Senin, 09 Oktober 2017

Sosial Media adalah Koentji!

Pernahkah kalian merasa jenuh dengan kehidupan ini, gaes? Lelah dengan segala hiruk pikuk dunia. Dunia yang hanya sementara dan fana ini terus memberikan sesuatu yang baru. Manusia dengan sifat hedonisnya juga terus-terusan berinovasi menelurkan teknologi-teknologi terbaru. Belum sempat merasakan yang ini sudah muncul yang itu. Belum sempat nyobain yang di sini sudah ada lagi yang di situ. Begitu saja terus hingga kuda laut jalan di darat. Ku lelah ~

Jika kalian pernah merasakan kelelahan dan ingin hilang saja, kita sama. Lalu, pernahkah kalian merasakan kejenuhan saat bersosial media? Semakin banyak akun-akun nggak berfaedah turunan saracen yang bermunculan. Akun-akun penebar fitnah, hoax, ujaran kebencian, pemecah belah umat dan bangsa. Buka facebook banyak akun bokep keliaran, banyak akun melodrama yang suka share tentang pelakor, poligami, de el el yang menunjukkan sisi negatif perempuan. Buka instagram banyak alay milenial yang suka upload foto selfie tapi captionnya tausiyah. Buka twitter ada bae akun anonim yang ava-nya topeng tapi suka nuduh akun lain –yang terbukti jelas akun dan avanya– antek PKI. Hmmm, apa kalian tidak lelah, gaes? Jika pernah lelah dan ingin berhenti saja bersosial media, kita sama. Samaaaaa :(

Segala kegalauan itu sudah melanda saya sejak tahun 2016 lalu. Saya merasa jenuh dengan rutinitas yang begitu-begitu saja. Bangun tidur cek ponsel, scrolling sosmed, istirahat bentar, cek ponsel lagi, buka medsos lagi, baca mojok, kepoin akun doi, istirahat lagi, gitu terus sampe batre low. Hingga akhirnya Tuhan memisahkan saya dengan si cinta (dalam hal ini gawai). Awal Januari 2016 gawai pertama yang saya miliki mati. IC-nya rusak. Oke, spaneng-lah saya karena tidak pegang gawai. Tambah pula waktu itu sedang sibuk-sibuknya menata hati KKN.

Minggu pertama, minggu kedua, hingga akhirnya menginjak bulan, saya mulai terbiasa. Saya menjadi manusia normal dengan rutinitas normal sehari-hari. Tidur, makan, boker, kuliah, nonton drama, dikerjain tugas, dan sederet aktivitas ajaib lainnya. Januari 2016 saya mulai disibukkan dengan kegiatan KKN. Karena kesibukan itu saya jadi sedikit melupakan kegalauan tidak ada gawai. Ingat dulu pas masa KKN saya sampai download bluestack di laptop hanya agar bisa bbm-an dan main sosmed. Si cinta (dalam hal ini laptop) sampai harus mengerang tiap saya gunakan untuk buka aplikasi bluestack (sungguh kasihan melihat si cinta harus menanggung beban berat karena nonanya yang egois ini). Saya tidak ingin penggemar saya berpikir bahwa Mey t’lah hilang dari bumi yang bulat ini, kemudian banting setir jadi menggemari dedeq kampus yang itu. Hanya aku dedeq kampus yang patut digemari. Hanya aku ~

Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, sukses saya lewati tanpa gawai. Pasti berat ya, Mey, hidup tanpa gawai? Ah, siapa bilang? Yang berat itu hidup tanpa cinta, malov. (monggo kalau mau bilang eaaak sambil salto).

Kembali lagi ke pribadi orang. Saya bukan tidak bisa wadul ke Bapak, bilang kalau gawai rusak, terus minta belikan lagi. Bisa saja. Tapi malov, saya bukan anak yang setega itu melihat pitak di kepala Bapak saya semakin lebar karena nambahin beban blio dengan keinginan saya yang nggak penting-penting banget. Dulu saja, ketika pertama kali Bapak bilang ke saya, “Gak mau beli hape kaya teman-temanmu?” saya sudah gak tega dan pingin nangis. Saya tahu ketika Bapak berani kasih tawaran seperti itu, tandanya blio ada rezeki lebih. Tentu sebagai anak yang berbakti saya tidak sia-siakan tawaran tersebut. Bukan begitu? Heuheuheu ~

Jika di total berapa lama saya tidak pegang gawai, itu berarti totalnya ada 183 hari. Kok hapal, Mey? Ya di hapalin. Wedok kok, apa-apa yang nggak penting tuh dihapalin. Dari tanggal 5 Januari hingga 5 Juli 2016. Ya, 5 Juli 2016 itu adalah malam takbir Idul Fitri. Saya tidak tahu skenario seperti apa yang Tuhan berikan pada saya. Saat tidak pegang gawai saya dapat tawaran untuk ikut bergabung di tim penelitian sejarah NU Banyuwangi. Bertemulah saya dengan orang-orang Nahdliyin. Dari kegiatan itu saya dapat reward. Reward itulah yang akhirnya saya pakai untuk beli Huawei Y520 U22. Sungguh sebuah drama ketika saya bonceng Ibu naik Fiz R dan kita berdua membelah dinginnya malam disertai suara takbir berkumandang untuk pergi ke Bismar. Dari rumah, saya drama lagi, rasanya syahdu sekali bisa beli gawai dengan uang sendiri yang insyaallah berkah.

Pertengahan 2016 jika tidak salah, saya mulai berkeinginan untuk tidak lagi menggunakan BBM. Pertama kali uninstal BBM godaannya luar biasa. Rasa masih ingin eksis itu sangat kuat. Di kontak BBM saya banyak sekali teman-teman yang berasal dari luar daerah. Teman saat bertemu di acara luar kota. Akhirnya saya harus rela kehilangan kontak mereka. Pertama kali merasakan hidup dengan BBM juga aneh, karena waktu itu saya belum rajin menggunakan WA.

Pada akhirnya semua memang harus dibiasakan. Kadang saya iri dengan @lilydewai yang sudah menanggalkan semua medsosnya dan hanya memiliki twitter (tapi tetep aja dia masih suka anxiety and depression tipikal mass-milenial). Mbak Liliy, yang saya kenal belum lama, sudah tidak terikat dengan facebook, instagram, line, dll. Pernah satu kali dia bikin thread tentang suka duka memiliki sedikit medsos. Memang kita jadi agak kuper, tapi porsi bahagianya lebih besar. Kita jadi jarang menemui tulisan hate-speech, jarang menemukan konten-konten negatif, juga jadi awet kuota. Hahahaha. Tapi @lilydewai adalah pengecualian. Dia masih suka cemas-cemas gak jelas. Twit-twitnya masih bertolak belakang dengan nuansa bahagia. Ehe ~

Sejak bertemu dengan @lilydewai di twitland, kegalauan saya jadi datang lagi. Keinginan untuk lepas dari dunia medos makin besar. Saya coba perlahan. Mulai dari uninstal aplikasi instagram dan facebook. Karena dua medsos ini yang memiliki pengaruh besar untuk pamer menurut saya, heuheu. Dan kegalauan itu terjawab kemarin saat saya menghadiri bincang buku “Millenial Nusantara” bersama penulisnya langsung, Hasanuddin Ali.

Cak Ali banyak menjelaskan bagiamana tipikal milenial zaman now. Blio juga menjelaskan ada 5 tipologi generasi milenial. Lebih jelasnya sila klik hasanuddinali.com 

Dari sana saya utarakan apa yang menjadi kegalauan saya. Dengan kondisi sosial media saat ini rasanya wajar jika saya merasa begitu lelah. Banyak sekali akun-akun keblinger yang dengan tidak merasa berdosa menulis kalimat-kalimat provokatif berujung fitnah. Galau saya bertambah ketika menyadari satu hal. Jika saya berhenti, jika saya tidak lagi main sosmed, apa jadinya dunia persosmedan Indonesia? Kehilangan makhluk bully-able macam saya? Bukan begitu?

Benar kata Gus Romli, pertahanan yang baik itu adalah menyerang. Jangan diam aja, nerimo, sabar, saat melihat akun-akun tidak berfaedah itu sedang menyebarluaskan hoax. Apalagi ketika sudah menghina poro yai. Kita harus melakukan sesuatu. Saya mah angkat tangan kalau harus twitwor dengan mereka. Ranah itu biar dilakukan oleh orang-orang macam Gus Romli, admin NU Garis Lucu, admin ala NU dan pimred eug. Orang-orang seperti saya ini hanya perlu menyebarluaskan kebaikan, cinta, kasih dan sayang. Hal-hal positif gitu lah pada intinya, dengan dibumbui aroma baper pasti akan terasa lebih sedap dan disukai para alay milenial. Yakin saya.

Cak Ali pun memberikan nasihat kepada saya agar tetap menggunakan sosial media. Tetaplah eksis dan mengajak orang-orang untuk optimis. Karena kalau bukan kita yang menebar kebaikan, siapa lagi? Eggy Sudjana? Jonru? Ehe ~

Dulu, saya juga membatasi pertemanan di facebook. Saya tidak ingin ngoleksi orang-orang tak dikenal di facebook. Tapi, sekarang semua berubah. Saya lebih open minded. Saya harus memiliki banyak teman agar promosi Ngaos Fiqih, It’s Mey Time, serta Bincang Buku (coming soon) dapat berjalan lancar. Bukan begitu, malov?

Iya-in ajaaaaa ~

Sumber: Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar