Hari ini
menjelang isya saya memutuskan untuk mandi, setelah beberapa hari tubuh penuh
dosa ini tidak tersentuh air sama sekali. Seperti mendapat firasat, saya juga mengisi
daya ponsel hingga full. Selesai mandi,
saya duduk manis di meja belajar. Buka laptop, nonton Running Man, dan sesekali
cek ponsel.
Tidak lama
kemudian, ketika mushola sebelah rumah sedang puji-pujian, ada suara klakson
motor yang saya kenali. Pasti Bibeh. Saya tidak merasa memiliki janji. Cepat-cepat
saya cek WA. Benar saja, Fiya kirim pesan via WA. Mereka bertiga (Bibeh, Fiya,
Fida) ada di depan pagar dan menatap penuh selidik ke arah saya.
“Mbak, gak
ikut?” kata Fiya. Keadaan saya waktu itu masih memakai kaos putih kedodoran bergambar
Pak Jokowi dan pakai celana tidur sepaha. Baiklah, saya suruh mereka masuk dan
menunggu beberapa menit.
Sambil mengganti
pakaian, saya senyum-senyum. Inikah firasat yang datang pada saya tadi? Bayangkan
jika tadi saya tidak mandi, mungkin saya nggak jadi ikut mereka nonton
pagelaran tetaer di Untag.
Tidak sampai
sepuluh menit saya telah siap. Kami berangkat menuju warung nasi goreng. Hehehe.
Jadi sebelum nonton teater, kami makan dulu. Sebenarnya di rumah tadi saya akan
siap-siap makan dengan Bapak dan Ibu. Tapi berhubung tiga dara itu datang
menjemput, akhirnya saya makan malam diluar.
Sudah lama
sekali kami berempat tidak ngumpul seperti malam ini. Kami tak banyak
bercerita, rasanya lelah jika setiap bertemu dengan mereka harus membahas hal
yang sama. Akhirnya kami bahas game yang direkomendasikan oleh Fida, yang membuat
saya sampai pada level 37, sungguh ironi.
Baiklah,
lewatkan masalah game. Selesai makan kami langsung menuju Untag. Dari sana
ternyata pagelaran sudah dimulai, kami terlambat. Setelah mendapat posisi duduk
yang strategis kami mulai mengikuti segmen Sarasehan yang dipandu oleh Mbak
Nana dan live di Banyuwangi TV.
Dalam sarasehan
itu hadir pula Bapak Budi Osing, penulis puisi “Suwuk”, Bapak Andang, selaku
rektor Untag, dan juga Mas Mocez, selaku sutradara dalam pagelaran malam ini. Dari
obrolan malam ini, kita dapat ketahui Suwuk itu seperti santet, namun Suwuk
adalah versi halusnya. Saya kurang mengerti bagaimana Suwuk itu sendiri. Yang jelas
melalui karya tersebut, dapat diketahui bahwa Pak Budi Osing ingin memudarkan image yang melekat pada Banyuwangi
sebagai “Kota Santet”.
Itu, sih,
secara garis besarnya. Tapi yang paling mengesankan saya pada pagelaran malam
ini adalah penampilan dari Mas Samsul yang menarikan Jejer Gandrung. Meski blio
laki-laki, luwesnya bisa menandingi perempuan. Daebak pokoknya.
Saya juga
megucapkan selamat untuk kawan-kawan UKM Teater Bhinneka 45 yang telah sukses
melaksanakan pagelaran malam ini. Kalian hebat. Ditungu karya-karya luar biasa
selanjutnya.
Salam budaya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar