Kamis, 24 Mei 2018

The Gift: Hidup dalam Dunia Buatan

Kemarin saat Fida berkunjung ke rumah, Ibu sempat menunjukkan sebuah tayangan yang tengah berlangsung di Metro TV. Ada Reza Rahadian, Ayushita dan Ibu Christin Hakim. Saya tahu itu adalah program “Layar Perak”. Ibu bilang bahwa Reza bermain dalam sebuah film baru bersama Ayushita. Saya yang saat itu kedatangan tamu agak tidak fokus menyimak televisi. 

Nah, tadi pagi seperti biasa saya buka twitter. Saat baru masuk timeline, twit pertama yang muncul adalah twit milik NSC Banyuwangi. Mereka update informasi tentang film yang tayang hari itu, dan saya menemukan The Gift ada di sana. Saya baru sadar jika film The Gift yang dibicarakan Ibu kemarin tayang perdana hari ini. Tanpa pikir panjang dan momen yang kebetulan pas sekali, saya pergi nonton jam 13.00, sendirian.
 
Saya berangkat pukul 12 lebih. Sampai bioskop baru pukul 12.17 (jika tidak salah ingat). Setelah membeli tiket saya duduk sambil membaca Maryamah Karpov untuk yang kedua kalinya. Bioskop tidak begitu ramai, b aja. Disamping kanan dan kiri tempat saya duduk, ada pasangan dedek gemas yang sedang dimabuk asmara. Ketawa-ketiwi kek disekelilingnya gak ada orang. Hih, norak. Mbok ya hormatin perasaan saya. Apa? Nggak terima?

Semua orang saya lihat berpasangan, laki-laki dan perempuan, perempuan dan perempuan, saya doang sendirian.

Pukul 13.00 studio 2 dibuka, saya masuk setelah tiket seharga 30 ribu itu disobek petugas (ingat, gaes, weekend harga tiket naik). Saya duduk sesuai nomor tiket, C10. Nomor kursi itu akan terus saya gunakan saat menonton di lain kesempatan. Karena apa? Karena tempatnya pas, gaes, ditengah-tengah. Enak. Gak kejauhan, gak kedeketan.

Setelah segala rupa iklan berhamburan, film dari aktor kesayangan saya itu mulai. Film dimulai dengan prolog oleh Tiana (Ayushita) dengan latar gambarnya adalah pemandangan Jogja. Ya, latar tempat film ini adalah Yogyakarta. Bermula saat Tiana datang ke Yogyakarta untuk menetap sementara demi menyelesaikan naskah tulisannya. Tiana ini seorang novelis, gaes. Di Yogyakarta itu dia kost di sebuah rumah, lebih tepatnya sebuah kamar yang jadi satu dengan rumah utama. Ruangan Tiana dan rumah utama dibatasi oleh pintu yang telah lama digembok oleh pemiliknya.
 
Pemilik rumah tersebut adalah Harun (Reza Rahadian uwuwuwu). Harun tinggal bersama Simbok dan anak simboknya. Di masa lalu Harun mengalami kecelakaan mobil yang berakibat pada penglihatannya, dia menjadi tuna netra. Pertemuan Tiana dan Harun diawali dengan kejadian yang agak membuat kesal.

Di malam pertamanya tinggal di kamar itu, Tiana harus terganggu oleh suara musik yang sangat kencang yang diputar oleh Harun. Tiana beranjak dari kamarnya untuk menemui Harun. Dia gedor-gedor pintu rumah utama itu. Namun apa daya, Harun tak mendengar, juga tak melihat Tiana.

Hingga kemudian singkat cerita datanglah simbok yang memberi pengertian pada Tiana dan berakhirlah drama musik memekakkan telinga tersebut. Tiana terlelap dengan tenang. Gaes, sebelum kalian melanjutkan membaca tulisan ini, saya ingatkan bahwa tulisan ini full spoiler. Jadi, sila putuskan akan lanjut membaca atau tidak.

Kuy, lanjut ...
Esoknya, saat akan keluar rumah, Tiana mendapat pesan di pintu kamarnya. Isinya singkat, padat dan jelas: “Maaf soal semalam.” Di menit-menit pertama ini saya agak gak nyambung dengan alur cerita. Tiba-tiba Tiana diundang sarapan. Di adegan sarapan ini sumpah saya kesel banget sama cara bicara Harun, songong dan sengak gitu. Tapi ku sayaaang :(

Di momen sarapan ini juga Tiana baru tahu bahwa Harun adalah tuna netra. Sumpah, hatiku, hiks. Setelah sarapan, Tiana tahu ada yang menarik dari Harun. Sejak itu pula Tiana mencoba mengakrabi Harun yang berkarakter keras kepala.

Besok paginya, Tiana datang. Dia membawa sebuah tanaman sekaligus potnya yang entah itu tanaman apa saya nggak paham. Saat Harun tengah meraba dan mencium tanaman itu, dia tiba-tiba bilang, “Kamu suka sama saya, ya?” Yarabb ekspresinya benar-benar minta disayang. Tanaman itu adalah tanda terima kasih Tiana karena sudah diundang sarapan bersama. Begitulah pokoknya.

Kemudian adegan berlanjut ke Harun yang marah-marah karena surat yang datang dari Ayahnya. Mendengar suara ribut-ribut, Tiana pun datang. Dia mendapati simbok yang sudah bersimbah di lantai sambil menangis. Tiana juga mencoba menenangkan Harun, tapi ya dasarnya si Harun ini kepala batu (tapi ku sayang) dia tetep aja ngamuk-ngamuk. Tiana juga, sih, harusnya tuh Harun di peluk sambil di puk-puk :(

Setelah adegan Harun, kita beranjak ke adegan Tiana kecil yang hidup di panti asuhan. Tiana kecil melemparkan pertanyaan kepada seorang ibu pengasuh yang nantinya kita tahu bahwa ibu pengasuh itu diperankan oleh Ibu Christin Hakim. Tiana bertanya, “Apakah Yana berdosa, Bu? Yana tidak cinta sama ibu kandung Yana. Tiap jam pelajaran agama, kita selalu diblang bahwa kita wajib mencintai ibu. Yana selalu bingung, karena Yana tidak bisa.”

Tiana kecil hidup dalam keluarga yang tak sehat. Ayah dan Ibunya gemar bertengkar. (gemar kok bertengkar, gemar tuh membaca) Setiap orang tuanya bertengkar, Tiana selalu tak tahan dan lari bersembunyi di dalam lemari. Tiana akan keluar dari lemari jika sudah tak terdengar lagi pertengkaran. Hingga suatu hari Ayahnya pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan Tiana, meninggalkan ibunya. Ibunya depresi. Tiana juga kerap mengurung diri di dalam kamar yang sempit dan gelap. Puncak depresi ibunya adalah saat Tiana tak mau seperti anak-anak normal lainnya yang bermain diluar rumah. Ibunya menyeret Tiana untuk keluar lemari namun Tiana berhasil menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Beberapa jam kemudian, karena tidak mendengar suara teriakan lagi dari ibunya, perlahan Tiana membuka pintu lemari. Dia berjalan untuk membuka pintu kamar. Namun, kenyataan pahit harus ia hadapi. Tiana kecil melihat tubuh ibunya tergantung di depan pintu. Ibu Tiana mati gantung diri. Adegan ini sukses menjebol pertahanan bendungan air mata saya. Sapu tangan yang sedari tadi saya pegang akhirnya basah. Duduk sendirian, nangis sendirian. Kasihan.

Adegan selanjutnya adalah ujug-ujug Tiana dan Harun sudah ada di Kaliurang, berdua doang. Ya mungkin Mas Hanung Bramantyo (yaelaaaaah, Mas, wkwkwk) menghapus adegan Tiana membujuk Harun agar ikut ke Kaliurang. Tapi sumpah ini plot twist banget. Saya yang terbawa emosi melihat adegan Ayah dan Ibu Tiana bertengkar malah jadi kek orang bego pas bagian ini. Tapi ya sudah tidak apa-apa.

Melihat kondisi Harun yang ngamuk-ngamuk kemarin mungkin menjadi motivasi besar bagi Tiana untuk ngademin palanya sayang aku itu, Harun maksudnya, gaes. Tapi, yang terjadi justru mereka terlibat percakapan nyebelin tapi menggemaskan. Harun itu memang sensi banget orangnya, untung aku sayang. Hih.

Adegan pamungkas yang bikin saya ketiwi-tiwi sendirian adalah:

H: “Antar saya pulang.” | T: “Kok pulang, sih, kan kita belum selesai.” | H: “Mau ujan.” | T: “Hujan?” Tiana kebingungan sambil melihat cuaca sekitar yang cerah ceria. | H: “Mangkanya kalo punya indera dipake.”

Lha kok ujug-ujug suara bledeg banter banget, gaes. Ya ngibrit dong Tiana nyusulin Harun, wkwkwk.

Dalam keadaan hujan deras, mereka sampai di depan rumah. Simbok dengan terseok-seok membawa payung mencoba melindungi tuan mudanya itu agar tidak kebasahan saat turun dari taksi. Ternyata eh ternyata, simbok kepleset. Harun dengan nalurinya yang selalu ingin membantu dan pada dasarnya sayang banget sama simbok, mencoba untuk menolong. Ujan-ujan begitu, simbok jatuh, Harun dan Tiana rebutan mau nolongin, sopir taksinya meneng bae di dalam mobil, suasana sungguh kacau. Tiana menarik paksa Harun agar menepi dan biar dia saja yang membantu simbok. Harun dengan harga diri tinggi, merasa mampu menolong simbok, yang awalnya susah sekali dikendalikan akhirnya menurut. Tiana kembali ke simbok sambil menegur sopir taksi yang planga-plongo aja nontonin. Saya ketawa pas bagian Ayushita ngomelin pak sopir. Iya, ketawa, sendirian.

Setelah urusan simbok kelar, Tiana mampir ke rumah Harun. Harun mulai lagi cari gara-gara dengan meracau banyak hal. Dan terkesan menyalahkan Tiana dengan bilang, “Kalo kita gak ke Kaliurang ini semua gak akan terjadi.” Detik itu juga saya pingin jadi Tiana dan toyor-toyor kepala Harun. E tapi jangan, aku sayang.

Adegan selanjutnya adalah adegan syahdu yang bikin saya klepek-klepek lagi sama Reza Rahadian. Dia adalah sebenar-benarnya aktor dengan kualitas yang luar biasa. Adegan ini adalah adegan Harun dan Tiana lagi spending the time with yang-yangan. Mereka saling berbagi kisah masa lalu. Pokoknya so heart-warming, gak cuma hati doang yang anget, tapi seluruh jeroan saya jadi anget. Halah. Kalau adegan ini saya tidak bisa menjelaskan, gaes. You should watch by yourself.

Setelahnya kita akan disuguhkan adegan-adegan romantis Harun dan Tiana dengan backsong yang kece. Oh, ya, saya belum menuliskan bahwa Tiana selalu terlibat dialog dengan orang bernama Bona. Dan dalam adegan-adegan sepanjang film ini, kalian akan sering melihat Tiana berdialog dengan Bona. Siapa Bona? Tetap baca tulisan ini sampai selesai, gaes.

Setelah kita disuguhkan adegan romantis Tiana dan Harun, adegan berikutnya adalah datangnya Bona dan tiga kawan Tiana lainnya. Mereka datang untuk merayakan ulang tahun Tiana yang ke-30. Selaiknya kehebohan ultah, mereka juga heboh. Ketawa-ketiwi, ngomongin Harun, ketawa-ketiwi lagi.

Besok paginya Tiana yang akan keluar rumah mendapati anggrek di depan pintu kamarnya. Jangan lupa, plus pot-nya. Di anggrek itu ada sebuah kunci. Tiana yang mungkin turunan cenayang bisa langsung tahu bahwa itu adalah kunci pintu yang selama ini jadi pembatas kamarnya dengan rumah utama. Dia membuka pintu itu dan menemukan Harun yang sedang ... (aduh, saya lupa tadi Harun lagi apa pas adegan ini)

Kemudian adegan kembali ke masa lalu, dimana Tiana sedang berada di panti asuhan. Di adegan itu ada rombongan keluarga yang datang dengan seorang anak kecil bernama Arie. Arie ini kelak diperankan oleh Dion Wiyoko, gaes. Arie, seperti yang sudah bisa kita tebak, menyukai Tiana.

Arie datang ke Jogja untuk bertemu dengan Tiana. Selain karena ingin bertemu Tiana, Arie juga membawa kabar tentang keberadaan ayah Tiana yang pergi sejak Tiana kecil. Seperti halnya second lead male, Dion Wiyoko berhasil memainkan perannya dengan baik. Arie adalah tipe-tipe second lead male yang sayang untuk diacuhkan. Sayang banget. Ganteng, baik, mapan, cinta banget lagi sama Tiana. Hmmm.

Meninggalkan Arie, kita ke adegan selanjutnya dimana Harun menelpon Tiana tengah malam. Selayaknya orang yang lagi tidur terus dapat telpon, pasti nyawanya belum ngumpul. Tiana menjawab telpon Harun dengan “Arie ...” dengan suara kodoknya. Sudah barang tentu Harun kepo, dong, gaes. Bertanyalah ia Arie itu siapa. Tiana jawab Arie itu penerbit. Kemudian obrolan mereka sepertinya membuat Tiana tidak nyaman. Sejak kedatangan Arie ke Jogja, Tiana jarang bertemu Harun lagi. Tiana menutup telpon Harun dengan perasaan yang galau. (keliatan dari muka mbaknya)

Besoknya, Tiana pergi dengan Arie menuju sebuah panti jompo. Tempat dimana ayah Tiana tinggal saat ini. Tiana masih belum berdamai dengan masa lalu yang menimpanya. Masa lalu kelam yang ia rasakan bersama ayah dan ibunya. Ayah Tiana tak lagi mengenal Tiana, disamping itu ayahnya juga buta. Di adegan ini kita akan melihat Ibu Christin Hakim untuk kali pertama. Adegan dimana Tiana dan Ibu Su’ud bertemu membuat saya lagi-lagi tidak bisa mengendalikan pertahanan bendungan. Oke, saya skip saja bagian ini. Biar cepet.

