Rabu, 03 Agustus 2016

Tidak Pacaran: Hak Segala Bangsa

Memang ya, untuk menjadi beda itu harus tahan sama nyinyiran, godaan dan cobaan. Maka berbahagialah kamu sekalian yang sukses menjadi beda dengan sukses pula nahan cobaan.

Bahasan kali ini tidak jauh-jauh dari yang namanya pacaran. Ya semoga gaes sekalian tidak bosan. Saya hanya merasa perlu ada yang diluruskan dari spekulasi-spekulasi yang ada di luar sana tentang kenapa ada orang yang tidak mau pacaran. Secara, saya juga adalah salah satu pelaku “orang yang tidak mau pacaran”.

Pertama-tama saya harus jelaskan dulu kenapa saya jadi seperti ini. Padahal, dulu ku tak begini *halah.

Oke, yang pertama baca Qur’an dan maknanya, saya nggak pacaran tuh bukan karena ayat “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32). Kagak! Karena saya sadar, saya bukan ukhti-ukhti jilbab lebar yang alim. Saya masih oke-oke aja di bonceng ama ikhwan, salaman ama ikhwan | Btw, ikhwan iki sopo?

Kedua, saya nggak pacaran juga bukan karena dilarang oleh orang tua. Dulu, saya nggak banyak bergaul sama laki-laki karena takut sama Bapak. Lha sekarang udah gede, Bapak malah nanya pacar saya siapa. Jadi, Alhamdulillah Bapak saya bukan orang kolot jaman dulu yang ngelarang anak perawannya untuk main sama siapa saja. Bapak saya orangnya tegas, beliau hanya menunggu waktu yang tepat di mana anak gadisnya sudah mumayyiz. Bisa membedakan mana yang baik, mana yang tidak baik. Jadi, sekali lagi saya tegaskan, orang tua bukan alasan saya untuk tidak minat pada hubungan yang namanya pacaran.

Ketiga, saya nggak pacaran karena memang pacaran bukan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Iya kan? Pacaran memang bukan suatu hal yang harus dipenuhi, kan? Memang nanti pas interview kerja, HRD-nya bakal nanya mantan kita berapa? Ya kali. Nanti, di akhirat, malaikat Munkar Nakir juga tidak akan bertanya siapa saja mantan kita. Jadi ya bukan masalah besar kalau kita tidak pacaran. Sama hal-nya dengan kuliah, bukan masalah besar juga kalau saya tidak kuliah. Karena kuliah memang bukan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Terus, kenapa saya masih kuliah? Ya biar dapat gelar sarjana sosial. Gelarnya jelas, S.Sos. Kalau pacaran, saya nanti dapat gelar apa?

Keempat, lha memangnya pacaran itu menyempurnakan separuh agama saya? Endak, to? Yang menyempurnakan separuh agama kita itu menikah. Gini deh, mending sendiri dulu tapi tau-tau nikah, kabar bahagia, kan? Daripada yang bertahun-tahun pacaran, di nikahin juga belum tentu, masa iya mau selamanya hidup dalam bayang-bayang pertanyaan “kapan nikah?”. Itu yang cemen laki-lakinya, atau perempuannya yang terlalu naif?

Healah, Mey Mey, ngomong wae ra enek sing mbribik.

Sini dah, ngeMilo bareng saya. Terus saya ceritain kalo kemarin tuh, baruuuu aja kemarin, ada orang yang ngajakin saya nikah. Saya ceritain juga siapa-siapa aja yang udah nyatain perasaannya ke saya. Jelas saya tolak, karena tujuan saya dalam waktu dekat ini bukan menikah, tapi wisuda. Kenapa nggak wisuda setelah menikah? Kan enak nanti foto wisudanya bareng suami. | Wis to, ojo di penggok-penggokno.

Saya mah orangnya santai bae. Pacaran silahkan, nggak pacaran juga silahkan. Saya hanya kasihan sama orang yang sukanya ngasih label “sok alim” ke orang yang nggak mau pacaran. Ya elah, kurang piknik, lu?

Saya juga nggak bilang kalau pacaran itu haram, kok. Saya MdI (Meydiana Isfandari), bukan MUI. Saya nggak pacaran karena memang saya sudah terbiasa seperti ini dari dulu. Nggak kelabakan juga kalau nggak punya pacar. Kalau malam minggu juga nggak kebingungan keluar sama siapa. Jadi nggak perlu heran lagi kalau ada orang yang betah sendirian. Masing-masing orang memiliki alasan atas setaip keputusan yang telah mereka ambil. Jadi jangan di gepuk roto.

Oleh sebab itu, wahai pembaca ismafawwaz yang budiman. Janganlah kita menjadi muslim dan muslimah yang menyebalkan, yang suka nyinyirin sodara seiman, bukankah hal seperti itu sungguh perbuatan yang merugikan?

Eh, satu lagi alasan kenapa saya nggak pacaran. Kata Pak Imam, saya nggak cocok dijadikan pacar. Cocoknya dijadikan isteri. Huayoloooh … wkwkwk …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar