Memang
ya, untuk menjadi beda itu harus tahan sama nyinyiran,
godaan dan cobaan. Maka berbahagialah kamu sekalian yang sukses menjadi beda
dengan sukses pula nahan cobaan.
Bahasan
kali ini tidak jauh-jauh dari yang namanya pacaran. Ya semoga gaes sekalian tidak bosan. Saya hanya merasa
perlu ada yang diluruskan dari spekulasi-spekulasi yang ada di luar
sana tentang kenapa ada orang yang tidak mau pacaran. Secara, saya juga adalah
salah satu pelaku “orang yang tidak mau pacaran”.
Pertama-tama
saya harus jelaskan dulu kenapa saya jadi seperti ini. Padahal, dulu ku tak
begini *halah.
Oke,
yang pertama baca Qur’an dan maknanya, saya nggak pacaran tuh bukan
karena ayat “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu
perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32). Kagak! Karena saya
sadar, saya bukan ukhti-ukhti jilbab lebar yang alim. Saya masih oke-oke aja di
bonceng ama ikhwan, salaman ama ikhwan | Btw,
ikhwan iki sopo?
Kedua,
saya nggak pacaran juga bukan karena dilarang oleh orang tua. Dulu, saya nggak banyak
bergaul sama laki-laki karena takut sama Bapak. Lha sekarang udah gede, Bapak
malah nanya pacar saya siapa. Jadi, Alhamdulillah Bapak saya bukan orang kolot
jaman dulu yang ngelarang anak perawannya untuk main sama siapa saja. Bapak saya
orangnya tegas, beliau hanya menunggu waktu yang tepat di mana anak gadisnya
sudah mumayyiz. Bisa membedakan mana yang baik, mana yang tidak baik. Jadi,
sekali lagi saya tegaskan, orang tua bukan alasan saya untuk tidak minat pada
hubungan yang namanya pacaran.
Ketiga,
saya nggak pacaran karena memang pacaran bukan suatu kebutuhan yang harus
dipenuhi. Iya kan? Pacaran memang bukan suatu hal yang harus dipenuhi, kan? Memang
nanti pas interview kerja, HRD-nya bakal nanya mantan kita berapa? Ya kali. Nanti,
di akhirat, malaikat Munkar Nakir juga tidak akan bertanya siapa saja mantan
kita. Jadi ya bukan masalah besar kalau kita tidak pacaran. Sama hal-nya dengan
kuliah, bukan masalah besar juga kalau saya tidak kuliah. Karena kuliah memang
bukan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Terus, kenapa saya masih kuliah? Ya biar
dapat gelar sarjana sosial. Gelarnya jelas, S.Sos. Kalau pacaran, saya nanti
dapat gelar apa?
Keempat,
lha memangnya pacaran itu menyempurnakan separuh agama saya? Endak, to? Yang menyempurnakan
separuh agama kita itu menikah. Gini deh, mending sendiri dulu tapi tau-tau
nikah, kabar bahagia, kan? Daripada yang bertahun-tahun pacaran, di nikahin
juga belum tentu, masa iya mau selamanya hidup dalam bayang-bayang pertanyaan “kapan
nikah?”. Itu yang cemen laki-lakinya, atau perempuannya yang terlalu naif?
Healah, Mey Mey, ngomong wae ra
enek sing mbribik.
Sini
dah, ngeMilo bareng saya. Terus saya
ceritain kalo kemarin tuh, baruuuu aja kemarin, ada orang yang ngajakin saya
nikah. Saya ceritain juga siapa-siapa aja yang udah nyatain perasaannya ke
saya. Jelas saya tolak, karena tujuan saya dalam waktu dekat ini bukan menikah,
tapi wisuda. Kenapa nggak wisuda setelah
menikah? Kan enak nanti foto wisudanya bareng suami. | Wis to, ojo di penggok-penggokno.
Saya
mah orangnya santai bae. Pacaran silahkan,
nggak pacaran juga silahkan. Saya hanya kasihan sama orang yang sukanya ngasih label “sok alim” ke orang yang
nggak mau pacaran. Ya elah, kurang piknik, lu?
Saya
juga nggak bilang kalau pacaran itu haram, kok. Saya MdI (Meydiana Isfandari),
bukan MUI. Saya nggak pacaran karena memang saya sudah terbiasa seperti ini
dari dulu. Nggak kelabakan juga kalau nggak punya pacar. Kalau malam minggu
juga nggak kebingungan keluar sama siapa. Jadi nggak perlu heran lagi kalau ada
orang yang betah sendirian. Masing-masing orang memiliki alasan atas setaip keputusan
yang telah mereka ambil. Jadi jangan di gepuk
roto.
Oleh
sebab itu, wahai pembaca ismafawwaz yang budiman. Janganlah kita menjadi muslim
dan muslimah yang menyebalkan, yang suka nyinyirin sodara seiman, bukankah hal
seperti itu sungguh perbuatan yang merugikan?
Eh,
satu lagi alasan kenapa saya nggak pacaran. Kata Pak Imam, saya nggak cocok
dijadikan pacar. Cocoknya dijadikan isteri. Huayoloooh … wkwkwk …


Tidak ada komentar:
Posting Komentar