Selasa, 06 Februari 2018

Menjadi Pembelajar

Pak Cik Andrea menuliskan bentuk-bentuk gembira kecil dalam novelnya yang berjudul “Ayah”. Bentuk-bentuk gembira tersebut antara lain, misalnya, waktu tukang cat menemukan duit dua ribu perak dibungkus plastik dalam kaleng cat tembok, atau jika Jumat tanggal merah. Atau, saat mendengar pramugari berkata bahwa sebentar lagi pesawat akan segera mendarat, atau secara tidak sengaja sandal kita tertukar dengan sandal orang lain, yang lebih bagus. Atau, saat pelukis menempelkan label sold pada lukisannya. Semua itu adalah contoh “bentuk-bentuk gembira kecil” yang Pak Cik Andrea berikan, dalam novelnya.

Pun sama dengan saya, yang memiliki bentuk gembira kecil. Malam ini saya patut bergembira, patut berbahagia, karena melihat wajah-wajah baru dalam majelis ilmu kami. Wajah-wajah baru itu tidak asing bagi saya. Mereka adalah kawan saya saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saya tahu mereka, namun tidak mengenal secara pribadi. Mereka? Sudah tentu mereka tidak tahu saya, apalagi kenal. Kami berbeda kelas saat SMP.

Baiklah, tulisan ini bukan tentang dua kawan SMP saya itu, meskipun nanti akan sedikit saya singgung, hehehe.

Jika di dunia ini ada hal yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan, itu adalah istiqomah. Sungguh, membuat kita keep on the track adalah pekerjaan sulit. Membuat kita selalu melakukan hal-hal baik adalah suatu kemustahilan. Selain Rasulullah, manusia mana yang hidupnya selalu diliputi oleh kebaikan? Bahkan yang setiap napasnya adalah dzikir yang itu berarti bernilai pahala? Selama ini, yang bisa manusia lakukan adalah berusaha mengerjakan hal-hal baik. Berusaha meninggalkan sifat-sifat buruk. Dan semua itu tidak bisa kita lakukan seorang diri.

Saya berkali-kali bersyukur jika mengingat bagaimana saya dipertemukan dengan kawan-kawan Ngaji Fiqih. Bagi kaum awam seperti saya, bisa mengaji secara rutin satu minggu sekali membahas satu kitab, adalah sebuah kemewahan. Oleh sebab itu, saya suka sedih ketika ada orang-orang yang mungkin tidak bermaksud meremehkan, tapi mereka terkesan tidak menghargai usaha kami untuk belajar. Pernah satu waktu, seseorang bertanya kepada saya, “Kitab apa yang di kaji, Mbak?” saya jawab, “Fathul Qarib”. Kalian tahu bagaimana jawabannya? “Ealah, kuwi toh, aku ya wis khatam, Mbak. Makanan sehari-hari. Bla...bla...bla...”

“Ya elah, Dik, yang ngaji di sini kan kebanyakan bukan dari golongan santri. Ya wajar kalau masih bahas Fathul Qarib.” Mati-matian saya berusaha untuk kembali guyon dengannya setelah menjawab pertanyaannya. Bayangkan jika mereka, kawan-kawan yang sedang belajar harus mendengar kalimat bernada meremehkan seperti itu, mungkin besoknya mereka berhenti belajar.

Saya tidak peduli mau dia khatam Fathul Qarib, khatam Risalatul Mahid, khatam Bidayatul Hidayah, khatam Al-Hikam sekalipun, bukankah sikap seperti itu harusnya tidak tampak?

Mungkin perlu di ketahui bahwa, Ngaji Fiqih yang telah terlaksana beberapa bulan ini adalah wadah bagi kami yang ingin kembali mengaji. Dari awal pertemuan hingga hari ini, kami patut bersyukur bahwa wajah-wajah baru terus berdatangan. Bahkan tidak saja dari kalangan anak muda, dosen saya, Bu Leni juga istiqomah hadir setiap minggunya.

Jika saya ingat-ingat lagi bagaimana akhirnya Bu Leni ikut bergabung, saya patut bahagia. Waktu itu saya sedang bimbingan skripsi di rumah beliau. Setelah sesi bimbingan selesai, saat sedang mengisi kartu kendali, beliau bertanya apa kesibukan saya saat itu. Saya yang memang tidak memiliki banyak kesibukan lantas bercerita tentang kegiatan ngaji fiqih yang rutin tiap Selasa malam. Tidak saya sangka, beliau tertarik. Saya bilang waktu itu bahwa ngaji fiqih ini isinya anak-anak muda, bukan bermaksud untuk mencegah Bu Leni turut belajar, saya hanya takut Bu Leni jadi kurang nyaman belajar bersama kami.

Tapi memang Allah Maha Luar Biasa. Bu Leni datang dan ikut menyimak kajian oleh Ustadz Surur. Sepanjang mengaji saya hanya memikirkan bagaimana perasaan beliau, nyamankah? Sukakah?

Satu pertemuan, dua pertemuan, tiga pertemuan, fix, beliau nyaman dengan ngaji fiqih ini. Kadang saya suka senyum-senyum sendiri jika mengingat bagaimana proses yang sedang kami lalui. Saya, Bu Leni, Melinda, Ana, Lia, kami adalah orang-orang yang boleh dibilang sedang haus ilmu agama. Dan ngaji fiqih hadir menjadi penawar haus tersebut.

Dan kehadiran dua kawan SMP saya malam ini menjadi bukti bahwa ngaji itu kebutuhan rohani manusia. Di tengah hiruk pikuk kesibukan dunia, siapa yang tidak merasakan lelah? Analogi sederhanya seperti ini, setiap pagi kita keluar dari rumah, bermain dengan kawan-kawan, tertawa, bahagia, gembira, hingga menjelang malam kita pulang. Dari rumah kita merasa sendiri, sepi. Kemana kebahagiaan yang tadi pagi, tadi siang, tadi sore, kita rasakan? Ada kecemasan, ada perasaan kosong yang mendera kita. Kemudian kita sadar, selama ini hubungan vertikal kita apa kabar? Kita sadar bahwa kita terlalu sering memperhatikan hubungan horizontal. Kita sibuk membenahi fisik, kemudian lupa ada yang lebih penting dibenahi dari sekedar fisik, yakni hati kita, mental kita, jiwa kita.

Ngaji Fiqih yang dikemas secara modern, tidak kaku, telah membawa saya pada satu pemahaman, anak-anak muda perkotaan membutuhkan wadah seperti ini. Saya bersyukur, mereka, kawan-kawan yang saya ajak mengaji mampu istiqomah. Mereka tidak harus dituntut untuk begini dan begitu. Ustadz Surur jelas mengerti cara menghadapi anak-anak muda yang ingin belajar agama. Tidak mencecar doktrin-doktrin yang membuat mereka kabur. Misal, kalau ngaji perempuan itu harus pakai baju kurung, jilbab menutup dada, kalau ngaji laki-laki dan perempuan itu dipisah, jangan berhadap-hadapan. Atau, laki-laki kalau ngaji harus pakai sarung. Hal-hal seperti ini tentu membuat kami, para pembelajar tidak akan nyaman.

Dan dalam usaha untuk memperbaiki diri, kami tidak bisa sendiri. Kami butuh orang-orang yang memiliki tujuan yang sama. Orang-orang yang akan selalu mengingatkan saat salah satu dari mereka lupa.

Saya berkali-kali bersyukur menyadari bahwa di dunia ini ada orang bernama Ahmad Surur (ustadz kami) yang menghibahkan dirinya setiap Selasa malam untuk mengisi pengajian, secara sukarela, tak dibayar. Beliau bersedia datang ke mushola PCNU setiap Selasa hanya untuk memberikan satu pasal yang akan di kajinya bersama kami. Meski kadang jemaah yang hadir tidak lebih dari lima orang, beliau tetap mengajar.

Gaes, kalian jangan berpikir bahwa Ahmad Surur, orang yang biasa kami panggil Ustadz Surur adalah orang yang sudah berumur. Datanglah dan lihat sendiri bagaimana beliau dan bagaimana cara beliau berbaur dengan kami untuk menyampaikan kajian. Awalnya, dulu sekali, saya juga berpikir bahwa Ustadz Surur adalah seseorang yang usianya jauh di atas saya. Ternyata tidak, usia kami tidak terpaut terlalu jauh. Namun, untuk masalah ilmu, saya jauh sekali di bawah ustadz. Ibarat Usatdz Surur sudah sampai Turki, saya masih di sini-sini saja, di Pakis.

Untuk masalah umur ini, dulu juga saya sempat ketar-ketir, bagaimana jika Bu Leni merasa aneh mengaji dengan seseorang yang pantas jadi anaknya. Tapi ternyata tidak. Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang ia bicarakan. Belajar tidak melulu dari orang yang lebih tua dari kita. Bu Leni menjadi contoh bagi kami bahwa belajar itu kapan saja, dimana saja, dan dari siapa saja. Tidak perlu malu maupun berkecil hati.


Sumber: Instagram

Tidak ada komentar:

Posting Komentar