Tiana dan Arie pulang. Arie mengantar Tiana hingga sampai depan rumah. Kondisi hujan. Ujan lagi, ujan lagi, sebel saya tuh. Di depan pintu kamar Tiana, Arie tiba-tiba berjongkok. Yup, betul sekali. He proposed her. Arie pernah berjanji jika Tiana ulang tahun ke-30 dan masih sendiri, dia akan melamar Tiana. Sementara Arie dan Tiana bercakap-cakap, ada seseorang di dalam sana yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka, Harun.

Keesokan harinya, Tiana kembali mengunjungi Harun. Suasana pagi itu terasa beda, bisa jadi karena perubahan sikap Harun pada Tiana. Harun pagi itu sensitif buangeeeeet, gaes. Dah kek aku pas mens gitu. Reza Rahadian adalah Reza Rahadian. His acting almost perfect. Cara dia menatap lawan mainnya, cara dia beradegan romantis, cara dia tertawa, cara dia marah, semuanya menghujam hingga jantung saya. Membekas.

Pagi itu Harun marah besar. Marah karena Tiana berbohong padanya. Mungkin Harun juga marah karena ia sudah mendengar semua perbincangan Arie dan Tiana. Cemburu? Ya jelas! Hingga yang paling menyesakkan ketika Harun bilang, “Saya tahu, sebagai laki-laki saya tidak bisa memberikan kamu masa depan.” Aduh. Hatiku.

Pagi itu, akhir dari hubungan Harun dan Tiana. Tiana pergi dari Jogja dengan perasaan kecewa, sakit hati, marah. Tiana kembali berdialog dengan Bona, yang semakin kesini saya semakin nggak ngerti Bona ini sebenernya kenapa, karena setiap Tiana meminta Bona menjawab pertanyaannya, Bona diem aja.

Keputusan Tiana untuk menikah denan Arie adalah keputusan logis. Mungkin sebagian wanita akan seuju dengan keputusan Tiana. Menikah dengan orang yang telah memahami bagaimana kita. Menikah dengan orang yang amat menyayangi kita. Menikah dengan orang yang sudah kita kenal lama. Jika cinta itu logis, harusnya memang seperti itu. Tapi kapan cinta pernah logis?

Rumah tangga Arie dan Tiana memang baik-baik saja, bahkan romantis, saya aja iri lihatnya. Tapi Arie tidak tahu bahwa Harun mendapat posisi istimewa dalam hati Tiana. Posisi yang tidak pernah Arie dapatkan, meski ia telah menikahi Tiana. Kalo kata Armada “Aku punya ragamu, tapi tidak hatimu ...”

Di menit-menit terakhir, saya mulai memahami cerita ini. Tiana adalah perempuan yang hidup dalam dunia yang dibuatnya. Tiana terlalu takut untuk melihat dunia nyata. Dia lebih suka melihat dunia yang ia ciptakan sendiri, dan Harun terseret dalam dunia yang dibuat oleh Tiana. Dunia Arie terlalu berwarna bagi Tiana. Sedangkan Tiana nyaman dengan kehidupannya yang dalam kegelapan, sama seperti Harun. Dalam titik tertentu Tiana menyukai kegelapan.

Bona dan kawan-kawannya adalah orang-orang yang Tiana buat. Mereka tidak nyata, tidak pernah ada. Anying, lah, bagian ini saya merinding. Duduk sendirian. Merinding sendirian. Tiana memilih untuk meninggalkan Arie dan Harun. Ia mendonorkan matanya dan menjadi buta untuk Harun. Arie tetap melanjutkan hidup sebagai dokter. Harun bertemu Tiana dengan kondisi berbeda. Dan saya misek-misek sendirian. Lampu bioskop menyala. Saya tetap duduk hingga credit title habis, sembari mendengarkan soundtrack yang ciamik.

Jika film Reza yang Benyamin Biang Kerok waktu lalu tidak begitu menjadi buah bibir, Reza membalasnya dalam The Gift. Sebelum berangkat ke bioskop siang tadi saya sempat baca sekilas sinopsis The Gift. Dari uraian yang saya baca, saya sempat mikir, “Ah, ceritanya ya gitu aja. Cinta segitiga.” Semua diluar ekspektasi saya. Aktor, sutradara, penulis naskah, soundtrack dari miliknya Iwan Fals, seluruh unsur yang terlibat luar biasa. The Gift is a must see!

Seperti biasa, saya keluar studio dengan mata sembab. Sembab sendirian. Keluar sendirian.

Sumber: Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar