Akhirnya selesai sudah segala ritual pernikahan Mas Janu dan Novia. Segala doa dan harapan untuk pengantin baru meluncur dari setiap ucapan para tamu. Perayaan pernikahan yang bernuansa abu-abu itu berlangsung khidmat di Gedung Korpri.
Di hari berbahagia ini saya dan para sepupu lainnya berkesempatan untuk turut menjadi bagian dari kebahagiaan mempelai. Empat jam sebelum acara, saya dan Nia sudah tiba di rumah Mas Wiwin, yang merupakan pusat dari segala macam aktivitas rias merias.
Ini merupakan pertama kali saya di rias setebal dan seserius ini lagi setelah tiga tahun yang lalu, ketika karnaval saat SMK. Setelah membersihkan wajah, mulailah tangan si ibu perias yang ternyata adalah teman dari istri dosen saya, memoles segala macam benda yang saya tidak tahu apa namanya.
Sejak pada polesan pertama saya sudah merasakan beban yang amat berat pada wajah saya. Apalagi ketika sampai pada bagian pemasangan bulu mata, lailahaillallah rasanya ini mata belekan, gaes.
Kurang lebih setengah jam saya berada dalam posisi duduk bersila, yang menyebabkan kaki kesemutan pada akhirnya. -____-
Selesai dirias, saya berganti pakaian yang dibantu oleh seorang ibu. Dengan segala kerepotan dan keruwetan yang terjadi, akhirnya selesai lah saya dengan pakaian abu-abu itu.
Wajah selesai. Pakaian selesai. Kini saatnya jilbab. Saya menghampiri seorang ibu yang bertugas memakaikan jilbab. Dari sana saya tahu bahwa jilbab yang terpasang manis di kepala saya ini membutuhkan 16 jarum, 2 jepit konde, 1 peniti besar dan 1 bross. Bukan main sodara-sodara. Jelas membutuhkan kesabaran yang ekstra joss untuk melepas jilbab itu dalam keadaan tubuh yang sudah teramat lelah. Kalau nggak sabar, bisa-bisa saya kesirep dengan tetap pakai jilbab. Shooting film, kali ah.
Akhirnya setelah selesai semuanya, pukul 18.00 para penerima tamu berangkat ke Gedung Korpri, tempat acara dihelat.
Oh ya, gaes. Hari ini pula saya baru tahu jika istri Mas Janu itu ternyata adik kelas saya ketika di SMK. Benar-benar kuasa Tuhan, ya. Saya tidak menyangka sama sekali bahwa perempuan yang saya ketahui, yang tengah dirias di rumah Mas Wiwin tadi adalah mempelai wanita. Saya pikir ya dia juga penerima tamu, sama seperti saya dan sepupu saya lainnya. Wkwkwk, maaf ya, Nov.
Sejak dapat undangan saya memang tidak tahu bahwa Novia yang tertulis di undangan adalah Novia adik kelas saya. Di samping saya tidak tahu bahwa perempuan itu bernama Novia, di sekolah dulu saya hanya sebatas tahu wajahnya, tidak namanya. Ah, dunia memang tak lebih lebar dari daun kelor, ya.
Jadilah akhirnya malam itu ajang reuni bagi saya dan beberapa adik kelas AK 3 yang saya kenal. Mereka juga tidak menyangka jika akhirnya saya dan Novia menjadi saudara sekarang. Ya kadang kejutan Tuhan itu semengejutkan ini, gaes.
Dan di akhir acara, ketika akan pulang barulah akhirnya Novia menyapa saya. Mungkin dia baru sadar bahwa saya ini adalah kakak kelasnya dulu. Hmmm, ya gini deh nasib siswi yang dulunya kuper dan nggak famous di sekolah, wkwkwkwk.
Sebenarnya saya ingin ngobrol panjang lebar dengan Novia semalam. Biasa lah ya naluri perempuan, naluri kepo. Berhubung hari sudah malam dan harus pulang, yaa gagal sudah keinginan ngobrol.
Pada akhirnya saya hanya bisa mendoakan semoga kehidupan rumah tangga mereka selalu dirahmati keberkahan. Dijauhkan dari segala fitnah, iri dan dengki. Masing-masing mempelai dapat menjaga kebaikan nama keluarga. Dan semoga diberikan keturunan yang baik serta shalih shalihah. Aamiin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar