna dan fungsinya. Berbondong-bondong mereka berhijab, namun hanya sebatas trend dan fashion. Ketika para mas-mas muslim yang notabene calon imam sibuk meramaikan café, masjid justeru menjadi tempat yang mereka datangi seminggu sekali, saat hari Jum’at, itu pun jika datang.

Ramadhan merupakan bulan yang memang penuh berkah. Contoh nyata adalah konten berita yang tersaji. Begitu banyak berita-berita bernafaskan islam yang menyejukkan hati. Muncul juga sosok-sosok hafiz Qur’an yang menampar diri. Sayangnya, berita semacam ini hanya akan kita nikmati selama Ramadhan, setelah itu mereka akan pergi.

Kembali kepada Muzammil dan Wirda. Aku bersyukur berkali-kali karena Indonesia masih memiliki sosok panutan seperti mereka. Bukan tidak mungkin di luar sana masih banyak Muzammil dan Wirda yang lain, hanya saja tidak ter-ekspose.

Dari mereka akhirnya aku sadar. Apa yang sudah aku lakukan sejauh ini? Apa yang sudah aku berikan untuk Tuhanku? Bagaimana nasib bacaan Qur’anku? Bagaimana tanggung jawabku sebagai muslimah? Sudahkah aku menjadi panutan bagi sekitarku?

Kadang kita sibuk mencari pengakuan atas eksistensi diri kita di mata manusia, namun kita lupa dengan eksistensi diri kita di mata Tuhan. Kita sibuk membenahi kualitas raga kita hanya untuk terlihat indah dimata manusia, namun kita lupa membenahi kualitas rohani kita agar terlihat indah dimata Tuhan. Aku, kamu, kita, akhirnya harus kembali meluruskan niat. Hubungan vertikal dan horizontal haruslah seimbang.

Akhir kata, Kak Zammil adalah contoh laki-laki yang imamable. Ya gimana, senakal-nakalanya perempuan pasti juga mau dapat imam yang “keren” seperti dia. Sebrengsek-brengseknya laki-laki pasti juga ingin membenahi masa kelamnya dengan makmum yang khitbahable seperti Dik Wirda.

Seperti kata Mbak Fatma Arlana dalam tulisannya di Mojok, aku juga ingin mengucapkan terimakasih kepada Kak Zammil. Terimakasih karena telah menunjukkan bahwa keren itu tak semata dilihat dari tampilan fisik atau uraian materialistik belaka. Terimakasih juga kepada Dik Wirda yang senantiasa membuat kami para perempuan-perempuan ini iri akan kemampuannya.

Jadi, untuk calon imamku yang tengah sibuk memperbaiki diri, tak masalah jika bacaan Qur’anmu tak semerdu Mas Zammil. Yang penting bacaan Qur’anmu lancar, dan enak di dengar. Enak di dengar tak mesti harus merdu, wahai calon imamku. Karena aku sadar betul, bacaan Qur’anku pun tak sesyahdu Dik Wirda. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu, hari ini aku terus memperbaiki bacaanku agar kelak kita bisa ngaji berdua.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar