![]() |
| Dari kiri ke kanan: Inda, Ima, Saya, Intan |
Kami
di didik dalam satu sekolah yang sama, SMKN 1 Banyuwangi. Mereka adalah salah
tiga teman-teman terbaik yang saya miliki. Benar adanya bahwa semakin dewasa
teman-teman kita akan semakin berkurang. Semacam yang saya alami saat ini. Teman-teman
yang tersisa dan sering menghabiskan waktu bersama paling hanya satu dua.
Seperti
foto di atas. Dulu, kami berempat satu komplotan saat sekolah. Bukan, kami
bukan komplotan macam Genji dan dulur-dulurnya itu. Perempuan-perempuan manis
seperti kami nggak berbakat jadi bromocorah :D
Sudah
lah, langsung saja ke inti tulisan.
Sejak
lulus dari SMK, kami mulai jarang bertemu. Di tambah lagi saat kedua temanku
melanjutkan kuliahnya ke Jember. Ima di Universitas Jember dan Intan di STIE
Mandala, Jember. Aku dan Inda tetap berada di Banyuwangi. Kami pun telah
terbiasa bertemu setahun sekali. Kalau nggak libur UAS, ya libur lebaran.
Nah,
hari ini saya akan bercerita tentang kisah mereka bertiga, kawan-kawan yang
sekarang sedang berjuang di jalan mereka masing-masing.
Inda
Rizkya Putri. Hari ini dia menjadi perempuan pendidik generasi bangsa. Mengabdi
menjadi guru di SDN Singolatren (SD 1 apa SD 2, mbel?). Saya yakin dia banyak
mendapat pelajaran hidup dari anak-anak didiknya. Belajar tentang kesabaran,
kesederhanaan, keikhlasan, pelajaran-pelajaran hidup semacam itu pasti sudah
tamat ia rasakan.
Inda
memang perempuan yang sudah aktif sejak dulu kala. Saya senang ada perempuan
semacam ini. Aktif, gesit, cekatan dan yang paling penting positif. Karena modal
cantik doang mah buat apa? Banci Tahiland juga cantik, lebih malah.
Nur
Halimah. Perempuan sebelah kiri saya. Perempuan Kabat ini sekarang belajar di
Universitas Jember. Peraih beasiswa Banyuwangi Cerdas ini dulu sejenis dengan
saya. Sama-sama polos dan lucu, eh, lugu. Kami nggak pernah pacaran, di deketin
cowok pun nggak pernah.
Di
Unej Ima aktif pada sebuah organisasi kepenulisan ilmiah. Di organisasi itu
pula status sendirinya gugur. Dia dapat pacar -___-
Terakhir
Intan. Dalam tulisan ini dia mendapat porsi yang lebih banyak daripada yang
lain. Karena memang dia tokoh utama tulisan saya hari ini.
Intan
Kurniasari. Perempuan sebelah saya, kanan sendiri, putri dari pasangan Pak
Darto dan Bu Is ini memang the one and
only. Perempuan yang dulunya tomboy kelas kakap, hari ini mulai bermetamorfosis
menjadi kupu-kupu nan cantik. And you
know gaes, today she’s studying abroad. Thailand. Alhamdulillah di
Thailand, kalau saja Turki, saya bisa mencak-mencak nggak karuan wkwkwk.
Intan
dan Fiya (yang juga teman sekolah kami di SMK) merupakan dua dari beberapa anak
yang berhasil mendapat beasiswa Joint
Degree. Joint Degree sendiri merupakan kegiatan kerjasama antara perguruan
tinggi di dalam negeri dengan perguruan tinggi di luar negeri, untuk
melaksanakan program studi secara bersama serta saling mengakui lulusannya.
Luar
biasa gadis Karangente ini. Pagi tadi aku sempat bbm-an, dia sambat makanan di
Thailand aneh-aneh. Dia mual, katanya semuanya seperti berbau Babi. Mblo, mblo,
namanya juga negara orang, bukan negara sendiri. Thailand pula. Saya hanya bisa
ngakak dan membalas chatnya “Yo hang sabar,
ndane sing ono halalan thoyyiban food?” | “Ono halalan tapi mung siji, hang dodol wong Malaysia, dadi kadung tuku
‘nak mane? yang ni, nak ni, macem ni’, :D”
Saya
ngakak sejadi-jadinya saat dia membalas seperti itu. Saya jadi membayangkan
yang berjualan itu adalah Mail. Iyaaa, Mailnya Upin-Ipin hahahaha.
Mbel,
sehat-sehat terus di Thailand. Saya, temanmu ini hanya bisa mendoakan. Tetap rendah
hati dan tetap jadi diri sendiri. Tetap jadi Intan Kurniasari yang saya kenal. Belajar
yang tekun, jangan lupa cuci mata, fardhu
‘ain kuwi, mbel. Masa sudah nyampe Thailand terus isinya kuliah mulu, bosen
ah :D
Saya,
Inda dan Ima bangga. Setidaknya di antara kita berempat ada yang pernah ke luar
negeri, wkwkwk. Saya
juga yakin Bapak dan Ibu dirumah bangga luar biasa. Bu Is bisa pamer ke para
tetangga kalau anaknya sekarang sedang kuliah di luar negeri. Bagi orang tua,
terutama Ibu, hal seperti itu adalah prestise
tersendiri. Saya juga yakin Langgeng dan Risma bangga memiliki kakak seperti
kamu. Kamu adalah motivasi mereka agar bisa belajar hingga ke luar negeri juga.
Dimas mah masih kecil, belum ngerti embaknya pergi kemana hehehe. Saya
teringat Pak Kris. Kalau saja beliau masih ada, beliau pasti juga bangga.
Jangan
lupa untuk take your time. Coba untuk
berdiam diri di tempat yang benar-benar hening. Putar kembali perjuanganmu
selepas dari sekolah dasar. Masa-masa mendaftar jenjang SMP, hingga akhirnya
lulus dari SMP. Jatuh bangun apa saja yang sudah kamu lalui. Bagaimana sulitnya
merangkak dari setiap jatuh yang telah terlewati. Putar kembali perjuanganmu
semasa SMK. Rutinitas setiap pagi menunggu angkutan. Kamu, Ima dan saya memang
tidak seberuntung anak-anak lain dengan fasilitas mewah dari orang tuanya, tapi
kita tidak ambil pusing.
Putar
kembali perjuangan mencari beasiswa agar kamu bisa kuliah. Hingga akhirnya kamu
belajar di kampus yang hari ini membawamu ke Thailand. Lihat mbel, semua
perjuangan itu berbuah manis. Semanis diriku, eh, kamu maksudku.
Pokoknya
jangan lupa muhasabah, evaluasi diri. Oh ya, semoga kerudungnya bisa istiqomah.
Masih buka tutup nggak apa-apa, perlahan, keep
on going. Yang namanya berproses itu kadang dipuja kadang dihina.


Tulisannya bagus mbk. Keren. Sahabat dunia akhirat. Aamiin
BalasHapusAamiin, thank you Mbak 😊
Hapus