Berakhir sudah seluruh rangkaian acara
Konferensi Karnivora Indonesia (KKI) tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Forum
HarimauKita (FHK) di Hotel Ketapang Indah Banyuwangi. Saya bersyukur bisa
menjadi orang yang turut terlibat dalam menyukseskan acara tersebut. Menjadi
bagian dari forum yang luar biasa keceeeee, subhanallah. Tempat berkumpulnya
orang-orang luar biasa yang concern
terhadap dunia konservasi, ilmu biologi serta kehutanan. Saya tidak sangka jika
acara tersebut akan mendatangkan beragam profesional dari berbagai daerah.
Baik, saya akan cerita bagaimana
awalnya hingga saya bisa memandu acara mereka. Duh, nyebut diri sendiri sebagai
orang yang memandu acara aja aku nderedeg,
gaes.
Jumat sore (24/11) menjelang maghrib,
saya dapat WA dari Bunda Anggie. FYI,
waktu itu saya lagi di rias karena pukul 18.00 akan melaksanakan akad nikah
yudisium. Sudah barang tentu saya tidak ngutek-ngutek
hp. Waktu itu hp saya tinggal di kamar. Nah, ketika sudah selesai dandan dan
selesai selfie-selfie dengan MUA yang
notabene adik sepupu sendiri dan Bapak, barulah saya sempat cek ponsel.
Saya buka pesan dari Bunda Anggie.
Bunda kirim file buku program berbentuk pdf. Lalu ada keterangan di pesan
berikutnya, “Mey bisa ngemc itu?”
Waktu itu saya lagi nggak bisa mikir
jernih, gaes. Saya langsung balas WA
Bunda, “Bundaaa, maaf, habis dandan.” Bunda balas dengan, “Iyaaa, bunda lupa
kalo hari ini Mey yudisium.”
Eh, perlu nggak sih saya jelaskan
secara detail isi pesan WA kami? Wkwkwk. Ya pokoknya inti pesannya begitu. Akhirnya
kami bertemu di kampus. Saya dekati Bunda dan ngobrol masalah ngemc itu. Entah
karena suasana yang kurang kondusif atau bagaimana, tapi yang jelas obrolan
kami kurang intens. Saya juga masih belum mengiyakan tawaran ngemc itu.
Selesai acara yudisium saya juga tidak
ngobrol masalah itu dengan Bunda. Akhirnya saya kembali ke rumah. Malam
harinya, ada WA masuk atas nama Mbak Laksmi. Mbak Laksmi memperkenalkan diri
bahwa beliau dari Forum HarimauKita, dan sedang mencari MC untuk acara Hari
Senin (27/11) hingga Rabu (29/11). Saya yang lagi lembur bikin seserahan untuk
lamaran langsung pecah konsentrasi. Antara nge-wrapping ama ngebales WA, bayangin dah tuh ribetnya.
Mbak Laksmi menjelaskan secara singkat
detail acara, hingga akhirnya menanyakan apa saya bisa? Ya jelas bisa, wong di rumah juga nggak ngapa-ngapain.
Kan udah officially pengangguran.
Heuheuheu. Mbak Laksmi juga bilang, “Mbak Mey biasanya berapa kalo ngemc?
Budgetnya?” saya ngikik baca bagian itu. Ya karena selama ini nggak pernah di
tanya tentang begituan. Saya langsung laporan ke Ibu saya, you know what? Ibu saya juga ngikik. Akhirnya saya dan Mbak Laksmi
sepakat untuk bertemu Hari Minggu (26/11). Bayangin, gaes, acaranya Senin,
ketemu ama panitianya Minggu. Bayangiiiiin ...
Minggu pagi, sekitar pukul 10 saya
bertemu panitia inti KKI yang jumlahnya hanya 5 orang di Ketapang Indah. Ya,
hanya 5 orang. Lima orang anak muda luar biasa yang saya temui hari itu. Mbak
Laksmi, Mbak Areth, Mas Ardi, Mas Tomy dan Mas Yanuar. Kesan pertama bertemu
mereka: oke, mereka asyik. Setelah kenalan dan basa-basi, akhirnya saya tahu
bahwa domisili FHK ini di Bogor. Pantesan cara ngomong mereka kayak Bibeh.
Spontan saya langsung ingat perempuan jadi-jadian asal Rogojampi itu. Eh, Rogojampi
atau Blimbingsari?
Mbak Laksmi cerita secara singkat
bagaimana nanti acara KKI ini dikemas dan siapa-siapa saja tamu kehormatan yang
akan hadir. Mbak Laksmi menyebutkan salah satu tamu yang hadir adalah Pak
Dirjen. Saya yang masih nggak ngeh cuma bisa O aja ya kan. Jujur, hingga hari
itu saya masih belum bisa kebayang acaranya bakal gimana. Sampai akhirnya saya
di briefing di venue. Mas Ardi, yang saya tebak adalah sutradara dalam acara
ini segera mengambil alih. Kami duduk bareng sambil melototin laptop yang di
layarnya terpampang rundown acara. Mas Ardi menjelaskan apa-apa saja yang akan
terjadi besok. Sebenarnya semua sudah ada di buku program, mulai dari nama-nama
pembicara utama, nama moderator, KKI itu apa, tujuan diselenggarakan KKI,
hingga sponsor-sponsor yang nanti akan di ad lips.
Tapi, Mas Ardi menjelaskan kembali
dengan gayanya yang sumpah lucu. Blio tuh nggak nyungkani. Tidak membuat saya
merasa tertekan dengan kalimat-kalimat “Pokoknya besok harus perfect ya”,
“Jangan sampai ada salah ucap”, “Ini acara penting loh” dan lain sebagainya.
“Kita enjoy aja besok, semi formal kok ini.” katanya.
Oh, ya, gaes. Dilihat-lihat Mas Ardi
itu mirip geraldytan. Iya, Geraldy yang tingkahnya mirip set di uyahi,
selebgram pencinta K-Pop. Skip.
D-Day pun tiba. Konferensi Karnivora
Indonesia 2017 dibuka langsung oleh Bapak Ir. Bambang Sukendro, MM, selaku
kepala Balai Taman Nasional Baluran. Pembukaan hingga masuk ke sesi oral
berjalan lancar. Saya yang awalnya gugup sekali, akhirnya bisa membawa diri dengan
baik. Acara ini semi formal, jadi saya harus sedikit improvisasi di beberapa
bagian. Selebihnya saya mengandalkan suara dan penampilan yang baik.
KKI berlangsung selama tiga hari. Tiga hari
itu pula saya mendapat banyak pelajaran baru tentang dunia konservasi, tentang mamalia
karnivora, tentang apa itu camera trap, tentang teknik-teknik penelitian yang
mereka gunakan, dan saya banyak menemui orang-orang luar biasa di konferensi
ini.
KKI 2017 ini menghadirkan enam orang pembicara utama, antara lain:
1. Prof. Dr. Gono Semiadi. Beliau merupakan Guru Besar Penelitian Mamalia dan Pengelolaan Satwa Liar yang saat ini bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Profil selengkapnya sila searching sendiri di Google, ya? Beliau memaparkan mengenai “Kondisi terkini karnivora Indonesia: Penelitian dan status konservasinya”.
2. Dr. Tonny Soehartono. Beliau merupakan Presiden Direktur dari PT. Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI). Dr. Tonny memaparkan mengenai “Pembelajaran strategi intervensi konservasi mamalia karnivora di Indonesia”.
3. Dwi Nugroho Adhiasto, M.A, adalah Wildlife Trade Program Manager dari Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP). Beliau memaparkan mengenai “Memahami dan mencegah perburuan dan peredaran ilegal harimau sumatera di kawasan konservasi, Indonesia”.
4. drh. Erni Suyanti. Dokter Hewan yang ada di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Beliau menjadi Kick Andy Heroes 2017. Saat KKI 2017 lalu, beliau memaparkan mengenai “Interaksi mamalia karnivor: Strategi, tantangan dan solusinya”.
5. Ir. Wiratno, M.Sc. Beliau merupakan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Beliau memaparkan tentang “Kebijakan Pemerintah: Perlibatan Masyarakat dalam Upaya Konservasi Mamalia Karnivora”. Bagian beliau saya suka takut salah sebut dari "Wiratno" jadi "Wiranto".
6. Samedi, PhD. Direktur Program Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera. Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). Beliau memaparkan mengenai “Persepsi lembaga donor dalam strategi konservasi mamalia karnivora skala lanskap”.
Itulah keenam orang hebat yang turut
hadir dalam KKI 2017 di Hotel Ketapang Indah. Selain enam pembicara tersebut, hadir
pula presentator sesi oral dari berbagai kalangan. Meliputi mahasiswa,
praktisi, aktivis konservasi, juga dalam KKI lalu hadir pula Eka dan Jamal, dua
siswa asal Sumatera yang memenangkan karya tulis dalam World Tiger Day.
Saya merasa semakin tidak tahu apa-apa
berada di tengah mereka. Sungguh ilmu itu sangat luas, manusia hanya titik
kecil yang tidak seberapa dibandingnya.
Di area KKI saya juga menyaksikan
peristiwa-peristiwa yang sungguh heart-warming. Ada pemandangan dua sejoli (Dr.
Tonny Soehartono dan Prof. Ani Mardiastuti). Mereka adalah pasangan suami
istri. Mereka berdua pokoknya subhanallah sekali, gaes. Bapak dan Ibu ini
bersahaja, humble banget, ramah ke semua orang. Saya beruntung sekali bisa
duduk satu meja dengan beliau berdua, selain dengan Mas Ardi dan Mbak Laksmi.
Pada satu kesempatan, saya tanya ke Ibu
Ani, “Ibu, gimana rasanya punya suami yang concern ke urusan konservasi juga?
Seru, ya, suami istri kerja bareng, menggeluti dunia yang sama.” Bu Ani
tersenyum, “Nggak, ah, Mbak, biasa aja. Seru, sih, iya, kemana-mana bisa bareng
Bapak.” Aaaaah, that’s too sweet, apalagi yang di pamerin adalah perempuan
single macam eyke. Melelehlah aing dibuatnya.
Bapak (Dr. Tonny) juga orang yang tidak
sungkan untuk menyapa orang terlebih dahulu. Ketika coffee break, saya sempat
ditanya oleh beliau, “Kerja dimana, Mbak?” | “Saya kuliah, Pak. Desember besok
wisuda.” | “Masih muda, ya?” (kami tertawa)
Bapak –meskipun saya baru tahu sekilas–
adalah sosok yang baik, santun, sederhana. Mereka berdua adalah orang-orang
hebat, orang-orang berilmu yang tidak sombong. Peribahasa padi makin berisi
makin merunduk itu tepat sekali untuk Bapak, Ibu dan orang-orang yang kemarin
hadir di KKI 2017. Karena mereka memang begitu adanya.
KKI 2017 adalah event profesional
pertama saya. Semua berjalan sesuai rundown dan tepat waktu. Meskipun ada
beberapa perubahan agenda, itu adalah hal yang wajar dalam sebuah acara. Dari
KKI 2017 ini, saya belajar banyak hal. Disiplin kerja, kebersamaan, profesionalitas,
mengatasi gugup dan banyak lagi.
Saya ucapkan terimakasih kepada Bunda
Anggi, yang telah merekomendasikan saya kepada FHK. Terimakasih kepada super
duper tim panitia. Lima orang anak muda yang menyelenggarakan event luar biasa
sekelas KKI. Dari mereka saya belajar bahwa, sedikit orang kadang justru lebih
well-prepared daripada melibatkan banyak orang tapi pas hari H keteteran. Terimakasih
kepada Mas Ardi yang sudah selalu sabar saat saya banyak tanya. Selalu memberi
masukan saat saya mulai pegang microfon. Terimakasih kepada Mbak Laksmi yang
sudah menyiapkan segala yang saya butuhkan dengan telaten. Terimakasih kepada
Mas Tommy yang sejak saya datang pertama kali blio selalu membuat saya nggak
sungkan dengan banyak ketawa. Dikit-dikit ketawa, dikit-dikit ketawa, hambok
yang banyak gitu lho, Maz. Terimakasih kepada Mbak Areth (ketua panitia KKI)
yang selalu oke di segala keadaan. Oh ya, terimakasih juga karena telah
menyebut nama saya saat ucapan terimakasih.
Jadi, gaes, selama pengalaman saya jadi
MC, baru kali ini ada yang mengucapkan terimakasih karena telah memandu acara
mereka dengan baik. Mbak Areth melakukan itu saat penutupan KKI 2017 kemarin. Saya
terharu. Bukan hanya sekedar “Terimakasih kepada MC pada hari ini” melainkan “Terimakasih
untuk MC kita, Mbak Mey”. Weeees, disitu perasaan saya bahagia, terharu, kabeh
dadi siji. Terimakasih juga Mbak Areth atas kesempatan yang diberikan. Terimakasih
juga pada Mas Yanuar, yang walaupun kita irit ngobrol, tapi kau selalu hadir
menjadi sosok yang bisa di lihatin pas capek di sela-sela acara. Wkwkwk. Karena
dalam sebuah event akan selalu ada Mas-Mas panitia yang enak dilihat.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar