Jumat, 16 Maret 2018

Damar Semprong "Suwuk"

Hari ini menjelang isya saya memutuskan untuk mandi, setelah beberapa hari tubuh penuh dosa ini tidak tersentuh air sama sekali. Seperti mendapat firasat, saya juga mengisi daya ponsel hingga full. Selesai mandi, saya duduk manis di meja belajar. Buka laptop, nonton Running Man, dan sesekali cek ponsel.
 
Tidak lama kemudian, ketika mushola sebelah rumah sedang puji-pujian, ada suara klakson motor yang saya kenali. Pasti Bibeh. Saya tidak merasa memiliki janji. Cepat-cepat saya cek WA. Benar saja, Fiya kirim pesan via WA. Mereka bertiga (Bibeh, Fiya, Fida) ada di depan pagar dan menatap penuh selidik ke arah saya.

“Mbak, gak ikut?” kata Fiya. Keadaan saya waktu itu masih memakai kaos putih kedodoran bergambar Pak Jokowi dan pakai celana tidur sepaha. Baiklah, saya suruh mereka masuk dan menunggu beberapa menit.

Sambil mengganti pakaian, saya senyum-senyum. Inikah firasat yang datang pada saya tadi? Bayangkan jika tadi saya tidak mandi, mungkin saya nggak jadi ikut mereka nonton pagelaran tetaer di Untag.

Tidak sampai sepuluh menit saya telah siap. Kami berangkat menuju warung nasi goreng. Hehehe. Jadi sebelum nonton teater, kami makan dulu. Sebenarnya di rumah tadi saya akan siap-siap makan dengan Bapak dan Ibu. Tapi berhubung tiga dara itu datang menjemput, akhirnya saya makan malam diluar.

Sudah lama sekali kami berempat tidak ngumpul seperti malam ini. Kami tak banyak bercerita, rasanya lelah jika setiap bertemu dengan mereka harus membahas hal yang sama. Akhirnya kami bahas game yang direkomendasikan oleh Fida, yang membuat saya sampai pada level 37, sungguh ironi.

Baiklah, lewatkan masalah game. Selesai makan kami langsung menuju Untag. Dari sana ternyata pagelaran sudah dimulai, kami terlambat. Setelah mendapat posisi duduk yang strategis kami mulai mengikuti segmen Sarasehan yang dipandu oleh Mbak Nana dan live di Banyuwangi TV.

Dalam sarasehan itu hadir pula Bapak Budi Osing, penulis puisi “Suwuk”, Bapak Andang, selaku rektor Untag, dan juga Mas Mocez, selaku sutradara dalam pagelaran malam ini. Dari obrolan malam ini, kita dapat ketahui Suwuk itu seperti santet, namun Suwuk adalah versi halusnya. Saya kurang mengerti bagaimana Suwuk itu sendiri. Yang jelas melalui karya tersebut, dapat diketahui bahwa Pak Budi Osing ingin memudarkan image yang melekat pada Banyuwangi sebagai “Kota Santet”.

Itu, sih, secara garis besarnya. Tapi yang paling mengesankan saya pada pagelaran malam ini adalah penampilan dari Mas Samsul yang menarikan Jejer Gandrung. Meski blio laki-laki, luwesnya bisa menandingi perempuan. Daebak pokoknya.

Saya juga megucapkan selamat untuk kawan-kawan UKM Teater Bhinneka 45 yang telah sukses melaksanakan pagelaran malam ini. Kalian hebat. Ditungu karya-karya luar biasa selanjutnya.

Salam budaya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar